The Chastain’s [Serena #1]

====================

[PROLOG]

Daun-daun tua berguguran begitu diterpa angin. Seorang gadis berjalan menyusuri jalanan sepi sambil merapatkan mantel cokelat yang membalut tubuhnya. Matanya tampak tak tenang, seolah ada yang tengah mengintai setiap gerakan kecilnya. Sesekali ia menoleh ke belakang tapi tak menemukan siapa pun.

Lampu-lampu jalanan kota Seoul masih terang. Baru pukul 11 malam, belum terlalu larut. Gadis itu membuat langkahnya lebih santai. Ia berusaha menghilangkan perasaan was-was yang menyergap tengkuknya.

Sepasang mata pekat mengawasinya dari jauh. Hidungnya bergerak-gerak, seolah menemukan wangi yang menggugah rasa laparnya. Ia bergerak cepat, melompat tanpa suara.

“Tidak baik berjalan sendirian selarut ini,” suara sebening kristal itu membuat sang gadis terkesiap.

Gadis itu menatap lelaki yang bersandar di tiang lampu dengan gugup. “Kau.. siapa?”

“Malaikat..?” ucap lelaki bermantel hitam itu santai. “Kurasa kau butuh teman malam ini. Apa kau percaya mitos dan legenda?”

“Tidak.. juga,” sahut si gadis singkat. Wajahnya tampak bodoh, terlalu terpesona dengan senyuman kecil malaikat di depannya.

Lelaki itu tersenyum lebih lebar. “Kau sedang ada dalam salah satu mitos kuno dari Eropa.”

Mata ‘malaikat’ yang berkilat gelap itu seolah menghipnotis, membuat sang gadis berjalan berdampingan dengannya. Mereka berbelok ke sebuah jalan kecil, menghilang di tengah kegelapan.

Tak lama, lelaki malaikat itu berjalan santai keluar dari sana. Senyumnya menyeringai. Saat wajahnya tersorot lampu jalanan, bibirnya penuh dengan cairan pekat berwarna merah. Merah darah dengan bau besi berkarat.

—-

@International School of Incheon

Acara menonton film di kelas Inggris baru saja selesai saat Serena Chastain bangkit dari kursinya disusul dengan gadis bertubuh tinggi dengan rambut sebahu bernama Angela Chastain di belakangnya. Kedua Chastain itu melangkah anggun menuju kafetaria sekolah.

Sesekali Serena mengibaskan rambut cokelatnya yang panjang. Ia mendengus. “Twilight.. memangnya tahu apa para orang Hollywood itu soal vampire dan mitos?”

Angela terkekeh. “Sebatas itu. Kurasa selebihnya hanya khayalan mereka.”

Mereka sibuk melontarkan komentar soal film di kelas Inggris siang ini. Sepanjang pemutaran film, Serena adalah orang yang selalu mencibir dan mencemooh film paling laris itu, sementara saudarinya, Angela, bahkan tidak sempat memerhatikan setiap bagian film.

Serena dan Angela mengambil kursi di sudut kafetaria, membuat mereka seolah golongan khusus yang tidak bisa didekati. Kedua gadis itu makan dengan agak malas.

Angela mendorong nampan makanannya. “Aku butuh makanan lain.”

“Jangan hari ini. Spencer-mu bisa kehabisan darah,” telunjuk Serena mengarah pada lelaki tinggi dengan wajah pucat yang sedang memandangi Angela.

“Aku tahu,” komentar Angela singkat. Ia terpaksa menyendok kembali salad ayam di mangkok plastik. Angela berhenti mengunyah saat ia memandangi lelaki-nya. Ia menyenggol lengan Serena pelan. “Apa aku boleh mengajak Spencer makan bersama kita?”

Serena memutar bola mata. “Terserah kau.”

Mata Angela berkilat senang saat jawaban itu diartikan sebagai persetujuan. Ia segera melambai ke arah lelaki yang sempat dilirik Serena tadi. Lelaki itu, yang bernama Spencer, tersenyum lebar dan mengikuti panggilan gadis-nya.

Jemari-jemari kecil Angela menyusuri wajah Spencer perlahan. “Apa hari ini kau makan banyak? Kau tampak lebih kurus dari kemarin.”

“Aku makan sebanyak yang kubisa, my Angela,” sahut Spencer santai. Tangannya membelai bibir Angela. “Apa kau haus?”

Angela baru akan mengangguk saat bibirnya terbuka. “Tidak. Tidak sekarang. Aku tidak mau membuatmu anemia.”

Spencer tergelak. Lelaki keturunan Korea itu sama sekali tidak keberatan kalaupun seandainya sang Angela mau menghisap seluruh darah dalam tubuhnya. Tapi ia tahu gadis bermata jernih itu tidak pernah mau melakukannya. Angela membutuhkan Spencer lebih dari sekedar makanan, ia membutuhkan lelaki itu sebagai nyawa-nya.

“Spencer Lee.. lelaki paling bodoh di benua Asia,” gumam Serena. Ia tidak pernah bisa mengerti hubungan Angela dan Spencer Lee. Baginya, mendekati seseorang seperti Angela Chastain dan dirinya adalah kesalahan besar. Bukan sesuatu yang bisa ditolerir walaupun ada perkara cinta disana.

Angela merengut. Ia mengalungkan lengannya ke leher Spencer. “Kau hanya iri kan?”

“Untuk apa? Aku punya banyak hal menarik selain mainan manusiamu ini,” Serena bangkit dari kursi lalu berjalan keluar kafetaria. “Hei, aku akan membolos kelas sastra.”

“Ya, ya, ya. Terus saja kabur dari tunangan kesayanganmu,” sindir Angela. Tiba-tiba matanya berbinar saat melihat lelaki lain masuk ke kafetaria. “Ah, dia datang.”

Serena memutar bola mata lalu mendengus. “Bilang padanya, aku tidak disini. Sampai jumpa.” Ia menghilang dengan cepat ke tengah kerumunan murid.

“Chastain..” gerutu Angela. Tangannya melambai ke arah Vincent Lee yang memang berjalan ke mejanya. “Vincent! Kau.. sendirian?”

Lelaki bernama Vincent itu mengangguk. “Tadinya aku harus mengajak saudari-mu, tapi kulihat dia langsung melarikan diri saat melihatku. Apa dia marah?”

“Kurasa hanya syndrome harian. Dia tidak bisa melihat tunangannya menempel dengannya selain di acara keluarga, kurasa,” kilah Angela. Ia menggenggam tangan Spencer erat. “Kami harus pergi sekarang. Apa kau mau ikut?”

“Tidak. Bukankah kau ada ritual sendiri bersama manusia-mu ini?” Vincent tersenyum menyeringai.

Angela tahu itu bukan senyuman yang ramah. Ia merasakan tangan Spencer berkeringat. “Aku sedang ingin melakukan kegiatan manusia lain.”

Vincent mengangkat bahu. Ia sama saja seperti Serena, tidak pernah mengerti alasan Angela memilih Spencer Lee sebagai belahan jiwanya. Hubungan itu sama saja dengan tidak menghormati para generasi di atas mereka yang menciptakan kehidupan seimbang ini.

Setelah berjalan agak jauh dari Vincent, Spencer berbisik. “Aku tidak pernah suka dengannya. Padahal kami sama-sama Lee.”

“Mungkin Vincent itu Lee yang gagal,” sindir Angela sambil terkekeh.

—-

Serena menemukan tempat yang cocok untuk menghabiskan dua jam waktu kosongnya. Ia duduk bersandar di bawah pohon oak tua yang besarnya bisa melindungi tubuh dari matahari musim gugur.

Mendadak ia teringat lagi dengan film yang diputar di kelas Inggris. “Twilight.. Edward Cullen.. Vampir.. Seandainya semua itu sesederhana di film.”

Kemudian ia merasa semuanya begitu konyol. Disaat semua mitos itu dianggap kuno, Serena justru salah satu bagian dari mitos kuno itu. Sesekali ia sangat ingin protes, tidak semua hal dalam film horror yang melibatkan vampire itu benar.

Legenda vampire itu adalah spesialisasinya. Serena suka melihat bagaimana para manusia mendeskripsikan mereka, meskipun nyaris 80% meleset. Soal matahari yang melukainya, itu sama sekali salah. Bawang putih dan salib? Sangat salah. Beberapa hal yang benar adalah soal darah, hidup abadi, dan satu pasangan.

Darah. Vampire memang butuh hal yang satu ini. Tidak seperti keluarga Cullen yang ‘vegetarian’, para vampire asli tidak suka darah binatang. Mereka mutlak butuh darah manusia. Hanya cara masing-masing koloni vampire yang memang berbeda. Untuk Chastain, cukup darah donor yang dibeli dari rumah sakit atau bank darah. Berbeda untuk kasus Angela, yang lebih suka minum sedikit darah pasangannya, Spencer Lee, sang manusia.

Yang kedua soal hidup abadi. Para vampire, ya, mereka abadi. Selama mereka masih bisa mendapatkan darah, mereka akan tetap hidup. Sesederhana itu.

Dan pasangan. Setiap vampire membutuhkan pasangan. Biasanya hanya akan ada satu dalam eksistensi mereka. Vampire lebih setia daripada yang digambarkan. Sepasang vampire biasanya akan menghimpun koloni baru saat mendapatkan tempat tinggal.

Kalau begini bisa dibayangkan berapa banyak populasi vampire di dunia? Seandainya tidak ada ‘para penjaga’ itu, pasti hampir seluruh penghuni bumi adalah vampire. Penjaga? Kalau digambarkan, seperti werewolf –Jacob Black versi Twilight- Tapi dalam hal ini sangat berbeda.

Para penjaga ini berwujud kalelawar hitam. Salah satu bahan cemoohan Serena, para manusia membayangkan bahwa vampire itu adalah kalelawar atau sebaliknya, padahal hal itu mutlak salah. Kalelawar adalah penguasa mereka yang sesungguhnya. Bagaimana seekor kalelawar kecil bisa mengatur populasi vampire?

Saat ada kematian manusia massal, para kalelawar akan menggigit vampire –satu koloni vampire jika diperlukan- dan mengubahnya menjadi abu. Para ‘penjaga’ itu tahu kapan harus mengurangi populasi vampire. Karena itulah point tentang hidup abadi perlu digarisbawahi. Mereka abadi selama tidak menyalahi aturan para ‘penjaga’.

Untuk kasus Angela Chastain, nyaris sama. Dalam hal makanan, ia lebih suka meminum beberapa tetes darah Spencer Lee, pasangan manusianya. Bagi Angela, darah Spencer lebih menyegarkan tapi ia juga harus bisa mengatur kecanduannya atas darah spesial itu. Ia tidak mungkin membuat Spencer mati kehabisan darah.

Serena menggeleng-geleng tak percaya begitu mengingat pernyataan Angela soal ia yang jatuh cinta pada seorang manusia. Tadinya ia mengira saudari kecilnya itu hanya bercanda. Tapi Serena nyaris terkena serangan jantung –seandainya ia punya jantung- saat melihat Angela menggandeng tangan Spencer keesokan harinya.

Tidak cukup dengan kejutan itu, Angela memberitahu Serena kalau Spencer tahu siapa dia, dan cara hidup mereka. Serena yakin ia sudah cukup gila saat mendengar hal itu, tapi ternyata kejutan lain datang dari Spencer sendiri. Ia tahu semua itu, tapi bahkan ia sama sekali tidak keberatan. Bisa dibilang Spencer ‘mengerti’ dengan kebutuhan Angela.

“Pasangan gila..,” gumam Serena di tengah-tengah lamunan pendek tentang mitos nyata miliknya.

Dalam hal pasangan, Angela Chastain jauh lebih beruntung darinya. Walaupun Spencer Lee itu hanya manusia –manusia yang rapuh dan menggiurkan- tapi setidaknya ada komitmen sukarela darinya soal menjadi belahan hati Angela selamanya.

Serena mendesah begitu bayangan Vincent Lee muncul sekelebat di kepalanya. Tunangan, begitulah Angela mengolok-oloknya. Kadang pasangan vampire-mu datang dari keluarga-mu sendiri.

Chastain tertua, Andrew, sudah mengatur jodoh adik perempuannya itu. Pilihannya mutlak jatuh pada Vincent Lee, salah satu vampire dari koloni terkuat di daerah Asia Timur. Tadinya Vincent adalah pasangan untuk Angela, tapi bahkan sang Chastain tertua tidak bisa melawan sikap keras kepala Angela, sang bungsu.

“Satu lagi persamaan manusia dan vampire,” ucap Serena jengah. “Selalu ada orang yang mengatur jodohmu.”

Sesekali ia ingin menyalahkan Angela soal pasangan ‘paksa’nya ini. Tapi ia tahu tidak ada gunanya merongrong adik kecilnya itu setiap saat. Angela Chastain adalah vampire paling keras kepala yang ia kenal sepanjang eksistensinya.

“Maaf, ini tempatku,” suara bening itu menyadarkan Serena dari pikirannya. Ia mendongak dan melihat seorang lelaki tinggi berambut gelap sedang berdiri di depannya.

Serena mengernyitkan alis. “Tempat apa?”

“Tempat yang sejak tadi kau pakai untuk melamun ini adalah tempatku tidur,” ujarnya santai.

“Aku lebih dulu disini. Jadi kurasa tidak ada peraturan tertulis kalau aku harus mengalah padamu,” tegas Serena. Ia paling tidak suka ada manusia rapuh yang mengganggunya seperti ini.

Lelaki itu mencibir. “Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat. Semuanya akan lebih mudah kalau kau pergi dari sini.”

“Marcus!” seseorang berteriak sambil berlari kecil ke arah Serena dan lelaki menyebalkan itu. “Kau harus menghadap Professor Park. Kenapa masih disini?”

Ia hanya mengangguk satu kali. Kemudian ia kembali melirik Serena. “Kali ini kupinjamkan tempat ini. Tapi tidak akan ada lain kali.”

“Aku tidak perlu pinjamanmu untuk berada disini, bodoh,” umpat Serena kasar. Nyaris saja ia menunjukkan taring tajam yang bertengger di mulutnya. Lelaki di depannya ini terlalu menyebalkan untuk ukuran manusia yang lezat.

Lelaki bernama Marcus itu sudah tidak mendengar suara Serena. Ia terlalu terburu-buru menyusul temannya. Serena mendengus sekali lagi, jengah.

—-

@Chastain’s

“Aku tidak ada waktu untuk keluar dengan Vincent,” ucap Serena pada Chastain tertua. Ia menyibukkan tangannya dengan membolak-balik halaman buku kimia murni. “Lagipula aku tidak haus. Dan aku tidak perlu berburu.”

Andrew memutar bola mata lalu berkacak pinggang. “Kau selalu menolak setiap aku memintamu begitu.”

“Dan kurasa aku akan tetap menolak, kakakku sayang,” Serena berusaha menunjukkan keengganannya dengan mendesah –seperti para manusia-.

Angela menuruni tangga yang berbentuk setengah lingkaran. Langkahnya ringan dan anggun, nyaris terlihat melayang. “Andrew.. tidak ada gunanya kau memaksa. Suruh saja Vincent berburu sendiri.”

“Kau tahu bukan soal berburu yang kupikirkan, Angela Chastain,” sela Andrew cepat. Ia memijat pelipisnya. “Ini soal pasangan abadi. Sampai kapan Serena akan menolak Vincent?”

Kali ini Angela yang memutar bola mata. Ia mendengus. “Kukira pasangan itu hak mutlak milik tiap vampire.”

“Memang. Aku hanya membantu,” Andrew mengangkat bahu ringan. “Dan aku tidak mau Serena menjadi sepertimu.”

“Apa? Memangnya aku kenapa?” sungut Angela. Ia beringsut duduk di seberang Serena, menunjukkan kalau ia akan membela saudarinya itu.

Andrew menarik napas berat. “Jangan bilang kau lupa pada pasangan manusia tak abadi-mu.”

“Spencer abadi! Akan kubuat dia jadi abadi, sama sepertiku,” tegas Angela. Tapi kemudian ia segera meralatnya. “Maksudku, tidak sekarang, tapi segera.”

“Lihat kan? Kau bahkan belum benar-benar yakin soal itu,” dengus Andrew.

Serena hanya diam mendengar double-A Chastain bertengkar –lagi- di depannya. Ia hanya sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa Angela berani mempertimbangkan untuk mengubah Spencer jadi abadi? Ia tahu adik kecilnya itu tidak cukup kuat melakukannya.

“Jadi, bisakah kita menghentikan semua ini dan melihat Serena segera pergi menemui Vincent?” tanya Andrew. Ia menatap Angela tapi Serena tahu pasti ucapan itu untuknya.

Setelah menghembuskan napas panjang, Serena bangkit dari kursinya. “Aku akan pergi. Tapi kuharap Vincent tidak akan memaksaku melihatnya berburu. Kau tahu aku paling tidak suka itu.”

“Terserah kau, adikku sayang,” ujar Andrew sambil tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya.

Angela memandangi Serena bingung. Matanya menyipit. “Kau sudah gila?”

“Setidaknya aku cukup waras untuk menghentikan perdebatan kalian,” ucap Serena santai. “Dan jangan coba-coba mengungkit soal menjadikan Spencer abadi. Itu bukan hal yang bisa kau jadikan bahan perdebatan, Angela Chastain.”

Sedetik kemudian, Angela nyengir lebar. “Aku tahu, aku tahu. Terima kasih banyak.”

Serena mendengus. “Kau memang vampire terlabil yang pernah kukenal.” Lalu ia melangkah anggun meninggalkan ruang tengah Chastain, menuju kamar putihnya.

—-

“Kukira kau akan menolak lagi,” Vincent setengah memekik saat melihat Serena turun menyusuri selusur tangga. Alisnya terangkat sebelah. “Biar kutebak siapa yang berhasil membujukmu ikut denganku malam ini.”

Mata Vincent menatap Andrew dan Angela bergantian. Angela balas menatap Vincent jengah. “Serena tidak boleh pulang lebih dari jam 2 pagi.”

Vincent tergelak. “Kukira Serena adalah vampire dewasa.”

“Memang. Jadi dia bebas pulang jam berapapun yang dia mau,” kilah Andrew, menghentikan sikap Angela yang selalu defensif pada Vincent.

Serena memutar bola mata lalu mendengus. “Aku bukan manusia rapuh yang menyusahkan. Usiaku bahkan hampir satu abad.”

“Hampir.” ujar Angela, mengoreksi. Ia paling tidak suka ada yang mengungkit masalah usia di rumah ini. Spencer bahkan seperti pacaran dengan nenek buyutnya sendiri.

Angela yang paling muda –untuk kalangan Chastain, tentu saja- Usianya baru 73 tahun sekarang, tapi ia bisa mengoceh tanpa henti soal selisih usia Spencer dan dirinya. Meski tubuhnya membeku di usia 17 tahun –dan akan selalu begitu- ia tidak pernah bisa mengabaikan usia aslinya.

“Jadi.. acara kami bebas malam ini?” tanya Vincent. Begitu Andrew mengangguk sekali, ia langsung tersenyum. “Bagus. Aku harus berburu sebentar, lalu kita bisa menjelajahi Eropa.”

Serena terbelalak, sementara Angela nyaris terkikik. “Kau mengajakku keliling Eropa malam ini?”

“Tentu. Kau tidak bosan dengan kehidupan ala Asia Timur?” Vincent merebahkan tubuhnya ke sofa putih Chastain.

“Aku hanya akan mencari beberapa koleksi buku di Jepang, kau bebas ikut, kalau kau mau.” Serena mengangkat bahu santai. Ia tidak melirik Andrew yang sedang melayangkan tatapan protes ke arahnya.

Angela terkekeh makin nyaring. “Ya.. kurasa kau harus mengubah rencana liburanmu malam ini, Tuan Lee yang baik.”

“Mungkin,” Vincent mengangguk setuju. Ia lantas menatap Angela. “Ng.. kuharap kau tidak keberatan kalau suatu saat akan ada korban bernama Lee.”

Tahu Vincent membahas soal Spencer Lee, Angela menggeram. Rahangnya kaku. “Jangan coba-coba dekati Spencer-ku!”

“Aku hanya menggertak. Kurasa kau memang harus mencari pasangan lain, Angela. Yang lebih ‘tahan lama’.” sindir Vincent.

Angela mendengus kasar. “Dan kuharap kau tahu kalau masalah pasanganku itu bukan urusanmu.”

“Hei, kurasa semua ini sudah kelewatan,” lerai Serena, jengah melihat Vincent terus-menerus mengungkit soal Spencer dan Angela. “Spencer Lee adalah bagian dari Angela, dan sekaligus bagian dari Chastain, Vincent. Jadi jangan dekati dia.”

Vincent menyipitkan mata. “Oh? Jadi manusia itu bagian dari Chastain?”

“Spencer itu pasanganku, bodoh,” maki Angela. Vincent menyambutnya dengan desisan pelan dari sela bibirnya. Angela memamerkan deretan gigi tajam dan beracun miliknya.

Andrew menarik adik kecilnya, menyembunyikannya di balik tubuh. “Serena, bisa segera ajak Vincent keluar dari sini? Akan ada perang koloni kalau Angela sudah mengamuk.”

Kepala Serena mengangguk satu kali. “Kurasa kau harus berburu jauh dari sini.” Ia menarik lengan Vincent dan segera menghilang dari pintu.

Angela baru bisa menghentikan geramannya saat merasakan aura Vincent Lee hilang dari otaknya. Ia mendengus. “Aku tidak pernah suka Vincent Lee..”

“Tapi kau suka Spencer Lee, ingat?” goda Andrew. Angela tersenyum lebar. “Kurasa aku juga harus mencari pasangan.”

“Kau bahkan lebih suka mengurusi pasangan adik-adikmu. Apa sekarang sudah berubah?” sindir Angela.

Andrew mengangkat bahu. “Entahlah. Aku iri pada kalian, terutama padamu.”

“Ng? Kenapa? Pasanganku hanya manusia rapuh yang menggiurkan. Aku beruntung tidak terlalu sering haus darahnya,” mata cokelat Angela menerawang.

“Justru itu. Kau dan dia, tampak sempurna bagiku yang sendirian,” ucap Andrew.

Angela memutar bola mata lalu bangkit. “Kalau begitu cari saja manusia juga.” Kemudian ia menatap pintu depan. “Aku jadi ingin tahu bagaimana jika seandainya Serena juga jatuh cinta pada manusia.”

“Vincent pasti akan membunuh manusia itu lebih dulu,” jawab Andrew. Pikirannya langsung tertuju pada kekejaman koloni Vincent yang sebagian besar berkumpul di daerah Busan. Lee adalah koloni besar yang berisi vampire-vampire ‘matang’ dan menakutkan. Ia bergidik mengingatnya.

“Benar. Pasti mati,” tambah Angela.

—-

Marcus Jo baru saja menutup restoran tempatnya bekerja saat ponselnya menerima panggilan masuk. Ia menekan tombol berwarna hijau dan segera menempelkan benda tipis itu ke telinga.

“Ya?” jawabnya.

Suara sang ibu nyaris memekik histeris. “Marcus! Kau berbuat ulah apa lagi di sekolah?”

“Ibu.. aku tidak berbuat apapun, setidaknya tidak mengganggu siapapun,” kilah Marcus cepat. “Ah, kalau ibu mau membahas masalahku dan Profesor Park, untuk pemberitahuan, aku sudah mengurusnya tadi siang.”

“Kau pikir ibumu ini percaya? Hei, kau tahu tidak bagaimana sulitnya memasukkanmu ke sekolah internasional itu?” sang ibu mulai berceloteh. Marcus menjauhkan ponsel dari telinganya, menghindari resiko tuli dini.

Marcus mengeluarkan sepeda motor sport-nya dari tempat parkir. Ia kembali pada ibunya di ujung telepon. “Ibu, aku harus pulang sekarang. Ibu tidak mau aku menyetir sambil menelepon kan? Jadi bisa tutup teleponnya sekarang? Bisa kan? Baiklah, aku sayang pada ibu.”

“Hei, hei, Marcus Jo! Ibu belum se-“ TREK! Sambungan telepon terputus cepat. Marcus menghela napas lega.

Ia memacu motornya cepat, melewati jalanan sepi di sekitar Apgujeong. Tapi tiba-tiba Marcus sangat ingin bersantai di tepi Sungai Han. Malam belum terlalu larut, jadi mungkin ia bisa makan sedikit kue beras atau minum beberapa botol soju.

Marcus Jo menyunggingkan senyuman kecil dan memaksa motor sport-nya berbelok ke arah Lee Tae Won dan menuju Sungai Han.

—-

Serena hanya berjalan –nyaris terlihat melayang cepat- mengikuti Vincent yang tetap tidak menemukan beberapa mangsa untuk diburu. Kakinya berhenti di sebuah atap gedung. Ia memerhatikan sekeliling, memang tidak ada manusia yang ‘menggugah’ selera.

“Kau bisa berburu di luar negeri, kalau mau,” ucap Serena tenang.

Vincent menoleh dan langsung tersenyum. “Kupikir kau tidak peduli padaku.”

“Memang tidak. Hanya saja, kurasa kau akan membuang waktuku kalau terus diam menunggu manusia yang menggiurkan,” Serena memilih duduk di atas tumpukan kayu.

“Ternyata kau memang tidak suka. Kenapa? Apa kau masih perlu mengenalku?” tanya Vincent, mengalihkan pembicaraan ke masalah pasangan –lagi.

Serena mengernyitkan alis. “Aku belum membutuhkan pasangan. Jadi jangan tersinggung, aku memang tidak mau lebih mengenalmu.”

“Kalau aku masih punya hati, kau sudah mematahkannya, tahu?” goda Vincent. Ia tahu vampire wanita di depannya ini terlalu pemilih.

“Untungnya kau sudah tidak punya hati, iya kan?” balas Serena. Mendadak pandangannya terpaku pada kilauan yang terbentuk dari cahaya lampu gedung. “Itu.. sungai Han ya?”

Vincent mengikuti arah mata Serena. Kemudian ia mengangguk. “Ya. Sungai Han. Kenapa?”

“Aku mau kesana,” Serena langsung meninggalkan Vincent di belakangnya. Ia terlalu tertarik pada kilauan lampu yang terpantul dari permukaan sungai yang pekat itu. Vincent memutar bola mata lalu mengikuti Serena tanpa suara.

—-

@Han River

“Terima kasih,” Marcus membungkukkan badan sopan ke arah penjual kue beras. Ia sibuk meniup-niup makanan di tangannya dan mengedarkan pandangan ke seluruh bagian sungai.

Pikiran Marcus melayang, kembali ke masa-masa susahnya saat pertama kali masuk sekolah. Sekolahnya sekarang adalah sekolah internasional, sekolah dengan ratusan tuan muda dan puteri kaya. Ia tersenyum samar mengingat hanya ia-lah anak orang miskin yang masuk kesana dengan beasiswa.

Marcus tersenyum makin lebar. “Gadis itu.. menakjubkan.”

Pelan-pelan bayangan gadis anggun bermata bulat itu memenuhi rongga kepalanya. Tadi pagi ia melihatnya sekali lagi. Biasanya gadis itu hanya berada di sekitar orang-orang terhormat, tapi tadi ia duduk bersandar di pohon oak milik Marcus.

“Serena.. Chastain..,” ucapnya singkat. Marcus tertawa singkat menyadari tindakan bodohnya. Untuk apa ia menyebutkan nama gadis itu? Serena Chastain itu tidak akan mendengar panggilannya.

—-

Serena tertegun sejenak, tapi tak lama hingga Vincent tidak menyadari apapun. Ia menyentuh kedua telinganya. Kemudian ia menoleh ke sekeliling. Kosong, tentu saja. Serena yakin ada yang memanggilnya, memanggil nama lengkapnya. Serena Chastain..

“Ada wangi yang enak,” Vincent mengendus dengan indera penciumannya yang tajam. Matanya mengarah pada seorang gadis berada dalam mobil Porsche hitam. “Aku akan kesana. Kau mau ikut atau-“

“Aku disini saja, terima kasih,” ujar Serena setengah jijik. Ia paling tidak tahan melihat vampire berburu. Bagi Serena yang hanya bertahan dengan darah donor, pemandangan berburu dari vampire lain bukan hal yang menyenangkan.

Vincent mengangkat bahu lalu meninggalkan Serena, melesat menuju korbannya.

Rahang Serena menegang saat membayangkan betapa malangnya nasib gadis tadi. Vincent bukan vampire yang berbelas kasih, ia terlalu kejam. Sesekali ia berharap mudah-mudahan para ‘penjaga’ bisa melenyapkan satu atau dua vampire dari koloni Lee. Koloni itu terlalu kejam, dan kuat.

Serena menolak memikirkan Vincent dan korbannya, jadi ia hanya berjalan menyusuri tepi sungai. Matanya terlalu dimanjakan dengan kilauan kristal yang tampak dari permukaan air. Ia memang punya waktu sepanjang malam untuk menikmatinya, tapi ia sibuk mengurung diri di kamarnya yang putih. Mengurangi nafsu dahaga yang kadang tidak bisa dikendalikan, kilahnya.

“Sedang jalan-jalan di malam hari, tuan puteri?” suara itu dikenal Serena, membuatnya berbalik cepat. Marcus duduk santai sambil memasukkan sepotong kue beras ke mulutnya.

Serena mengernyitkan alis, merasa mengenal lelaki itu. Tiba-tiba ia mendengus. “Lelaki menyebalkan tadi siang..”

“Marcus,” ucap Marcus tenang. “Namaku Marcus Jo, jangan panggil aku seenaknya. Tadi pagi kau memanggilku ‘bodoh’, dan sekarang kau memberikan nama panggilan yang lebih panjang?”

“Kurasa aku tidak mau tahu namamu,” Serena mengangkat kaki, bersiap meninggalkan Marcus.

Dengan cepat, Marcus berdiri menghadangnya. “Dan kurasa kau perlu teman malam ini.”

“Tidak, kurasa kau salah,” sahut Serena. Ia baru akan berlalu dari Marcus saat aroma harum menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Perlahan rasa panas menjalar di tenggorokannya, panas yang membakar.

Marcus mengerutkan kening saat melihat ekspresi Serena. “Ng.. kau lapar? Aku punya beberapa kue beras. Mau?”

Serena menggelengkan kepala dengan kaku. Walaupun tahu perbuatannya sia-sia, ia tetap menelan ludah. “Pergi dari sini!”

“Ng? Kenapa?” tanya Marcus bingung. Ia menarik tangan Serena. “Duduklah disini. Kalau kau tidak mau kutemani, kau saja yang menemaniku. Bagaimana?”

Senyuman Marcus membekukan tubuh Serena. Secara ajaib juga menghentikan dahaganya yang terasa membakar tenggorokan. Serena bisa lebih tenang, membiarkan lelaki itu mengontrol naluri vampire-nya.

“Kau sangat menyebalkan tadi pagi. Kau tahu itu, tidak?” ucap Serena.

Marcus tergelak lalu menelan sepotong kue beras lagi. “Apa itu menarik perhatianmu?”

“Setidaknya aku tahu ada lelaki yang bersikap sekasar itu padaku,” Serena mengangkat bahu. “Siapa namamu tadi? Marcus? Marcus siapa?”

“Jo. Marcus Jo,” mata Marcus yang berwarna pekat mulai menenggelamkan Serena dalam kegelapan. Mata itu menghipnotis. “Aku tahu namamu Serena Chastain, tapi aku belum tahu nama korea-mu.”

Serena mengerjap beberapa kali. “Ng.. baru kau yang bertanya soal itu. Serena Choi. Jarang ada yang bertanya hal seperti ini.”

“Aku hanya penasaran padamu. Padamu dan Angela juga, tapi rasa penasaranku lebih tertuju padamu,” ucap Marcus. “Kau tahu kenapa?”

“Tidak. Dan akan jadi ‘ya’ kalau kau mau mulai menjelaskan,” sekali lagi Serena tenggelam dalam mata Marcus. Mata besar dengan warna gelap yang sempurna.

Marcus tersenyum. “Kau ingat laki-laki yang selalu sendirian di kelas Fisika? Yang selalu dilempar dengan gulungan kertas?”

“Sepertinya.. tidak. Maaf,” ucap Serena setengah menyesal. Ia memang tidak mau repot-repot mengingat setiap temannya di kelas apapun. Toh teman-temannya akan berubah setiap tahun.

“Lelaki menyedihkan itu aku. Dan kau yang selalu membantuku,” jelas Marcus.

Serena masih belum bisa menebak kemana arah pembicaraan lelaki di sampingnya itu. “Jadi.. maksudmu adalah?”

“Sejak tahun pertama, aku selalu berusaha mencuri perhatianmu. Tapi kurasa kau terlalu sibuk dengan golongan khusus-mu,” ucap Marcus. “Baguslah tadi pagi aku sempat meninggalkan kesan yang baik untukmu.”

“Kau bilang, mendadak memakiku di tengah taman adalah kesan yang baik? Yang benar saja,” kali ini Serena memutar bola mata. Tapi tidak, ia sama sekali tidak merasa Marcus ini menyebalkan.

Marcus terkekeh. “Setidaknya kau sudah mengingatku.”

“Aku akan selalu mengingatmu kalau begitu,” Serena ikut tertawa. Kemudian ia sadar, semua yang ada dalam diri Marcus Jo sudah menghipnotisnya. Serena membayangkan jantungnya akan mencelos keluar saat ia tenggelam dalam tatapan Marcus, tapi sayangnya ia tidak punya jantung.

Mendadak Serena teringat pada ucapan Angela.

“…Pertama kau akan mencium wangi yang menggoda darinya, dan rasa hausmu akan membakar, lebih daripada biasanya. Tapi selanjutnya rasa itu hilang saat ia menatapmu, dan kau bahkan lupa kalau kau itu vampire saat ia mulai bicara denganmu. Itu namanya cinta, Serena. Aku jatuh cinta! Pada manusia..”

Itu cerita Angela saat pertama kali ia jatuh cinta, pada manusia bernama Spencer Lee. Bukan tidak mungkin perasaannya saat ini rasa yang sama. Sama seperti milik Angela. Diam-diam Serena mengatupkan bibirnya rapat. Ini adalah hal yang sangat dihindarinya. Setidaknya perasaan ini bukan untuk manusia seperti Marcus.

Bukannya Serena mau bermain tebak-tebakan, tapi ia tidak tahan memikirkan segala kemungkinan lain dalam kepalanya.

Ia merengkuh wajah Marcus cepat, membingkainya dalam kedua tangan pucatnya. Serena menempelkan bibir Marcus dengan bibirnya. Aroma itu langsung mengusik Serena, mengganggu kenyamanannya mencium lelaki itu.

Serena berhasil mengabaikan wangi itu. Ia melepaskan wajah Marcus lalu menatapnya. “Maaf..”

Mata Marcus mengerjap beberapa kali, berjaga-jaga seandainya ini hanya mimpi. Gadis favoritnya selama dua tahun baru saja menciumnya, tepat di bibir.

-TBC-

====================

Hello~ kali ini author dateng ama project kecil2an. Kan sempet ada yg minta author bikin horror-romance, lha ini percobaan. Abis di kepala author, kalo genre kaya gitu cuma mengarah ke Twilite. Makanya tercipta lah dunia vampire ini.😄

Tapi entah kenapa malah ga ada horror2nya.😦 *noel-noel lantai*

Kalo disana vampire-nya cowok, kali ini pingin bikin vampire-nya cewek. Maka terciptalah tokoh Serena dan Angela Chastain. Angela uda jelas author, makanya pasangannya ama Spencer Lee. Kekeke~

Nah, kenaliin, Serena Chastain/Serena Choi ini temen sebangku author, alias Sixtine Agustiana Fahmi/Inye/Cizh. Eniwei, poster di atas juga pake foto aslinya, bukan ulzzang. Pas kan? Hehe.. Berhubung dia ga suka korea2an, jadi ni cerita pake nama2 barat tapi tetep dengan setting Seoul.🙂

Trus masalah pemilihan cast cowoknya, berhubung bingung nyari nama2 barat cowok, jadi alhasil cuma pake nama baratnya anak2 Super Junior. (Spencer Lee, Marcus Jo, Vincent Lee, ama Andrew Choi)

Kenapa tokoh utamanya Marcus alias Kyuhyun, soalnya tampangnya penuh misteri. *ditabok sandal* Trus kenapa Spencer alias Unyuk ga jadi vampire juga, soalnya dia ga punya tampang keren sebagai vampire. *ditalak unyuk*

*ngedongak ke atas* Buseet, penutupnya panjang bener yak? ==’

Yahh, pokoknya mohon berikan dukungannya buat The Chastain’s Series ini. Masih ada Jiyoo-Hyukjae couple kok, tenang aja.😄 *dibuang ke laut*

Respect,

-Angela Choi-🙂

84 thoughts on “The Chastain’s [Serena #1]

  1. Wah! Tentang vampir!
    Yey! *Seneng*
    Ada Kyukyu! Dibawah Eunhyuk ntw Umin bukan?? *kalo iya, tambah seneng*
    Aiiiih~ ^^
    Hwaiting hwaiting! ^^

  2. hooooo…
    nathan itu namanya umin yaaa???
    kukira nama Wookie, makanya agak bingung Nathan kok pake Lee ya?
    hehehehe…

    Coupleeee aku mw jadi vampiiiir…
    hueeee, doakan couple mu ini cepet sembuh yaa…
    hxhxhxhxhx…
    ceritanya sumpah DAEBAK abis…
    promosi banyak2 deh, pasti banyak yang suka…
    XoXo

    • Iya, iya, namanya barusan uda diubaaah. Yaoloh, kok bsa salah cobaa? ><
      Vincent, Shela, Sungmin itu Vincent~~~

      Vampir?? Liat sikon yaa onn~ Ini FF vampir pertamaku. Takutnya banyak yg kurang.
      Makasih, makasihh~😀

      PS: amin, amin. Cepet sembuh dehh. Fighting buat FF-nya. *kedip2 mata*

  3. *nganga baca part akhir*
    marcus cho, dici–um =_________= *noel2 lantai-gelayutan dipundak shela (?)*

    umiiiin~ coba liat itu nah~~ *ngadu ke umiiiin~~*😄

    ckck, jangan sampai ada perceraian diantara KyuMin karena Serena (?)

    asyik deh,
    dapet bgt ceritanya~ :3

    • Yaoloh, ampe nganga gitu, mbak?
      Maap yaa, bang kyu-nya aku kontrak dulu disini. Anggep aja itu bukan kyu, anggep aja itu marcus. *apa bedanya?*

      Huahahaha~~ beneran ga sadar uda melibatkan KyuMin!! Padahal tadinya cuma mau liat umin maen disini doang lohh~😄
      Makasihh uda baca yaa, mbak. Chuu~ :*

  4. huee akk suka ! Suka !
    kalo am akk, horor na uda dpet kog.
    lnjut y~
    trus jgn lupa kasi tw part na uda kluar ap gak d fb, kalo gak akk gk bkalan tw, hehe *nyusahin y ?*
    SHELA HWAITINGG~~ \(TTwTT)/

    • Makasihh uda baca yaa~😀
      Horrornya dapet? Serius? Padahal aku pikir malah jatohnya geje. ><

      He? Ngasih tau di fb? Diusahakan yaa~ Tapi biasanya nongol kok apdetan disini lewat FB.🙂
      Makasihh dukungannya~~😀

  5. 1 kata untuk part awal “WOW”!!

    hahaha… sungmnnin kebalik keanya ma kyu.. biasanya juga kyu yg jdi evil… kekeke…
    seSuju! hyuk ga ada tampang jadi vampir! keren doang, cakep engga *ditabok shela, dicekek hyuk* *hae oppa help me!!*

    wuih… bakal ada perang kyumin nih keanya…
    oia, jangan diambil mulu darahnya hyuk, ntar makin kering dia… kalo mau, jadiin shindong ato kangin aja sebagai selingan… kan lebih banyak tuh darahnya.. *ditabok lagi*

    lanjut shela!!! ^^
    suka ff ini… ><

    • Makasihh onn~😀

      Iya yak, pada kebalik2 gitu perannya. >< Aigoo~ abis aku pikir peran utamanya lebih pas kyu. *diinjek sungmin*
      Gapapa, hyuk emang ga ada tampang vampir, yg ada korbannya ngakak smua liat dia.😄

      Huahahaha~ kasian amat hyuk, kekurangan darah. Hahaha.. XDD

      Iyaa, makasihh onnie~😀

  6. Shela…suamiku berani2nya kisseu2 ama cewek laen!Hoa….Huh,tapi ya sutralah…Bagus,loh!Tapi jgn bilang ntar umin mau bunuh Kyu!Kyu oppanya dijadiin vampir aja sekalian!Tampang vampirnya g nahan!

  7. Yeyy ada ff baru🙂

    awal bacanya rada sdkt bingung dan gak nangkap maksudnya😦 *maklum sdkt lemot >.<* tp setelah bc penjelasanx akhrnya ngerti juga hahahaha…

    aku suka temanya, keren pokoknya [thumbsup] twilight versi cwek kekeke… ngebayangin nasib kunyuk tiap hari di ambil drahnya ama angela, apa makin gak kurus tuh :)) hahaha… aku suka karakter kyu disini🙂 oh iya orang tua chastain gak dimunculin ya?

    ditunggu part2 selanjutnya tentang kisah angela-spencer, ama nasib percintaan andrew ntar diceritain juga kan?

    • O ya? Ngebingungin ya? Maap dehh, soalnya ini pertama kalinya bikin FF kaya gini. ><
      Twilite versi cewek, bener banget!😄
      Spencernya kan setiiiiia ama Angela, jadi rela2 aja diabisin darahnya. Hahaha~
      Soal ortunya chastain ga ada, jadi chastain cuma 3 besodara.🙂

      Buat part ini semuanya bakal fokus ke serena-marcus, itung2 couple baru.😄
      Ceritanya Angela ama Andrew bakal dibikin kalo respon Serena ini bagus.🙂
      Makasih uda baca yaa~😀

  8. emang seh cerita kayak gini si kyuhyun bakal kepake . keke
    awalnya sangkain si serena itu icha . #ngasal .
    setuju ma shela si unyuk gak punya ketampanan wajah vampire . #plak .
    wait for the next .

  9. Jeongmal mianhae baru komen yah..:(

    wah..umin ga cocok ah jadi vampir sadis,dia kan imut2..xD
    Si inne main nyosor aja tuh..=.=a
    wkwk..
    Daebak!keren bgt onn..
    Lanjut yah..

    • Abis aku lagi pingin Umin ikutan maen disini, jadi vampir2 gitu kan lucu.😄
      Ine aja demen dijadiin vampir. Hahaha~~
      Gapapalah nyosor2, Kyu-nya juga demen ini.😛

      Makasihh uda baca yaa~😀

  10. omg.. cho kyullen *wahaha kebanyakan baca novel Twilight series xDD* alias marcus jadi pemeran utama prianya ya??
    aaaa keren banget pasti dia (>///<)
    tapi dia bukan vampire ya? cuma manusia biasa kan?
    ceritanya keren!
    part selanjutnya jangan lama-lama ya, shel xDD

  11. akhirnya nemu blog ini lagi,, stlah sekian lama lupa alamatnya. hehehe. ^^
    salam kenal, fia.
    pemilihan kata2nya keren!! gaya cerita juga bagus. feelnya dapet bgd. intinya saia suka!! \^^/
    buat hiburan dikala tugas kuliah numpuk. *?*
    lanjutannya jgn lama2 ya. ntar aku maen lg ksini.
    oya, ini onnie apa dongsaeng ya kalo umurku 18?

  12. aku suka jadi vampir….kya suka bayangin aku yang ngisep darahnya si spencer….suka…suka…lanjutin cingu…gomawo storynya bikin orang meleleh

  13. ngakak gw pas baca tulisan eunhyuk ga ada tampang vampire… seru juga neh cerita hohohoho

    lanjut non, btw donghae cocok tuh jadi vampir hahahahaha

    • Yahh~~ emang dia ga ada tampang jadi vampir kok.😄
      Project iseng ga ada kerjaan gini nihh. ><

      Donghae? Ga ada Donghae disini, onn. (-.-')a
      Vincent Lee ya maksudnya? Itu Lee Sungmin~~~

      Tapi makasihh uda baca.😀

      • trus eunhyuk ada tampang apa dong?? jgn katakan tampang yadong ya cos tampa kamu bilang pun dah kliatan wkakakakakkak *kabur sebelum ditimpuk ama shela*

        pis non.. ga kok aku cuman kestau kalu donghae cocok jg jadi vampir… asal jgn pas dia nangis aja hahahahaha

      • yahh, unyuk mah ada tampang magic, bisa bikin aku senyum2 sendiri.😄

        jyahh~ kirain ga tau nama baratnya umin. Hehe..
        Donge? Adaaa part khusus buat dia. *mudah2an*

  14. Dear Shela, (ceile kayak mau nulis surat cinta aja)
    Berhubung aku bacanya borongan, komennya di akumulasi di part terakhir yang udah di post ya…🙂

    With Love,
    Your onnie

    Lia

    (beneran kayak bikin surat deh…😛 )

  15. woa… saya suka cerita yg berhubungan dgn dunia vampire romantis soalnya saya penggemar novel twilight saga *Plakk kg nanya*

    saya cemburu kyu dicium,,, hehehe
    tp kynya tampang kyu cocok loh bwt jd vampire,,, mendingan ubah kyu aja…

    umin oppa ngga punya tampang beringas jd rada kaga cocok tuh.. hehehe
    dia kan my pinky boy.. hehehe

    mw lanjut ah bacanya….

  16. aNnyeoNg haseo …:p #Bow..
    i’m new readers,,, stlh ngubek” ni blog, akhrnya pilihn prtma jtuh ma FF the chastain,, dan trnyta critanya tntng vampire,, Wihh sprtinya critanya sNgt kEren,, kyu jd anak orNg sush.. hehehe🙂
    Yaahh nti kyu ma umin musuhn doNk ..?? tp itU jg klu kyu jd’n ma serena …!
    Next Chap !

  17. whhoooooaaaa, konsepnya keren nih..
    suka sama karakter2nya..

    kasian unyuk, udah kurus gitu, masih aja dihisap darahnya ama jiyoo..😄

  18. Wowww, standing applaus sheil..
    Gila, keren abizz! Smp bingung mw comment apa. Spechless.
    Suka banget, soal line story nya saiia bnr2 spechless, n covernya keren pake double banget (?)
    Pas banget sm ceritanya.
    Ahh, ga tw mw ngomong apa lg. Cius.. *__*

  19. Wah in FF tahun 2010? Wkwkwk dan aku baru baca tahun 2013 eonn, sebenernya aku suka sama FF onnie gara-gara BluEast Harmony tuh, udah baca itu malah ga baca yang lain. Maklum ga sempet eonn /plak/ dan sekarang aku akan membaca semua FF mu. Shela onnie jjang! Pas buka BEH castnya ada Kyu, pas buka castnya Kyu juga. Emang jodoh kali ya aku sama Kyuhyun(?)

  20. Cho Kyu Hyun memang selalu pantas berperan sebagai vampir, tapi aq gak setuju author bilang HyukJae gak pux wajah keren sbg vampir. Kekekeke…

  21. FF vampire nya keren bgt chingu!
    Skrg jd kepikiran sm keselamatan marcus. Serena sdh jatuh cinta sm marcus, otomatis dia pasti ninggalin vincent. Tp klan vincent kan klan yg tdk segan2 utk membunuh lawannya. Itu berarti nyawa marcus terancam.
    Suka bgt ff fantasynya. Daebak!
    Lanjut ya..
    Gumawo chingu..aku ijin baca ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s