Violetter #4


====================

-previously-

Pertanyaan utamaku sudah terjawab, J itu Jiyoo. Choi Jiyoo yang sama. Choi Jiyoo yang selalu membuatku hampir gila. Tapi ternyata aku sama sekali tidak merasa lega. Sebaliknya, ada banyak pertanyaan yang sekarang berputar-putar di kepalaku, mencari jawabannya sendiri.

Teuk hyung menarik napas berat sekali lagi. Bibirnya mulai terbuka perlahan. Aku punya firasat jelek soal ini.

—-

March 20, 2010

“Penggunaan passive voice hanya bisa dipakai saat kalimat aktifnya memiliki objek,” wanita paruh baya dengan kacamata tebal sedang menjelaskan dari balik buku bahasa inggrisnya. Tapi kemudian ia mendongak dan melirik gadis yang sedang bertopang dagu. “Choi Jiyoo-ssi, apa kau mau mengulang penjelasanku barusan?”

Gadis bernama Choi Jiyoo tadi tidak menyahut. Tatapannya kosong, tapi sedetik berikutnya ia bergumam, “Aku ingin bertemu Eunhyuk oppa~~”

Seluruh kelas tertawa nyaring, sedangkan wanita ganas yang sekarang sudah ada di depan meja Jiyoo sedang menatapnya galak. “Ya! Kalau kau saja mau bertemu Super Junior Eunhyuk, aku juga mau bertemu dengan 2PM Nichkhun!”

“Ah, Jang seonsaengnim..,” Jiyoo tersadar dari lamunannya dan langsung menudukkan kepala. “Jweisonghaeyo, seonsaengnim.”

“Selama pelajaranku kau hanya melamun, dan lamunanmu hanya tentang Eunhyuk? Carilah idola lain, Jiyoo-ssi,” Jang seonsaengnim meliriknya tajam.

Tapi begitu ia berbalik, Jiyoo mencibirnya. “Eunhyuk oppa itu calon suamiku, bodoh~”

“Ne? Mworagoyo, Choi Jiyoo-ssi?” Jang seonsaengnim kembali menegur Jiyoo.

Jiyoo buru-buru menggelengkan kepala sambil membekap mulutnya sendiri. Ia bisa bernapas lega saat guru bahasa Inggrisnya itu hanya mendelik dan meninggalkannya.

Sebuah gulungan kertas mendarat di meja Jiyoo. Ia membukanya dan terbelalak.

Eunhyuk sedang sibuk dengan gadis-gadis. Dia kan cassanova~~

Ia merengut kesal dan langsung menoleh ke arah pengirimnya. Jiyoo mengepalkan tangan. “Kau pasti mati, Park Hyunyoung-ssi.”

Gadis bernama Hyunyoung itu hanya bisa nyengir. Tangannya membentuk huruf V.

—-

“Choi Jiyoo, apa kau sudah gila?” Hyunyoung membelalakkan matanya ke arah gadis mungil berambut panjang itu.

Jiyoo hanya mendongak. “Ng? Gila? Aku masih waras, Park Hyunyoung yang cantik.”

“Kalau kau tidak gila, apa kepalamu tadi terbentur sesuatu?” tanya Hyunyoung lagi, membuat Jiyoo merengut. “Ne, ne, ne. Aku hanya bercanda. Lagipula kenapa idemu itu super aneh begitu?”

“Ya! Apanya yang aneh? Mendatangi ruang tunggu idola kita kan bukan hal aneh. Memangnya itu sudah dilarang ya sekarang?” Jiyoo menggaruk-garuk kepalanya dengan pensil.

Hyunyoung melongo lalu kembali buka mulut. “Aish.. memang tidak. Tapi tetap saja usulmu ini bisa membuat kita di black-list dari studio KBS. Mana ada fans yang mengendap-endap ke ruang tunggu artis?”

“Ck, ck, ck, Hyunyoung-ah, fans yang punya ide seperti itu bukan cuma aku,” Jiyoo berkilah.

Lagi-lagi Hyunyoung hanya bisa mendesah. “Apa kau sudah gila gara-gara Eunhyuk oppa?”

“Mm. Saaaaaangat gila!! Pokoknya aku harus melakukan ini!” Jiyoo mengepalkan telapak tangan dan berteriak yakin, membuat semua pengunjung café di sekitarnya reflek menoleh. Wajah Jiyoo berubah merah. Ia buru-buru menunduk, “Jweisonghaeyo..”

—-

Jiyoo tersenyum lebar melihat hasil karya di genggamannya. “Jjajan~!”

“Mwoeyo?” tanya Hyunyoung sambil mendongak. “Itu.. barang yang mau kau berikan pada Eunhyuk oppa? Hanya itu?”

“Ya! Apanya yang ‘hanya’? Ini ungkapan perasaanku, Hyunyoung-ssi,” tegas Jiyoo. Ia mengangkat kertas itu ke udara. “Menulis surat ini adalah hal paling romantis yang pernah kulakukan.”

Hyunyoung memutar bola mata. “Terserah kau saja.”

“Memangnya apa yang kau buat untuk Yesung oppa?” badan Jiyoo maju ke depan, berusaha melihat benda yang ada di kotak plastik bening di samping Hyunyoung. Ia menahan tawa. “Itu.. kue?”

“Ng. Wae? Kenapa tertawa?” kali ini Hyunyoung yang cemberut.

Jiyoo menutup mulut dengan kedua tangannya. “Ani, ani. Aku hanya terkejut. Sejak kapan Park Hyunyoung bisa membuat kue?”

“Sejak aku suka pada Yesung oppa,” jawab Hyunyoung polos.

“Ternyata bukan cuma aku yang sudah gila,” Jiyoo mencomot sebuah kue kering cokelat di depannya.

Hyunyoung berusaha merebut kue itu tapi sia-sia. Hanya ada sepotong kue yang sudah sisa setengah. “Ya~ ini untuk Yesung oppa!”

“Aigo.. jadi kau lebih mementingkan kue ini daripada persahabatan kita?” Jiyoo mengedipkan mata berulang kali, mencoba mendramatisir.

“Persahabatan apa? Bagiku, Yesung oppa dan Super Junior lebih penting dari gadis gila sepertimu, Choi Jiyoo-ssi,” sahut Hyunyoung tenang.

Jiyoo merengut. Tapi diam-diam jantungnya berdegup kencang. Ia memandangi surat ungu yang ada di depannya lalu tersenyum. Alisnya terangkat saat ia melihat nama pengirimnya, Choi Jiyoo. Otaknya berpikir cepat untuk merubah nama itu. Jiyoo mengambil penghapus karet dan hanya menulis ulang huruf latin –bukan hangeul- J.

—-

May, 15 2010

Jiyoo mengendap menghindari para bodyguard yang berjaga di sekitar waiting room Super Junior. Kakinya sengaja berjinjit supaya tidak ada suara yang bisa membuat rencananya gagal. Gadis di sampingnya menepuk pundak Jiyoo pelan. “Jiyoo-ya..”

“Ssstt..,” Jiyoo menempelkan telunjuk di depan bibir tanpa menoleh.

Sementara gadis tadi masih tetap menepuk-nepuk pundak Jiyoo. “Ya~ Jiyoo-ya..,” Kepala Jiyoo menoleh cepat dan matanya memandang kesal gadis itu. “Itu.. anu.. apa kita tidak bisa pakai cara wajar saja?”

“Bodoh! Kalau begitu, tidak ada jaminan barang ini sampai ke tangan mereka,” Jiyoo mencibir. “Hyunyoung-ah, bukankah kau ingin Yesung oppa menerima kue itu secara langsung?”

Gadis yang ternyata bernama Hyunyoung itu menunduk melihat kotak kecil di tangannya lalu mengangguk lemah. “Memang. Tapi.. kalau seperti ini, kita malah seperti maling, Jiyoo-ya.”

“Kita akan jadi maling untuk mencuri hati mereka,” ujar Jiyoo dengan ekspresi berlebihan.

Hyunyoung memutar bola matanya lalu kembali diam melihat tingkah sahabatnya. Jiyoo memang sengaja mengajak Hyunyoung masuk dengan paksa ke studio KBS dan mengendap menuju ruang tunggu Super Junior. Perbuatan gadis itu sangat nekat, pikir Hyunyoung. Entah apa yang membuatnya menuruti tingkah Choi Jiyoo.

Mereka berhenti tepat di depan pintu yang ternyata tidak dijaga. Jiyoo menelan ludah kemudian menatap Hyunyoung. “Apa kita harus masuk?”

“Molla, molla,” kepala Hyunyoung terlalu pusing untuk berpikir. Kedua gadis itu sama sekali tidak percaya sedang berada di depan ruangan idolanya.

Mata Jiyoo mengerjap beberapa kali sebelum ia menghembuskan napas panjang. “Kita harus masuk! Susah payah kita kesini, mana mungkin kita hanya diam saja? Kaja~”

Hyunyoung membelalakan mata melihat kelakuan gila sahabatnya. Belum sempat ia menegurnya, Jiyoo sudah membuka pintu di depan mereka dengan santai. Ia berdiri di belakang Jiyoo, mencoba bersembunyi. Tapi Jiyoo malah melangkah masuk ke ruangan itu.

“Ya~ Choi Jiyoo!” panggil Hyunyoung.

Jiyoo mengabaikannya. Ia berjalan mendekat ke tempat Leeteuk yang sedang duduk sambil menoleh ke arahnya. Lelaki itu terlalu terkejut melihat seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke waiting room grupnya.

“Leeteuk oppa, aku titip surat ini!” ujar Jiyoo sambil membungkuk dan menyodorkan sebuah amplop berwarna ungu.

—-

Leeteuk hanya bisa melongo melihat tingkah gadis di depannya. “Kau.. siapa?”

“Aku? Aku Choi Jiyoo dan dia..,” Jiyoo menarik tangan Hyunyoung cepat. “Ini Park Hyunyoung. Kami ini ELF-mu!”

Bibir Leeteuk tertarik ke belakang, ia tersenyum. “Tapi kenapa hanya menitipkan surat untuk Hyukjae? Untukku?”

“Ah.. itu, sebe-“

Hyunyoung buru-buru memotong, “Sebenarnya gadis gila ini ingin menjadi pengantin Eunhyuk oppa. Dalam kepala sintingnya hanya ada Lee Hyukjae, jadi maklum saja kalau dia hanya menulis surat untuk-“

“Aish.. Tutup mulutmu!” tangan Jiyoo membekap mulut Hyunyoung. Kemudian ia kembali menatap Leeteuk. “Ng, apa boleh aku minta tolong untuk menyam-“

Leeteuk mengangguk. “Akan kusampaikan, Jiyoo-ssi. Benar kan, namamu Jiyoo?”

“Ne, ne. Kamsahamnida, oppa,” Jiyoo membungkukkan badan dengan cepat. Ia menyenggol lengan Hyunyoung. “Ya~ mana kuemu?”

Hyunyoung yang baru saja sadar pada hadiahnya langsung menyodorkan sebuah kotak plastik. “Ini. Sebenarnya ini untuk Yesung oppa, tapi kurasa cukup untuk member lainnya.”

“Gomawo,” Leeteuk mengulurkan tangan menerima hadiah Hyunyoung. “Apa kalian tidak mau menunggu Hyukjae atau Yesung?”

Mata Jiyoo terbelalak lebar. “He? Bisakah?”

“Tentu saja bisa,” senyum Leeteuk makin lebar melihat wajah lugu Jiyoo. “Bukankah kau lebih senang kalau bisa menyerahkan ini langsung?”

“Ne! Eh, tapi tidak. Aku tidak mau menyerahkan surat ini langsung,” ucap Jiyoo. “Tapi kalau Hyunyoung, mungkin dia mau bertemu Yesung oppa, iya kan?” Jiyoo mengedipkan mata ke arah Hyunyoung.

Hyunyoung menunduk malu. Tapi Leeteuk mengernyitkan alis. “Waeyo? Kenapa tidak mau bertemu Hyukjae?”

“Karena.. surat itu anonym, aku sengaja tidak menuliskan nama asliku disana,” sahut Jiyoo. “Aku ingin jadi seseorang yang bisa mengenalnya hanya lewat surat. Kalau aku bertemu langsung dengannya, bisa-bisa aku pingsan di tempat.”

“Kau benar-benar menyukainya ya?” tanya Leeteuk sambil memperhatikan surat berwarna ungu yang sekarang ada di tangannya.

Jiyoo mengangguk cepat. “Aku juga mencintaaaaainya!”

Hyunyoung yang melihat tingkah Jiyoo hanya memutar bola mata, sementara Leeteuk masih terhibur dengan gadis polos di depannya. “Sepertinya sekarang aku iri pada Hyukjae. Apa kau akan terus mengirim surat?”

“Ng. Sepertinya begitu,” Jiyoo tersenyum.

“Geurae. Kau bisa menitipkan suratmu padaku,” ucap Leeteuk.

Lagi-lagi mata Jiyoo terbelalak lebar. “Jinjjayo? Oppa mau melakukannya?” Melihat Leeteuk mengangguk, Jiyoo kembali membungkukkan badan. “Oppa! Kau benar-benar malaikat!!”

Leeteuk banyak tersenyum lebar malam ini. Ia merasa Choi Jiyoo bisa menularkan virus tertawa. Dengan cepat, Leeteuk mencatat nomor ponsel Jiyoo di ponselnya. Sayang sekali gadis itu bukan penggemarnya, bisik Leeteuk dalam hati.

—-

-two weeks later-

“Hyung~ tidak ada surat lagi dari J?” Eunhyuk merebahkan tubuh di sofa krem. Matanya menatap Leeteuk dengan penuh harap.

Leeteuk mengerutkan kening. “Kau sangat ketagihan pada surat itu?”

“Ani, hanya saja.. aku suka membaca tulisannya. Wanginya juga menyenangkan. Apa dia selalu menyemprot suratnya dengan parfum?” gumam Eunhyuk, sibuk menebak-nebak sendiri.

Mendadak tawa Leeteuk meledak. Kepalanya mengangguk-angguk cepat saat ingatannya memunculkan kembali sosok Jiyoo. Choi Jiyoo yang ceria, suka sembarangan dan selalu menyukai Lee Hyukjae. Leeteuk berpikir bukan tidak mungkin Jiyoo akan menyemprotkan parfumnya ke setiap lembaran surat ungu itu.

Sejenak Eunhyuk melongo melihat tingkah aneh Leeteuk tapi ia mengabaikannya. “Wanginya seperti.. lavender. Menyenangkan~~”

“Kurasa dia akan segera mengirimkan suratnya lagi, mungkin.” Leeteuk berhenti tertawa dan menghitung. Jiyoo selalu mengirim surat dua hari sekali. Begitu ada surat yang selesai, gadis itu akan mengiriminya pesan.

Eunhyuk merengut. “Hyung memang sok tahu. Memangnya hyung kenal dengan J?”

“Ya! Jangan meremehkanku. Kau pikir siapa yang selalu menerima surat-surat lavender itu?” Leeteuk berkilah.

“Ahh~ aku ingin bertemu J..,” gumam Eunhyuk. “Hyung, bisa tidak kami bertemu?”

Leeteuk kembali tertawa. “Gadis itu takut dia akan pingsan di tempat begitu melihatmu secara langsung.”

“Jinjja? Gadis itu pasti gadis yang lucu,” Eunhyuk terus-menerus tersenyum.

—-

-the next week-

“Ini,” Leeteuk menyodorkan sebuah kotak mungil berlapis kertas kado mengkilat warna biru.

Jiyoo mengernyitkan alis dan mendongak. “Mwoeyo?” Ia meraih kotak itu dan merobek kertas pembungkusnya dengan cepat. Matanya terbelalak begitu melihat benda di dalamnya. Jiyoo mengusap-usap bros mungil berwarna ungu di tangannya. “Uwaaaa~~ yeppeoda. Ini untukku?”

“Bukan. Aku hanya memperlihatkannya saja padamu,” ujar Leeteuk. Tapi kemudian ia nyengir. “Tentu saja untukmu, gadis bodoh~”

“Gomawoyo, oppa. Eh, tapi kenapa mendadak memberiku bros? Aku tidak ulang tahun,” gumam Jiyoo.

“Kalaupun kau ulang tahun, apa aku harus memberimu kado?” goda Leeteuk, membuat Jiyoo merengut kesal. “Tebak dari siapa~”

“Ng? Bukan dari oppa?” tanya Jiyoo. Tapi buru-buru ia menjawabnya sendiri. “Aku tahu, aku tahu, untuk apa oppa memberikan hadiah seperti ini padaku, iya kan? Menyebalkan~”

Leeteuk tergelak lalu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari sakunya. “Ini. Baca yang benar.”

Kening Jiyoo berkerut heran, tapi tetap diraihnya kertas itu. Sejenak ia tidak bersuara dan hanya berkonsentrasi pada suratnya. Tapi kemudian ia memekik, “INI DARI EUNHYUK OPPA?”

“Kan sudah tertulis disana, kenapa masih tanya?” Leeteuk memutar bola mata. “Kau senang?”

Senyum Jiyoo berubah lebar. Kepalanya mengangguk-angguk semangat. “Sangat! Sangat! Sangat!”

“Aku tahu..,” Leeteuk berkomentar singkat. Ia tahu gadis ajaib di depannya itu akan bereaksi seperti ini. “Simpan kedua benda itu baik-baik. Eunhyuk sudah susah payah memilihkan bros itu khusus untukmu.”

Jiyoo kembali memusatkan perhatiannya pada bros ungu berbentuk bintang itu. “Akan kumasukkan dalam kotak besi!”

“Itu berlebihan, Jiyoo-ya~~~” lagi-lagi Leeteuk memutar bola mata.

—-

Hyunyoung duduk diam di ranjang Jiyoo dan terus memperhatikan sahabatnya yang sibuk mondar-mandir di depan lemari. Ia menarik napas berat. “Choi Jiyoo~ aku pusing melihatmu bolak-balik begini! Duduk sana~”

“Siapa yang menyuruhmu melihatku?” balas Jiyoo acuh. Kemudian ia meneruskan kegiatan mondar-mandirnya. “Aish.. aku harus pakai baju apa?”

“Memangnya kau yakin Eunhyuk oppa akan menemuimu?” tanya Hyunyoung, pertanyaannya yang keduabelas.

Jiyoo berhenti bergerak lalu menatap Hyunyoung. “Aku sudah menulisnya di surat hari ini. Mana mungkin dia tidak membacanya? Dia bilang dia selalu membaca surat dariku~”

“Aku tahu. Berhenti pamer itu di depanku!” sungut Hyunyoung.

“Lalu?”

Hyunyoung mengerutkan kening. “Lalu apa?”

“Lalu baju apa yang harus kupakai malam ini? Apa aku harus pakai rok? Dengan syal ungu muda milikku? Atau aku pakai celana panjang dan sweater putih?” Jiyoo mengambil dua gantungan baju dari lemarinya.

“Terserah kau~” sahut Hyunyoung cepat.

Jiyoo merengut kesal. “Sebagai sahabat yang baik, bukankah kau harus membantuku, Park Hyunyoung-ssi?”

“Kenapa aku harus membantumu, Choi Jiyoo-ssi?” tantang Hyunyoung. Kemudian ia nyengir. “Ara, ara. Pakai celana saja, dengan sweater putih, lalu kau pakai bros ungu dari Eunhyuk oppa itu. Bagaimana?”

Mata Jiyoo berkilat cemerlang. Ia tersenyum lebar. “Park Hyunyoung daebak~!”

—-

-the night, 8PM-

Jiyoo mengetuk-ngetukkan jari di atas meja café, mencoba mengalihkan rasa kesalnya. Untuk ketujuh kalinya, ia melirik jam dinding. “Apa dia memang suka terlambat ya?”

Kemudian ia bersandar di kursinya. Sudah hampir satu jam tiga puluh menit ia menunggu di Amore Café, tapi lelaki yang ditunggunya itu sama sekali tidak menampakkan diri. Jiyoo sudah menulis kalau dia akan menunggu di café ini pukul 6.30, dan dia bertekad akan tetap menunggu.

“Sepertinya aku sudah berbuat hal bodoh,” gumam Jiyoo. “Aku bilang akan menunggu disini tapi tidak tahu Eunhyuk oppa bisa datang atau tidak. Ahh~ seharusnya aku memberikan nomor ponselku!” Jiyoo meniup poninya frustasi.

Sebenarnya ia bisa saja pulang, tapi ada hal lain yang ia khawatirkan. Jiyoo sibuk berpikir bagaimana kalau seandainya Eunhyuk tetap datang lalu ia menemukan Jiyoo sudah tidak disini? Jiyoo hanya tidak mau membuat lelaki istimewanya itu kecewa.

“Tapi kalau begini, akulah yang akan kecewa,” Jiyoo mengembuskan napas berat untuk kesekian kalinya.

—-

“Mworago?” Leeteuk memekik pelan pada lawan bicaranya di ponsel. “Ya~ Hyuk-ah, kenapa kau baru bilang sekarang?” Ia melirik jam tangan putihnya. “Sudah pukul delapan malam! Kau mau dia menunggumu sampai kapan?”

Terdengar tarikan napas panjang dari Eunhyuk. “Arayo, hyung. Tapi ini benar-benar mendadak, dan aku tidak tahu bagaimana memberitahunya.”

Leeteuk memindahkan ponselnya ke telinga kanan. “Geurae. Aku akan menelepon J untuk memberitahu kalau Lee Hyukjae-nya ingkar janji.”

“Aku tidak ingkar janji~ siapa suruh J tidak menulis nomor yang bisa dihubungi?” rajuk Eunhyuk.

“Kalau dia memberimu nomor ponselnya, dia tidak akan punya alasan untuk menghabiskan parfumnya,” Leeteuk setengah tertawa.

—-

“Tidak bisa menemuiku malam ini?” Jiyoo mendesah berat begitu mendengar kabar dari Leeteuk. “Kalau begitu aku akan pulang sekarang.”

“Tidak mau kujemput?” tawar Leeteuk, diam-diam merasa bersalah atas sikap Eunhyuk.

“Tidak perlu, masih ada bis malam ini,” ujar Jiyoo lemas. Kemudian rasa dingin menggelitik tengkuknya. Kepalanya menoleh cepat ke samping, menemukan seorang pria bermantel hitam bersandar di tiang listrik. Jiyoo menelan ludah.

“…Jiyoo? Kau masih mendengarku?” tanya Leeteuk di ujung telepon.

Dengan cepat, Jiyoo mengalihkan pandangannya dari pria menakutkan di ujung jalan. “Ne, ne. Aku bisa pulang sendiri.”

Suara denting tidak beraturan terdengar dari arah yang sama. Jiyoo kembali menoleh dan melihat pria itu sedang memukul-mukulkan botol soju ke tiang. Detik berikutnya Jiyoo sadar pria itu juga sedang menatapnya. Matanya menakutkan, gelap dan tajam. Lagi-lagi Jiyoo kesulitan menelan ludah.

“Chaeyoung-ah..,”pria itu berjalan terseok ke arah Jiyoo. “Kenapa hanya berdiri disitu? Ayo mendekat~”

Jiyoo mulai ketakutan. Tangannya menggenggam erat ujung sweater, mencoba mengurangi rasa gelisahnya. “A-ahjussi, kau pasti mabuk..”

“Siapa yang mabuk? Dan siapa yang kau panggil ‘ahjussi’?” pria itu kembali meracau. Langkahnya semakin cepat mendekati Jiyoo. Tanpa sadar, Jiyoo sudah berada di sebuah jalanan buntu yang tadi hanya berjarak lima meter di belakangnya.

“Ja-jangan mendekat!” Jiyoo mencoba berteriak, tapi suaranya malah bercampur dengan tangis yang tertahan.

Pria itu seolah tak mendengar dan tetap melangkah maju. Tubuhnya gontai. Jiyoo mundur selangkah demi selangkah sampai punggungnya menyentuh tembok dingin di belakangnya. Seringaian pria itu tersengar samar. Tidak ada lampu yang bisa menerangi mereka tapi Jiyoo tahu mata lelaki itu berkilat-kilat menyeramkan.

“Jiyoo-ya? Ada apa?” suara Leeteuk di ujung telepon sudah tak jelas, tertutupi oleh ketakutan Jiyoo.

Tanpa sadar, Jiyoo menjatuhkan ponsel dari tangannya. Ia menelan ludah. Jantungnya berderap cepat, bahkan lebih cepat dari gerakan jarum jam tangannya. Lelaki bermantel lusuh itu terus mendekat dan mulai merobek lengan sweaternya.

—-

“AAAAAAAAH!!!” teriakan Jiyoo dari ponselnya membuat Leeteuk terbelalak.

Leeteuk ikut panik. “Jiyoo-ya? Jiyoo-ya? Kau dimana?”

Tidak ada jawaban. Hubungan telepon itu terputus. Leeteuk mengerutkan keningnya, bingung. Ia yakin ada yang tidak beres dengan Jiyoo disana. Tapi sekarang ia benar-benar kosong, sama sekali tidak bisa berpikir.

Begitu sadar dari dirinya sendiri, ia menekan nomor di ponselnya. Terdengar nada tunggu di seberang sana. “Hyuk-ah? Dimana J mengajakmu bertemu?… Amore?… Daerah Hongdae?… Arasseo.”

Leeteuk menyelipkan ponsel ke saku celananya. Ia masuk ke mobilnya dengan cepat dan memacunya ke arah Hongdae.

—-

10PM

Leeteuk segera turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia merasakan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Hatinya sama sekali tidak tenang. Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Jiyoo.

Nada sambung terdengar agak lama. Ia menggumam tak sabar. “Angkat! Angkat! Cepat angkat teleponnya, Ji-“ TREK. Panggilan Leeteuk dijawab. “Yeoboseyo? Jiyoo-ya?”

Tidak ada yang menyahut dari ujung telepon. Hanya ada suara napas ketakutan yang terdengar memburu cepat. Leeteuk tahu gadis itu mendengarnya.

“Demi Tuhan! Choi Jiyoo! Jawab aku! Kau ada dimana?” teriak Leeteuk frustasi.

Ia memutar tubuhnya, mencoba mencari sosok gadis itu. Pandangannya terhenti di sebuah ujung jalan kecil yang gelap. Tengkuknya meremang, firasat buruk kembali menyergap dadanya. Ada suara di kepalanya yang bilang Jiyoo sedang disana, ketakutan. Tapi ia juga tidak mau membiarkan firasat terburuk dalam kepalanya mendapat kesempatan untuk bersuara. Leeteuk bergidik ngeri.

“Jiyoo-ya, kalau kau ada di jalanan gelap itu, diam disana. Aku kesana,” ujar Leeteuk, mencoba menenangkan.

Leeteuk terus berjalan perlahan ke jalan kecil di depannya. Sesekali ia menelan ludah dengan berat. Matanya waspada, memeriksa sekeliling. Ia tahu daerah ini sangat, tidak, bahkan terlalu sepi.

Dan saat itulah ia menemukan Jiyoo, duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Leeteuk terpaku di tempatnya. Gadis itu memegang ponsel di tangan kanannya, tapi Leeteuk bisa melihat bibirnya bergetar, seperti menggigil.

“Ji-“ panggilannya terhenti saat melihat Leeteuk melihat seorang pria terbaring di depan Jiyoo. Ada darah di pelipisnya, juga botol soju yang pecah. “Apa dia..”

Jiyoo mendongak dan menunjukkan wajahnya yang sembab. “O-orang ini.. orang ini mau..”

Leeteuk berjalan cepat dan segera berjongkok di depan Jiyoo. Ia memeluk Jiyoo cepat dan mengusap punggung gadis itu. “Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja sekarang. Tenanglah.”

“Tapi dia.. mati!” pekik Jiyoo lirih. Matanya terus terpaku pada pria bermantel lusuh yang nyaris melakukan hal paling kejam padanya.

“Tidak, dia tidak mati,” ucap Leeteuk menenangkan. Ia menunjuk dada pria itu yang masih naik-turun, walaupun dengan gerakan yang tidak sinkron. “Kau lihat kan? Dia tidak mati.”

Jantung Jiyoo tetap tidak melambat. Peristiwa itu terlalu menakutkan, terlalu buruk bahkan untuk sekedar dibayangkan. Ia melirik lengan sweaternya yang sudah sobek. Ada beberapa bekas lebam di lengan dan pundaknya. Tubuh Jiyoo masih bergetar ketakutan.

“Kau akan baik-baik saja,” Leeteuk seolah merasakan ketakutan Jiyoo.

Sebenarnya ia memang merasakannya, setidaknya ia bisa membayangkan bagaimana jika seorang gadis sendirian di tempat segelap ini, dan hampir mengalami malam terburuk dari pria menakutkan. Ia tahu kejadian itu akan sangat menakutkan bagi Jiyoo.

Jiyoo melirik bros bintang berwarna ungu yang masih ada di sebelah kiri sweaternya. Sekarang ketakutannya bercampur kekecewaan. Bahkan lelaki yang sangat dipujanya itu tidak peduli padanya. Seandainya ia tidak menunggu Eunhyuk, seandainya ia tidak berharap lelaki itu akan datang, dan seandainya ia tidak terlanjur mencintainya lebih dari pria mana pun. Ya. Seandainya..

—-

“Kalau kau tanya kenapa Jiyoo bisa berubah, itu jawabannya,” lanjut Leeteuk. “Kalau kau mau tahu bagaimana Jiyoo yang dulu, kau akan terkejut. Dia gadis menyenangkan yang selalu bertingkah konyol hanya untuk Lee Hyukjae-nya.”

Eunhyuk tahu ia tidak bisa menjawab apapun. Terlalu banyak kejutan hari ini. Jauh di dalam dadanya, ada rasa sesak yang semakin lama semakin membuatnya susah bernapas.

Kemudian Leeteuk melanjutkan, “Aku tidak melarangmu mendekati Jiyoo. Tapi tolong pikirkan bagaimana perasaannya saat di dekatmu. Percaya atau tidak, itu menyakitinya.”

“Tapi,” akhirnya Eunhyuk berhasil menemukan suaranya. “Aku tidak tahu kalau malam itu dia-“

“Sekarang kau tahu,” potong Leeteuk. “Dan seharusnya kau juga tahu apa yang harus kau lakukan.”

Eunhyuk mengernyitkan alis, tidak setuju. “Hyung menyuruhku menjauhinya? Lalu kenapa hyung membawa Jiyoo ke depanku lagi? Bukankah itu artinya hyung hanya akan semakin menyakitinya?”

“Aku tahu. Tapi ketakutanmu hanya bisa dikalahkan kalau kau menghadapinya. Aku mengatakan hal itu pada Jiyoo. Aku mau dia melupakan hal mengerikan itu. Tapi aku juga minta padamu, jangan buat dia makin takut dengan terus memperhatikannya.” jelas Leeteuk.

Eunhyuk membuka mulut, ingin membantah. Tapi ia tahu Leeteuk benar. Gadis itu harus menghadapinya, pelan-pelan.  Sialnya, ia sama sekali tidak suka saat kenyataannya Jiyoo terluka karenanya.

“Bagaimana.. bagaimana kalau aku tidak bisa, hyung?” ucap Eunhyuk tiba-tiba.

Leeteuk menoleh, mengerutkan kening. “Tidak bisa apa?”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa berhenti memperhatikannya? Bagaimana kalau aku sudah menyukai J dan Jiyoo sejak awal?” Eunhyuk berbisik lirih, membiarkan pikirannya bersuara.

“Kau mau menyakitinya? Lagi?” ucapan Leeteuk tepat sasaran.

Eunhyuk menggeleng lemah. Ia tidak mau, dan tidak akan mau menyakiti gadis itu. Choi Jiyoo, J, atau siapapun Jiyoo itu terlalu penting baginya, entah sejak kapan.

“Bagaimana kalau aku bisa menyembuhkannya pelan-pelan?” ujar Eunhyuk.

Leeteuk menarik napas panjang. “Kau? Kau mau apa?”

Pertanyaan Leeteuk tak terjawab. Eunhyuk hanya bangkit dari  ranjang dan melangkah ke arah pintu. Tangannya terhenti di kenop. “Hyung, berjanjilah kau tidak akan bilang pada Jiyoo kalau aku sudah tahu semua ini.”

“Ng? Aku akan melakukannya selama kau tidak menyakiti Jiyoo,” ucapan Leeteuk membuat Eunhyuk tersenyum kecil.

-TBC-

====================

Ini part yang author janjiin. 90% flashback. Kalo ada yang bikin bingung, langsung tanya aja ya. Tar Insya Allah dijawab.🙂

Dan selebihnyaa, makasih buat semua yang uda baca Violetter. Banyak-banyak makasihh pokoknya~😀

Sampai jumpa di Violetter #5. *lambai-lambai*

69 thoughts on “Violetter #4

  1. Dongsaeng!!!!!Udh ilang rasa penasaran aku!!!Huhuhu…gomaweoyo!!!Part 5 nya kapan?Jgn lama2.Baguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssssssssssss!!!!!!!!

  2. Jiyoo-ya… tabahkan hatimu!! HWAITING!! Jgn lama” traumanya… sayang, cwo seganteng Hyukie dianggurin… wkawkawkawka~ #plak!
    DAEBAK EOOONNN!!!! (bawa spanduk)
    part 5 nya y eooonnn… penasaran.. hohohohohoho~

  3. neeeeeng…
    masih perawan kan??? #plakk
    aduuuh mianhae aku lagi ngelindur banget malem ini…
    wakakakakaka…
    akhirnya tau juga si Jiyoo kenapeee…
    Jiyoo-ya, Hyuk juga gak salah2 amat kok, dy juga nyesek begitu tau…
    hiks hiks…
    ayolah jiyoo-ya…

  4. Daebak!
    Alhamdulillah..uda gak pnasaran lg..
    Eh,tp masi pnasaran ma cerita slanjutny…>.<
    nah,trus tu ahjussi mabok mati kah? #gapenting
    gmn klanjutan kisah hyunyoung? #plakk
    hehe
    lanjutkan!!^o^

  5. teuki oppa emang hyung yang baek dah!! jangan coba-coba ngerebut jiyoo ya… lagi males ketemu cinta segitiga.. #plakk

    kya.. shela.. makin keren aja ceritanya….
    udah g penasaran lagi ma jiyoo, tapi sekarang penasaran ma hyuk… jiyoo mo diapain tuh??
    kekeke…
    seperti biasa, lanjutannya ditunggu… ^^

  6. O..gt tho asal muasalnya..kasian ya ahjussi itu..(??!?)
    bc jiyoo k waiting roomnya suju,jd pgn mengendap2 ke camp wamilnya kangin d..

  7. Kyaa speechless saya bacanya..keren pokoknya,,akhirnya tau knp jiyoo bisa ilfil ma kunyuk..!! daebak pokoknya [thumbsup] ditunggu ya part 5 nya ^^

    ps: mau nanya shel, itu part pas jiyoo ma songsaenim di kelas bikin aku ngakak =)) bukan pengalaman pribadi kan? hahahaha…

  8. Critany keren..
    Akhrny tjawab jg rasa pnasaranny..
    Tp skrg muncul rasa pnasaran laen lgy..
    Pnasaran ma aph yg mw eunhyuk lakuin bwt jiyoo..
    Lanjut d..
    Biar g tmbh pnasaran lgy..

  9. ga sepenuhnya seh eunhyuk salah, jiyoonya aja yg apes hehehehehe *digetok shella*

    flashbacknya keren, jadi itu toh alasan jiyoo benci ama si kunyuk??? tragis jg ya nasibnya jiyoo, untung lum di apa2in ama orang mabuk itu….

    next chap pls….. ^__*

  10. akhirnya tau kenapa si jiyoo jadi kayak gitu..
    kasian amat.. untung gak diapa-apain sama itu orang:/
    tapi kasian ngeliat eunhyuknya juga sekarang..
    aaaa jiyoo ayo buruan sembuhin penyakitmu (?) <— jadi stress sendiri ckckckck
    hhhh makin penasaran sama lanjutannya
    part selanjutnya jangan lama-lama ya xDD

  11. ohh begitu toh *ngangguk2* ga bnyk koment crita y mkn bagus n tmbh bikin pnasaran n saia jg b’doa smg jiyoo cpt smbuh n lanjutan y ga lama2

  12. telat baca , finally full dapet keterangan Jiyoo kayak gitu . hyuk harus extra keras buat jiyoo sembuh . btw , tebakan meleset tapi hampir bener juga . keke
    waiting for the next .
    semangat jiyoo .

  13. Jiah telat…. telat….telat berarti ancang”x kurang niee ! Ok onn ni part paling keren dri yg sblum”x tp saiia yakin dan percaya part selanjutnya akan lbh keren dri yg niee secara authorx bini eunhyuk

  14. *PUFF!*
    Tuh kan saia muncul lagii.. *gapen*
    CLEAR!
    Ooh~ jadi gitu toh.
    Pantesan si Jiyoo jadi gimanaa gitu kalo ketemu Unyuk.
    Ngeriii~
    Kirain bakal terjadi apaa gitu ama Jiyoo. Tapi untung aja dia bisa ngelawan! Dipukul ampe berdarah lagi! *sorak soraii* Uh.. Ajusshi bandel! hhaa

    • Haha.. haiii, makasih uda nongol lagii~😀

      Iyaa, jadi masa lalu jiyoo suram banget. Menderita gitu deh. *sok*😄
      Bukan cuma dipukul, tuh ahjussi disambit botol soju. XDD
      Makasih uda baca~😀

  15. ternyata oh ternyata ada ahjussi yg mu jahat toh ma jiyoo….
    udah ga pnsaran lg deh..
    part ini keren bgt dh….suka bgt ma epep ne…
    lanjutannya jgn lama2 ya shel
    hehehe^^

  16. Sudah hampir satu jam tiga puluh menit ia menunggu di Amore Café, tapi lelaki yang ditunggunya itu sama sekali tidak menampakkan diri.

    waah itu promosi amore ya??? *liat keatas*

    hehe baru baca yang ke 4 niiih

    haha jiyoo lucu banget,sayang jadi pemurung

  17. aaaaaaaaaaaaaa kasian jiyoo T_____T *peluk kunyuk* *loh?* hehe
    terus?? terus? kunyuk mau ngapainkah? *gelindingan ke part 5*

  18. waktu ngebacanya, nangis sih ngga, tapi sempat netesin air mata..
    euuhhh..

    aaaah. kunyuk..
    you make me going crazy..
    #plaakkkk..

  19. Finally, it’s clear why Jiyoo always acts cold to Hyukie..
    HMMM… I don’t really know how I must respons to this chapter but over all, I LIKE IT..
    Also, I can’t wait for what thing Hyukie will do for Jiyoo..

  20. OOOOOOOOHHHHHHH… githu toh ceritanya.. ngerti..ngerti*ngangguk2

    Eunhyuk oppa…pasti bisa nyembuhin fobhianya jiyoo. SEMANGAT^^

    Lanjuttttttt

  21. jd itu yg ngbwt jiyoo trauma n alsn knp sikapnya dingin bgt ke eunhyuk oppa :-\.. kasian bgt ya jiyoo pnts aja dia jd kyk yg ketakutan kalo dkt eunhyuk oppa krn ngbwt dia ingt sm kejadian itu T-T..

  22. Ternyata trauma jiyoo smpe nyangkut k hyukie..
    Gmna ya, aq mo nyalahin hyukie sih! Knpa gga bilang sejak awal klo dy gga bisa dteng. Klo gga punya numb jiyoo kan bisa lngsung hub-i teukie??

    Next..

  23. Ooh, ternyata begitu ceritanya. Ngerti deh sekarang alasan Jiyoo takut ma Hyuk. Secara tdk langsung, Hyuk menjadi penyebab mengidap penyakit lupa namanya. Kekeke

  24. Terjawab sudah rasa penasaranku terhadap permainan tebak-tebakan Yoo hahaha Makasih, Sheee🙂
    Sekarang kita melihat perjuangannya Poo…Poo, hwaiting! ^^9 Jungsoo oppa jeongmal gomawo😀

  25. Astaga~ Ternyata..
    Jadi gara2 itu….
    Pantas aja dia kena lygophobia😦

    hmmm hyukjae~ kau pasti bisa nyembuhin yoo~

    capcus ke part 5….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s