[IMpressive Story] Melody -Saera Edition-

Kemarin ada dua hal yang penting untukku, biola dan melodi. Hari ini hidup tanpa melodi itu hampa, tapi hidup tanpa dirimu itu bukan hidup. Esok dan seterusnya, alasanku untuk hidup ada tiga. Biola, melodi, dan kau.

Henry Lau – Im Saera

Melodi kami berbeda. Perpaduan irama dan harmoni nadanya sama sekali tidak cocok. Tapi siapa peduli? Dalam duniaku, aku tidak mengenal musik, melodi atau nada yang benar. Aku hanya mengenalmu.

Im Saera – Henry Lau

====================

[Prolog]

Gadis kecil bernama Saera itu melangkah cepat melewati kerumunan orang berpakaian hitam. Kakinya memang terus berjalan, tapi telinganya tetap bekerja dengan baik. Semua ucapan orang-orang itu bergerumul seperti sekumpulan lebah yang mendengungkan telinganya. Mereka tidak menyengat tapi tetap saja Saera merasa tidak nyaman.

“Anak itu menjadi yatim-piatu sekarang,” ucap salah seorang lelaki tua yang berjalan di sebelah Saera.

Atau ucapan wanita paruh baya di depan pintu utama. “Ayahnya meninggal dalam kecelakaan itu. Aigo~”

Saera kecil berdesis, “Kenapa mereka harus mengatakan hal seperti itu? Dasar orang dewasa! Selalu tidak sopan.”

Ia tidak bisa terus-menerus mendengarkan semua perkataan para pelayat itu. Saera ingat ada satu orang yang sangat ingin ditemuinya saat ini, jadi ia mempercepat langkah kecilnya.

Tubuh Saera terhenti di depan lorong panjang yang mengarah ke sebuah ruangan utama rumah ini. Ia melangkah mendekat dengan pelan. Masih ada beberapa keluarga yang duduk disana tapi mata Saera tidak bisa menemukan orang yang dicarinya.

Otak Saera bekerja cepat. Ia menepuk keningnya. “Ah! Dia pasti disana!”

Saera meninggalkan ruangan besar yang terasa kosong itu dan berbelok menyusuri koridor lain yang lebih sepi. Ada pintu besar bercat putih dengan ukiran kayu kuno di depannya. Ia menarik napas dan membuka pintu itu.

“Henry-ya..?” panggilnya. Sementara matanya berkeliling menyapu sekitar, ia sadar jantungnya berdetak cepat. Ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan ini, mengingat dulu Henry selalu melarangnya masuk kesini.

“Pergi!” pekik seseorang. Saera mencari suara itu. Ia melangkah maju ke depan sebuah grand piano berwarna putih. Kemudian ia berjongkok, dan menemukan Henry disana. “Mau apa kau?”

“Aku mencarimu. Apa kau.. baik-baik saja?” tanya Saera cemas.

Henry menyipitkan mata lalu mendengus. “Aku tidak mau kau kasihani! Lagipula siapa yang menyuruhmu masuk kesini? Keluar sana!”

“Siapa yang mau mengasihanimu? Aku bilang kan aku mencarimu, bodoh~” Saera ikut duduk di lantai, menemani Henry. “Sedang apa kau?”

“Kau tidak lihat? Aku hanya sedang duduk. Memangnya aku bisa apa lagi?” Henry tetap tidak menunjukkan sikap yang bersahabat.

Tapi Saera memperhatikan sesuatu, lelaki kecil di sampingnya itu sedang memeluk kotak biola kayu berwarna cokelat. Ia memandang Henry. “Apa kau merindukan ayah dan ibumu?”

Henry diam. Tapi kemudian ia malah mengeluarkan biola kesayangannya dari kotak itu. Saera hanya memperhatikan tanpa berniat mengeluarkan suara apapun. Henry mulai menggesek biolanya dan membuat alunan irama sedih.

Saera tetap diam, bukan lagi karena tak ingin mengganggu permainan Henry, tapi karena ia tahu suaranya tidak akan keluar. Air mata sudah membuat wajah mungilnya basah kuyup.

Suara gesekan itu berhenti. Saera mendongak dan melihat Henry ikut menangis. Lelaki kecil itu terisak. “Aku merindukan mereka.. sangat merindukan mereka..”

Henry berusaha menghentikan tangisnya dengan menyeka air mata menggunakan punggung tangannya. Tapi percuma, air matanya malah mengalir makin deras. Saera yang tidak tahan melihat hal itu, langsung bangkit dan memeluk Henry kecil.

“Jangan menangis.. ada aku disini. Kita akan bersama, selamanya,” Saera melepaskan pelukannya lalu mengulurkan jari kelingkingnya. “Aku janji..”

—-

Henry mengusap matanya yang silau karena cahaya matahari. Ia mengerjap beberapa kali dan mendesah berat. “Masih jam enam pagiii, Im Saera!!”

Gadis yang berdiri di tepi balkon kamar itu berdecak dan mendekat ke ranjang. “Lalu kenapa kalau masih jam enam, Henry Lau? Ayo banguun~~”

“Kau!” Henry hanya bisa menggerutu tapi akhirnya menuruti ucapan Saera. Ia mati-matian menelan rasa kantuknya akibat perjalanan dari Taiwan-Seoul kemarin. Henry duduk bersandar di pinggiran ranjang sambil sesekali memejamkan mata dan menunduk.

“Hari pertama aku menjadi mahasiswa di kampusmu!” teriak Saera semangat. Tapi melihat Henry yang mengacuhkannya, ia mengerucutkan bibir. “Ya! Henry-ya! Kau dengar aku tidak?”

Henry memeriksa telinganya yang baru saja terkena serangan teriakan maut Saera. “Ne, ne, ne. Aku dengar. Kau pikir aku tuli? Lalu kenapa kalau kau sudah jadi mahasiswa disana?”

“Ck, ck, ck,” Saera menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan Henry. “Kau benar-benar tidak punya semangat kuliah ya. Tentu saja berarti kita bisa bersama-sama. Ah, aku juga sudah bukan siswa SMA lagi sekarang.”

“Hanya itu?”

Saera mendesah dan menyerah pada tuan muda sekaligus sahabatnya ini. “Kau memang tidak lucu! Sana mandi!”

“Lucu? Kau pikir aku ini gagman?” sahut Henry sambil bangkit meninggalkan Saera yang masih kesal.

“Hahaha,” Saera mengeluarkan suara tawa terpaksa sementara Henry terkikik di kamar mandi.

—-

Saera melangkah masuk ke kampusnya dengan senyuman lebar. Sesekali ia menoleh ke belakang dan mengomel, “Henry~~ cepat sedikit!”

“Kesadaranku masih 75%, Saera-ya,” Henry menutupi mulutnya yang menguap.

“Memangnya kenapa? Ini masih pagi, ayo semangat!!” tangan Saera terkepal di depan wajahnya. “Eh, mana biolamu?”

Henry menggaruk kepala. “Ketinggalan.”

“HA? Kenapa tidak bilang?” pekik Saera.

“Ya~ memangnya siapa yang tadi menyuruhku buru-buru?” ucapnya kasar. “Lagipula aku juga tidak mungkin minta supir itu putar balik ke rumah.”

“Wae?”

Henry menarik napas panjang. “Karena wajah bodohmu yang bersemangat itu membuatku tidak tega. Kau pasti saaaaangat tidak ingin terlambat di hari pertama-mu ini kan?”

“Henry Lau bodoh!” Saera berbalik dan berlari kencang meninggalkan Henry yang melongo. “Aku akan segera kembali!”

“Sae-“ tangan Henry tertahan di udara. Mendadak ia hanya bisa benar-benar terdiam melihat gadis itu sudah menghilang dari hadapannya. Diam-diam sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman kecil dan bergumam, “Dasar Saera..”

—-

“…aku dihukum membersihkan toilet pria siang ini,” Saera mengomel sambil mendesah berat. Melihat Henry yang terkekeh di sampingnya, Saera cemberut. “Ya! Jangan tertawa!”

Dengan susah payah, Henry menahan rasa gelinya. “Maaf, maaf. Lagipula siapa yang menyuruhmu kembali ke rumah hanya untuk mengambil benda ini?” Ia menunjuk kotak biola yang terbuat dari kayu.

Saera menarik napas. “Habiiiis.. kau pernah bilang kan kalau biola ini adalah hartamu. Jadi kupikir kau tidak akan bisa tenang kalau tidak ada bi-“

“Aku bukan anak kecil yang harus terus bergantung pada benda ini, bodoh~” potong Henry. “Ah, apa ada senior yang mengganggumu?”

“Ng.. ada! Namanya itu.. Cho.. Cho siapa ya tadi?”

“Cho Kyuhyun?” tebakan Henry disambut anggukan antusias dari Saera. “Apa yang dia lakukan padamu?”

Saera menyipitkan mata kesal. “Dia menyuruhku bernyanyi di depan kelompokku. Ng.. dia juga yang memberiku hukuman menyebalkan tadi!”

“Kalau begitu,” Henry bergumam. Saera yakin sahabatnya itu akan membantunya meringankan hukuman dari seniornya. “Berjuanglah!”

Saera langsung merengut. “Ya~ kupikir kau mau membantuku! Ternyata aku memang tidak bisa berharap banyak pada Henry Lau.”

“Im Saera yang manis, kurasa sebutan untuk orang yang tidak punya semangat kuliah itu lebih cocok untukmu,” sahut Henry.

“Hahaha.. lucu sekali, Henry Lau,” cibir Saera. Henry membalas gadis itu dengan mengacak rambutnya asal. “Ya~ rambutku!”

—-

Wajah Saera berubah pucat saat sekelompok gadis senior mengelilinginya. Ia tahu ia akan menangis tapi ia menahannya setengah mati. Saera hanya bisa menggenggam erat tali tasnya. Jantungnya berderap kencang dan napasnya memburu cepat. Satu-satunya hal yang Saera tahu adalah ia sedang sangat ketakutan.

“Ya! Siapa kau sampai berani memanggil Henry tanpa sebutan ‘sunbae’? Kau pikir kau itu gadis terkenal?” tuding salah seorang dari gadis menyeramkan disana.

Saera menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. “A-aniyo.”

“Lalu kenapa sok akrab dengannya?”

“Dia itu.. sahabatku,” ucap Saera tergagap.

Salah satu dari gadis itu meludah kasar. “Ya! Sembarangan sekali kau ini bicara! Sahabat Henry Lau? Kalau begitu aku ini pasti adalah istrinya, iya kan?”

Saera mengernyitkan alis, ingin membantah. Tapi ia tahu itu hanya akan menambah masalah untuknya sendiri, jadi Saera memilih untuk tetap diam.

“Kalau pun kau bilang kau itu adalah pembantunya, kurasa aku tidak akan percaya,” ucap gadis yang sama.

“Ng.. dia memang tuan mudaku. Ayah dan ibuku adalah pengurus rumah keluarga Lau, jadi kami ini sudah kenal sejak kecil,” jelas Saera.

Gadis-gadis di depannya saling pandang lalu mendengus. “Siapa yang menyuruhmu mendongeng? Kami tetap tidak akan percaya!”

“Kalau tidak percaya juga tak masalah,” gumaman Saera dibalas dengan tatapan galak semua gadis itu. Saera segera menundukkan kepala. “Aniyo, aniyo. Aku salah bicara.”

“Kalian senang mengganggu junior ya?” suara lembut milik Henry membuat Saera bersyukur ratusan kali dalam hati.

“H-henry Lau-ssi.. ani, kami hanya bilang pada gadis ini supaya-“

Gadis lainnya segera memotong. “Supaya dia bisa membedakan statusnya sebagai junior yang harus menghormati seniornya. Kami menyuruhnya memanggilmu dengan sebutan ‘sunbae’.”

“Kenapa dia harus memanggilku begitu?” tanya Henry. Begitu tahu tidak ada yang bisa menjawab, ia menarik tangan Saera. “Sudah waktunya pulang. Kaja~”

Kepala Saera mengangguk dan segera membiarkan Henry membimbing jalannya. Tapi kemudian Saera menelan ludah karena masih merasakan tatapan sadis di punggungnya. Ia bergidik.

“Aku.. takut,” bisiknya pelan.

Henry masih memandang lurus ke depan. “Jangan takut.. ada aku disini. Kita akan bersama, selamanya. Aku janji..”

—-

@Saera’s room

“Saera-ya?” panggilan suara Henry membuat Saera reflek bangkit dari ranjangnya. “Ya~ kau ada di dalam kan?”

Saera melangkah cepat membukakan pintu. “Wae?”

“Ani, ada sesuatu yang mau kutunjukkan. Ayo~” ujar Henry semangat. “Ah, bawa jaket.”

Alis Saera mengernyit tapi ia tetap menurut. Ia meraih jaket biru yang tergantung di belakang pintu dan langsung mengenakannya. Saera sibuk bermain tebak-tebakan dalam kepalanya tapi ia sama sekali tidak berniat bertanya pada lelaki yang berjalan di depannya. Ia tahu Henry suka membuatnya penasaran.

Henry sempat mengambil kotak biolanya sebelum menggandeng tangan Saera ke halaman belakang. “Duduk di sana.” Ia menunjuk sebuah kursi kayu yang ada di samping kolam ikan.

Sekali lagi Saera patuh. Ia rasa tidak ada yang perlu ia tanyakan pada lelaki itu. “Apa?”

“Diam dan dengarkan,” senyuman Henry tersungging lembut.

Deg!

Saera tidak punya penyakit jantung, tapi kenapa barusan dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang membuatnya ingin meledak? Saera memiringkan kepala, berusaha mencari jawaban. Ia tahu senyuman Henry memang seperti itu. Lembut, manis, dan menyenangkan.

Kepalanya masih sibuk berpikir sebelum sesuatu mengalihkan perhatiannya. Alunan irama dari gesekan biola Henry terdengar, membentuk sebuah susunan irama yang  menenangkan batin. Saera tahu sekarang ia sedang tertegun sambil terus menatap wajah Henry, tapi ia tidak mau merubah ekspresi wajahnya yang tampak bodoh itu. Setiap detiknya terlalu berharga untuk dilewatkan.

Selama tiga menit Henry menggesek biola kesayangannya di depan Saera. Ia berhenti lalu tersenyum ke arah gadis itu. “Bagaimana?”

Saera bisa mendengar pertanyaan itu untuknya, tapi bibirnya terkunci. Tenggorokannya masih tercekat. Pesona tuan mudanya ini memang selalu bisa membuatnya tampak bodoh.

“Im Saera~ aku sedang bertanya,” tuntut Henry, mulai tidak sabar melihat tingkah Saera.

“Ng? Itu.. bagus. Bukan, itu saaaaangat indah,” tanpa sadar, Saera tersenyum lebar. “Apa kau membuatnya sendiri?”

“Nada itu? Tentu saja. Itu buatanku yang istimewa,” ucapnya. “Untuk hadiah ulang tahun.”

Kepala Saera mengangguk-angguk singkat. Sebentar lagi memang ulang tahun pernikahan mendiang orang tua Henry. “Sangat indah..”

—-

-the next day-

“Annyeong haseyo, Han Raneul imnida,” seorang gadis dengan sweater cokelat muda membungkukkan badan dan tersenyum manis.

Saera sendiri tidak terlalu menunjukkan minat pada gadis itu, jadi ia tetap menyibukkan diri dengan tugas mencatatnya. Semua hal umum tentang gadis bernama Han Raneul itu sudah ia ketahui. Selain mahasiswi pindahan dari Baehwa University, Han Raneul juga adalah putri tunggal dari pemilik gedung pertunjukan di daerah Kangnam serta seorang pianist muda yang berbakat.

Seseorang yang menepuk pundak Saera membuatnya menoleh. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan kalau Han Raneul itu sedang berdiri di samping kursinya. “Aku.. apa boleh aku duduk di sebelahmu?”

“Eh, iya. Masih kosong,” ujar Saera yang masih setengah terkejut. Alisnya terangkat dan ia hanya bisa menggaruk-garukkan ujung pensil ke kepalanya.

“Jadi.. siapa namamu?” tanya Raneul cepat. Ia sengaja mencondongkan badannya supaya bisa bicara lebih dekat dengan Saera.

Saera menoleh dan berusaha membiasakan dirinya dalam keterkejutan. “Im Saera, panggil saja Saera.”

“Sae.. ra..,” Raneul sengaja mengulang nama Saera dengan pelan. Gadis itu tersenyum. “Namamu bagus.”

“Eh? Ne, gomawoyo,” Saera benar-benar bingung dengan gadis di sampingnya ini. Ia sadar benar -dan pasti Raneul lebih sadar- kalau masih banyak teman lain yang mau saja berteman dengannya. Saera tahu banyak orang yang bercita-cita jadi artis, dan Han Raneul adalah kuncinya.

Raneul tampak memperhatikan Saera yang sibuk mencatat. “Apa kau bisa membantuku mencari literatur buku yang bisa kupakai?”

“Mm.. ada banyak buku yang bisa kau pilih di perpustakaan. Disini perpustakaannya cuk-“

“Temani aku~” potong Raneul. Nada bicaranya manja dan terkesan merengek, benar-benar seorang tuan putri.

Saera mengerjap lagi. Ternyata tidak mudah membiasakan diri dengan semua kejutan dari Han Raneul. Baru beberapa saat kemudian ia bisa membuka mulut. “Siang ini?”

“Ne..” mata Raneul membuat Saera tidak bisa menolak, jadi ia hanya mengangguk pasrah.

—-

Raneul bertopang dagu sambil terus mengamati Saera yang sibuk memilihkan beberapa buku dengan ketebalan di atas rata-rata. Ia lantas menghela napas panjang. “Apa bukunya masih banyak?”

“Ng.. sepertinya begitu,” Saera menjawab tanpa menoleh. “Bukankah kau harus mengejar ketinggalanmu selama disini?”

Kepala Raneul mengangguk-angguk. Tapi kemudian ia bertanya, “Kau.. kenal Henry Lau?”

Tangan Saera yang masih memegang sebuah buku mendadak tertahan di udara. Ia langsung menoleh. “Kenapa bertanya soal Henry?”

“Kau kenal? Aigo.. aku benar-benar beruntung!” pekik Raneul, dan langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari penjaga tua perpustakaan. Raneul menundukkan kepala, bermaksud minta maaf. Lalu kemudian ia menarik lengan Saera. “Kau benar-benar mengenalnya?”

Saera mengangguk kaku. “Waeyo?”

“Jangan bilang pada siapa-siapa. Janji?” Raneul menyodorkan jari kelingkingnya, dan Saera menyambut. “Aku ini.. penggemarnya!”

Alis Saera mengernyit. “Penggemar?” Dalam hati ia bertanya-tanya, sejak kapan tuan mudanya punya penggemar? Henry memang sangat mempesona, Saera mengakuinya. Tapi untuk punya penggemar di luar kampus.. ia rasa itu hal yang agak mustahil.

“Aku pernah melihatnya main biola di ruangan ayahku,” jelas Raneul. Buru-buru Saera mengoreksi pikirannya, tidak ada hal yang mustahil untuk Henry Lau. “Dia tampan.. lucu.. dan berbakat.”

“Iya, memang begitulah dia,” ucap Saera. Tapi kemudian ia menimpali dalam hati, kalau saja syndrome susah bangunnya tidak ada dan ia tidak perlu mendapat kesulitan setiap membangunkan tuan mudanya itu setiap pagi, Henry Lau akan jadi lelaki paling ideal untuknya.

Raneul mendadak meraih tangan Saera dan menggenggamnya. “Bisakah.. bisakah kau mengenalkanku padanya?”

“HE??” Saera memekik cukup keras sampai akhirnya ia dan Raneul dipaksa meninggalkan perpustakaan.

—-

@nite

“Han.. siapa?” tanya Henry yang sibuk mengusap biola cokelatnya. Kepalanya baru menoleh saat Saera menyebutkan sebuah nama.

Gadis itu memang sengaja mulai bercerita soal teman barunya yang penuh kejutan tadi siang. Saera merasa harus mencari tahu, apa Henry mengenal Han Raneul atau tidak. Tapi melihat reaksi Henry, Saera bisa bernapas lebih ringan.

Saera mendesah. “Han Raneul. Apa kau kenal?”

“Bagaimana aku bisa mengenalnya? Dia kan temanmu, bukan temanku,” sahut Henry santai. “Lagipula kenapa kau menceritakan hal ini padaku? Kau pikir aku tertarik?”

“Siapa tahu kau penasaran dan ingin tahu,” kilah Saera. Ia belum bisa memberi tahu kalau Han Raneul itu adalah penggemar Henry. Entah bagaimana, ada rasa tak rela jauh di dalam dadanya.

Henry mendengus. Tapi kemudian ia menatap Saera. “Bagaimana kehidupan mahasiswimu?”

“Menyenangkan.. Eh, tidak juga, tugasnya banyak. Belum lagi banyak pelajaran yang masih belum kumengerti. Aku bingung~~” rajuk Saera. Diam-diam ia senang tidak harus melanjutkan pembicaraan soal Han Raneul. “Wae? Kau mencemaskanku?”

Senyum Henry tampak mengejek. “Aku hanya takut kau akan menyia-nyiakan uang warisan orang tuaku untukmu.”

Saera memperlihatkan wajah masam lalu bergumam, “Bukan aku yang minta Lau sajangnim memberikan sedikit warisannya untuk kuliahku.”

“Ayahku memang dermawan, akui saja,” Henry mengangkat bahu santai.

Kepala Saera mengangguk-angguk setuju. “Tidak seperti anaknya yang suuuka sekali menyiksaku.”

“Ya~ kapan aku pernah menyiksamu? Kapan?” mata Henry menatap tajam dan menuntut. “Ah, tapi bukankah seorang tuan muda boleh memperlakukan pelayannya sesuka hati?”

“Apa? Sesuka hati? Sesuka hati, kepalamu!” tanpa sadar, Saera malah menoyor kepala Henry, sang tuan muda.

“Ya! Im Saera! Kau akan mati sekarang!” ancam Henry sambil bangkit dari tempatnya dan mengejar Saera.

—-

Mata Saera sedang terpejam di bawah pohon oak tua yang melindunginya dari sengatan matahari musim semi. Di telinganya terpasang headphone putih. Sebuah melodi mengalun indah disana. Seperti biasa, permainan biola Henry memang selalu bisa menenangkan.

Tepat saat Saera hampir benar-benar tertidur, seseorang menepuk pundaknya. Saera terpaksa membuka mata dan nyaris memaki orang yang tega merusak masa-masa damainya. Tapi yang tampak di depannya adalah gadis bernama Han Raneul yang tersenyum lebar. “Saera-ya, annyeong~”

Saera terpaksa melepaskan headphone-nya. “Ng, ne, annyeong.”

“Apa kau sibuk?” tanpa perintah, Raneul sudah duduk di sampingnya. Ia mengangguk lambat-lambat begitu Saera menggelengkan kepala. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Barusan? Hanya.. sedikit mendengarkan musik,” sahut Saera enggan. Ia tidak mau repot-repot menjelaskan musik apa yang baru saja ia dengarkan. Musik itu hanya boleh terdengar di telinganya. Itu juga yang pernah Henry katakan.

Tapi Raneul merebut paksa headphone dari tangan Saera. “Aku mau dengar~”

“A-andwae,” larang Saera. Terlambat, Raneul sudah tersenyum sendiri mendengarkan alunan melodi yang keluar dari benda kecil yang masih digenggam Saera.

“Kau tidak pernah mendengarkan ucapan orang lain ya?” suara sebening lonceng membuat Saera mendongak. Ia terbelalak saat melihat Henry sudah berdiri di samping kursi kayunya.

Saera melirik Raneul, ingin tahu bagaimana ekspresi gadis itu. Dan tepat seperti dugaannya, Raneul hanya melongo tak berkedip di depan Henry. Dalam hati, Saera hanya memaki, kenapa Henry harus muncul di depan Han Raneul.

Raneul masih melongo bahkan sambil melepaskan headphone dari telinganya. “Mianhaeyo. Saera-ya, ini. Maaf ya..”

“Tidak apa-apa,” Saera ikut gugup dan bingung.

Kemudian Henry menatap Saera dan tersenyum. “Temani aku makan siang. Kaja~”

Saera hanya diam saat Henry menarik tangannya dan meninggalkan Raneul. Tapi Saera rasa ia tidak perlu terlalu merasa bersalah pada gadis itu. Karena saat ia meninggalkannya, Raneul masih terus membeku sambil mengarahkan tatapan memuja pada Henry.

—-

-the next day-

“Saera-ya!” panggilan nyaring itu membuat Saera memutar badan. Raneul, dengan senyumnya yang biasa, berlari kecil ke arahnya. “Malam ini.. apa kau sibuk?” tanyanya sambil terengah.

Saera mengerutkan kening. “Wae?”

“Ada film bagus di rumahku, apa kau mau datang dan nonton bersama?” tanya Raneul semangat. Saera tergelitik dalam pikirannya sendiri. Sudah berapa lama gadis ini mencarinya hanya untuk menawarkan hal itu?

“Kurasa.. aku akan sibuk malam ini. Ada tugas yang harus kuserahkan pada Profesor Park,” sahut Saera sambil memasang wajah menyesal.

Saera berharap gadis itu akan menyerah, tapi sepertinya ia harus mengasah lagi kemampuan bermain tebakannya. Raneul tersenyum lebar. “Kalau begitu, ayo kerjakan di rumahku!”

“Ng, aku.. tidak bisa keluar malam ini. Mianhae,” Saera mengatupkan kedua telapak di depan wajahnya, benar-benar berharap gadis bernama Han Raneul ini akan segera menyerah dan pergi.

Raneul mendesah berat. “Begitu? Baiklah, mungkin.. lain kali kau bisa ke rumahku, atau aku yang ke rumahmu.”

“Andwae! Untuk yang terakhir itu, tidak boleh!” kilah Saera cepat. Tapi sadar sikapnya agak berlebihan, ia berdeham. “Ani, maksudku, aku kan tinggal menumpang dengan keluarga majikanku. Jadi.. kupikir, aku.. tidak boleh seenaknya memasukkan orang lain kesana. Bagaimana pun, itu bukan rumahku. Benar kan?”

“He? Iya, benar,” Raneul menjawab dengan kaku, terlalu terkejut dengan penjelasan panjang-lebar Saera.

Saera baru bisa bernapas lega saat Raneul dipanggil beberapa gadis populer. Ia bergumam pelan, “Aku harus menjauh dari gadis itu.”

—-

Henry sedang duduk bersandar di kursi perpustakaan saat Saera menarik kursi di sampingnya. Alis Henry terangkat. “Kenapa wajahmu itu? Jelek sekali~”

“Ya~ gunakan kata-kata lain yang lebih wajar bisa kan?” Saera merengut.

Melihat sikap Saera yang tidak bersahabat, Henry memilih mengalah. “Ne, ne, ne. Ada masalah apa? Kenapa wajahmu kusut sekali?” Saera baru saja menoleh sebelum Henry melanjutkan, “Wajahmu belum disetrika?”

“Kau benar-benar lucu, Henry Lau-ssi,” cibir Saera.

Henry yang menahan tawa langsung berubah serius. “Maaf~ ada apa?”

“Gadis itu selalu menggangguku,” gumam Saera.

“Gadis? Gadis yang mana? Yang tempo hari mengepungmu itu?” Henry berubah antusias.

Saera mengibaskan telapak tangannya di muka. “Bukan, bukan. Ada orang lain.” Ia berhenti sejenak, menimbang-nimbang apa ia memang perlu menceritakan ini pada Henry.

Henry mengarahkan tatapan –siapa-orang-yang-kau-maksud- pada Saera.

“Itu.. gadis yang pernah kuceritakan padamu. Han.. Han Raneul,” ucapnya hati-hati. Tapi kemudian ia menyerah. “Dia penggemarmu.”

“Dia.. apa?”

“Penggemarmu, bodoh~ Sejak kapan kau berubah tuli?” cibir Saera. “Kurasa dia terus menempel padaku hanya untuk berkenalan denganmu.”

Henry tersenyum lebar. “Kau cemburu?”

“Cemburu, kepalamu!” Saera kembali merengut. Tapi ia tahu Henry benar. Ada rasa tidak suka di sudut hatinya. Ada setitik lava panas yang nyaris membakar kerongkongannya. Dan ia tahu perasaan itu bernama cemburu, meski tidak tahu bagaimana dan kenapa perasaan itu datang.

—-

-the next day-

Saera berjalan santai ditemani Henry di sampingnya. Semua gadis memang selalu menatapnya dingin setiap melihatnya bersama Henry Lau. Dan karena ia nyaris selalu bersama Henry, Saera yakin sudah ada orang yang menjadi pendiri Anti-Saera di kampusnya.

Tubuhnya menegang saat melihat Raneul berdiri di depannya dan Henry. “Saera-ya, annyeong~”

Dengan terpaksa, Saera membentuk senyuman kecil di bibirnya. Matanya melirik Henry, mencari perubahan apapun yang akan atau bisa nampak di wajah mempesona itu.

“Ah, apa kau Henry Lau?” pertanyaan Raneul membuat Saera terbelalak lebar. Bagaimana bisa gadis itu melakukan serangan langsung pada Henry?

Henry hanya mengangguk singkat tanpa suara. Diam-diam Saera bersyukur lelaki itu bisa bersikap begitu. Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama karena Henry Lau memang selalu tidak bisa ditebak. “Apa.. kita saling kenal?”

“Kau ingat? Kita pernah bertemu di Kangnam, saat kau tampil di gedung pertunjukan ayahku,” sahut Raneul ceria. “Ayahku bernama Han Donggu.”

“Ah~ benar, aku ingat!” jawaban Henry sudah cukup membuat Saera merasa dibuang. Sekarang pembicaraan keduanya hanya soal musik, biola, dan pertunjukan. Semua hal itu bukan bidangnya, selalu begitu.

Entah kenapa, Saera merasa semua ini akan berakhir  buruk untuknya. Sejak awal ia tahu Han Raneul pasti akan menjadi gadis impian Henry Lau. Musik, dan segala hal tentang seni adalah dunia mereka. Dunia mereka yang tidak akan pernah bisa ia masuki. Sejak awal Saera takut kalau hal itu akan terjadi.

Akhirnya Saera hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat dan menjauh dari mereka. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan ledakan ketakutan yang sekarang sudah berubah menjadi kesedihan.

—-

-two weeks later-

“Ya~ gadis Lau!” teriakan seseorang yang sangat mengganggu membuat Saera reflek menoleh dan mencari sumber suara itu. “Aku disini!”

Saera mendongak ke atas dan melihat salah satu seniornya yang menyebalkan sedang duduk di salah satu dahan pohon oak. “Kyuhyun sunbae? Sedang apa disana?”

“Mencarimu. Bukankah kau suka diam di atas pohon?” lelaki yang dikenal Saera bernama Cho Kyuhyun itu langsung melompat turun.

Wajah Saera langsung masam. “Sunbae pikir aku ini monyet?”

“Memangnya bukan?” sahut Kyuhyun. Saera berdecak kesal. Seniornya yang satu ini memang dekat dengan Henry dan memang nyaris selalu mengganggunya. Dan bagi Saera, Cho Kyuhyun ini adalah makhluk yang luar biasa menyebalkan. “Ya~ kau mau kemana?”

“Aku? Pulang. Waeyo?” Saera menjawab acuh.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Hanya bertanya. Eh, mana pacarmu?”

“Pacar?”

“Henry Lau. Siapa lagi? Kemana dia?” ucapan Kyuhyun membuat Saera menoleh dan melayangkan tatapan ganas ke arahnya. Kyuhyun mengangkat tangan. “Aku hanya bertanya kan?”

“Sunbaenim yang baik,” Saera mulai membuka mulut. “Pertama, Henry itu bukan pacarku, dia sahabat sejak kecil sekaligus tuan mudaku. Kedua, memangnya aku harus selalu bersamanya? Dia juga punya banyak urusan selain membuntutiku. Paham?”

“Membuntutimu? Memangnya kau ini siapa? Artis?” ledek Kyuhyun, membuat Saera makin kesal. “Ah, atau jangan-jangan, gosip itu benar!”

Saera tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Akhirnya ia harus membuang rasa kesalnya pada seniornya ini. “Gosip? Gosip apa?”

“Kau tidak tahu? Sekarang Henry dikenal sebagai calon penerus gedung pertunjukan Han di Kangnam,” jelas Kyuhyun. Saat itu juga, Saera merasa ia butuh penutup telinga atau apapun yang bisa mematikan sejenak indera pendengarannya. Kyuhyun membuka mulutnya lambat-lambat. “Henry menyatakan cinta pada Han Raneul. Kau kenal dia kan? Kalian kan satu angkatan.”

Saera tidak tahu bagaimana, sekarang tubuhnya seolah lumpuh. Ia nyaris jatuh ke tanah kalau saja tidak ada kursi kayu yang menahannya. Ia ingat beberapa hari yang lalu memang ada kabar seperti ini. Tapi dengan sisa tenaganya, Saera tidak bisa dan tidak mau mempercayainya.

Seperti sebuah de javu, Saera berjalan cepat melewati kerumunan orang di depannya. Ia berusaha meninggalkan tempat itu sekarang juga. Tapi telinganya tetap bisa berfungsi dengan baik. Beberapa orang yang melihatnya mulai berbisik dan mencibir.

“Henry memang hanya cocok dengan Raneul,” ucap seorang gadis yang Saera ingat sebagai salah satu dari senior yang mengepungnya dulu.

Atau komentar lain dari gadis berambut panjang yang berdiri anggun di sampingnya. “Pemain biola dan gadis piano, mereka memang serasi.”

“Pasti romantis saat Henry menyatakan cinta pada Raneul. Katanya dia memainkan sebuah gubahan ciptaannya sendiri,” ucapan yang satu ini membuat Saera mempercepat langkahnya. Gubahan ciptaan Henry? Itu musik spesial untuknya, hanya miliknya. Henry yang bilang begitu..

Perlahan semua ucapan mereka berubah menjadi suara gerombolan lebah di telinga Saera. Lebah kecil dengan jumlah jutaan yang tidak menyengat tapi tetap mengganggu kepalanya.

—-

@nite

Saera memandang lurus ke depan sambil memperhatikan permukaan kolam ikan yang hitam pekat. Diam-diam ia merasa hatinya sama pekatnya seperti kolam ini. Entah sejak kapan seorang Henry Lau bisa membuat hatinya berantakan, hancur nyaris tak bersisa.

“Sedang apa kau?” suara bening yang dulu membuat Saera bersemangat, sekarang tak lebih dari irisan belati tajam. Begitu tahu tidak ada jawaban, Henry beringsut duduk di sebelahnya. “Hampir dua minggu kita tidak pernah bertemu di kampus ya..” gumam Henry.

Saera ingin sekali mengiyakan dan segera mengomel, tapi tenaganya untuk sekedar membuka mulut  sudah musnah, jadi ia memilih diam dan hanya mengangguk lemah.

“Apa yang sering kau kerjakan belakangan ini?” tanya Henry.

Lagi-lagi Saera menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasanya ia tidak akan mampu menjawab tanpa menangis. Tapi ia menarik napas panjang. “Aku.. belajar piano.”

“Kau apa?” Henry harus mengakui kalau gadis di depannya ini sangat penuh kejutan. “Piano?”

“Memangnya salah kalau aku belajar?” dengus Saera kesal. Selama dua minggu ia memang belajar menekan tuts hitam-putih piano, benda yang selama ini asing baginya. “Tapi kau memang harus tertawa. Aku bahkan tidak bisa membedakan nada mayor dan minor.”

Henry berhenti tertawa. Ia memandang Saera dengan tatapan lembut. “Untuk apa kau belajar piano?”

“Entahlah.. aku hanya sedang..,” Saera mencari kata yang tepat dalam kepalanya. “ingin tahu?”

“Begitu? Lalu kenapa tidak belajar biola saja padaku?” tanya Henry.

Saera merasa pipinya terasa panas. Mati-matian ia menahan air mata yang mendesak untuk jatuh. Ia tidak bisa bilang kalau ia ingin bisa melakukan hal yang bisa Raneul lakukan. “Aku.. suka piano. Tapi aku memang tidak punya bakat apa-apa.”

“Kau lebih baik dalam hal lain, bodoh~” ucap Henry. Saera mengernyitkan kening. “Contohnya, kau hebat dalam menghibur orang. Itu bagus kan?”

“Bagus? Itu biasa saja. Semua orang bisa menghibur orang lain. Bahkan kalau orang sedang sedih, bisa saja langsung menonton acara lucu,” dengus Saera, sama sekali tidak setuju dengan bakat baru yang ditemukan Henry.

Henry mengacak rambut Saera. “Ya~ itu bakatmu! Jadi terima saja.”

“Aku ingin punya bakat lain!” potong Saera. “Aku ingin seperti Raneul yang bisa bermain piano dengan saaaangat mengagumkan. Aku juga ingin punya bahan obrolan yang menyenangkan denganmu. Aku ingin semua orang bisa melihatku sebagai gadis yang istimewa!”

Tangis Saera pecah ke udara. Ledakan ketakutannya benar-benar tumpah, di depan Henry pula. Saera tidak bisa melakukan hal lain kecuali membiarkan air matanya berhenti sendiri. Ia juga tidak bisa menatap Henry, ia terlalu malu untuk melakukannya.

“Kau jauh istimewa darinya,” ucapan Henry itu seharusnya bisa membuat Saera senang. Tapi nyatanya hal itu hanya menambah sakit ulu hatinya.

“Lalu kenapa kau memainkan lagu ciptaanmu untuknya? Kau yang bilang kalau lagu itu hanya boleh di dengar olehku kan?” Saera mulai berteriak putus asa.

Melihat Henry yang hanya diam, Saera bangkit dari tempatnya dan berjalan menjauh. Henry bergumam pelan, “Bodoh..”

—-

-the next day-

Saera memutar badan dan berbelok cepat saat melihat Raneul berdiri di depan perpustakaan. Ia tahu gadis itu menyadari kehadirannya dan Saera sedang tidak mau bertemu dengan Han Raneul.

“Saera-ya, mau kemana?” tanya Raneul. Gadis itu tetap memamerkan senyuman manis di bibirnya.

Saera menelan ludah dan berusaha bicara dengan wajar. “Aku.. harus ke kelas. Jiyoo menungguku.” Berkali-kali Saera merutuki diri dalam hati, ia memang pembohong yang sangat buruk.

“Aku harus bicara denganmu,” ucap Raneul yang sudah berubah serius. “Sebentar?”

Mau tak mau, Saera mengangguk setuju. Ia mengekor di belakang Raneul saat gadis itu melangkah masuk ke perpustakaan. “Ada.. apa?”

Raneul tersenyum sayu. “Selamat ya..”

“Ng?”

“Karena sudah mendapatkan Henry-ssi,” ucapan Raneul membuat Saera makin heran. “Kau tidak tahu?” Kepala Saera menggeleng lalu Raneul memekik. “Aigo~ bagaimana sih lelaki itu? Bodoh sekali!”

Saera mencondongkan tubuh ke depan, berusaha lebih dekat dengan Raneul. Ia mengakui rasa penasarannya menang lagi. “Apa? Memangnya ada apa?”

“Dia menyukaimu,” ujar Raneul sambil menunduk. “Dia bilang sejak.. sejak kapan ya, sepertinya sejak kalian kecil.”

Alis Saera terangkat. “Aku.. benar-benar tidak mengerti. Bisa jelaskan pelan-pelan?”

“Aish.. kau dan dia sama-sama bodoh!” Raneul berdecak kesal. “Ikut aku!”

—-

Raneul mengajak –menyeret paksa tepatnya- Saera ke dalam ruangan besar dengan banyak alat musik disana. Saera menyipitkan mata untuk melihat orang yang ada disana. “Henry?” gumamnya.

“Henry-ssi! Kau bilang akan segera mengatakannya pada gadis ini?” teriak Raneul. “Kau sudah berbohong~”

“Siapa yang bohong? Aku memang AKAN mengatakannya,” jawab Henry. Lagi-lagi pembicaraan yang tidak Saera mengerti.

Raneul mendengus. “Bohong~ bilang saja kalau kau tidak punya alasan lain untuk menolakku!”

“Menolak? Mengatakan?” Saera mengulang setiap kata yang tertangkap indera pendengarannya. “Permisi, ada yang bisa menjelaskan ini padaku?”

Badan Raneul berbalik menghadap Saera. Ia menarik napas. “Lelaki ini menolakku dua minggu yang lalu. Padahal aku sudah berbaik hati menyatakan perasaanku lebih dulu, tapi dia malah menolakku.”

“Tapi aku menolakmu baik-baik kan?” sanggah Henry.

“Memang. Tapi alasanmu itu sama sekali tidak bisa diterima,” Raneul bersikeras. Ia kembali menghadap Saera. “Dia bilang, dia sudah meny-“

“Ya, ya, ya! Aku akan mengatakannya sekarang!” potong Henry cepat.

Raneul mendengus tapi tetap diam di tempat. Kaki Henry melangkah satu-satu ke arah Saera sampai ia tepat berada di depan gadis itu. Henry memejamkan mata sejenak lalu menarik napas panjang.

“Henry-ya, ada apa ini?” bisik Saera. Ia benci jadi satu-satunya orang yang tidak tahu.

“Diam dan dengarkan,” perintah Henry. “Aku.. menyukaimu, Im Saera.”

Tanpa perlu cermin pun, Saera tahu ia sedang melongo seperti orang bodoh. Tubuhnya terlalu beku untuk sekedar menepuk pipinya. Bahkan matanya tidak bisa berkedip dan hanya menatap Henry lekat-lekat.

Butuh tiga detik untuk Saera membuka mulut. “Bukankah kau sudah menyatakan perasaanmu pada.. Raneul?”

“Itu hanya gosip buatanku. Maaf ya..,” ucap Raneul. “Habis setelah dia menolakku, tidak ada yang dia lakukan padamu, jadi kupikir harus ada sesuatu yang membuatnya sadar.”

“Dengar kan? Kau yang bodoh, kenapa malah marah padaku gara-gara gosip itu? Aku batal mengatakan hal ini semalam, tahu?!” Henry merengut kesal. “Lalu bagaimana, apa kau bisa menyukaiku?”

Saera berdecak. “Bisa? Aku bahkan sudah menyukaimu sebelum kau minta, bodoh~”

“Kenapa tidak bilang?” tuntut Henry.

“Memangnya harus seorang gadis yang melakukannya? Itu tugasmu kan~~??” cibir Saera. Tapi kemudian ia mendesah berat. “Tapi.. aku tidak tahu musik, biola, ataupun piano. Aku juga buta nada. Kau past-“

Henry memotong cepat, “Siapa yang peduli? Aku bahkan tidak tahu kalau rasa suka itu ditentukan oleh not balok.”

-FIN-

==================

[Epilog]

Sudah hampir dua setengah jam Henry berkacak pinggang dan mencibir. “Kau itu benar-benar gadis non-music!”

“Bukankah sudah kubilang aku tidak bisa main piano!” dengus Saera. Ia bangkit dari kursi pianonya dan merebahkan tubuh di sofa. “Aku mau berhenti belajar piano~~!”

“Benar. Berhenti saja. Kau tidak cocok dengan alat musik apapun,” ledek Henry. “Entah bagaimana aku bisa menyukai gadis sepertimu.”

Saera merengut. “Ahh~ kau menyesal? Tuan muda Henry Lau menyesal sudah menyukaiku? Bagus, pergi saja sana ke tempat Han Raneul.”

Mata Henry terbelalak tak percaya. Ia menatap Saera galak, memberi isyarat gadis itu tidak boleh berkata sembarangan.

“Han Raneul yang sempurna, pintar main piano, dan lain-lain,” tambah Saera. “Tapi.. sekalipun Han Raneul itu sempurna, ia tidak pernah tahu bagaimana Henry Lau menangis waktu kecil. Dan aku bangga bisa punya lebih banyak hal tentangmu daripada dia yang hanya bisa menekan tuts piano.”

Henry menyipitkan mata lalu bibirnya membentuk senyuman kecil. “Kenapa kau sangat menyebalkan?” tanya Henry. Ia memilih duduk di samping Saera sambil bersandar.

Saera tersenyum lebar. “Karena aku adalah nada minor dalam hidup seorang Henry Lau.”

“Aish.. kalau begitu, aku harus menggubahmu jadi melodi yang benar,” ucap Henry santai.

====================

Jjajan~~ couple baru debutan Spencer Love entertainment.😄

Setelah ada Jiyoo-Hyukjae, Cherry-Minho, sekarang ada Saera-Henry!!

Saaaangat butuh komen. ><

Komen bisa disini ato twitter @AllRiseLove

55 thoughts on “[IMpressive Story] Melody -Saera Edition-

  1. Keren eonnn….❤
    wktu saera nya cmburu smpe brkaca" neh.. *_*
    hehehehe~
    violetter eoonn.. violetteeerrr!! *demo*
    heheheheheee…

  2. HAHAHAHAHA~ Saera itu dirimu juga kan ? xD
    AHAHAHAHAH~ SI ABANG NYEMPIL *poke2 kyu*
    aku suka juga, :3
    *kedip2* dari tadi nunggu kapan ada ff baru ehh~ nongol deh ini wkwk~

    • Hahahaha~~ iyaa, Im Saera itu saya juga, mbak~😄
      Jadi Jiyoo ama Hyukjae, Cherry ama Minho, trus Saera ama Henry. Pas banget kan? XDD
      Itu tiga couple debutan SLe. Wkwkwkw~

      Makasihh uda bacaaaaa~~~ *deep bow*

  3. Daebak!!
    Aku lebih suka couple yg ini deh..*d tabok fans jihyuk*
    hahaha..
    Bikin ff couple ini lg dong.,yah?
    Oa,poster saera nya tu vic bkn?

    • Jinjja? Kamu suka couple ini? Dibanding Cherry-Minho gimana?
      FF couple ini.. tar deh, atu2 dulu yaa.
      Abis Violetter mungkin ada apdet IMpessive ato buka request-an FF.🙂

      Iyaa~~! Ini istriku, Victoria Song~~😄
      Cantiik kan? XDD

  4. huwaa.. ini lanjutan yg di FB kemaren ya?? kirain bakal continue, ternyata oneshoot.. hurrayy!! hehehe…
    bagus bagus… kyu g jadi orang ke3.. keke..
    hm.. suara henry emang bening…. ><

    suka deh baca yg ini, ikut senyum juga… ^^
    ditunggu ff yg laen y shel.. kalo bisa yg oneshoot aja *digetok shela maen nyuruh*
    ^^v
    keren!!

    • Iya, onn~ Ini yang prolognya ada di FB, yg diketik di hape pas jaman2 lepi ngambek.😄
      Oneshoot sajo, soalnya IMpressive kan selama ini oneshoot.😀
      Kyu jadi orang ketiga? Maap dah, aku ga napsu ama bang kyu. -.-v

      Suara Henry saaaaaaangat bening~~~~ *ditalak Hyuk*

      Hehe.. makasih ya onn~🙂
      Kalo oneshoot aku suka bingung gimana endingnya, trus bikin detailnya, ini aja uda lumayan panjang pluss ada beberapa adegan yang harus dibuang. ><
      Makasihh uda komen~ *bow*

  5. kereeeeeeeeeeeeeeeen…
    ah keren banget…
    suka bangeeeeet…
    banyakin lagi Shel si Saera-Henry… wkwkwkwk
    lucu kali ya kecil2 imut-imut…
    wakakakaka

  6. new couple again hahahahahhaha, but love it dear….

    gw suka FF ini, kata2na bagus hahahaha

    eniwei, gw lebih suka couple ini dari pada cherry-minho, ga tau napa. lebih nampol aja di hati hahahahhahaha…

    lebih sering ya bikin FF untuk couple ini, ngalahin jihyuk couple hehehehehehe…

    • Iyaa~ ini couple baru debutan SLe. Wkwkwk~😄
      Jadi di SLe ada 3 couple tetap. Hahaha..

      Jinjja? Lebih suka Sae-Ry daripada Min-Ry?? Yang penting tetep suka JiHyuk kan? *plak*
      Ckckck, andwae, andwae, JiHyuk tetep yg paling berkuasa di SLe (?)
      Makasihh uda baca yaa~ *bow*

  7. ih sumpah suka banget couple ini *walaupun yang pertama teteup ji-hyuk couple haha gak tau kenapa mereka kayak udah sepaket aja gitu xD (?)*
    eh tadinya aku kira si kyu bakalan suka sama saera.. taunya gak.. salah dugaanku ternyata
    ffnya bagus.. suka banget sama gaya bahasa authornya <33

  8. Wah..spencer love entertainment?kereeen!bgitu jg ceritanya..keren!btw,saera~ya!piring kotor msh numpuk tu,buruan cuci gih,jgn main piano mulu!hehee..😉

    • Huahahaha~~ Iya, SLe, bagus kan? Saingannya SMe tuhh~😄
      Makasihh kakak ipar!🙂

      Hahaha.. mentang2 saera pembokat.😄
      Eh, eh, tapi saera ini budaknya henry. Budak sekaligus pacar. XDD

  9. wew , couple baru
    kasihan juga si Henry ditinggal Jiyoo di PIL
    keren , dapet pesen dari ff ne , kalo suka orang gak harus punya kesamaan , justru kalo beda makin seru . kekeke
    good, shel .

    • Aigooo~~ bukan di PiL, di Amore Cafe. ><
      Emang niat uda laaaaama banget pingin bikin tentang Henry. Kekeke~

      Kalo suka orang yg punya banyak kesamaan ama kita itu justru ga seru, malah rata2 ga sukses. :3
      Biasanya kita kan butuh orang yg bisa saling ngelengkapin, kalo sama2 lengkap, ga ada seninya. (?)

      Makasih uda bacaaaa~~😀

  10. wuiih~ hehehe Henry Lau >.< jadi rindu sama mochi yang satu itu T.T
    hmm…
    Itu ceritanya kirain aku Saera itu seumuran sama Henry. Disana itu ada ospeknya juga yah? Kyuhyun numpang lewat~~ hahahaha

    • Hahaha~~ kangen bangeeet ama mochi plus mimi. ><

      Pertamanya mau dibikin seumuran, tapi kayanya kurang sreg aja.😄
      Kyuhyun nampang doang. Ada kejutan kok ntar, kenapa bawa2 kyuhyun disini.😀
      Makasihh uda baca yaa~~🙂

  11. Henri lucu….
    aq suka ma couple ini…
    tapi jiHyuk tetep no 1
    kalo yang Cherry-Minho belum baca…
    mau baca tapi gak ada waktu…
    baca ini aja sepoong2 sama tugas Kul *curcol*
    Keren FFnya…

  12. Bagus…baguuussssss…

    Shel.. Punya naskah baru?
    Aku mau donk di casting..
    SungHee couple ya..
    Jangan lupa bang yes gak boleh bawa-bawa si ddangkoma….

    Wakakakakak.. Kidding..:p

  13. astagaaa!!! baca ff sambil membayangkan imutnya Mochi wkwkwkwk….ceritanya lucu banget sampe senyum-senyum sendiri ahahahaha

  14. mochi jd bgtu ya?
    jail tp dalem..
    cie, ciee
    jd jg wlwpun g bsa sejalan d musik..

    suka karakternya mochi..
    kalo ngebayangin mochi maen biola+suara biolanya yg keren aq jd senyum2 sndri..
    mochi maniz bgd kalo maen biola..

    ^^
    like, like..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s