Cherry’s Love 1/3 -season 2-


====================

Salju mulai menebal di sekitar jalan raya tapi perhatian gadis itu tidak kesana. Ia hanya meringkuk di kamar bernuansa biru favoritnya. Cherry membenamkan kepalanya di lutut sementara tangannya masih tetap menggenggam ponsel. Sudah kesekian kalinya ia bertengkar hebat seperti ini dengan Eunhyuk. Ia merengut, “Sampai minggu lalu, kami masih baik-baik saja.”

Ingatannya melayang ke dua bulan yang lalu, saat Eunhyuk terus-menerus mengeluh soal drama barunya yang melibatkan beberapa adegan ciuman. Lelaki super pencemburu itu memintanya memutuskan kontrak, tapi Cherry mengabaikannya.

“Kalian bertengkar? Lagi?” Nara berjalan pelan dan bersandar di tepi ranjang.

Cherry mengangguk lemah. “Nara-ya.. aku lelah.”

“He? Kau bukan mau putus darinya kan?” mata Nara terbelalak lebar.

“Aku kan tidak bilang begitu. Hanya saja.. aku memang lelah dengan sikapnya. Setiap kali ada adegan yang membuatnya tidak nyaman, dia selalu marah.” Cherry mendesah. “Pekerjaanku kan memang seperti ini.”

“Coba saja kau beri tahu dia pelan-pelan. Pas-“

“Sudah~ sudah sering aku memberikan penjelasan dari A sampai Z, tapi yang terjadi tetap sama. Dan akhirnya aku malah mengulang lagi penjelasan A sampai Z itu,” tangannya meraih bantal merah muda. Cherry menutup wajahnya dengan bantal itu.

Nara mengangkat bahu. “Perbedaan umur kalian terlalu jauh, mungkin.”

“Ya! Aku sudah pernah membahas ini kan? Tidak masalah berapapun umurnya, dia akan tetap seperti anak kecil,” tegas Cherry.

Gadis itu kembali membenamkan wajah dalam bantal. Cherry menarik napas panjang-panjang, mencoba melepaskan beban dan tekanan di dadanya. Nara hanya bisa menatap sahabat sekaligus artisnya itu dengan pandangan prihatin. Yang ia tahu, Eunhyuk hanya membuat Cherry tertekan. Nara benar-benar berpikir seandainya saja Cherry menemukan orang lain yang tidak kekanak-kanakan seperti Eunhyuk..

“Sudah berapa kali kubilang, aku tidak mau ada adegan pelukan seperti itu!” Eunhyuk menatap gadis berlesung pipi di depannya itu dengan galak.

Cherry menghela napas pasrah. “Lalu kau mau aku berperan jadi apa? Figuran? Atau suster gereja yang tidak pernah bersentuhan dengan lelaki?”

“Kenapa kau jadi suka menentangku sekarang? Apa aku tidak boleh cemburu?” tegas Eunhyuk.

“Kenapa rasa cemburumu itu selalu meledak-ledak begini? Ini bukan cemburu, ini hanya membuktikan kalau kau sama sekali tidak percaya padaku,” kilah Cherry.

Mata mereka bertemu untuk sesaat lalu Eunhyuk berpaling. “Kau tidak suka? Kau risih dengan perhatianku?”

“Lee Hyukjae! Kapan aku pernah bilang begitu? Aku hanya bilang kalau kau tidak per-“

“Arasseo. Lakukan apa yang kau suka.” ia sempat menoleh, “Tidak akan ada lagi Eunhyuk yang suka mengaturmu. Kau senang kan?” Eunhyuk angkat kaki dan meninggalkan Cherry di ruang tunggu.

Leeteuk melongok ke dalam setelah Eunhyuk pergi. Ia mendekat, “Bertengkar?”

“Lagi…,” Cherry menarik napas panjang. Tapi kemudian ia menangis. “A-aku.. aku harus bagaimana?”

“Chaeri-ya..” tangan Leeteuk mengusap rambut panjang gadis itu. “Eunhyuk hanya kesal. Dia akan kembali seperti biasa secepatnya.”

Cherry merengut. Kemudian tubuhnya berbalik untuk melihat Leeteuk lebih jelas. “Sampai kapan aku harus menunggu? Oppa, aku lelah.”

“Kau.. tidak putus darinya kan?” Leeteuk membalas tatapan gadis itu dengan setengah terkejut.

“Aku tidak tahu. Tapi aku memang benar-benar lelah, oppa. Sekali saja.. aku hanya berharap sekali saja dia mengerti aku,” ungkap Cherry terus terang. Baginya, Park Jungsoo ini sudah seperti kakak kandung Park Chaeri.

Leeteuk melemahkan pandangannya. “Kalian sudah berjuang sejauh ini. Hubungan rahasia antar-artis itu sangat sulit. Kalau kalian menyerah sekarang-“

“Oppa.. jangan mengaitkan masalah internal kami dengan hubungan rahasia di belakang kamera. Lagipula bukankah sama saja, akhirnya kami sama-sama lelah,” gadis itu mengembuskan napas berat. Dadanya terasa sesak tapi oksigen yang ia hirup sama sekali tidak mengurangi rasa sesaknya.

Mendengar jawaban mengejutkan itu, Leeteuk hanya bisa diam. Ia benar-benar tidak bisa membantah atau menyangkal ucapan Cherry. Leeteuk tahu bagaimana Eunhyuk dan Cherry berusaha menjaga hubungan mereka dan bagaimana tersiksanya mereka berdua. Jadi kalaupun gadis di depannya itu sudah benar-benar ‘lelah’, ia hanya bisa berharap Park Chaeri merebahkan tubuhnya sejenak lalu kembali pada Eunhyuk.

Two days later

Cherry berjalan gontai melewati koridor KBS yang terasa terlalu panjang. Biasanya ia bisa melaluinya dalam waktu kurang dari 3 menit, tapi rasanya setiap detiknya berlalu 3 kali lipat lebih lambat. Ia mendesah berat.

“Chaeri-ya…!” suara bariton bening membuat Cherry berbalik. Lelaki jangkung itu setengah berlari ke arahnya dengan senyum mempesona yang terkembang.

Cherry tersenyum samar, tanpa benar-benar ingin untuk sekedar membalas senyuman manis itu. “Minho-ssi, annyeong haseyo.”

“Sedang apa disini? Mencari Eunhyuk hyung?” Minho memutar kepala ke sekeliling, mencari pemilik nama yang baru saja ia sebutkan.

Lagi-lagi Cherry tersenyum, kali ini agak pahit. “Aniyo. Aku ada janji dengan produser KBS sekarang. Kau?”

“Dream Team,” ujarnya bangga. “Mm.. aku melihat dramamu kemarin. Kau… cantik.”

“Aku tidak tahu kau suka menonton drama,” gumam Cherry. “Tapi terima kasih.”

Minho menggaruk kepalanya kikuk. “Sebenarnya aku hanya menonton dramamu. Yang lain aku tidak tahu.”

“Kau penggemarku?” Cherry nyaris tertawa tapi melihat lelaki di sampingnya tersipu, ia berdeham. “Aku hanya bercanda.”

“Ani, aku memang…,” mata Minho tidak lagi terarah pada gadis berambut panjang itu. “Penggemarmu.”

Sesaat tadi, Cherry merasa sedikit terkejut. Kejutan yang tidak biasa, hampir kejutan menyenangkan baginya. Gadis itu yakin tidak punya penyakit jantung tapi rasanya tadi jantungnya berhenti berdetak. Atau hanya perasaannya saja?

Cherry berusaha menguasai diri. “Mm… ya, terima kasih kalau begitu.”

Minho mendadak mengalihkan pembicaraan. “Kau dan Eunhyuk hyung… baik-baik saja?”

Telinga Cherry terasa tertusuk. Pertanyaan itu wajar dan biasa. Tapi sekarang rasanya pertanyaan itu seperti hal terlarang baginya, seperti vampire yang tidak suka matahari, Cherry merasa ia harus menghidari pertanyaan itu.

“Tidak juga,” akhirnya Cherry berhasil menemukan jawaban yang setengah cocok.

Kening Minho berkerut, tapi ia tidak berani bertanya lebih jauh. Ia hanya bergumam, “Ya.. kuharap kalian segera kembali baik.”

Nada suaranya sedikit lebih berat, terkesan tidak sungguh-sungguh. Di pihak lain, Cherry bertanya pada dirinya sendiri, “Apa kami akan baik-baik saja?”

Nara menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi saat melihat Cherry yang tampak melamun. Tubuhnya jelas-jelas ada disana, duduk manis sambil menunggu gilirannya take. Tapi Nara bisa melihat matanya tidak berkonsentrasi kemanapun, lebih terlihat kosong.

“Chaeri-ya?” akhirnya Nara memberanikan diri bertanya. Yang dipanggil menoleh ke arahnya dengan ekspresi enggan. “Kau baik-baik saja?”

“Aku? Aku baik. Memangnya kenapa?” jawabnya.

Nara memutar bola matanya dan mengomel. “Kalau dalam ukuran orang normal, kau ini sedang tidak baik-baik saja, Park Chaeri.”

Cherry tersenyum pahit. “Nara-ya, apa menurutmu kami sudah putus? Tidak ada hubungan lagi?”

“He? Memangnya kalian sudah benar-benar putus?” alis Nara terangkat heran.

“Saat seorang lelaki menyuruhmu melakukan apapun yang kau suka dan meninggalkanmu sendirian, apa artinya?” tanya Cherry lemah. Ia mendesah, “Sejak itu, dia tidak pernah meneleponku, tidak ada pesan untukku apalagi permintaan untuk bertemu.”

“Jadi.. sudah berakhir?” Nara ragu. Matanya tetap memandang Cherry hati-hati.

Cherry menekuk lututnya sendiri dan bergumam. “Mungkin..”

-the next day-

“Break 30 menit!!” suara nyaring sutradara Han membuat Cherry mengembuskan napas lega. Beberapa staf mengajaknya makan siang bersama tapi ia menolak.

Cherry hanya duduk di kursinya sambil mengamati layar ponsel dalam genggamannya. Ia mendesah. “Apa dia tidak merindukanku?” Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Andwae!! Kami sudah putus. Aku bukan gadis yang akan mengemis pada lelaki sepertinya!”

Pandangannya berubah sayu. Otaknya mencari hal yang bisa membuatnya tidak gelisah seperti sekarang. Ia mencari tahu apa yang salah dengannya sampai Eunhyuk bisa semarah itu hanya gara-gara peran dan adegan yang dimainkannya.

Gadis itu yakin sudah berkali-kali memberikan penjelasan yang masuk akal dan mudah dipahami. Tapi rasanya lelaki itu selalu saja marah untuk alasan yang sama setiap waktu. Matanya terasa panas, jadi Cherry mengerjap beberapa kali, berharap hal itu bisa membantunya mencegah air mata jatuh.

‘drrt… drrt…’

Ponselnya berdering nyaring. Dengan cepat, Cherry menekan tombol hijau. “Yeoboseyo??”

“Kau sedang menunggu telepon dari seseorang ya?” suara di ujung telepon membuat Cherry mengembuskan napas berat. “Benar tidak?”

“Ne.. Jungsoo oppa benar,” Cherry menjawab dengan enggan. “Ada apa?”

Leeteuk tertawa. “Memangnya aku tidak boleh menelepon? Aku mencemaskanmu.”

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” gadis itu berusaha menenangkan sang ‘kakak’ dengan bersuara senormal mungkin. “Apa dia.. baik-baik saja?”

“Dia? Sebut saja namanya,” goda Leeteuk. “Dia baik. Kalian sudah kembali seperti semula kan? Sudah kubilang marahnya tidak akan la-“

“Kurasa kami sudah tamat,” potongnya cepat. Cherry merasa dadanya sesak, semuanya siap meledak kapan saja. “Benar kan? Kalau begini, ini endingnya kan?”

Terdengar Leeteuk yang menarik napas panjang. “Benar dugaanku.”

“Ng? Maksud oppa? Apa oppa sudah tahu kalau kami tidak akan baik-baik saja?”

“Mm. Hyukjae.. selalu melamun akhir-akhir ini. Kata Ryeowook, dia bahkan tidak pernah makan di dorm lagi,” suara Leeteuk melemah. “Dia juga tidak pernah lagi bereaksi berlebihan pada dramamu, setidaknya kabar baiknya adalah dia tidak pernah absen untuk melihat dramamu. Makanya kupikir kalian pasti sedang dalam keadaan.. buruk.”

Kata-kata Leeteuk terdengar pelan tapi sama sekali tidak menenangkan. Cherry merasakan tubuhnya bergetar hebat. Sebagian besar hatinya seolah diiris, karena ia merasa ada luka yang berdarah disana. Ia membuka mulut dengan susah payah, “Oppa..”

“Jangan menangis…,” bujuk Leeteuk, sepertinya ia bisa melihat wajah Cherry yang basah karena air mata. “Kalian pasti bisa melewatinya. Kau pasti bisa, Park Chaeri.. Kau tahu kenapa?”

Dengan sesenggukan, Cherry menjawab. “Karena Park adalah yang terkuat..”

Gadis itu bisa membayangkan Leeteuk tersenyum, “Benar. Bertahanlah.”

“Akan kulakukan,” sahut Cherry. Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya. “Oppa?”

“Mm?”

Cherry menarik napas panjang dan mengembuskannya berat. “Apa menurut oppa, ini benar-benar sudah berakhir?” Gadis itu tidak mendengar Leeteuk akan menjawab, jadi ia bergumam sendiri. “Sepertinya begitu ya.. ini adalah endingnya.”

Lagi-lagi malam ini syuting selesai larut. Cherry sibuk melihat jam tangannya terus-menerus, seolah melihat satu kali tidak bisa memuaskannya. Kali ini ia harus mengendarai mobil sendiri, Nara sedang berlibur ke Itali bersama Kyuhyun. Cherry mendesah, “Eunhyuk juga akan pergi kesana, seharusnya aku bisa ikut kan?”

Tapi dengan cepat Cherry menyingkirkan pikiran konyol itu. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri kalau dia dan Eunhyuk, atau yang biasa disebut Super Junior Eunhyuk, sudah benar-benar berakhir. Mendadak ia bisa mengingat sesuatu, tentangnya dan Eunhyuk, sebuah kisah tersembunyi.

Cherry tersenyum samar. “Sudah berapa lama ya kami pacaran diam-diam?” Ia menghitung jarinya sendiri, “Satu, dua.. hampir dua tahun? Menyedihkan..”

Kepalanya bersandar pada jok pengemudi dalam mobil Porsche. Cherry mencoba memejamkan mata, mencari kedamaian dari sana, tapi nihil. Pelan-pelan air matanya jatuh, lagi. Rasanya terlalu sulit melepaskan lelaki itu. Meskipun hubungan mereka adalah hubungan rahasia, tapi tetap saja perasaan Cherry bukan hal yang bisa disembunyikan.

“Ah.. tidak boleh begini. Putus ya putus. Kenapa aku harus terpaku padanya? Lagipula aku yakin Eunhyuk akan lebih suka pada gadis biasa yang tidak selalu membuatnya marah sepertiku,” Cherry mengusap pipi dengan tangannya sendiri.

Kemudian ia mulai menyalakan mobil dan meninggalkan jalanan bersalju di belakangnya. Cherry memacu mobilnya dan membiarkan kecepatan memanjakannya. Ia membawa Porsche hitam itu ke sebuah pub.

Minho baru saja akan meninggalkan café tempat temannya bekerja saat ia melihat sebuah mobil yang dikenalnya memasuki kawasan hiburan malam itu. Ia memiringkan kepala, “Itu.. mobil Cherry kan?”

Kakinya berjalan sendiri mengikuti mobil yang diparkir di depan sebuah pub malam. Minho bisa melihat gadis bermantel cokelat muda itu berjalan masuk tanpa ragu ke ruangan dengan suara musik yang nyaring. Pandangannya tidak kabur walaupun suasana di dalamnya berupa lampu yang minim. Minho hanya terfokus pada punggungnya, punggung gadis yang selalu bisa mempesonanya.

Ia menemukan gadis itu duduk di salah satu sofa sendirian. Gadis itu memainkan minuman di gelasnya, seolah enggan menenggaknya. Cherry mempunyai mata yang indah, bulat dan gelap, tapi saat ini Minho melihat mata itu sembab dan tidak fokus kemana pun.

Minho memilih duduk di sampingnya. “Kau sedang ingin minum ya?”

Mendengar suara berat itu, Cherry reflek menoleh. “Kau? Kau mengikutiku?”

“Tadinya aku mau bilang begitu, tapi sayangnya bukan,” Minho mencoba bercanda, tapi Cherry tidak memperlihatkan perubahan raut wajah sedikit pun. “Aku melihat mobilmu masuk kesini, jadi kupikir kau butuh teman.”

Kepala Cherry menggeleng lemah. “Tidak. Pergilah.”

Lelaki di samping Cherry itu tersentak dengan ucapan dingin Cherry. Minho hanya tahu kalau Cherry adalah gadis manis dengan bakat di bidang akting, dia juga tahu kalau Cherry dan Eunhyuk adalah sepasang kekasih. Walaupun mereka bersembunyi dari publik, tetap saja mereka itu punya hubungan spesial.

“Aku bisa menemanimu minum sampai puas,” tawar Minho.

“Tidak. Kau tidak bisa. Tinggalkan saja aku sendiri,” Cherry memalingkan wajah dari Minho dan berniat menenggak segelas lagi minuman memabukkan di gelasnya. Tapi ia terkejut saat Minho merebut gelas dari tangannya. “Ya~ apa yang kau laku-“

Minho menelan habis isi gelas tadi dengan sedikit meringis. “Minumanmu ini terlalu keras, Cherry-ssi.”

“Siapa yang menyuruhmu meminumnya? Bodoh,” Cherry mengambil kembali gelasnya.

“Mm.. kita sudah berciuman,” ucapan Minho membuat Cherry menoleh cepat. “Bibir kita bersentuhan tak langsung lewat gelas itu kan?”

Bibir Cherry tersenyum kecil, “Kalau yang seperti itu disebut ciuman, berarti aku sudah sering berciuman dengan Eunhyuk..”

“Ya, sepertinya begitu,” kepala Minho tertunduk lalu kembali menatap Cherry. “Tapi bukankah sekarang kau sedang berciuman denganku?”

Cherry mendengus. “Aku tidak suka berciuman dengan cara yang konyol seperti itu.” Tapi kemudian ia meralat ucapannya sendiri, “Bukan berarti aku suka melakukan ciuman yang aneh-aneh ya~!”

“Ara.. pasti Eunhyuk hyung lebih tahu bagaimana menciummu,” Minho mendesis saat mengucapkan nama seniornya itu.

“Aish.. kenapa kita jadi membicarakan ciuman dan.. Eunhyuk? Lupakan saja,” Cherry menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Ah, kepalaku pusing~~~~”

Minho memperhatikan gadis itu dengan tenang. “Berapa gelas yang sudah kau minum?”

“Hanya.. tiga. Tapi itu tidak membuatku lebih tenang,” gumamnya. Tiba-tiba ia menarik kemeja Minho dan mendekatkan wajahnya ke bibirnya, “Apa kau tahu bagaimana membuatku amnesia?”

Pelan-pelan, Minho melepaskan tangan Cherry darinya. “Kau sudah mabuk ya?”

“Tiiiiiidaaaak~~ aku baik-baik saja.. aku masih bisa melihat wajahmu dengan jelas,” kata-kata Cherry mulai kacau. “Eh~~~ wajahmu ada.. tiga!!”

Minho memutar bola matanya dan bergumam, “Kau benar-benar mabuk. Ayo pulang.”

“Mau kemana? Bawa aku ke tempatmu saja ya~~~” Cherry meracau lagi. Kali ini ia menempelkan kepalanya di dada bidang Minho lalu menangis, “Aku.. siapa aku bagimu, Eunhyuk-ah~~~? Kita putus tapi kenapa aku yang jadi kacau begini?”

Melihat Cherry yang menangis di pelukannya, Minho tidak tahu harus bagaimana selain merapatkan tubuh gadis itu padanya. “Jangan.. jangan menangis di depanku.”

“Aku saaaaaaaangat sediiih,” gumam Cherry.

Sekarang kemeja hitam Minho sudah basah karena air mata Cherry. Ia memapah Cherry meninggalkan pub yang ramai itu. Minho mendudukkannya di kursi belakang mobil Porsche yang terparkir di luar gedung. Tapi Minho tidak menyalakan mobil itu, ia hanya diam di samping Cherry. Matanya melihat dua kancing teratas baju gadis itu terbuka.

Masih dengan kesadaran yang belum pulih, Cherry mengerjap berkali-kali dan bisa melihat Minho ada di sampingnya. Tapi kemudian ia terperanjat saat tangan lelaki itu menyentuh ke arah kemeja tanpa lengan yang ia kenakan.

Ia memekik, “MAU APA KAU?”

“Ng?” Minho berwajah polos dan mengangkat bahu, “Membetulkan bajumu. Kancingmu itu terbuka.”

“He?” kening Cherry berkerut dan matanya langsung melihat kancing bajunya memang terlepas. Ia gelagapan, “Mm, iya. Tapi aku bisa mengancingkannya sendiri, jangan khawatir.”

Minho mengembuskan napas berat dan bersandar. “Aku tahu..” Kali ini ia tidak bisa memandang gadis di sampingnya. “Aku tahu aku tidak perlu khawatir padamu. Kau punya semua orang yang menyayangimu.”

“Apa yang kau bicarakan?” gumamnya. Cherry memegangi kepalanya lagi, “Ah~~~ kepalaku sakit..” Ia melirik Minho, “Pinjam bahumu ya?”

“Apa kau perlu menanyakannya? Aku untukmu,” ucapan Minho tidak membuat Cherry terkejut. Gadis itu terlalu pusing untuk bermain permainan menebak maksud tersembunyi di balik kata-kata Minho.

Kepala Cherry bersandar di bahu lelaki itu dengan cepat. Tapi mendadak ia sadar, “Mau sampai kapan kita disini?”

“Molla.. sampai kau cukup sadar untuk pulang ke apartemenmu, mungkin,” sahut Minho. “Atau.. ada tempat yang ingin kau datangi saat ini?”

“Eobseo.. kita disini saja ya?” Cherry mendongak sebentar untuk melihat wajah Minho lebih jelas. Tapi matanya menangkap sesuatu yang menarik. “Ah, aku baru sadar kalau matamu itu.. cantik.”

Minho mengerjap satu kali dan tersenyum. “Kau suka mataku?”

“Mm. Indah.. tapi juga tajam. Pokoknya matamu cantik~~” Cherry memamerkan senyum manis dengan lesung pipi di kanan-kirinya. “Eh, bibirmu juga menarik.”

“Aku lebih suka bibirmu,” begitu Minho menyelesaikan kata-katanya, ia menunduk untuk mencium Cherry. Ciumannya lembut tapi hanya berlangsung tiga detik. Detik berikutnya, ia menjauhkan diri dari gadis itu, “Mian..”

Cherry terperangah. Ia terlalu terkejut dan hanya bisa menyentuh bibirnya. “Apa.. apa yang baru saja kau lakukan?”

“Kenapa? Kau marah? Aku hanya.. terlalu menyukaimu,” Minho tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap gadis di sampingnya.

Mendengar ucapan itu, Cherry bergerak cepat dan meraih leher Minho di lengannya. Gadis itu mengusap pipi Minho lembut lalu menciumnya berkali-kali. Setelah puas bermain di pipi, Cherry membiarkan bibirnya menempel di bibir Minho. Berbeda dengan ciuman Minho, ciuman gadis itu lebih liar dengan sedikit membuka mulut dan memainkan lidahnya.

Minho yang tadinya diam atas perlakuan Cherry, kini mulai mengikuti permainan gadis berlesung pipi itu. Tangannya meraih pinggang Cherry, menyentuhnya tapi lebih kelihatan seperti menggelitik pinggang ramping Cherry.

Kemudian ia melepas ciuman itu. Napas Minho terengah tapi wajahnya serius. “Kau.. sedang mabuk.”

“Lalu kenapa?” Cherry mengabaikan nada protes dari Minho. Ia mengalungkan lengannya lagi ke leher lelaki itu. Berikutnya ia membuat Minho duduk menyamping, berhadapan dengannya. Cherry kembali meraih bibir Minho dengan bibirnya.

Ciuman liar antara mereka terjadi lagi, kali ini dengan ritme yang lebih teratur. Minho yang tadinya memejamkan mata, diam-diam mengintip. Ia melihat Cherry menangis di tengah ciuman mereka. Ada air mata yang terjatuh dari sepasang mata besar dan berwarna gelap miliknya.

Tangannya menyeka sungai kecil di pipi gadis itu. Minho menghentikan sentuhan bibirnya, “Kenapa menangis?”

“Mm? Memangnya aku menangis ya?” Cherry menyentuh tangan Minho yang ada di wajahnya.

“Kau.. kenapa menciumku seperti itu?” wajah Minho menegang, matanya terlihat tajam. Kemudian ia mendesah, “Kau hanya menganggapku sebagai.. pelarian.”

Cherry diam. Bagaimana pun gadis itu tidak perlu menegaskannya. Minho tahu persis kalau pernyataannya barusan itu benar, seratus persen tidak salah. Mereka terpaku untuk beberapa saat, mencoba menjernihkan pikiran masing-masing.

“Choi Minho, apa kau menyukaiku?” pertanyaan tak terduga itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Cherry. Gadis itu menebaknya saat Minho menciumnya dengan lembut, nyaris tanpa nafsu, hanya ada cinta disana.

Dengan susah payah, Minho menelan ludah. Kepalanya menggeleng. “Aku.. hanya mencintaimu.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak melakukan apapun padaku?” tanya Cherry heran. Ia tahu pertanyaan itu terlalu frontal. Maksud Cherry, kenapa lelaki itu bahkan tidak berusaha menyentuhnya?

“Apa yang bisa kulakukan saat pikiranmu bahkan tidak ada disini? Aku ragu kau akan peduli,” Minho menatap gadis di sampingnya dengan sayu.

Cherry merasa pusing, pengaruh alkohol dan maksud tersembunyi Minho membuat kepalanya seperti nyaris meledak. “Lakukan apa yang mau kau lakukan~ jangan membuatku bingung!”

“Aku tidak tahu apa aku bisa menyentuhmu saat kau terus menangis mengingat lelaki lain,” ujarnya. Mendadak Minho teringat suara Cherry yang terus meracau dan memanggil nama Eunhyuk. Tadinya ia senang saat Cherry tiba-tiba menciumnya ganas tapi kemudian harga dirinya terluka begitu melihat gadis itu menangis.

“Salahku,” Cherry menggenggam tangan Minho. “Maaf.”

Minho memandangi gadis itu lekat-lekat, menunggu Cherry mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum, tapi gadis itu hanya diam. Ia mengembuskan napas berat. “Kuantar kau pulang.”

“Ng? Jangan,” dengan cepat, Cherry meraih lengan Minho. Tapi kemudian ia melepasnya. “Mm, maksudku, aku sedang tidak ingin pulang. Lagipula aku hanya sendirian.”

“Mau ke dorm-ku?” tawar lelaki bermata jernih itu.

Cherry melihat sekelilingnya begitu lift terbuka. Melihat Minho yang langsung berbelok ke arah kanan, ia mengekor sambil memegangi bagian belakang kemeja Minho. Ia menelan ludah, “Apa benar tidak apa-apa?”

“Tenang saja. Hanya ada Kibum di dorm, Onew hyung, Jonghyun hyung dan Taeminie sedang ada jadwal sampai pagi,” langkah Minho terhenti, ia langsung memutar badan. “Kau sendiri? Apa tidak apa-apa menginap bersama SHINee?”

Gadis itu mencibir, “Kau takut Shawol kalian mengejar dan menerorku?”

“Begitulah,” Minho mengangkat bahu ringan sambil tertawa. “Ani, apa benar tidak akan ada yang marah kalau kau.. tidak pulang?”

“Siapa yang akan marah? Nara sedang di Itali,” Cherry berjalan di depan Minho dan berhenti di depan sebuah pintu. “Ini dorm kalian?”

Kepala Minho mengangguk kaku lalu ia mengeluarkan kunci dari saku celananya. “Masuklah.”

Pintu terbuka dan Cherry melangkah masuk perlahan sambil memerhatikan sekitar. “Tidak ada orang.. katamu ada Key. Apa dia sudah tidur?”

“MINHO-YA~~ kau sudah pulang? Mana kue pesananku?” Key menghambur ke ruang depan. Ia terperanjat begitu melihat Cherry. “Omomo~~ Cherry-ssi?”

Cherry tersenyum kikuk. “Annyeong haseyo, Kibum-ssi. Kau belum tidur?”

“Aku menunggu Minho. Kau? Sedang apa disini?” tanya Key sambil terus memandangi Cherry. Tapi kemudian ia menangkap sesuatu yang aneh dari penampilan mereka. Kancing bagian atas kemeja Cherry terbuka, begitu juga dengan kemeja lengan panjang yang dikenakan Minho, terkesan lusuh. “Kalian.. apa yang baru saja kalian lakukan?”

Minho memutar bola matanya sementara Cherry sibuk mengibas-ibaskan tangan. “Ani, ani, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kami tidak melakukan apa-apa.”

“Kalian mencurigakan. Baju tak karuan begitu, rambut acak-acakan. Ah~ pokoknya aneh!” Key bersikeras lalu tertawa. “Tapi tidak apa-apa, kalian kan sudah dewasa. Itu urusan kalian. Minho-ya, kamar Onew hyung bisa kau pakai. Selamat bersenang-senang.”

Cherry memukul kepala Key. “Ya~ sudah kubilang kami tidak melakukan hal yang aneh!”

“Aish.. sakiiit. Kau itu gadis yang kasar ya,” Key mengelus kepalanya sendiri lalu meninggalkan Cherry bersama Minho. “Aku akan tidur lebih dulu. Ah, dan aku akan pura-pura tidak tahu.”

“Ya~ Kim Kibum, jangan pergi kau!” pekik Cherry tapi kemudian Minho membekap mulutnya. Gadis itu menoleh dan mendelik kasar. “Apa yang kau lakukan?”

Minho mendecakkan lidah. “Kau itu berisik. Mau semua orang mendengarmu?”

“Tapi membermu itu menyebalkan~~~” Cherry merajuk.

“Dia memang menyebalkan. Jangan pedulikan dia, aratchi?” senyum terkembang dari bibir Minho, membuat Cherry tertegun. “Kenapa melihatku begitu?”

Cherry menggaruk pipinya gugup. “Aku baru saja sadar kenapa tadi aku langsung menciummu begitu. Senyumanmu itu.. menenangkan.”

“Benar kan kalian berbuat sesuatu~~~” suara Key yang nyaring membuat Cherry memalingkan wajah dari Minho.

“Ng, kurasa aku butuh tidur,” Cherry mencoba mengelak dari pandangan Minho.

-the next day-

“HYUNG~~~” Taemin berteriak begitu ia melihat Cherry yang tidur di ranjang Minho, membuat Onew menghampiri sang magnae. “Kenapa Cherry noona ada disini?”

Onew mengerutkan kening lalu memutar badan ke arah Taemin. “Kau lupa? Semalam Cherry menginap disini. Minho yang membawanya.”

“Ng? Kenapa aku bisa lupa ya? Apa semalam aku terlalu lelah?” Taemin memandang langit-langit.

“Bukan lupa, kau memang langsung tidur begitu pulang,” sahut Key dari dapur. “Jangan berisik, biarkan putri tidur itu puas bermimpi. Kurasa dia sempat mabuk.”

Taemin saling bertukar pandang dengan Onew lalu memekik bersamaan. “Mabuk?”

“Ya~ bukankah barusan kubilang jangan berisik?” tegas Key.

Minho menggeliat dan terduduk di sofa. Badannya terasa remuk. Tidur di sofa memang tidak pernah menyenangkan. “Kalian sedang apa?”

“Hanya terkejut karena aktris seperti Park Chaeri bisa mabuk,” sela Jonghyun. Ia beringsut duduk di samping Minho. “Semalam kalian benar-benar mabuk?”

Taemin mendekat pada Minho, berharap mendapat cerita yang lengkap. “Hyung juga mabuk bersama Cherry noona?”

“Aku hanya sempat minum segelas kok,” kilah Minho cepat.

“Tapi aku heran, kenapa kau bisa bersama dengannya? Kau membuntutinya ya?” tebak Jonghyun. Bagi SHINee, rasa suka Minho pada Cherry sudah jadi rahasia umum. “Dia patah hati dan kau memanfaatkan perasaannya itu, lalu kalian…”

Minho memutar bola matanya. “Pikiranmu itu benar-benar sembarangaan, hyung.”

“Aku hanya menebak,” sahut Jonghyun santai. Tapi kemudian ia mendadak penasaran. “Apa dia dan Eunhyuk hyung benar-benar.. putus?”

Mulut Minho baru akan terbuka saat suara bening mendahuluinya. “Ne. Aku dan Eunhyuk sudah tamat. The end. Putus. Apalagi yang mau kau tahu?”

“Cherry-ssi…,” Jonghyun terkejut melihat Cherry sudah berdiri di belakangnya. “Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?”

“Aish.. aku hampir tidak percaya kalian sangat suka membicarakan orang lain,” Cherry mendengus sebal lalu duduk di kursi makan. Ia meraih sebuah mug berwarna pink tapi kemudian Key menahannya. Cherry melongo. “Wae? Aku haus~~”

Key menggoyangkan telunjuknya. “Ini milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya.”

Alis Cherry terangkat lalu ia menggembungkan pipi. “P-e-l-i-t~~~”

“Pakai punyaku,” sahut Minho. Ia menunjuk mug lain yang terpajang disana. “Yang biru.”

Cherry agak terkejut, kepalanya menggeleng. “A-ani. Aku pakai gelas biasa saja.” Wajah gadis itu memerah, teringat pada percakapan mereka soal ciuman semalam.

“Waktunya sarapan. Cherry-ya, kau ikut makan disini kan?” tanya Key sambil sibuk mengoleskan selai ke setiap roti yang ada di depannya.

“Mm, kalau boleh,” Cherry menenggak habis isi gelas dalam genggamannya. Sesaat kemudian ia memijat pelipisnya. “Ah~~ kepalaku pusing.”

Taemin memiringkan kepala. “Noona pusing? Gara-gara mabuk ya?”

“Begitulah,” ujar Cherry dengan setengah menunduk karena malu. Kemudian ia menarik lengan piyama Minho, “Setelah sarapan kau bisa mengantarku pulang kan? Siang ini aku ada syuting Strong Heart.”

Minho mengernyit heran. Dalam hati ia berpikir, bukankah nanti dia bisa bertemu dengan Eunhyuk? Tapi kemudian ia tersenyum menyesal. “Tidak bisa. Aku ada jadwal bersama SHINee. Bagaimana kalau nanti siang kau kujemput disini?”

“Ng? Dan mengantarku ke SBS? Andwaeyo, semua orang pasti mencurigaimu,” Cherry agak trauma dengan skandalnya kemarin bersama Yoo Seungho. “Kalau begitu, aku akan pulang setelah sarapan.”

“Tapi-“

“Ehem,” Onew berdeham agak keras. “Tolong ingat kalian sedang tidak berdua. Kami bisa mendengar percakapan penuh cinta kalian.”

“Mworago? Cinta apa? Kami tidak ada hubungan apa-apa,” tandas Cherry cepat. Tapi kemudian ia menatap Minho, “Maksudku, kami hanya teman.”

Minho tersenyum kecil. Matanya terus menatap gadis berlesung pipi itu dalam-dalam, seolah dunianya hanya berotasi pada Cherry. Dalam hati ia bergumam, apa arti ciuman dan air mata gadis itu semalam?

Cherry menempelkan kepalanya ke kemudi sedetik setelah ia sampai ke depan gedung apartemennya. Kepalanya luar biasa sakit, pusing dan terasa akan meledak. Ia menggerutu, “Kalau tahu begini, aku tidak akan minum minuman sial itu!”

Ia baru akan keluar dari Porsche saat ia sadar sesuatu miliknya tidak ada. Cherry memekik, “Gelangku! Gelang dari eomma!!” Dengan cepat, ia menumpahkan semua isi tasnya. “Mana? Mana?” Otaknya mencoba mengingat sesuatu yang mungkin sudah dilakukannya sebelum pulang. Semalam ia masih mengenakan gelang itu..

“Kamar mandinya di ujung lorong,” ujar Minho. Tapi kemudian ia menahan lengan Cherry, “Lepaskan saja dulu gelangmu.”

Cherry menepuk kepalanya pelan. “Benar! Aku meninggalkannya di…,” Alisnya terangkat, “Kamar Minho!”

Gadis itu melirik jam digital di mobilnya, mencari kemungkinan Minho dan SHINee belum meninggalkan dorm. Mobil Porsche hitam langsung melaju cepat, meninggalkan jejak pada salju putih yang menutupi sebagian jalan raya.

Kakinya melangkah cepat keluar lift. Cherry mencoba mengingat dimana dorm SHINee yang semalam ia datangi. Dengan keadaan setengah mabuk, sepertinya hal itu agak mempengaruhi ingatannya. Ia sibuk menebak-nebak mana jalan yang benar sampai ia melihat punggung Minho membelakanginya.

Cherry mengurungkan niatnya membuka mulut saat ia sadar Minho tidak sendiri. Hatinya berdenyut nyeri. Ada Eunhyuk disana, dengan jaket biru dan topi hitam. Dengan cepat, Cherry menutup mulutnya sendiri karena ia nyaris berteriak saat melihat Eunhyuk. Hari ini ia sadar, bayangan lelaki itu masih terlalu jelas di matanya.

Tadinya ia akan berjalan berbalik dan meninggalkan mereka, tapi ternyata rasa ingin tahunya terlalu besar. Cherry mengendap di belakang mereka sambil tetap menjaga jarak. Kupingnya siaga, entah kenapa ia merasa harus mendengarkan pembicaraan antar pria itu.

“…kami memang sudah putus,” hal itu adalah yang pertama didengar Cherry. Eunhyuk melanjutkan, “Kurasa memang seharusnya begini. Cherry sudah terlalu tertekan dengan sikap kekanak-kanakanku. Kau memanggilku kesini hanya untuk membicarakan ini, Minho-ya?”

Cherry mengerutkan kening. Ia bertanya-tanya sendiri kenapa Minho melakukan itu di belakangnya? Apa lelaki itu memang tidak pernah percaya kalau Eunhyuk dan dirinya sudah putus?

“Ng, sebenarnya memang begitu, hyung,” ujar Minho, semakin membuat Cherry bingung. “Bagaimana seandainya kalau kalian bertemu di studio?”

Eunhyuk diam sejenak lalu tersenyum kecil, “Kau menyukainya?”

“He? Ani, ani, aku hanya bertanya,” Minho tampak gelagapan. Kemudian ia menatap Eunhyuk dengan hati-hati, “Apa hyung akan mengacuhkannya kalau kalian bertemu?”

“Aku sudah bisa bersikap biasa di depannya, mungkin. Jadi kupikir kami akan menjadi.. teman?”

Jawaban itu menyakiti Cherry. Tangan kanannya terangkat untuk menutup mulut, menahan ledakan tangis yang bisa keluar kapan saja. Sementara tangan kirinya mencengkeram bagian depan mantelnya, mencoba meringankan luka yang ada di dalam sana, tapi sia-sia. Luka itu merembes dan berdarah.

Cherry menyeret kakinya dengan susah payah. Rasanya seluruh kekuatannya sudah musnah saat itu juga. Ia jatuh terduduk begitu pintu lift tertutup. Berkali-kali ia bergumam, “Ini adalah endingnya..” berkali-kali dengan nada putus asa.

-TBC-

====================

Cherry’s Love season 2~~~!! Rada berbau NC ya? Nanggung bener rasanya, kenapa ga bisa bikin yang full NC aja sekalian? ==a

35 thoughts on “Cherry’s Love 1/3 -season 2-

  1. Aish…ini mah NC 12 onn…<–ank mesum
    xD
    Keren…aq nangs loh pas baca bgian akhir2x tadi..
    Jadi ikutn suka minho ni…:)
    buruan d lanjut yak..

    • Huahaha~~ jago bener dirimu ngelompokin tingkatan NC?😄
      Oke, karir author NC saya sampai disini saja. Sumpah ga kuat iman kalo nulis NC. -.-

      He? Nangis?? Aigo~ bagus!! Terusin lah nangisnya. XDD

  2. lanjuut onn, bagus kok!
    JANGGAAAN BIKIN NC ONN! saya gasuka NC<—bohong
    jangan deh onn yaa soalnya ff onnie udah bagus yang romance gini jgn jadi nc yayayaya?*plakk🙂

  3. keren…………
    memang epep moe slalu q tunggu
    tetep romantis dan pd jalurnnya
    hehehhehehehheh*mlai brkhtbah gw*
    hehehehehhe
    lanjutanx d’tunggu……

  4. Uda lama kaga buka2 blog kmu. Trnyta amore am MWL uda ending, tros ad ff bru.
    Ckck..gk nyangka..
    Ad bkat bwt ff NC kah ? *dgaplok XP*

    whehe~s minho bae bnget..
    Akk jdi pengen pnya temen kyk dia *asli na mupeng am ciuman minho* #PLAK!

  5. Nyelekit gimana gtu bacanya *halah*
    Uuh~ sedihnya T.T
    Mantaf ^^b
    Suka deh she’ll klo udah baca cerita yg kea ginian,
    Keren >.<b *cekek XD*
    Lanjut dah, awas ga (?)😄

  6. di FF lain pengen nyubit pipi Eunhyuk saking lucu en gokilnya, disini ge pengen jitak palanya Eunhyuk hehehehehehe….

    gila ya si cherry, ga bisa ciuman ama Eunhyuk, Min ho pun jadi ckckckckckckck😉

  7. Hua… Jiyoo ptus ama hyuk???
    Pnsran kuat ampe brp lma jauh”an ny??? Hihihi….
    Ah… Minho ya kw mmbwt q gila. Msa minum satu glas d blg ciuman????
    Adgan kissing ny bkin nahan napas hahaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s