Amore Cafe 4th cup

Amore Café -4th cup-

====================


Jiyoo’s PoV

Aku terus melayangkan pandangan menyelidik ke arah Haejin. Ia mulai tampak tak nyaman dan balas memandangku, “Mwoya~~?”

“Aniyo,” kepalaku menggeleng tapi mataku tetap mengawasinya. “Eonni, apa kau yakin tidak mau bicara padaku?”

“Soal apa?” jawabnya tanpa menoleh. Kemudian ia malah menjawabnya sendiri, “Jangan bilang kau mau mengungkit soal aku dan Donghae kemarin.”

“Memang itu yang mau kutanyakan. Kalian pacaran?” tebakku. Melihat ekspresi terkejutnya, aku tersenyum menang, “Benar kan? Aigo~ ternyata sikap eonni yang keras padanya selama ini karena eonni dan dia pacaran diam-diam ya?”

Haejin melotot tajam ke arahku, “Kau ini cerewet sekali sekarang. Berhenti membicarakan ini atau aku akan menarik bayaran selama kau tinggal di apartemenku.”

“Sangat perhitungan~” decakku. Tapi kemudian aku kembali mengoceh, “Kalau eonni pacaran dengan Lee Donghae pasti seru!”

“Ya~!” Haejin menggulung Koran di tangannya setelah aku melarikan diri. Ia berteriak, “HYUK-AH~!!” Hyukjae yang baru keluar kamar menoleh, “Tangkap Jiyoo!!”

Aku merasa Lee Hyukjae adalah anak yang sangat penurut karena dia langsung menarik lenganku. “Ya~ lepaskan!”

“Berhenti bermain-main, kita harus sekolah. Jangan menggoda Haejin noona lagi. Sana masuk kamar mandi,” Hyukjae menyeretku pelan ke depan pintu kamar mandi. Kemudian ia berbisik di telingaku, “Aku suka bisa terus melihatmu.”

Napasku berhenti. Kenapa aku merasa Lee Hyukjae ini bukan Lee Hyukjae yang sama? Sudah beberapa kali dia membuat jantungku bekerja tak beraturan begini. Pergi kemana Lee Hyukjae yang konyol itu?

Kami memang berjalan bersama dan menunggu bis berdua, tapi tidak ada bahan pembicaraan diantara kami. Tidak ada lagi omongan bodoh darinya. Entahlah, aku merasa dia berbeda. Mataku mengamatinya yang berdiri di sampingku, “Hyukjae-ya?”

“Ne?” Hyukjae menoleh dan balas menatapku.

“Apa kau sedang marah?” pertanyaan bodoh!! Hyukjae tersenyum dan menggeleng. Alisku terangkat, “Lalu kenapa sikapmu saaangat berbeda padaku?”

Ia berpikir agak lama lalu menjawab, “Aku hanya orang bodoh yang tidak bisa mencintaimu dengan baik.”

“He? Bisa jelaskan dengan bahasa yang mudah kumengerti? Aku bingung,” kugaruk pipiku.

Kepalanya menunduk lalu kembali melihat wajahku, “Saat kau diusir, aku merasa marah. Berkali-kali kubilang aku menyukaimu, selalu membuntutimu seharian, tapi nyatanya saat kau kesulitan pun aku tidak tahu.”

“Hyukjae-ya, itu kan bukan salahmu,” selaku. Aku memandangnya lekat-lekat, “Tidak semua yang kau ucapkan harus kau lakukan, apalagi hanya lelucon seperti itu.”

Ia terkesiap dengan ucapanku. Matanya menatapku tajam, “Ini bukan lelucon, Jiyoo-ya!! Aku serius!”

Lalu ia melangkah masuk ke dalam bis lebih dulu. Meninggalkanku. Apa dia marah? Kenapa? Bukankah dia memang hanya bercanda? Aku tidak pernah, dan tidak mau menganggap semua ucapannya itu serius.

@Amore Café -13.43-

Sepanjang hari pikiranku terkuras hanya untuk memikirkan sikap Hyukjae yang sangat berubah sekarang. Haejin memelototiku yang berjalan ogah-ogahan masuk ke dalam Amore. Kuletakkan ranselku di dalam loker, “Eonni, annyeong~”

“Annyeong apanya? Cepatlah, sebentar lagi kan shiftmu, Jiyoo-ya,” omelannya hanya kujawab dengan anggukan lemah. Haejin mendongak, “Mana Hyukjae?”

Aku mendesah berat, “Sejak kapan Hyukjae bersekolah di sekolah putri Baehwa?”

“Aish~ bukan begitu, biasanya kan dia membuntutimu seperti Golden Retriever. Kalian tidak bertemu di jalan?” tanyanya lagi. Kepalaku menggeleng menolak pernyataan itu. Aigo~ bisa tidak jangan menjadikan Jiyoo dan Hyukjae sebagai satu paket?

Donghae yang tadi kulihat sedang melayani pelanggan muncul dari dapur (?) Dengan cepat, ia menghampiriku, “Malaikaaaat~ kenapa baru datang? Sudah makan siang belum?”

“Ehem…,” Haejin berdeham keras, Donghae langsung menunduk. Belum sempat aku bertanya, Haejin memandangku lagi, “Aku akan ganti baju dan pulang sekarang, tidak apa-apa kan?”

Aku mengangguk pasrah tapi kemudian aku tersenyum lebar, “Eonni mau kencan dengan orang ini ya?”

“Ya~! Yang kau sebut ‘orang ini’ itu bernama Lee Donghae,” kali ini Donghae yang mengomel. Ia mengembangkan senyum aneh, “Tapi, ya, kami mau kencan. Makan malam di luar juga. Jadi kuharap kau dan Hyukjae bisa bersenang-senang di rumah.”

Sedetik kemudian Haejin menoyor kepala Donghae, “Tutup mulutmu!” Lalu ia menoleh ke arahku, “Ani, Jiyoo-ya, kami hanya akan pergi sebentar, jadi baik-baiklah di rumah bersama Hyukjae ya?”

“Ahh~ arasseo. Kalian pergi berkencan saja. Bersenang-senanglah~” aku tersenyum nakal.

“Kami tidak berkencan~” elak Haejin.

Donghae meralatnya, “Setelah malam ini kita akan tahu siapa yang bisa menjadi pacar Lee Donghae.”

“Sudah kubilang tutup mulutmu,” Haejin membekap mulut lelaki aneh itu dan menyeretnya keluar Amore, “Jiyoo-ya, annyeong~”

“Annyeong, eonni.” Tanganku melambai ke arahnya yang masih membekap Donghae. “Aigo~ pasangan aneh lagi.”

Aku baru saja dari dapur saat kulihat Hyukjae yang sudah siap dengan seragam Amore-nya berdiri di depan mesin kopi. Kakiku melangkah ke tempatnya, “Lupa cara pakainya lagi?”

“Ani, aku bisa melakukannya sendiri,” ujarnya dingin. Masih marah, rupanya. Hyukjae membuat secangkir Vanilla Latte lalu menoleh padaku, “Aku tidak sebodoh itu.”

Napasku terasa berat saat ini. Apa maksudnya dia bilang begitu? Kadang-kadang lelaki memang lebih susah dipahami. Sebentar, bukankah seharusnya aku senang sikapnya itu sudah tidak menyusahkanku? Tidak ada lagi Lee Hyukjae yang selalu membuntutiku dan mengatakan banyak hal konyol padaku. Bukankah ini bagus? Tapi kenapa dadaku sedikit kosong?

“Jiyoo-ssi?” badanku berputar cepat ke sumber suara itu. Henry Lau berdiri di depan pintu kantornya dengan gagah. Kemeja biru muda lengan panjang membuatnya lebih dewasa. “Kau masih butuh uang tambahan?”

Kepalaku mengangguk cepat saat mengingat aku butuh uang untuk apartemen baru. “Ada shift lembur lagi, sunbae?”

“Ne, malam ini ada yang menyewa Amore jadi tempat pesta. Hanya pesta kecil, tapi aku tidak bisa mencari orang luar. Haejin-ssi dan Donghae-ssi pun tidak sempat kuberi tahu. Mereka kelihatan terburu-buru,” ujarnya. Tentu saja terburu-buru. Kencan~

“Boleh saja. Aku pasti mau,” senyuman lebar terkembang di bibirku. “Kamsahamnida, sunbaenim.”

Henry menatapku lewat mata sipitnya yang lembut, “Aku senang bisa membantumu. Ah, aku juga sudah mengajak Hyukjae untuk menemanimu malam ini.”

“Mworagoyo?”

Biasanya aku akan sangat menikmati pesta di Amore. Sejak dulu aku suka lilin-lilin kecil yang membiarkan ruangan di Amore ini menjadi remang-remang. Hanya ada satu lampu Kristal di pusat ruangan yang menambahkan sedikit cahaya disini. Apalagi Henry yang selalu ada di Amore setiap ada pesta.

Tapi sekarang aku sama sekali tidak bisa menikmatinya. Bahkan walaupun ada Henry disini. Mataku terus mengawasi Hyukjae yang berkeliling melayani tamu. Otakku selalu berdebat sendiri soal perubahan seorang Lee Hyukjae padaku. “Apa aku yang salah?” gumamku pelan.

Kepalaku mulai berputar melihat semua tamu di pesta yang katanya ‘kecil’ ini mondar-mandir di depanku. Memang hanya pesta kecil, tapi para tamunya datang bergantian. Satu gelombang selesai, muncul gelombang yang lain. Dan kakiku sudah mulai kaku.

Hyukjae memegang lenganku, “Duduk sana.”

“Sirheo. Aku masih kuat,” tolakku. Lagi-lagi matanya menatapku tajam. Kenapa lagi?

“Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku? Sekali saja, dengarkan aku dan anggap semuanya serius,” ujarnya lirih.

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” kutepis tangannya. “Sejak pagi, bukan, sejak kemarin sikapmu berubah-ubah padaku. Sepuluh menit kau bisa kembali jadi Lee Hyukjae yang konyol lalu sedetik berikutnya kau sudah berbeda lagi. Apa salahku?”

Hyukjae menarikku ke pojok Amore, “Kau bahkan tidak tahu bagaimana marahnya aku saat kau diusir. Aku mencoba bersikap normal tapi aku malah makin mirip orang bodoh!”

“Hyukjae-ya, sudah kubilang kan, ini bukan salahmu,” desahku.

“Berhenti mengabaikan ucapan dan perasaanku! Aku tidak bercanda saat kubilang aku mencintaimu, Jiyoo-ya,” Hyukjae menatapku lekat-lekat. Membuat jantungku bekerja tak normal lagi. Napasku tercekat saat wangi tubuhnya tercium olehku.

“Hyukjae-ssi, lepaskan tanganmu itu,” kepalaku menoleh cepat dan menemukan Henry berdiri di belakang Hyukjae. Ia meraih tanganku cepat. “Jiyoo-ssi, ayo pergi.”

Otakku sangat ingin menolak tapi kakiku ini tidak mau menurut. Aku malah membiarkan Henry menyeretku meninggalkan Hyukjae. Aku bisa melihat Hyukjae yang membeku di tempatnya. Sama sekali tidak menatap kami.

“Kenapa Hyukjae-ssi itu jadi aneh? Biasanya sikapnya tidak sekasar itu padamu,” Henry menyuruhku duduk di sofa ruang kerjanya.

Aku menarik napas berat, “Itu juga yang jadi pertanyaanku.”

“Dia… sangat menyukaimu,” selanya. Kepalaku langsung mendongak. Henry bersandar di dinding, “Pria itu terlalu menyukaimu.”

Ada sedikit rasa sedih saat telingaku mendengar ini dari Henry. Kenapa? Apa karena aku menyukainya? Aku tidak suka dia membicarakan pria lain yang menyukaiku. Aku ingin DIA yang menyukaiku. Tapi kenapa sulit sekali menyadarkannya?

“Hyukjae hanya… temanku,” dengan susah payah aku menelan ludah dan mengucapkan kata-kata itu.

Henry tertawa, “Tidak perlu gugup seperti itu, Jiyoo-ssi. Kau seperti seseorang yang tertangkap basah sudah berselingkuh.”

Dadaku mulai terasa nyeri. Aku ingin menangis tapi itu hanya akan membuatku jadi seperti orang bodoh di depannya. Orang bodoh yang menyukainya. Sekarang sepertinya aku tahu bagaimana rasanya ditolak.

“A-aku harus kembali ke depan, sunbae,” badanku membungkuk singkat sebelum aku berjalan memunggunginya.

“Jiyoo-ya,” panggilannya membuat langkahku terhenti di depan gagang pintu. Tapi Henry tidak mengatakan apapun sampai aku menoleh. “A-aniya, tidak ada apa-apa. Ah, aku harus pulang lebih awal, apa tidak apa-apa kalau kau dan Hyukjae-“

“Ne, gwaenchanhayo, sunbaenim,” ucapku singkat. Aku keluar dari ruangan itu dengan sedikit rasa getir. Napasku berat, “Hhh… hanya begitu?”

Aku ingin tertawa. Menertawakan diriku sendiri yang bersikap super bodoh dengan berharap lebih pada Henry Lau. Selamanya tidak ada aku di kepalanya.

Badanku pegal setengah mati setelah membereskan semua pernak-pernik pesta ini. Kulirik jam besar di pojok ruangan. Setengah sebelas malam? Bulu kudukku meremang. Tidak mungkin aku berani pulang selarut ini. Pasti gelap dan menyeramkan.

Tanpa sadar, Hyukjae mengamatiku. “Mianhae,”

“He?” kepalaku berputar ke arahnya. Hyukjae berdiri di samping meja kasir sambil memandangku.

“Yang tadi, sepertinya aku sudah menakutimu ya?” ujarnya lagi. Ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Seperti… menjaga jarak?

Aku menggaruk pipi, “Ani, hanya… tadi aku sedikit terkejut. Kau terus menyalahkan dirimu sendiri soal pengusiranku kemarin, padahal seharusnya… tidak perlu.”

“Tapi memang itu yang kurasakan, yeobo,” ujarnya lirih.

Mendengar panggilannya padaku, alisku mengernyit. Mataku menyipit lalu kudekati ia, “Kau sudah normal?”

“Kapan aku tidak normal? Sembarangan~” Hyukjae mencibir. Ia menatapku lagi, “Lain kali, buatlah aku berguna. Bilang padaku apa yang kau butuhkan, aku bisa mengabulkannya, Jiyoo-ya.”

Napasku tertahan. Inilah Lee Hyukjae yang sering membuat jantungku tak normal. “Kumat lagi,” aku berkomentar singkat. “Tapi, terima kasih.”

“Jiyoo-ya, kau suka tiramisu kan?” tanyanya. Ia memamerkan sesuatu di tangannya tanpa menunggu jawabanku, “Jjajang~”

Mataku terfokus pada sepiring kecil tiramisu di tangannya. Ini kue kesukaan Henry, kue yang entah sejak kapan menjadi favoritku. Aku, yang sangat tidak suka kopi, bisa menyukai kue ini. Aku, yang lebih suka kue rasa strawberry, berusaha menyukai tiramisu demi seorang Henry Lau. Aku, Choi Jiyoo yang bodoh ini, menipu diri sendiri demi dia.

Hyukjae berubah panik melihat air mataku terjatuh satu-satu. “Jiyoo-ya? Kau kenapa? Sakit?” Tangannya mengangkat dagu lancipku. Ia mengusap air mata di ujung mataku lalu menciumnya, “Kata orang, kalau kau membiarkan air mata jatuh ke bumi, maka lain kali bumi bisa meminta air matamu lebih banyak lagi.”

“Cih~ kata-kata darimana itu?” cibirku.

“Aku ini banyak membaca, yeobo~ karena itu aku pintar,” ucapannya membuatku tertawa. Hyukjae mendekatkan wajahnya ke telingaku, “Aku suka melihat lipatan matamu saat kau tersenyum. Jadi tetaplah tersenyum.”

“Kau orang pertama yang selalu berharap aku tersenyum, Hyukjae-ya,” aku tersenyum ke arahnya. “Sekali lagi, terima kasih.”

Ia menggaruk kepalanya, “Aigo~ terima kasih apa? Yeobo, kau sungguh manis~”

“Kucabut kata-kataku,” melihat raut wajahnya yang kecewa, aku tertawa. “Ah, aku ingin makan strawberry cheese cake yang kemarin.”

“Jinjja? Sebenarnya aku menyiapkan dua kue,” matanya berkilat senang dan ia mengeluarkan sepotong strawberry cheese cake dari lemari es. “Lalu, tiramisu?”

Setengah mati aku berusaha menelan rasa nyeri di dadaku, “Sejujurnya, aku lebih suka strawberry cheese cake.”

Ya. Aku ingin lebih jujur sekarang. Mungkin memang ini yang harus kulakukan sejak dulu. Melupakan pahitnya tiramisu dan kembali merasakan manisnya strawberry. Aku lelah berharap.

“Akhirnyaaa~” napasku terasa lebih lega saat melihat ruangan Amore yang sudah rapi kembali. Tapi aku kembali mendesah berat begitu melihat jam. “Omo~ jam dua belas malam. Aku benar-benar tidak berani pulang. Hyukjae-ya, apa ki-“

Kata-kataku terpotong saat mataku menemukan Hyukjae yang tertidur di sofa. Ia tidur sambil duduk dengan tangan terlipat di depan dada. Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Ah, pasti dingin,” kakiku melangkah cepat mengambil selimut milik Haejin yang selalu ada di lokerku. Untuk orang yang suka lembur di Amore sepertiku, Haejin sudah menyiapkan segalanya.

Entah kenapa sekarang mataku berbeda saat melihatnya. Hyukjae… tidak buruk. “Kenapa kau sangat baik padaku, ha?”

Aku terus bergumam pada diriku sendiri, “Tidak pernah ada yang menyalahkan dirinya sendiri sepertimu hanya karena aku diusir keluar. Bahkan, tidak ada yang terus berharap aku terus tersenyum selain dirimu. Sepenting itukah aku untukmu, Lee Hyukjae?”

Tadinya niatku hanya sekedar menyelimuti tubuhnya, tapi entah bagaimana, aku ikut duduk di sampingnya dan menenggelamkan diri di selimut yang sama dengannya. Telingaku terus memutar kata-katanya sebelum mataku terasa berat.

Aku hanya orang bodoh yang tidak bisa mencintaimu dengan baik.

Saat kau diusir, aku merasa marah. Berkali-kali kubilang aku menyukaimu, selalu membuntutimu seharian, tapi nyatanya saat kau kesulitan pun aku tidak tahu.

Berhenti mengabaikan ucapan dan perasaanku! Aku tidak bercanda saat kubilang aku mencintaimu, Jiyoo-ya

Kenapa kau tidak pernah mendengarkanku? Sekali saja, dengarkan aku dan anggap semuanya serius

Lain kali, buatlah aku berguna. Bilang padaku apa yang kau butuhkan, aku bisa mengabulkannya, Jiyoo-ya.

“Gomawo,” Jiyoo mengigau pelan dan membuat lelaki di sebelahnya terbangun. “Hyukjae-ya…”

Hyukjae tersenyum samar mendengarnya. Tapi kemudian keningnya berkerut heran. “Sejak kapan dia tidur di sampingku?” Tangannya menyentuh selimut lembut di dadanya, “Ini… sejak kapan dia suka berselimut bersamaku?”

Matanya melirik Jiyoo yang masih terlelap. Diusapnya pipi gadis itu pelan. Saat ini Hyukjae tidak mau apapun selain membiarkan keadaan ini abadi. Kalau pun ini hanya mimpi, ia benar-benar tidak mau bangun. Hyukjae menggenggam tangan Jiyoo erat.

“Genggamlah tanganku selamanya,” ujarnya.

Sampai kemarin, Choi Jiyoo ini hanya bisa mengenal Henry Lau. Hanya bisa melihat Henry Lau dan hanya bisa menyukai Henry Lau. Hyukjae bergumam sendiri, “Besok, kau akan mulai melihat Lee Hyukjae.”

Lampu Amore belum padam, pikir Henry. Kakinya baru akan melangkah masuk saat ia melihat sosok Jiyoo yang tertidur di sofa kantornya. Tapi kemudian ia berbalik arah begitu matanya menemukan Hyukjae di samping gadis itu. Lelaki itu menatap Jiyoo dengan tatapan sayu dan lembut. Kemudian Hyukjae menggenggam tangan Jiyoo dan kembali memejamkan mata.

Henry menghela napas berat, “Lelaki itu memang menyukainya.” Lalu ia bergumam sendiri, “Jiyoo juga mulai menyukainya.”

Sekarang Henry benar-benar mengurungkan niatnya untuk mengantar gadis itu pulang. Ia masuk kembali ke mobil dan memacunya pergi menjauh. Sejak ia meninggalkan Amore, ia tidak bisa berhenti memikirkan Jiyoo yang sendirian dan sedang ada masalah dengan Hyukjae.

Ia terpaksa kabur dari pesta keluarganya dan kembali ke Amore. Hanya demi Choi Jiyoo. Choi Jiyoo yang selalu tersenyum padanya. Tapi nyatanya, Henry merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah bisa mengatakan apapun pada gadis itu. Ia terlalu takut Jiyoo akan menolaknya. Terlalu takut gadis itu akan menjauh darinya. Terlalu banyak pertimbangan di kepalanya yang membuat Henry tidak bisa mengucapkan atau melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa ia mencintai gadis itu.

-the next day-

@Amore

Jiyoo’s PoV

Mataku masih terasa berat saat sinar matahari menelusup masuk dan menyilaukannya. Aku baru akan meregangkan otot-ototku saat pandanganku terasa asing dengan suasana di sekelilingku. Kemungkinan pertama: aku bukan di rumah –jelas, aku sudah diusir- Kedua: ini bukan kamar di apartemen Haejin. Satu-satunya hal yang masuk akal dan sesuai dengan memori otakku adalah: aku ada di Amore.

Aku berusaha mengingat lagi. “Benar, semalam ada pesta, aku disini sampai larut malam.”

“Yeobo~~ kau sudah bangun?” suara nyaring yang sangat kukenal membuatku menoleh. Hyukjae membawa nampan dan berjalan ke sofa. “Ini, ada teh. Lemon tea~”

Otakku masih lumpuh. Butuh waktu lama sampai aku mengingat kejadian semalam. Aku. Tidur. Di samping. Hyukjae. Aku membekap mulutku sendiri dengan tangan begitu menyadari tindakan bodohku semalam.

Tapi aku sendiri penasaran, kira-kira apa yang akan dipikirkannya? Kuangkat cangkir teh itu perlahan dan mulai menyesapnya sedikit. “Mm… Hyukjae-ya, apa semalam-“

“Ah! Kau ingin bertanya apa yang kau lakukan semalam?” Hyukjae tersenyum lebar. “Tenang saja, kau tidak macam-macam padaku.”

Kutepuk dahiku, “Ya! Kau pikir aku akan melakukan apa padamu?” Kemudian aku menggaruk pipi, “Jangan salah paham, aku melihatmu tertidur, jadi kuambilkan selimut, lalu aku juga ketiduran. Yaah, begitulah.”

“Memangnya kalau orang ketiduran itu sempat menentukan mau tidur di samping siapa?” ujarnya jahil. “Dan juga, apa sempat menyelimuti dirinya sendiri bersama orang lain?”

Mataku memandangnya galak, “Itu hanya kesalahan!!”

“Aku lebih suka kalau kau mengatakannya sebagai sebuah kebenaran. Kau mulai jatuh cinta padaku ya?” godanya lagi. Tapi rayuannya yang ini malah membuat jantungku hampir melompat keluar.

“Berhenti bercanda~” tubuhku baru akan bangkit saat Hyukjae menarik lenganku kasar. Ia membuat jarak yang sangat pendek antara kami. “H-hyukjae-ya…”

Hyukjae tersenyum penuh kemenangan. “Kau benar-benar sudah menyukaiku. Kenapa masih bohong?”

“Mwo?” aku melepaskan diri cepat dan meninggalkannya. “K-kita harus pulang sekarang.”

“Arayo~ cepat siap-siap, kita pulang ke rumah sekarang, yeobo,” Hyukjae berteriak lalu kudengar ia terkekeh. Sial~ aku bahkan tidak bisa membalas ucapannya.

“Kenapa tidak mengaku saja? Ayolah~ kau sudah mulai menyukaiku kan?” Hyukjae terus-menerus berceloteh seperti itu sepanjang perjalanan pulang.

Kututup kedua telingaku kuat-kuat, “Aku tidak mendengarmu~”

“Jiyoo-ya, berbohong itu tidak baik,” ia menggoyangkan telunjuknya.

Aku menghela napas panjang, “Kalau aku berbohong, hidungku ini pasti sudah panjang.”

“Hati-hati, ucapanmu itu bisa saja jadi nyata,” ujarnya santai.

Kakiku membeku saat mendengarnya. Hyukjae terus berjalan di depan dan meninggalkanku di belakangnya. Kupegangi hidungku yang kecil. Kepalaku menggeleng, “Tidak. Tidak bertambah panjang. Kenapa aku bisa termakan kata-kata bodohnya?”

“Jiyoo-ya,” Hyukjae berteriak dari jauh. “Kau benar-benar berbohong ya?” Dia tertawa puas saat melihatku yang dengan bodohnya meraba hidungku sendiri.

“Aish! Lee Hyukjae!!” aku berlari cepat menyusulnya.

Langkah kami terhenti tepat di depan apartemen. Kami melihat barang-barang seseorang dilempar ke luar. Ada dua koper hitam besar yang tergeletak disini.

Hyukjae menyenggol lenganku, “Ada apa ini?”

“Kenapa bertanya padaku? Mollayo~” aku mengangkat bahu. “Haejin eonni tidak memberitahu apa-apa pada kita kan?”

Tapi kemudian mata kami bertemu. Seolah paham, kami berteriak. “DIUSIR??”

-TBC-

====================

Thanks for reading~🙂 Komen sangat dihargai. 5th cup: JinHae couple~😄

64 thoughts on “Amore Cafe 4th cup

  1. 1st y ?
    Aishh~asyik..asyik *loncat2 kgirangan*

    hoho..’yeobo’ ?
    ntah sjak kpn akk jdi geli dengar kata2 in. huahua..ap krna s unyuk y ?

    kog d usir lgi sih ? aduh..shela suka bnget maen usir2. knpa nih ? *curiga yg gk bralsan* *d tmpuk bakiak am shela*

    okeh ahh~lanjuttt…

  2. iseng nyari ff eh smpai ke blog ini..annyeong salam kenal..novi-imnida ^^

    huwaa ak ska baca ff kmu..apalagi banyak yg eunhyuknya..kekekeke…gara2 bca ff kmu ak jd sk sama eunhyuk..hehehe

    wah eunhyuk makin so swet eh..ternyata Henry jg ska ya…

    *ngebut bacar part 1 mpe 3nya*

    lanjut…lanjut^^

  3. Aish…knp henry jg suka jiyoo,makin bnyak aja korbanx jiyoo..>.<
    eunhyuk ga pantes ah jd cwo dingin2 gmn gt..xD
    tp dag dig dug jg pas bca bgian eunhyuk ma jiyoo d amore…hehe

    part 5 nya sbelum lebaran y..xD

    • Ya~! Emangnya kenapa kalo henry naksir jiyoo? Hak penuh pada author beibeh~😄
      Tpi kan abis sok dingin gitu jadi konyol lagi nen~ Soalnya dia ga bisa cool lama2. Kekeke~
      Mworagoyo? Sebelon lebaran? Nyiksa itu namanyaa~ ><

      • menurut ku seh iya, kata2nya lebih meaningful trus emosinya lebih brasa…
        kalu gw denger kata2 donghae, gw bakalan senyum trus meluk dia
        kalu gw denger kata2 eunhyuk, gw bakalan senyum, mata gw memerah trus meluk dia
        *sumpahgwngetikinitanpamikirdulu*
        author: mang bisa????

  4. Hah? Siapa itu yang diusir? Gimana nasib JinHae setelah kencan semalem? Gyaaaa~ >m<

    Ohiya, onnie, boleh request ff gak? Ngehehe~ Kalo boleh mau dong, aku sama si kepala besar tangan kecil :3
    *ngarepbanget* /puppy eyes: on/ ~(OwO)~

  5. AAAAAAAAAAA uda keluar ya ?
    AAAH lagi lagi jihyuk =___________= uuuuu iri~ *guling2*

    yaelah kok pake ada yang diusir lagi ?
    ckckck~

    iiih henry iniii harusnya ngemeng dari kemaren!
    *eh ? tapi ga mungkin diterima~ wong authornya–jiyoo aj doyannya ama hyuk xD*

    • Udaa keluar dari semalem~😄 JiHyuk ftw~!! Forever, eternal, everlasting~😄
      Hihihi… tau aja dirimu si jiyoo [author cantik ini] bakal milih hyukjae~ Pinter dehh~ *ngirim parcel kyuhyun*

  6. kak shelaa kenapa kalau Unyuk lagi serius kata-katanya ampuh plus buat ngerinding >.<
    (PLAK)
    Hhahaha~~ayolah JiYoo-ssi akui sajalah kau sudah jatuh cintoong sama Unyuk-ssi😛 wkwkwk~~

    • Hahaha~ jangan2 kakak mampu bikin unyuk jadi lebih serius? Cinta kami terlalu kuat.😄
      Iyaa, jiyoo-ssi yg ini [nunjuk diri sendiri] uda sangat jatuh cinta pada hyukjae-ssi. *gombal mampus*

  7. Baru tau saia pintar~ :p saia terima parselnya tunai ! (?)
    Ah iya, nanya~
    Terserah mau jawab kapan, taun depan jga oke /plak
    Itu knpa hae suka pggil jiyoo ehem mala ehm ikat ?
    Ada dijelasin di chapt sblmnya ga ? Ato akux yg ga teliti baca -___-

  8. unyuk maksanya kayak anak-anak
    jadinya unyuk = ‘play(little)boy’😄

    Hyukjae mendekatkan wajahnya ke telingaku, “Aku suka melihat lipatan matamu saat kau tersenyum. Jadi tetaplah tersenyum.”
    = iyaa unn~ senyuuuum~
    ampe gusinya keliataaan😄

    Oh, ternyata~
    mochi juga cinta ama jiyoo~ >3<
    sini, ge, sama saya aja /plak

    Saat kau diusir, aku merasa marah. Berkali-kali kubilang aku menyukaimu, selalu membuntutimu seharian, tapi nyatanya saat kau kesulitan pun aku tidak tahu.
    = itu artinya jiyoo tidak mau merepotkanmuuu~~

  9. ayodong ayodong cepet 5th cup nya. PENASARAN BANGET! Tahun 96 ya lahirnya, sama dong. bulan apa? Saya SR yang memunculkan diri nih. SAYA JADI FANS NYA AUTHOR! Keren ff nya, lanjutkan hwating!

  10. ayoo cepetan di lanjutin cup 5 nya…
    sumpah deh disini kunyuk bener2 bikin polinlop banget..

    kalo mereka juga diusir ntar, jangan2 mereka nyatu di apartemennya donghae hmpfh..!!
    btw..mau nanya kalo post FF apa mesti nunggu di sjff dulu launch baru di post disini??

    • Lagi konsen buat satu oneshoot buat temen sih. Ga bisa gotong royong bikinnya. ><

      Banyak yg nebak diusir ya.. Yahh, liat aja tar di 5th cupnya.😀
      Mm.. biasanya sih ngirim email kesana dulu, baru aku post sndiri disini. Jadi lebih awal disini, biasanya sihh.🙂

  11. aiyaaaaa..
    Hyukkie selalu begitu ._. Ni setiap si Jiyoo deg2an gara2 dideketin Hyuk aku juga ikutan deg2an -_-
    aduhhhhhhh image hyuk selalu gini, dibalik ke nggak warasan dia dia romantis ._. Nggak kuat baca hyuk romantis. Bawaannya malah mau nangis (?)
    onnie aku baca part selanjutnya dl ya😀

  12. Jangan bilang itu haejin juga di usir??!! :O aku suka sisi hyuk yg ga konyol~ manly~ keliatan banget cinta ama jiyoo nya.. Itu jiyoo bener bener ga ngenggep hyuk serius? Udah jelas jelas serius gitu!

  13. O.o sapa yg di usir lagi…. Penuh dgn pengusiran kekekekeke……
    henry_yaaa u telat melangkah…..
    jiyoo dah terjatuh juga…. Ahhhh cepatnya hati berubah makin seru .. Lanjut

  14. Part iNi agak galau” gmN gtU,, jd ikutn galau jg😦
    OMO ..! Jd henry oppa jg suka ma jiyoo, aigoo g nyngka.
    Acieeee . . . . . hae ma haejin udh mulai trbuka nie 1 sMa lain.. hihihi ,, snng bca’y :p
    jihyuk kpn jd’n’y …??
    Next Chapt ..!

  15. ternyata eunhyuk oppa bisa merasa bersalah juga ya heheh .

    Tp itu knp barang2 diapartement haejin eonni ikutan dibuang2 barangnya ,
    Jangan2 bener kata jiyoo sama eunhyuk , kalau ternyata mereka diusir

  16. Wahh… Akhirnya bikin penasaran..
    Diusirkah mereka dari rumah??? Tidaaaaakkk… nanti mereka jadi gelandangan dong!!! Andwaaaaaeeeeeee *histeris lebay

  17. yahhhhkkk….hendyx kog gtu thor aduh ntar yoox ke hyukjae benaran *pastinya
    kekeke…apa maslhx lgi sekarang semg aja g di usirrr..tattuuutt(;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s