Stranger of Love/Kibum

Stranger of Love

====================


Hyunyoung’s PoV

Menjadi orang asing itu sangat tidak menyenangkan. Kau tidak tahu apapun, tidak mengerti apapun dan tidak mengenal siapapun. Aku seperti orang asing sekarang. Bahkan di tengah keluargaku sendiri, aku merasa tidak punya siapa-siapa.

“Pelan-pelan saja, Hyunyoung-ah,” ucap lelaki paruh baya yang menyebut dirinya sebagai ayahku.

Aku tersenyum samar tanpa menyahut. Lelaki itu bilang aku kecelakaan dan mengalami amnesia. Saat itu aku mau bertemu seseorang –entah siapa, mereka tidak bilang apapun- Lalu ada mobil yang melaju cukup kencang dan langsung membuatku terkapar di aspal. Ibu juga bilang banyak darah yang keluar dari pelipisku.

“Kondisimu waktu itu sangat mengkhawatirkan,” kali ini gantian wanita yang mengaku sebagai ibuku bercerita. “Kami sangat takut kau tidak bisa kembali kesini.”

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kecil tanpa jawaban. Aku memang tidak tahu apa yang harus kukatakan pada mereka yang sudah sangat berharap lebih padaku. Sudah 2 bulan aku begini. Kosong. Merasa bodoh dan asing.

Aku mendesah berat dan bangkit dari kursi, “Aku lelah. Kurasa aku butuh tidur. Selamat malam.” Badanku membungkuk singkat dan kakiku menyusuri tangga.

Kubuka pintu kedua yang ada di lantai atas. Sama saja. Suasananya sangat asing. Terlalu asing untuk ruangan yang mereka bilang adalah kamarku. Jujur saja, aku bahkan tidak merasa mengenal ruangan ini. Setiap sudutnya, semua benda di dalamnya, dan wanginya, terasa asing. Sama sekali tidak kukenali.

Satu-satunya yang membuatku nyaman berada disini hanyalah jendela yang lumayan besar dan menghadap ke barat. Kubuka tirainya dan mataku menemukan bulan yang malam ini berbentuk sabit. Diam-diam aku merutuk, “Apa amnesia itu separah ini?”

Aku suka berkhayal tentang bagaimana hidupku sebelum ini. Dalam bayanganku, aku memiliki banyak teman, selalu berangkat ke sekolah, dan tertawa bersama. Tapi nyatanya tidak ada satu teman –setidaknya yang mengaku teman- pun yang pernah datang kesini untukku.

Pertanyaan itu terucap lagi, “Park Hyunyoung, siapa kau?”

Deburan ombak sore ini cukup tinggi tapi tidak menghalanginya untuk tetap berdiri di pinggir pantai. Lelaki itu mengulurkan tangan. Ke arahku! Wajahnya samar. Dia membuka mulutnya. Apa? Apa yang kau katakan?

Kemudian ia hanya tersenyum. Tersenyum untukku.

Napasku memburu cepat begitu kilasan gambar tadi menghilang. Suara lelaki itu juga ikut musnah. Kupegangi dadaku sendiri. Jantungku berdebar kuat. Aku menarik napas. “Mimpi itu lagi?”

Sejak kepulanganku, mimpiku selalu sama. Hanya tentang laki-laki itu. Terkadang suasananya yang berbeda. Pantai, balkon rumah, dan rumah sakit. Tiga tempat itu yang sering muncul. Beberapa kali kutanyakan apa aku punya teman lelaki atau pacar, tapi orang tuaku tidak pernah mau menjawabnya.

Kadang jawabannya, “Mungkin teman SD-mu. Dulu kau pernah darmawisata ke pantai.” Atau, “Hanya perawat yang ada di rumah sakitmu dulu.”

Aku ingin berteriak, aku memang sakit, tapi aku tidak bodoh! Mana mungkin itu teman SD kalau lelaki yang ada di mimpiku adalah lelaki yang benar-benar dewasa? Dan lagi, mana mungkin ada perawat yang terlalu mengesankan sampai-sampai otakku yang rusak ini bisa mengingatnya? Mengingat masa lalu saja otakku lemah, apalagi mengingat memori baru?

“Aku…,” ucapanku membuat ayah dan ibu menoleh. “Aku mau jalan-jalan di sekitar sini. Siapa tahu bisa membantu.”

Sepertinya ibu akan melarang sebelum ayah menjawab lebih dulu, “Mm. Pergilah, tapi kau harus ingat jalan pulang.”

“Tenang saja, aku tidak sebodoh itu,” bibirku tersenyum puas. Tanganku meraih jaket biru yang tergantung di lemari. Aku menarik napas panjang. Entah kenapa, aku sangat gugup. Apa karena ini pertama kalinya keluar rumah sendirian? Hatiku terus bergumam sendiri, “Aku akan baik-baik saja.”

Ternyata aku memang baik-baik saja, secara fisik tapi tidak psikis. Aku berjalan menyusuri komplek kecil ini tapi lagi-lagi aku merasa tidak mengenali apapun. Asing.

Kakiku ini baru akan kulangkahkan pulang saat aku melihat jalan kecil di ujung komplek. Entah apa yang menggerakkan kedua kakiku ini sampai aku berjalan pelan kesana. “Menarik.” gumamku pada diri sendiri.

Tanpa sadar, aku tersenyum begitu menemukan jalanan yang agak lebih ramai dari komplek kecilku. Aku melihat sebuah sekolah dengan halaman yang besar. Sepertinya aku mengenalinya. Apa sekolahku disini?

Tapi kemudian aku mendengar langkah kaki orang lain di belakangku. Begitu aku berbalik, aku melihatnya. Lelaki bertopi hitam dengan tubuh proporsional dan wajah yang… tampan? Ia bersandar di tembok tapi matanya terus menatapku. Bibirnya tersenyum, tapi senyuman itu aneh.

Ia mendekat, “Jangan berjalan jauh-jauh.” Dengan cepat, ia memakaikan topinya ke kepalaku.

“Kau… apa kita saling kenal?” tanyaku ragu. Entah kenapa rasanya jantungku berpacu dengan cepat saat melihatnya.

Kepalanya menggeleng, “Aku hanya orang asing.” Kemudian ia meninggalkanku.

“Orang asing?” ulangku.

Walaupun ia bilang begitu, aku malah merasa sebaliknya. Wajahnya, senyuman, dan wangi tubuhnya, sama sekali tidak terasa asing. Setidaknya tidak seasing kehidupan yang katanya adalah hidupku.

“Aku suka salju, bunga, dan bulan,” ucapku antusias. Aku terus tersenyum di depan lelaki ini, karena ia juga selalu tersenyum padaku. Hari ini ia bertanya apa saja kesukaanku. Aku terus mengoceh dan ia hanya mendengarkan.

Alisnya terangkat, “Bulan? Kenapa?” tanyanya.

“Mm… molla. Tapi bukankah menyenangkan melihat benda bulat raksasa yang kelihatannya kecil itu di malam hari?” aku tersenyum lebih lebar. Lalu kumiringkan kepalaku, “Apa kau tidak suka bulan?”

Ia berpikir dan menjawab agak lama, “Aku suka bulan sabit.”

“He? Waeyo?” kali ini aku lah yang penasaran padanya. Aku ingin tahu setiap hal tentangnya. Rasanya aku ingin lebih mengenalnya, merasakan apa yang dirasakannya, melihat apa yang selalu ia lihat, dan mengerti setiap arti senyumannya.

“Karena…,”

Lagi-lagi mimpi ini. Sekali lagi lelaki itu muncul. Aku terduduk di ranjangku agak lama. Pandanganku kosong. Lalu aku menangis. “Siapa aku?!” teriakku sarkatis.

Hanya itu pertanyaan yang memenuhi kepalaku. Aku lelah terus menjadi orang asing, bahkan dalam diriku sendiri. Orang asing? Mataku tertuju pada topi hitam yang kuletakkan di atas meja. Lelaki itu juga bilang kalau dia hanya orang asing.

Kupijat pelipisku pelan. “Aku butuh jawaban.”

Kibum duduk terpaku di ranjangnya. Kepalanya pusing, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Otaknya juga tidak bisa berhenti memikirkan seorang gadis. Gadis bernama Park Hyunyoung.

Kemarin ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan datang kembali ke jalan dekat sekolah mereka. Tapi perlu ia akui, seandainya gadis itu tidak melangkah kesana pun, kakinya lah yang akan berjalan ke arah rumahnya.

“Apa dia sudah ingat?” tanyanya, lebih pada dirinya sendiri. Tangannya meraih sebuah jam saku di meja. Setelah ia mengusapnya pelan, ia bergumam, “Aku tidak mau jadi orang asing baginya.”

Dengan cepat, ia menyambar hoodie hitam yang tergantung di balik pintu. Kakinya melangkah menuruni tangga dan ia meninggalkan rumahnya.

Pelipisku berdenyut cukup kuat hari ini. Rasanya kepalaku ini bisa meledak kapan saja. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyusuri jalanan itu lagi. Kurasa harus aku sendiri yang menemukan semua jawabannya. Jawaban mimpi-mimpi yang sama. Mimpi tentang lelaki itu.

Kali ini aku tidak melihat keramaian yang sama seperti kemarin. Sekolah itu tampak sepi. Kumaki diriku sendiri, “Ah, bodoh~ tentu saja sepi. Hari ini hari Minggu, Park Hyunyoung.”

“Tapi di taman itu tidak akan sepi,” suara yang tiba-tiba itu membuatku memutar badan. Lelaki yang kemarin. Ia kembali bersandar di tembok, lengkap dengan senyumnya yang menawan. Sepertinya semua darinya tetap sama, kecuali topinya yang sekarang ada di kepalaku.

Aku tidak bergerak dari tempatku, “Kau… siapa?”

“Kau ini bukan pendengar yang baik ya,” ujarnya pelan. Lalu ia berjalan mendekat, “Sudah kubilang kan, aku ini hanya orang asing.”

“Orang asing yang selalu menggangguku,” cibirku. Tapi ia malah tertawa. Aku mendengus, “Apa yang lucu? Jangan menertawakanku!”

Tangannya terulur ke arahku. Tiba-tiba kilasan gambar muncul di mataku, mimpi itu. Seperti sebuah de javu, uluran tangannya ini terasa familiar. “Kim Kibum imnida.”

“Kibum?” ulangku. Tadinya aku ragu menyambut uluran tangannya, tapi ternyata bisa kusambut juga. “Park Hyunyoung, katanya.”

“Katanya? Kau tidak yakin pada namamu sendiri?” ujarnya setengah tertawa. Kutarik kembali tanganku dengan kasar, seolah mengerti, Kibum menahan tawanya. “Baiklah, maaf. Aku tidak akan menertawakanmu lagi. Jadi, kenapa kau tidak yakin?”

Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya berat. Kutunjuk kepalaku sendiri. “Otakku ini agak rusak. Aku amnesia, tidak ingat apapun atau siapapun.”

“Berarti aku benar-benar orang asing untukmu?” tanyanya pelan. Entah kenapa, aku merasa senyumannya terasa berbeda. Senyumannya yang ini sama seperti senyumnya yang kemarin, terasa sendu.

“Semua orang asing bagiku. Jangan khawatir,” aku mengangkat bahu santai.

“Dan kau selalu seperti ini pada orang asing?” Kibum menyipitkan matanya.

Tanpa sadar, aku tersenyum. “Hanya kau satu-satunya orang asing yang kukenal di luar rumah.”

Kibum tersenyum puas kali ini. “Aku sangat merasa terhormat. Apa yang biasanya kau lakukan saat bertemu orang asing?”

“Mm… biasanya aku lebih banyak diam, karena orang asing itu akan terus berceloteh tentang bagaimana aku, apa yang biasa kulakukan, atau apa yang sering kukatakan,” pikiranku melayang pada dua orang asing yang katanya adalah orang tuaku. “Tapi kali ini aku tidak mau begitu.”

“Kau suka bunga?” matanya menatapku dalam. Lagi-lagi perasaan itu muncul. Ini salah satu hal yang berhubungan dengan mimpiku. Aku terhenyak agak lama sampai Kibum mengulang pertanyaannya. “Hyunyoung-ah, kau suka bunga?”

Aku mengerjapkan mata berkali-kali sebelum berkonsentrasi padanya lagi. “Ne, sepertinya.”

“Taman itu sedang berbunga, mau kesana?” telunjuknya terarah pada taman kecil di sekitar sekolah. Tanpa menyahut, aku mengangguk cepat.

“Aku tidak suka buku, serangga, dan hujan,” kali ini aku tidak tersenyum karena sekarang ia bertanya tentang apa yang tidak kusukai. Tapi lelaki ini tetap tersenyum di depanku, seakan-akan aku sangat menarik perhatiannya. Seolah setiap hal yang kukatakan adalah hiburan baginya.

Ia menarik napas lalu kembali bertanya, “Kenapa tidak suka hujan?”

“Karena aku bisa basah, lalu flu, dan demam,” ujarku santai. Ia tertawa mendengar jawaban konyolku. “Kenapa? Kau suka hujan?”

“Mm. Aku pernah dengar, saat hujan, berarti ada yang ingin menghapus kesedihanmu,” ia mulai beringsut mendekatiku. Ia berbisik, “Aku ingin menjadi hujanmu.”

Jantungku berhenti, seketika itu juga semua bagian tubuhku mati rasa. Kecuali bibirku. Bibirnya terasa hangat dan lembut.

“Hyunyoung-ah, ayo bangun. Mau tidur sampai kapan?” suara menyebalkan itu membuat mataku terbuka perlahan. Aku mengerjap beberapa kali dan melihat ibu(ku) duduk di samping ranjang.

Aku mendesah. Sebenarnya aku ingin sekali marah. Itu satu-satunya mimpi menyenangkan yang pernah datang padaku. “Eomma?”

“Ne?” ia menoleh sesaat dan memerhatikanku, putri malangnya yang sekarang seperti orang bodoh.

“Apa…,” ucapku tersendat. “Apa aku punya pacar?”

Tubuhnya mendadak beku. Rahangnya tampak mengeras. Kemudian ia tersenyum aneh ke arahku, “Pacar apa, kau itu baru 18 tahun, bagaimana kau bisa punya pacar?”

Kepalaku mengangguk kaku. Mencoba mengiyakan, daripada nanti banyak perdebatan antara kami. Aku bertanya lagi, “Kenapa aku tidak boleh kembali sekolah?”

“Hyunyoung-ah, bukannya kau masih sakit? Jangan pikirkan apa-apa dulu,” ujarnya tenang. Tapi jelas-jelas aku mendengar nada cemas dalam suaranya. Apa yang ia sembunyikan?

“Bukannya eomma dan appa mau melihatku segera sembuh, makanya kupikir sekolah adalah tempat yang tepat. Aku bisa mengenali beberapa temanku, mungkin,” aku sendiri nyaris tak yakin pada kata-kataku, tapi aku benar-benar penasaran.

Wanita paruh baya di depanku ini menggigit bibir bawahnya, “Dan melihatmu lagi bersama lelaki semacam Cho Kyuhyun itu?! Andwae!!” Setelah berteriak, ia memandangku dengan tatapan menyesal, lalu meninggalkanku.

Pelipisku berdenyut lagi. Tanpa sadar aku berdesis, “Cho… Kyuhyun?”

Aku menopang dagu dan mataku hanya terarah ke penjuru taman tanpa benar-benar berkonsentrasi kesana. Nama yang tadi pagi disebutkan wanita itu, Cho Kyuhyun, siapa dia?

“Hyunyoung-ah, apa bunga favoritmu?” tidak mendapat respon dariku, lelaki ini bertanya lagi, “Park Hyunyoung-ssi? Apa bunga kesukaanmu?”

Kepalaku menggeleng beberapa kali sebelum aku menoleh ke arahnya. “Mm… mawar?”

“Mawar? Mawar putih?” terkanya. Melihatku mengangguk, Kibum tersenyum. “Kenapa? Kenapa yang putih?”

“Mungkin… karena aku suka salju, warnanya kan putih, jadi aku suka mawar putih,” jawabku asal. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar suka salju. Semuanya hanya berdasarkan mimpi.

Kibum tertawa. “Jawaban macam apa itu?” Aku mendengus kesal tapi ia tetap tertawa. Kemudian aku mendengarnya menggumam, “Jadi kau masih suka salju.”

“Ne?”

“Aniya,” ujarnya. Lalu ia memerhatikanku, wajahku, tepatnya. “Hyunyoung-ah, kenapa kau bisa sangat percaya pada orang asing sepertiku? Bukankah seharusnya kau berhati-hati, kau bilang kau sedang amnesia, bagaimana kalau aku ini orang jahat?”

Alisku terangkat heran. “Geurae? Kau ini orang jahat ya?”

“Aku serius,” tegasnya. “Apa kau tidak takut?”

Mataku menerawang ke langit lalu aku tersenyum. “Kibum-ah, kau tidak seasing itu. Setidaknya, bagiku. Entah bagaimana, aku percaya padamu.”

“Jangan.” Kibum tidak lagi tersenyum. Bahkan ia sama sekali tidak memandangku lagi. Larangannya itu tidak main-main.

Makan malam ini sama sepinya seperti malam-malam sebelumnya. Atau malah lebih sunyi? Mungkin wanita ini masih marah soal pertanyaan-pertanyaanku tadi pagi. Tapi kenapa? Bukankah itu wajar, aku kan sedang amnesia, kenapa aku tidak boleh mengenal diriku sendiri?

“Hyunyoung-ah,” suara berat dari lelaki yang mengaku sebagai ayahku terdengar aneh di telinga. Aku menoleh cepat. Ia berdeham, “Kau… mau sekolah lagi?”

Mataku terbelalak karena syok. Buru-buru wanita paruh baya itu membantah, “Yeobo!”

“Dia masih harus menyelesaikan sekolahnya kan? Biarkan saja. Setelah itu Hyunyoung bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri,” kali ini suaranya tidak terdengar terlalu berat.

Aku tersenyum, menatap wajah tuanya dengan pandangan cemerlang. “Jinjjayo? Boleh sekolah lagi?”

“Ne. Di sekolahmu yang dulu saja,” ujarnya. Itu memang yang kuinginkan. Setidaknya ada memori yang sedikit demi sedikit bisa kukenali.

“Andwae!” baru kali ini aku mendengar wanita paruh baya itu berteriak, nyaris histeris dan putus asa. Ia memandangku lalu beralih pada suaminya, “Tidak adakah yang bisa mengerti aku disini? Aku nyaris kehilangan putri, dan sekarang harus membiarkannya kembali ke tempat dengan kenangan buruk itu? Andwae!”

“Yeobo…,” panggilan lemah dan sama nyaris putus asanya keluar dari mulut lelaki berbadan tegap di depanku. “Hyunyoung pasti bingung dengan keadaannya saat ini, kenapa tidak membiarkannya mengenal dirinya sendiri?”

Dalam hati aku sangat menyukai gagasan ini, tapi sepertinya tidak bagi wanita paruh baya yang masih membeku. “Aku tidak mau Hyunyoung mengingat Cho Kyuhyun lagi!” Ia berbalik dan meninggalkan meja makan dengan cepat.

Lelaki yang ikut membeku sekarang tampak memandangiku, mencari raut tak wajar disana. Kemudian ia berdeham, “Hyunyoung-ah, appa akan mengurus semuanya. Mungkin minggu depan kau bisa mulai sekolah.”

“Kamsahamnida, appa,” mendengar ucapanku, lelaki itu agak terkejut. Apa karena ini pertama kalinya aku memanggilnya begitu? Aku membungkuk sebentar dan berjalan menyusuri tangga. Tanpa perlu menoleh, aku yakin lelaki itu masih menatapku, memerhatikan punggungku yang menjauhinya. Tapi itu tidak menjadi perhatianku. Yang kupikirkan saat ini hanya nama itu. Nama yang sudah dua kali disebutkan di rumah ini. “Cho Kyuhyun… Siapa kau?”

“Mianhae, aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padamu, Hyunyoung-ah,” ujarnya sambil mengembalikan sebuah kotak kayu yang berisi jam saku berwarna emas yang sudah kuberikan.

Aku mendorong kembali kotak itu, “Ani, seadainya kau tidak menyukaiku pun, cokelat itu memang kubuat untukmu, Kyuhyun-ah.”

“Tidak bisa,” kami saling menyodorkan kotak itu sampai kotak itu ia tepis dan terlempar ke lantai. Ia menyipitkan mata, “Kau! Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak bisa, dan tidak mau?! Jangan memaksaku!”

“A-aku membuatnya untukmu,” suaraku mulai terdengar tersendat karena dadaku yang sesak.

Ia menghela napas panjang lalu memandangku. “Berhenti mengikutiku. Kau membuatku lelah. Kita hanya teman, Hyunyoung-ah. Teman selamanya.”

Mendadak mataku terbuka lebar-lebar. Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Kutempelkan telapak tanganku disana, tapi yang sakit jauh didalamnya. Tanpa sadar, aku menangis. Tanpa alasan, aku nyaris berteriak histeris. Mimpi itu berbeda. Jauh berbeda dari sebelumnya. Lelaki ini bernama Kyuhyun, tapi lelaki yang sering muncul di mimpiku sebelumnya bukan dia. Auranya terasa… berbeda.

Tidak ada siapa pun di rumah saat aku menuruni tangga. Aku mendesah. “Sepertinya aku butuh udara segar.”

Pelipisku kembali berdenyut. Aku memijatnya untuk mengurangi rasa sakitnya tapi sia-sia. Tidak banyak yang bisa kulakukan saat kepalaku terasa mau meledak seperti ini. Langkahku terhenti saat aku sadar kakiku melangkah ke depan sekolah ini lagi.

“Butuh teman?” suara jernih yang sudah sering kudengar membuatku memutar badan cepat. Kibum –lagi-lagi- bersandar dan tersenyum ke arahku.

Aku balas tersenyum simpul dan bergumam. “Aku tidak punya teman.”

“Ahh, benar. Kau hanya punya orang asing,” ia berjalan mendekat dan merentangkan tangan, “Aku~” Melihatku mendengus, ia menjawab, “Benar kan? Aku ini orang asing favoritmu.”

Kepalaku hanya mengangguk mengiyakan. “Terserah kau saja,” Mendadak aku sadar aku tidak tahu apapun soal Kibum, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku? Menunggumu,” jawabannya singkat tapi kenapa terasa agak aneh?

“Beruntungnya aku~ Tapi kau belum punya pacar kan?” tanyaku. Ia menggeleng lalu alisnya terangkat. Aku menjawab, “Setidaknya tidak akan ada yang berniat membunuhku karena belakangan ini dekat denganmu.”

Kibum memutar bola matanya dan mendesah. “Aku lah yang nyaris dibunuh orang karena terlalu dekat denganmu.”

“He? Maksudmu adalah…?” kami berjalan menyusuri taman kecil yang sejak kemarin menjadi tempat favoritku.

“Eobseoyo,” Kibum tersenyum kecil tanpa memandangku.

Kibum membiarkan gadis di sampingnya sibuk menebak-nebak. Ia sadar sepenuhnya kalau semua ucapannya itu benar-benar mengarah pada sesuatu. Sesuatu tentang mereka. Sesuatu tentang masa lalu dan Cho Kyuhyun.

“Kibum-ah, apa kau suka bulan?” pertanyaan tak terduga itu menohok telinganya. Hyunyoung menoleh dan terus memandanginya.

Sesaat tadi ia sangat terkejut tapi dengan cepat Kibum kembali memasang sikap seperti biasa. Ia mengangguk, “Bulan sabit.”

“Waeyo? Kenapa bulan sabit, kenapa bukan bulan purnama?” Hyunyoung bertanya seolah sedang menginterogasi pelaku kejahatan.

Ia menelan ludah dan tersenyum, “Rahasia.” Kibum membalas tatapan kesal Hyunyoung dengan tertawa. “Hyunyoung-ah, kau masih nyaman bersama orang asing sepertiku?”

“Memangnya ada alasan supaya aku merasa tidak nyaman di dekatmu? Kurasa kau tidak berbahaya, kau bahkan sama sekali tidak menakutkan. Kau itu terlalu tampan untuk jadi orang jahat,” jelas Hyunyoung dengan pandangan ke langit.

Kibum memasukkan tangan ke dalam saku mantelnya. Ia menggenggam erat sebuah jam saku disana. Kemudian ia nyaris seperti berbisik, “Bagaimana kalau aku sama sekali bukan orang asing?”

Gadis di sampingnya berubah kaku. Sama sekali tidak bergerak atau pun mencoba berbicara. Kibum frustasi sekarang. Ia penasaran apa yang Hyunyoung pikirkan saat ini. Segala kemungkinan itu sudah pernah ia pikirkan, penolakan atau bahkan mungkin gadis itu tidak mau mengenalnya lagi.

Dengan susah payah, Hyunyoung menelan ludah. “Kau… mengenalku?”

“Lebih,” jawabnya singkat. Kibum hampir mengeluarkan jam saku yang masih tergenggam di dalam mantelnya sebelum Hyunyoung memeluknya erat. “H-hyunyoung-ah…”

“Benar kan! Aku sangat yakin aku mengenalmu! Sejak awal aku sudah merasa aku mengenalimu!!” pekiknya senang. Setelah selesai ber-euphoria, Hyunyoung melepaskan pelukannya. “Jadi, siapa kau? Teman sekolahku?”

“Aku…,” Kibum tercekat dan ragu-ragu. “Aku orang yang merusak kebahagiaanmu.”

Dengan hati-hati, ia menatap Hyunyoung. Kibum berusaha melihat segala kemungkinan perubahan raut wajah gadis itu. Sekarang ia merutuki diri, berharap ia tidak pernah mengatakan itu. Berharap ia hanya akan menjadi orang asing bagi Park Hyunyoung.

Otakku bekerja sangat lambat untuk mencerna kata-katanya. Dalam hati aku heran, kenapa semua hal terkumpul di saat yang hampir bersamaan? Mendadak aku mengingat sebuah nama. Aku berbisik, cukup keras untuk ia dengar. “Cho Kyuhyun?”

“Kau ingat dia?” Kibum terhenyak, nyaris terbelalak karena terkejut.

Aku menggeleng. “Sama sekali tidak. Jadi, bisakah kau mulai bercerita?” pintaku. Kibum mengangguk tapi tidak memandangku lagi. Ia hanya memandang lurus ke depan.

Hyunyoung mengendap ke arah lelaki yang berkonsentrasi pada buku di depannya. Tangannya menutup kedua mata lelaki itu dengan cepat. “Siapa aku~?”

“Gadis bulan!” dengan cepat, ia menurunkan tangan Hyunyoung dan kembali pada bukunya.

“Kyuhyun-ah, berhenti memanggilku begitu. Bukankah ‘Hyunyoung’ adalah nama yang bagus?” gadis itu menarik kursi dan duduk di samping Kyuhyun.

Kyuhyun sama sekali tidak tertarik melayani omelan Hyunyoung sampai matanya menangkap seseorang yang berjalan mendekat, “Kibum-ah!”

Senyuman Hyunyoung bahkan lebih lebar. Ia berteriak nyaring, “KIBUM-AH~~!! Disini!!”

“Ya! Dia sudah melihat kita, jangan berteriak. Kau membuatku malu,” tangan Kyuhyun membekap mulut Hyunyoung cepat.

“Kalian sedang apa?” Kibum bertopang dagu sambil bergantian memandangi dua sahabatnya.

Kyuhyun mengangkat bahu, “Aku sedang membaca buku sampai gadis gila ini datang dan membuat kerusuhan.”

“Siapa yang membuat rusuh? Sembarangan~” Hyunyoung menoyor kepala Kyuhyun lalu dengan cepat menarik lengan Kibum. “Tinggalkan saja Cho Kyuhyun ini. Kaja~”

“Ya! Park Hyunyoung! Dasar gadis gila!!” teriakan Kyuhyun hanya terdengar samar-samar karena Hyunyoung menarik Kibum jauh-jauh dari kelas.

Mereka duduk di dekat lapangan basket, sibuk melihat beberapa pemain inti yang berlatih mengikuti pertandingan. Hyunyoung mendesah, “Aku tidak suka olahraga basket.”

Kibum memandangi gadis di sebelahnya, “Lalu  apa yang kau sukai?”

“Aku suka salju, bunga, dan bulan,” ucapnya antusias. Hyunyoung tersenyum, hanya untuk sekedar membalas Kibum yang terus-menerus tersenyum padanya.

Tapi kemudian alis Kibum terangkat, “Bulan? Kenapa?” tanyanya.

“Mm… molla. Tapi bukankah menyenangkan melihat benda bulat raksasa yang kelihatannya kecil itu di malam hari?” Hyunyoung tersenyum lebih lebar. Lalu memiringkan kepalanya, “Apa kau tidak suka bulan?”

Ia berpikir dan menjawab agak lama, “Aku suka bulan sabit.”

“He? Waeyo?” Hyunyoung berubah penasaran pada Kibum. Ia mengenalnya hanya selama setahun, sejak mereka bersekolah di sekolah yang sama. Saat yang sama waktu mereka bertemu Kyuhyun.

“Karena…,”

Ucapan Kibum terpotong begitu Kyuhyun datang. “Ya! Ayo ke kantin, aku lapar.”

“Kaja~” tanpa ragu, Hyunyoung bangkit dan menggandeng tangan Kyuhyun, meninggalkan Kibum yang membeku di tempatnya.

Ia tersenyum pahit dan mematung.

“Aku menyukainya, Kibum-ah,” sahut Hyunyoung saat ia duduk berdua dengan Kibum di sebuah taman. “Aku menyukai Cho Kyuhyun. Apa ini aneh?”

Tenggorokan Kibum tercekat. Ia merasa harus menelan ludah untuk menelan perasaannya kembali, “A-apanya yang aneh? Itu… wajar.”

Hyunyoung tersenyum senang dan terus memandangi bulan di langit yang hitam. Bulan dengan bentuk bulat sempurna, bukan bulan sabit kesukaan Kibum.

“Mianhae, aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa padamu, Hyunyoung-ah,” ujar Kyuhyun sambil mengembalikan sebuah kotak kayu yang berisi jam saku berwarna emas pada Hyunyoung.

Hyunyoung sempat mematung tapi kemudian tersenyum kecil, “Ani, seadainya kau tidak menyukaiku pun, cokelat itu memang kubuat untukmu, Kyuhyun-ah.”

“Tidak bisa,” mereka saling menyodorkan kotak itu sampai kotak itu terlempar ke lantai. Kyuhyun menyipitkan mata, “Kau! Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak bisa, dan tidak mau?! Jangan memaksaku!”

“A-aku membuatnya untukmu,” suara Hyunyoung berubah parau dan bergetar, seolah menahan air mata.

Kyuhyun hanya bisa menghela napas panjang. “Berhenti mengikutiku. Kau membuatku lelah. Kita hanya teman, Hyunyoung-ah. Teman selamanya.”

Hyunyoung sibuk memandangi para pemain basket yang lalu-lalang di depannya tanpa benar-benar berkonsentrasi kesana. Tarikan napasnya terasa berat. Sesekali ia mendesah, “Aku… menyukaimu, Kyuhyun-ah.”

“Aku tahu kau menyukainya,” suara Kibum membuat gadis itu menoleh cepat. Lelaki itu tersenyum memamerkan deretan gigi yang rapi. Ia beringsut duduk di samping Hyunyoung dan terus memandanginya.

“Aku ditolak,” ungkap Hyunyoung. Ia menghela napas panjang, “Dia bilang, kami teman selamanya. Itu berarti aku tidak pernah punya harapan apa-apa kan?”

Kibum tidak tersenyum lagi. Matanya berubah sayu. “Hyunyoung-ah, apa kau bisa mulai berusaha melihatku dan melupakan Cho Kyuhyun?”

“Kibum-ah, ak-“ kata-kata Hyunyoung terhenti tepat setelah ciuman lembut terasa di pipinya. Ia mengusap pipinya pelan, tapi tetap saja wajahnya seperti terbakar. Hyunyoung nyaris merasa jantungnya hampir berhenti berdetak.

Dari jauh Kyuhyun bisa melihat semuanya. Kibum memang menyukai Hyunyoung, sejak mereka mulai sekelas, sejak ia melihat tatapan Kibum pada gadis itu, Kibum memang menyukainya. Sangat.

Entah kapan Kyuhyun memungut jam saku dari Hyunyoung. Ia mengusapnya pelan, “Aku juga menyukaimu, hanya sampai disini.”

“Aku tidak suka buku, serangga, dan hujan,” Hyunyoung menjelaskan singkat dengan tatapan datar ke arah Kibum yang masih tersenyum padanya. Senyuman yang selalu tampak hanya untuk Park Hyunyoung.

Tapi kemudian Kibum menarik napas lalu bertanya, “Kenapa tidak suka hujan?”

“Karena aku bisa basah, lalu flu, dan demam,” jawab Hyunyoung santai. Lelaki itu tertawa mendengarnya.Hyunyoung menyipitkan mata, “Kenapa? Kau suka hujan?”

“Mm. Aku pernah dengar, saat hujan, berarti ada yang ingin menghapus kesedihanmu,” Kibum mulai beringsut mendekati Hyunyoung dan berbisik, “Aku ingin menjadi hujanmu.”

Kali ini jantung Hyunyoung berhenti, seketika itu juga semua bagian tubuhnya mati rasa. Kecuali bibirnya. Bibir gadis itu terasa hangat dan lembut. Ia terkejut tapi sempat menutup mata, menghirup kuat-kuat wangi tubuh Kibum yang berjarak sangat dekat dengannya.

“Hyunyoung-ah…,” suara bening yang terdengar familier itu membuat Hyunyoung mendongak.

Gadis itu terpaku sejenak dan menepis tangan Kibum. “Kyuhyun-ah?”

“Aigo~ jangan bersikap aneh begitu. Kalau kalian memang bersama, bukankah itu bagus?” Kyuhyun tersenyum lalu menunduk. Kemudian ia hanya berbisik, “Aku juga… akan bahagia.”

Tidak ada yang bersuara selama satu menit berikutnya. Kibum memang tahu Hyunyoung masih menyukai Cho Kyuhyun, dan sebaliknya, lelaki itu juga mulai menyukai Hyunyoung, sejak dulu. Tapi apa ia bisa melepaskan gadis itu saat Hyunyoung mulai mengarah padanya, hanya padanya?

“Aku… harus ke bandara sekarang,” melihat raut wajah Hyunyoung yang terkejut, Kyuhyun menjelaskan. “London. Meneruskan sekolahku,” Kyuhyun menggaruk pipinya bingung, “Baiklah, aku harap kalian… bahagia. Annyeong~”

Kyuhyun berjalan memunggungi Hyunyoung dan Kibum. Dalam hati, ia berharap, sangat berharap gadis itu akan memanggil namanya dan menahannya sekarang. Tapi dalam setengah keyakinannya, ia tahu itu sama sekali tidak mungkin. Ada Kibum yang akan menemaninya. Selamanya.

Hyunyoung menarik napas dan menahan suaranya yang bergetar. “Mm… jadi, kita mau kemana sekarang?”

“Pergi saja,” lirih Kibum.

“Aku tidak akan pergi kemana-mana, Kibum-ah,” Hyunyoung berusaha menguasai diri.

Tapi Kibum mulai memejamkan mata dan berteriak sarkatis, “Tapi orang itu akan pergi, Hyunyoung-ah! Dia akan meninggalkanmu kalau kau tidak menyusulnya!”

“Sudah kubilang aku tidak akan kemana-mana!!” Hyunyoung ikut berteriak, tapi nyaris seperti teriakan putus asa.

Kibum berjalan cepat saat ia memasuki gedung rumah sakit berlantai lima belas. Jantungnya berderap setiap detik. Kedua matanya melihat ayah Hyunyoung yang bersandar di tembok dengan wajah cemas, sedangkan ibunya duduk sambil terus menangis.

“Ahjumma,” panggilan pelan Kibum membuat ibu Hyunyoung mendongak dan menunjukkan wajahnya yang sembab. “Hyunyoung… bagaimana?”

Wanita paruh baya yang berusia lebih muda dari ibunya sendiri itu tidak menjawab. Hanya ayah Hyunyoung yang menghampiri Kibum. “Lukanya tidak berat, kata dokter dia akan segera sadar,” lalu ia melanjutkan, “Itu kalau Hyunyoung bisa bertahan dari malam ini.”

“Kibum-ah, apa yang terjadi? Kau pasti tahu sesuatu kan?” ibu Hyunyoung perlahan bangkit dan menatap Kibum.

Kibum menelan ludah. “Hyunyoung menyusul Kyuhyun ke bandara. Hanya itu yang kutahu, ahjumma.”

“Gara-gara anak itu, Hyunyoung jadi sekarat sekarang!” wanita paruh baya itu nyaris berteriak.

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Anak laki-laki yang tadi memakai jaket merah itu?” tanya ayah Hyunyoung tiba-tiba.

“Benar. Apa dia juga disini?” kepala Kibum menoleh untuk melihat sekeliling, berusaha mencari sosok Kyuhyun.

Ayah Hyunyoung menarik napas panjang. “Anak itu tidak selamat.”

“Kyuhyun sudah meninggal waktu aku datang ke rumah sakit,” ujar Kibum menyelesaikan cerita. “Ada saksi yang bilang kalau Kyuhyun sudah menarikmu dari jalan dan membiarkan dirinya sendiri yang tertabrak mobil itu.” penjelasan Kibum yang terakhir ini membuat kepalaku terus berdenyut nyeri.

Belum sempat aku berpikir jernih, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Aku memerhatikan benda kecil itu. “Jam saku?”

“Hadiahmu untuk… Kyuhyun,” lirihnya.

“Apa kau yang membiarkan aku menyusulnya ke bandara, waktu itu?” tanganku menggenggam erat jam saku mini berwarna perak ini. Setiap suara detiknya membuat dadaku sakit.

Kibum menghela napas tanpa menatapku, “Kau yang mau kesana sendiri. Seharusnya semuanya tidak seperti ini kalau saja aku bisa mengendalikan perasaanku.”

“Kibum-ah, mianhae, tapi bisakah kau pergi dari hadapanku sekarang?” aku tahu kata-kata itu kasar, tapi saat ini aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Semua ceritanya bisa kubayangkan di kepalaku, tapi tidak membuatku ingat apapun.

Tubuh Kibum sama sekali tidak bergerak dari depanku. Ia seolah membeku dengan ucapanku tadi. Aku bahkan tidak tahu apa aku harus percaya padanya atau tidak. Aku hanya tahu bahwa ia tidak berbohong. Kim Kibum bukan orang asing bagi Park Hyunyoung.

“Kalau kau tidak mau pergi, aku saja yang pulang,” Hyunyoung menatap lelaki di depannya sekilas lalu melangkah menjauh.

Kibum tetap diam. Matanya hanya bisa menatap punggung Hyunyoung yang sudah meninggalkannya. Ia berkata lirih, “Seharusnya aku tetap menjadi orang asingmu.”

-at the night-

Kepalaku seperti berputar tanpa bisa berhenti. Membuatku pusing. Semua ucapan Kibum terus terulang dalam memoriku, seperti CD rusak yang harus dibuang. Tanpa sengaja aku melihat sebuah benda bersinar yang tersenyum ke arahku. Jauh, tapi terlihat kecil.

Aku bergumam, “Bulan malam ini bentuk sabit ya.”

Dalam kepalaku, aku meyakini kalau Kibum itu salah. Maksudku, waktu itu dia menyukaiku kan, bagaimana bisa dia menyuruhku pergi menahan lelaki lain di bandara, membiarkanku kecelakaan, dan membiarkan Kyuhyun… mati?

“Seperti apa Kyuhyun itu…,” lagi-lagi aku bergumam. Otakku terus kupaksa mengingat, mengingat Cho Kyuhyun, tapi hasilnya benar-benar nol besar. Mataku sudah terpejam sebelum aku berhasil memastikan apapun.

“Kyuhyun-ah!” aku berteriak saat melihat punggung lelaki yang sangat kukenal. Dengan cepat, aku melewati jalan raya bandara. Sekarang aku bisa berdiri tepat di depannya.

Kyuhyun mengernyitkan alis. “Apa? Kau mau menahanku?”

“Aniyo…,” kepalaku menggeleng. Kuraih tangannya pelan, “Apa kau marah kalau aku bersikap plin-plan?”

“Tergantung. Kau memang biasa tidak konsisten, aku hapal yang satu itu,” Kyuhyun memasang wajah sok serius. “Tapi sekarang soal apa?”

Aku meninju lengannya pelan lalu tersenyum, “Sebulan yang lalu aku bilang kalau aku menyukaimu kan? Sekarang, apa bisa kalau kuubah kata-kata itu?”

“Kau sudah menyukai Kibum kan? Aku tahu,” ujarnya sambil menunduk. Tapi kemudian ia memandangku, “Kibum yang terlalu hebat atau kau memang gadis yang bisa secepat itu berubah?”

“Ya! Itu karena kau yang menolakku! Lagipula…,” kumainkan ujung rambutku, “Kibum itu sudah… menyihirku.”

Kyuhyun berdecak. “Kau kira Kibum itu seorang pesulap?”

“Aniya~ dia itu hanya lelaki biasa dengan kehangatan luar biasa,” sahutku bangga. “Dia malah menyuruhku menahanmu pergi, padahal aku akan bilang kalau aku menyukainya.”

“Daeba~k!! Cepat bilang padanya, apa yang kau tunggu, bodoh?” Kyuhyun mengacak rambut pendekku.

Aku memeluknya sebentar lalu tersenyum sebelum meninggalkan Kyuhyun di bandara. Aku tidak punya jaminan apa-apa atas perasaanku pada Kibum hari ini, tapi yang kutahu aku hanya ingin segera mengatakannya. Setiap ia tersenyum ke arahku, itulah hal terbaik yang pernah kurasakan. Tidak ada hal lain yang kuyakini sekuat ini kecuali, aku mencintainya..

Kakiku melangkah ringan menyeberangi jalan raya. Tiba-tiba terdengar klakson panjang dan teriakan Kyuhyun di belakangku. “HYUNYOUNG-AH!!”

Mataku terbelalak seketika saat mimpi itu berakhir. Badanku terasa lengket, aku berkeringat dingin selama tidur. Tapi aku tidak punya waktu untuk sekedar mempermasalahkan piyamaku yang basah kuyup. Aku langsung menangis, nyaris histeris.

“Kyuhyun-ah… Kyuhyun-ah…,” rintihku berulang-ulang.

Aku ingat. Aku ingat semuanya. Bagaimana aku menyukai Kyuhyun, lalu ditolaknya, dan kemudian Kibum datang. Kim Kibum itu datang dengan sejuta hal yang bisa membuatku langsung menyukainya. Aku tahu bagaimana rasanya menyukainya, sangat menyukainya. Aku bisa melihat seperti apa senyumnya yang selalu ia tunjukkan padaku. Hanya padaku.

Tanganku meraih jam saku yang Kibum berikan kemarin. Aku mengusapnya perlahan. “Apa kau masih merasa bersalah pada Kyuhyun, atau padaku?”

Sejenak kemudian aku sadar kalau pertanyaanku itu tidak akan terjawab sendiri. Aku turun dari ranjang dan menyambar cardigan biru muda.

Kibum membiarkan dirinya berjalan tanpa arah. Terus berjalan sampai kakinya berhenti di taman itu lagi. Tempatnya kemarin bertemu dengan Hyunyoung. Ia sempat menduga itu akan menjadi yang terakhir.

Ia mendesah. “Seandainya aku tetap diam, mungkin dia selamanya akan disini, bersama Kim Kibum yang baru. Kibum si orang asing.”

Dengan susah payah, ia terus menarik napas panjang. Udara di sekitarnya sama sekali terasa tidak memenuhi ruang kosong dalam kedua paru-parunya. Diam-diam ia terus berdebat dengan pikirannya sendiri, apa tindakannya kemarin itu benar? Apa Hyunyoung akan ingat semuanya lalu merasa kembali tersakiti? Atau justru seharusnya ia membiarkan Hyunyoung menganggapnya sebagai orang asing?

“Kalau kau lebih suka menjadi orang asing, aku akan membiarkannya begitu,” suara bening itu membuat Kibum reflek memutar badan. Hyunyoung berdiri tepat di belakangnya sambil mengatur kembali napasnya yang terengah-engah.

Kibum memandanginya dengan tatapan heran. “Kenapa kau ada disini?”

“Karena aku suka berada disini,” ujarnya santai. Kakinya melangkah mendekati Kibum perlahan. Hyunyoung berbisik, “Aku sudah ingat semuanya. Aku ingat Kyuhyun dan… kau.”

Gadis itu menatap jauh ke dalam mata Kibum, berusaha membuatnya berkata sesuatu. Tapi tidak, Kibum hanya diam, tak bergerak bahkan tak membuka mulut sedikit pun.

Hyunyoung mendesah frustasi. Ia mengulurkan jam saku dari balik cardigannya. “Ini milikmu.”

“Itu… milik Kyuhyun,” lirih Kibum.

“Ya! Sudah kubilang aku sudah ingat semuanya,” tegas gadis itu sambil mengulurkan jam saku berwarna perak ke arah Kibum. Ia menarik tangannya kasar, “Aku menyukaimu!”

Kibum sempat tertegun lama sambil tetap menatap mata gadis di depannya. Kemudian kepalanya menggeleng, “Kau menyukai Kyuhyun. Aku hanya orang yang sudah merusak semua keinginan kalian.”

“Aku menyukaimu setelah kau membuatku melihatmu, hanya melihatmu, Kim Kibum,” Hyunyoung menarik napas panjang. “Kau tahu, waktu itu di bandara, aku bilang pada Kyuhyun bahwa aku sudah menyukaimu. Tapi kemudian, ya kau tahu bagaimana kelanjutannya.”

“Kenapa?”

Hyunyoung kembali menarik napas dan mengembuskannya berat. “Mana kutahu! Yang kutahu saat itu aku hanya menyukaimu, tapi aku juga kesal waktu kau malah menyuruhku menahan Kyuhyun di bandara.”

“Benar. Aku yang membuat kalian celaka,” Kibum mendesah.

“Aish~ kenapa kau selalu bersikap begini? Menyalahkan diri sendiri padahal semuanya itu sudah jadi takdir,” kali ini Hyunyoung berdecak kesal.

Kibum mengernyitkan alis. “Takdir? Kalau begitu, bisakah kita menganggap kejadian hari ini sebagai takdir?”

“Tidak perlu kau suruh pun, aku sudah menganggapnya begitu. Bertemu denganmu dan Kyuhyun, Kyuhyun menolakku tapi kau malah datang padaku, aku kecelakaan di saat aku ingin bilang semuanya padamu, dan terakhir, kita bertemu lagi disini. Ini takdir,” jelas Hyunyoung.

“Ada satu takdir lagi yang ingin kuteruskan,” Kibum tersenyum samar.

Hyunyoung mengangkat alis dan bertanya, “Apa?”

“Sebelum ini, aku adalah orang asingmu, jadi biarkan aku tetap seperti itu,” Kibum mengusap pipi gadis itu pelan. “Aku ingin jadi orang asing yang sejak awal menyukaimu.”

“Mungkin kau adalah satu-satunya orang asing yang tidak berbahaya,” Hyunyoung menjinjit untuk meraih bibir lelaki itu. “Satu-satunya orang asing milikku.”

-The End-

====================

Annyeong haseyo~ *bow*

Lama banget ga nongol disini. Apa kabaaaar??😄

Special as b’day gift to neneng-ku saya~ng, Yara-ssi aka Dong-ah!!😄 Ato nama kerennya, Mrs. Bryan Trevor Kim. *gila, baek banget kan author ini*

Mau curhat dulu, ini idenya didapet waktu lebaran, pas sholat ied tepatnya. Ketauan banget kan abis sholat bukannya dzikir, malah mikirin FF. Lagi mood2nya nulis, eh si Hyukie *nama lappy author* ngambek. TT^TT Gilaa, pingin mewek banget dah. Hyukie kan amat sangat penting bagi kelanjutan semua FF author. Gini-gini banyak yg nungguin nihh~ *disambit sapu ijuk*

Lanjuut, judul FF bang Kibum kali ini adalah SoL~ Sol sepatu!!😄 *dibuang ke Seoul* Anii, beneran kalo disingkat jadi SoL alias Stranger of Love *namanya keren yak? XD*

PS: Kelamaan ga nulis, jadi ga kekontrol. Kepanjangaaaaaaan.. ><

Next bakal konsen ke MWL part terakhir dulu.🙂

44 thoughts on “Stranger of Love/Kibum

  1. Daebak!!
    Aq sampe nangs loh baca nya…T.T
    kibum benar2 mencintaiku,nado saranghae yeobo..:’)
    aq suka salju?emg salju keak ap?#plakk
    hehe..

    Jeongmal gomawo eonni~ya…*popo shela onn*
    eh,btw kpn ni qt mw nglayat kyu??
    *d goreng sparkyu*

    • Aigo~ uljimaaaa.. Ga ada niat bikin org mewek. ><
      Biasa lah, FF bikinanku kan semua cwonya dibikin cinta mati ama tokoh ceweknya, makanya always so sweet~😄
      Kamu ga tau salju? Lha yg tiap ari kamu emutin itu apa?? kekeke~

      Sama2, ga pake ppoppo ahh.. Tar unyuk ngamuk.😄
      Ini 17 page, kepanjangan gini jadinya. Kalo ada bagian yg ga ngerti, tanyain ajaa~

      Ngelayat Kyu besok aja dehh yaa. *dibuang ke jurang*
      Lagi obsesi banget bunuh orang. Donge uda sering, kasian, jadi kyu aja skrg.😄

  2. onnie bagus ceritanya d^^b

    ini aku onn yg twitternya @mutianrrd *promosi*

    onn aku pengennya amore cafe sama wml soalnya suka bgt sama jihyuk couple hehehe^^
    ditunggu ya onn

    • Halooo~~😀
      Makasih uda baca yaa. *bow* Makasih uda suka ama JiHyuk couple. Kekeke~😄
      MWL-nya lagi diusahakan kok, amorenya yg nunggu dulu, satu2 aja. ><
      Tetep ditungguin yaa. Tengkyu~~

  3. HWAA~~akir na comeback agi ne author *tiup2 trompet krna shela balik agi*

    Huhu..sdih. SHELAAAAA ! Kmu uda brhsil bwt akk nangis geje agi. Sdih bnget crita s hyunyoung. Npa mesti amnes si ?
    Trus npa s kyu s yg mati ? Kn mending author na aj yg mati *d setrum listrik am shela*

    • Iyaa~!! Saya kembali!! *hug*

      Kenapa pada banyak yg nangis sih gara2 ni epep?? -.- Pada kangen ama kibumnya ato ama authornya? *ditimpuk LPG*
      Hyunyoung emang sekali2 harus dibikin menderita. Maunya jadi sad ending sekalian.😄 *celingak-celinguk nyariin Hyunyoung*

      Kenapa kyu yang mati…? Itu karena aku emang lagi mood bunuh orang. Maunya sih donge, tapi berhubung bang donge uda sering banget author “bunuh”, jadi gantian sekarang si kyu.😄
      Kalo authornya mati, siapa yg mau lanjutin FF? Dirimu??

    • kangen 22 na..hehe ^^

      waat ? mood bnuh org ?
      shelaa sjak kpn jdi suka bnuh2 org ?
      ANDWEE~~~jgn bunuh kyu #abaikn

      ampunn…jgn marahin saia ! tapi marahin kyu aj !
      dia yg berslah *kyu : mwo ? knpa akk (shock)*
      wkwkwkk

  4. tuh kan shela, ngepost ff bari ga pernah bilang bilang.. XP
    anyway busway, kyuhyunie nya kenapaaa???
    jangan dimatiin dong..
    kyuline-nya aja baru dibikin, masa kyu nya udh minggat dari duniaa..

  5. Neeeeeeeng T.T
    Maap aku jarang berkunjung *nangis guling2*
    Oh my kyu, aku kaget deh pas baca si jaket merah ga selamat T.T
    Bebe~ tunggu aku *terbang nyusul kyu :3*

    Seperti biasa dah, mantap tenan😀
    I I I love this, ditunggu ff mu yang lain😉

    • Mbaaaaaak~~ T^T I miss youuu~~~
      Gapapa, lha aku sendiri malah sempet vakum ama blog ini.😦

      Miaaaaanhaaaee~ malah bikin mas evil wafat di tengah tugas menunaikan FF ini. *apadeh*

      Makasihh uda baca yaaa~ *hug kisseu*
      Mudah2an bisa seaktif dulu, pan aku uda kelas 3. Pulang sore mulu, malem ngerjain tugas de el el. Ahh~ aku sibuk. *sok sibuk*

  6. JiHyuk mah uda kseringan kali onn…
    KiYoung kan jarang2 tuh,jd d bnyakin aja part nya…*d tabok fans JiHyuk*

    bikin ff safer dong..xD
    Hahahai…*d bunuh sone*

  7. finally.. ada FF ttg kibum n happy ending lg buat kibum..
    thanks buat author yg dah buat FF ttg kibum ya…🙂

    critanya keren, awalnya gw dah mikir si cewek bakalan balik ama kyuhyun, ternyata… hehhehehehehhehehe

    nice story *thumbs up*

    • Haiii~~😀
      Iyaa, ini request uda agak lama sihh, terus inget kamu juga pernah minta FF kibum kan? Jadi aku selesain yg ini, sekalian buat request temenku ama menuhin keinginanmu.🙂

      Yahh, apa boleh buat si ceweknya uda cinta mati ama kibum *walopun srg kegoda ama bang yes*
      Lagian aku juga ga tega bikin kibum patah hati.😄

      Makasih uda baca yaa~ *bow*

      • ur welcome sis…
        en makasi bgt neh FF buat ku juga, jd terharu gw *hug n chu*
        jarang2 loch ada FF ttg kibum yg happy ending, jd FF ini mayan langka hahahahaha.. tp ga tau napa gw lebih suka FF ttg kibum yg sad ending, keknya cocok bgt ama mukanya hahaha *istridurhaka*

        once again, nomu gomapta😉

      • Iyaa~ kalo ga ada yg minta FF kibum palingan ni FF kepending mulu.😄
        *hug balik*

        Selama aku bikin FF kibum *baru 4 kayanya* semuanya hepi ending. Ga tega beneran ama Kibum. ><
        Sama2 kok~😀

  8. Miss you too~ ^^
    Iya ga apa, konsen aja ama skulnya…
    Tar ada waktunya pembalasan, habis UAN nganggur laamaaa~ *curcol*

    It’s oke, biarpun disini mas evil mangkat (?),
    Aku tetap setia padanya *terjun nyusul kyu*😄

  9. boleh tau ga dimana aj FF ttg kibum di post?
    apakah di suju FF ato di blog lain??
    gw pengen bgt baca FF ttg kibum cos jarang bgt ada yg mo buat FF ttg dia hehehe

    thanks ya ;;)

    • Itu termasuk FF lamaku sihh. Di FB semua. ><
      cari aja Shela SpencerLee Hyukjae. Ubek2 dah tuh notesku, aku lupa apaan judulnya.😄
      Tapi berhubung itu FF lama, jadi tulisannya masih sangat amat berantakan.

  10. Mian, baru liat2 harta karunnya author :p
    Aku suka kibum disini,,
    Kyu mati aja ga apa2, cocok kok , hahaha #lari2 dikejar sparkyu#

    Aku add fb kamu ya she’ll ? Boleh ya? Boleh ya? Hahaha

  11. huhuhuhu.. seru critax…

    aq terharu…. pe utang mu blum lunas.. psenanq yg siwon blum mu bkin….

    klu uda bkin wajib lapor aq ok…

  12. kyuuuuuuu😥
    sama aku ajaaaaa , jgn pergiiiiiiii ~~😦
    hiks ~~
    salut sama Kyu disini , Kibum jugaaaaaaa ~~🙂
    meskipun aku bukan ELF , Kibum jgn kayak bang Toyib yaaa gag pulang2😦 #nunjuk komen diatas ..
    saya juga nunggu SS Comeback eonni😦
    kita sama sama sabar ya eonni😦

  13. Park Hyunyoung cetar bingits deh didemenin sama dua sohib cowo sekaligus ckckck lempar satu kek buat temen ngobrol di kos-an hahaha
    Tulisan She mah always sweeettt~
    Makasih, ya udah di-publish ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s