Amore Cafe 3rd cup

Amore Café 3rd cup

====================


Haejin’s PoV

Sudah 15 menit aku menunggu mereka di depan apartemen. Tapi kenapa 15 menit ini terasa lebih lama? Ahh~ pasti karena pria di sampingku ini sama sekali tidak berhenti mengomel.

“Haejin-ah, bagaimana nanti keadaan malaikat itu ya? Kasihan sekali dia. Pasti sekarang dia bingung mencari tempat ting-“

“YA~! LEE DONGHAE!! Berhenti mengoceh! Batere mulutmu itu sedang penuh ya?” ini hardikanku yang kesekian kalinya. Dia selalu tidak bisa diam. Setelah 10 detik, Donghae akan kembali berkicau. Karena itu aku harus menyuruhnya diam berkali-kali. Aigo~

Donghae melirikku agak lama. “Haejin-ah, kenapa kau selalu marah padaku?”

“Hhh… sudah berapa kali kubilang, aku tidak marah padamu,” ucapku lesu. “Memangnya kenapa aku harus marah?”

“Molla~ mungkin karena kau menyukaiku?” jawabnya santai sambil mengangkat bahu.

“Kau ini suka berimajinasi ya?” aku mengarahkan pandangan kesal padanya. Tak lama, aku melihat Hyukjae, Jiyoo, dan Jiyoung yang berjalan mendekat. Kakiku berlari kecil menghampiri mereka, “Jiyoo-ya, bagaimana?”

Jiyoo tersenyum pahit. “Apanya yang bagaimana? Kami benar-benar diusir.”

Keningku berkerut. Aku melihat beberapa koper dan tas yang mereka bawa. “Tinggal di apartemenku. Kaja~”

“Eonni, tidak perlu. Pasti merepotkan,” desahnya. Jiyoo menunduk begitu aku memandangnya galak.

Aku berjongkok dan tersenyum pada Jiyoung. “Jiyoung-ah, kau mau tinggal bersama noona dan hyung ini?” Bergantian aku menunjuk diriku sendiri dan Hyukjae.

“Kalau bersama noona, aku mau. Tapi kalau bersama hyung yang selalu genit pada Jiyoo noona ini, aku tidak mau,” ujarnya polos.

Tawaku meledak dan kulihat Hyukjae mengerucutkan bibirnya. “Ya~! Ternyata Jiyoung ingat padamu.”

“Yang dia ingat sejak tadi hanya Hyukjae hyung yang selalu mengikuti noonanya,” Hyukjae melirik Jiyoo yang tersenyum. Sepertinya ada aura yang berbeda dari mereka. Apa terjadi sesuatu di café? Ahh~ terserahlah. Bukan urusanku.

“Jiyoo-ya, malam ini kau akan menginap kan?” aku melihat Jiyoo menggeleng. Alisku terangkat heran. “Lalu?”

Jiyoo menunjuk Jiyoung. “Hanya mau menitipkan anak ini. Aku akan mencari tempat tinggal malam ini.”

“Ya~! Baboya? Kenapa tidak mencari besok pagi saja?” Hyukjae mengomel.

“Besok aku sekolah!” balas Jiyoo. Ia kembali menatapku, “Eonni, boleh kan Jiyoung kutitipkan disini? Sebelum jam 9 malam, aku pasti kembali kesini.”

Aku mengangguk kaku. “Kau… sendirian?”

Melihat Jiyoo yang mengangguk, Hyukjae memandangnya kesal. “Kau ini kenapa? Apa salahnya menginap disini semalam saja?”

“Hyukjae-ya, kenapa berteriak pada malaikatku?” ucapan tak berbobot dari seorang playboy kacangan. Aigo~

“Hyuk-ah?” aku memandang Hyukjae heran. Kenapa sikapnya berubah tegas begini? Biasanya tingkahnya konyol. “Kau salah minum obat?”

Hyukjae tidak menggubrisku. Ia menarik koper Jiyoo, “Sekarang masuk dan istirahat lah. Jiyoung-ah, ayo.” Tangannya menggandeng Jiyoung dan membawanya masuk ke apartemen kami.

“Jiyoo-ya, apa yang sudah kau lakukan padanya?” bisikku. “Tidak biasanya sikapnya begitu. Apa terjadi sesuatu?”

Jiyoo menggeleng, “Dia hanya cemas karena tahu kami tidak punya rumah lagi. Sepanjang perjalanan, dia memarahiku, ‘kenapa tidak bilang kalau uang sewa apartemen belum dibayar?’ dan sejenisnya.”

“Berarti anak itu benar-benar jatuh ciiiinta padamu,” timpal Donghae. Aku hampir melompat gara-gara melihat wajahnya yang tiba-tiba muncul.

“Ya~! Sejak kapan kau ada di belakangku? Kau ini seperti gadis saja, hobi menguping,” kudorong tubuhnya jauh-jauh. “Jangan mendekaat~”

“Haejin-ah, kenapa lama-lama kau mirip Jiyoo yang anti-Hyukjae? Ahh~ kau ini antis-ku ya?” lagi-lagi omongannya tak berbobot.

Bola mataku berputar lalu kuajak Jiyoo pergi, “Antis itu hanya untuk artis, bukan playboy kacangan sepertimu.”

Donghae mencibir sambil mengekor.

-the next day-

Tanganku sibuk mengoles selai strawberry saat kulihat Jiyoung berjalan lunglai ke arah dapur. “Jiyoung-ah, selamat pagi~ Tidurmu nyenyak?”

“Mm, noona.” Jiyoung beringsut ke sofa dan berbaring lagi disana. Aigo~ menggemaskan.

Jiyoo membuka pintu kamar lalu menghampiriku, “Eonni, kenapa tidak membangunkanku? Biar kubantu.”

“Tidak perlu, kau bangunkan saja Hyukjae. Kalian harus ke sekolah kan?” melihat wajah Jiyoo yang enggan, aku mengerutkan kening. “Wae? Kau masih menganggapnya bakteri?”

Dengan polosnya, ia menggeleng. “Aku hanya takut dia masih marah padaku.”

“Aku tidak marah,” tiba-tiba Hyukjae sudah berdiri di depan pintunya. Ia sempat memandang Jiyoo lama sebelum meraih roti di depannya lalu meninggalkan kami.

Aku masih tertegun melihat tingkah mereka yang agak ‘berbeda’. Apa memang ada sesuatu di café kemarin?

“Eonni,” Jiyoo menepuk pundakku pelan. “Aku akan mengantar Jiyoung kembali ke Incheon.”

“Waeyo? Siapa yang akan menjaga Jiyoung disana?” tanyaku.

“Ada paman yang bisa menjaganya. Kakak tertua dari eomma,” sahutnya tenang. “Lagipula aku tidak bisa membiarkan Jiyoung ikut luntang-lantung di Seoul bersamaku kan?”

Mataku memandangnya lekat-lekat. “Kapan mau kau antar?”

“Mm… pagi ini,” Jiyoo melirik jam dinding. “Aku akan bolos sehari, lalu kembali ke Seoul sebelum jam 2 dan langsung ke Amore.”

“Andwaeyo~ berangkatlah sekolah. Jiyoung akan kuantar ke Incheon setelah aku selesai di café,” ujarku.

“He? Tidak perlu. Pagi ini Jiyoung akan sendirian, mana mungkin aku membawanya ke sekolah?” ucapannya membuatku mengangguk.

“Kalau begitu kita bisa membawanya ke café, Haejin-ah,” suara Donghae mendadak menggema di telingaku. Aku langsung memutar badan. Kulihat Donghae sedang bersandar di pintu depan. “Selamat pagi, ladies~”

Aku terbelalak kaget, “OMO~ bagaimana kau bisa masuk? Pintu depan kan masih terkunci. Kau ini maling ya?”

Donghae menggeleng-geleng sok cool. “Haejin-ah, aku bisa membuka setiap pintu rumah seperti membuka pintu hati semua gadis.”

“Ya~! Berhenti menggombal di depan noona-ku dan Jiyoo. Kau itu bisa masuk karena aku yang baru keluar rumah mengambil Koran,” sahut Hyukjae cepat.

“Hyuk-ah, aku hampir membuat mereka terpesona,” elak Donghae. Aigo~ playboy yang satu ini sangat langka. Tapi juga sangat manis. “Haejin-ah, bagaimana?”

Segera kubuyarkan semua pikiranku yang mulai sembarangan tentangnya. “A-apanya yang bagaimana?”

“Membawa Jiyoung ke café.” Donghae berjalan ke arahku dan mengambil sepotong roti. “Jiyoo-ssi jadi tidak repot lalu kita bisa mengantarnya bersama ke Incheon setelah pulang kerja.”

Belum sempat aku menjawab, Jiyoo sudah menginterupsi. “Jinjjayo? Kalian benar-benar mau? Tidak keberatan?”

Saat mau merespon, kali ini Donghae yang mengganggu. “Tentu saja~ kenapa harus keberatan? Benar kan, Haejin-ah?”

“Kalau kau memang tidak keberatan, kau saja yang pergi,” dengusku. “Aku hanya akan mengantar Jiyoung sendiri, jangan harap bisa ikut bersamaku.”

“Eonni, bukannya lebih baik Donghae-ssi menemanimu? Supaya kau lebih aman.” Jiyoo tersenyum dengan agak mencurigakan. Mau menjebakku bersama playboy kacangan ini?

“Arasseo~ terserah saja. Jiyoo-ya, kau cepat mandi dan siap-siap ke sekolah,” perintahku. “HYUK-AH, jangan lupa menemani Jiyoo naik bis.”

Jiyoo menarik lengan piyamaku, “Kenapa harus menyuruhnya?”

“Supaya kau lebih aman,” aku mengangkat bahu.

“Bilang saja eonni balas dendam,” cibirnya kesal. Aku terkekeh sementara Jiyoo mengambil handuk dan menutup pintu kamar mandi.

@Amore Café -10.45-

“Ne… Dia tidak nakal. Sudah berapa kali kau bertanya begitu?… Lagipula dia baru disini 45 menit yang lalu dan aku harus bekerja sekarang… Kau juga sedang di sekolah kan?… Kututup teleponnya ya… Ne.” Aku baru bisa mengembuskan napas lega begitu menutup flap ponsel tipisku.

“Nuguya? Jiyoo-ssi?” lagi-lagi playboy ini muncul tiba-tiba entah darimana dan mengejutkanku.

Aku memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau ini hantu ya? Muncul seenaknya dan selalu mengejutkan orang.”

“Ckckck~ aku selalu di dekatmu tapi kau yang tidak pernah melihatku,” ucapannya agak membuatku merinding. “Siapa tadi? Jiyoo-ssi?”

“N-ne. Dia menanyakan Jiyoung. Dimana dia?” aku menoleh ke sekeliling mencari sosok mungilnya.

“Bermain bersama Wookie di dapur,” jelasnya pendek.

“Baguslah~” aku mengambil cangkir dan mulai menyiapkan Hot Chocolate. “Ya~! Apa kau benar-benar akan ikut ke Incheon?”

Keningnya berkerut bingung. “Wae? Tidak boleh?”

“Aku hanya bertanya,” dengusku. “Lagipula kau tidak takut pacar-pacarmu marah kalau kau pergi bersama gadis lain?”

“Nugu? Memangnya kau ini seorang gadis?” aihh~ ucapannya mulai membuatku kesal.

“Kau mau kusiram dengan cokelat panas ini?” tanganku mengangkat cangkir agak tinggi. Melihatnya tertawa, aku malah makin kesal. Aku ini seorang gadis asli. Kata-katanya itu agak keterlaluan.

Donghae memiringkan kepalanya. “Kau ini kan peri.”

Untuk sejenak, kuakui aku memang senang dengan ucapannya. Tapi diam-diam aku penasaran, apa dia juga mengatakan hal yang sama pada semua gadis?

“Aku mendadak sedih mendengar pujian seperti itu dari playboy sepertimu,” dengan cepat, kuangkat nampan dan berjalan meninggalkannya. Aku bergumam, “Seandainya kau bukan Lee Donghae yang ini.”

Aku mulai bingung setengah mati saat Jiyoung merajuk dan hampir menangis. “Aku mau Jiyoo noona~ Mana noona?”

“Aigo~ noona-mu kan sedang di sekolah, Jiyoung-ah,” berkali-kali aku berusaha menenangkannya sambil terus mencoba menelepon Jiyoo. “Cepat angkat.. cepat..”

“Jiyoung-ah, kau suka es krim rasa apa?” mendadak –lagi- Donghae muncul di belakangku.

“Es krim?” tanya Jiyoung yang agak teralihkan. “Cokelaaat!”

Donghae mengangkat tubuh mungilnya dan menggendong Jiyoung keluar Amore. “Kalau begitu, ayo cari es krim cokelat. Kaja~”

Melihat senyumnya yang tidak biasa, aku malah ikut tersenyum. Bahkan aku tidak sadar teleponku sudah dijawab. “Eonni? Yeoboseyo? Apa terjadi sesuatu?”

“Ah, aniyo. Sudah tidak apa-apa. Kita punya pengasuh anak sekarang,” ujarku tenang. Aku langsung menutup ponselku tanpa peduli dengan suara Jiyoo yang terheran-heran.

Karena café sedang sepi, aku menyerahkan semuanya pada Wookie dan Sungmin. Kalau untuk melayani pelanggan, kurasa mereka pasti sanggup. Sedangkan aku, aku mengikuti langkah Donghae yang berjalan membawa Jiyoung ke arah taman. Hari ini sepertinya aku sudah melihat sosok lain darinya. Donghae banyak tertawa. Bukan dengan tawa khas playboy-nya, tapi dengan tawa yang… tulus?

Setelah membuat Jiyoung lupa pada noona-nya, Donghae membiarkannya bermain di sekitar taman sambil tetap mengawasinya. “Ahh~ anak itu lucu sekali.”

“Kau sangat bisa mendekati anak kecil,” aku berkomentar singkat.

Donghae pura-pura berpikir. “Mm… mungkin pesonaku memang tidak bisa ditolak siapa pun. Termasuk anak kecil seperti Jiyoung.”

“Tutup mulutmu itu,” cibirku. Kemana perginya Lee Donghae yang bijaksana seperti seorang ayah tadi?

“Aku suka anak kecil,” sahutnya singkat. Kali ini kurasa dia tidak akan menambahkan embel-embel khas playernya. “Mereka lucu.”

Lagi-lagi perasaan ini. Perasaan terpesona yang sama pada Donghae. Aigo~ mana boleh playboy kacangan itu terus-menerus berhasil membuatku malu?

“Hyung~” Jiyoung berlari lalu memeluk Donghae.

“Kau sudah puas main?” tanyanya lembut. Melihat Jiyoung mengangguk, Donghae tersenyum. “Bagaimana kalau kita pulang sekarang?”

Jiyoung memandangiku, “Noona, Jiyoo noona sudah datang?”

Aku melirik jam tanganku. “Sebentar lagi, kita tunggu di café saja ya?” Jiyoung tersenyum lagi. Anak ini manis kalau sedang diam. Tapi membuatku pusing kalau sedang manja seperti tadi.

Donghae berjalan di sampingku sambil menggendong Jiyoung. “Ahh… sepertinya Jiyoung tidur.”

“Sepertinya begitu,” aku mengintip Jiyoung yang menutup mata di gendongan Donghae.

“Aigo~ keluarga kecil yang rukun,” seorang nenek menunjukku dan Donghae. “Kalian pasangan yang serasi.”

Aku baru saja akan menyanggahnya saat Donghae mengangguk sambil tersenyum. “Ye. Kamsahamnida, halmeoni.” Melihatku yang melongo, ia menoleh. “Wae? Kau tidak suka?”

“A-ani,” kepalaku menggeleng. Dalam hati aku bergumam, ‘aku suka.’

“Mianhaeyo.. mianhaeyo..” Jiyoo tak berhenti membungkukkan badan begitu sampai ke Amore. “Sudah kubilang Jiyoung pasti akan merepotkan.”

Kukibas-kibaskan tanganku, “Aigo~ gwaenchanhayo. Jiyoung kan masih kecil. Lagipula kita punya pengasuh baru.”

Donghae menepuk-nempuk dadanya sendiri, “Jiyoo-ssi, aku adalah calon ayah yang baik!”

“Calon ayah tapi bukan suami yang baik,” Hyukjae berkomentar tenang. Anak itu benar-benar tidak membiarkan Donghae tebar pesona di depan Jiyoo. “Jiyoung-ah, mau permen?”

“Tadi aku sudah makan es krim dengan Hae hyung,” ujarnya polos. Kemudian ia menarik tas Jiyoo, “Noona, menikahlah dengan Hae hyung. Dia baik.”

Aku melihat Hyukjae membuang muka kesal. Tapi kenapa rasanya aku juga ingin marah? Ahh~ bodoh! Aku marah karena aku tidak mau Jiyoo didekati playboy kacangan ini kan?

“Aigo~ anak kecil sungguh jujur.” Donghae kembali menggendong Jiyoung. Demi Tuhan! Jangan merayu Jiyoo lagi! “Jiyoo-ssi, dia sudah merestui kita. Ayo menikah~”

Jiyoo mengambil Jiyoung dari gendongan Donghae, “Tidak, terima kasih. Kalau Jiyoung yang menyukai Hae hyung, bagaimana kalau Jiyoung saja yang menikah dengannya?”

Hyukjae terkekeh puas mendengarnya. “Jiyoo-ku memang daebak~!”

“Apanya yang Jiyoo-ku? Kemarin ‘yeobo’ dan sekarang ada penambahan kata milik di belakang namaku, kau ini benar-benar mau mengganti namaku ya?” tuntut Jiyoo. Sepertinya sikap mereka berdua sudah kembali normal.

“Baiklaaah~ kapan kau mengijinkanku mengantar Jiyoung?” tegurku. Jiyoo segera menurunkan Jiyoung dan langsung kugandeng tangan kecilnya. “Jiyoung-ah, ucapkan sampai jumpa pada Jiyoo noona dan Hyukjae hyung.”

Jiyoung menggenggam tangan Jiyoo, “Noona~ annyeong.”

“Jiyoung akan baik-baik saja kan disana? Jangan nakal disana, aratchi?” Jiyoo mengusap pipi adiknya lembut. “Annyeong, Jiyoung-ah.”

“Noona, Hi-five!” mereka berhi-five tapi sepertinya Jiyoo hampir menangis. Jiyoung memutar badan menghadap Hyukjae, “Satu-satunya pria yang boleh membuat noona menangis hanya Choi Jiyoung. Kalau sampai hyung melakukannya, berarti hyung menantangku!”

Hyukjae agak terkejut tapi akhirnya dia tersenyum, “Arasseo~ Lee Hyukjae ini lelaki sejati, jangan khawatir.”

“Eonni, aku titip dia ya,” pesannya singkat. “Donghae-ssi, aku titip Haejin eonni ya.” Baru saja aku mau protes, Jiyoo sudah melambaikan tangan. “Hati-hati di jalaaaan~ Jiyoung-ah, annyeong~!”

Aish~ anak itu mau menguji kesabaranku. Sembarangan saja menitipkanku pada Donghae. Aku ini bukan anak kecil.

“Aku mau jalan di tengah,” rengek Jiyoung. Dia berjalan di antara aku dan Donghae sambil menggandeng tangan kami berdua. Tiba-tiba aku teringat lagi komentar nenek di taman tadi, ‘Aigo~ keluarga kecil yang rukun. Kalian pasangan yang serasi.’

Benarkah kami serasi?

@Incheon

Kereta kami baru sampai disini jam 4 sore. Jiyoung sudah diantarkan dengan selamat ke rumah pamannya. Donghae menimbang-nimbang, “Kalau kita naik kereta sekarang, sampai ke Seoul jam 7 malam. Kau tidak mau jalan-jalan?”

“Aish~ tadi kau menolak waktu diundang paman Jiyoung untuk makan, sekarang mau mengajakku jalan-jalan? Yang benar saja, Lee Donghae-ssi,” omelku.

“Makan dan jalan-jalan itu dua hal yang berbeda, Lee Haejin-ssi,” sungutnya.

Aku terpana sejenak, “Sejak kapan kau bisa membantahku?”

“Kau saja yang tidak pernah perhatian padaku,” ucapnya lagi. Aku sedikit mengangkat alis. Donghae menatapku lama, “Setiap aku di dekatmu, kau tidak merasa. Setiap aku bicara denganmu, kau sama sekali tidak peduli. Ahh~ aku sampai harus menjadi playboy kacangan supaya kau bisa melihatku.”

“Kau ini bicara apa?” jujur saja, aku agak terkejut mendengar kata-katanya. Apa dia sedang mempermainkanku?

Donghae tersenyum samar, “Lupakan saja.” Kemudian ia menunjuk sebuah warung kecil, “Aku lapar, mau makan?”

“Aigo~ lalu kenapa kau menolak tawaran makan gratis?” Donghae sama sekali tidak menggubrisku karena dia sudah berjalan lebih dulu ke seberang jalan. “Terus saja abaikan aku, Lee Donghae.”

“KENYAAAANG~~~” Donghae menepuk perutnya yang kelihatan sangat penuh. Ia memandangku, “Kau tidak lapar ya? Tadi malah tidak makan apa-apa.”

Aku mendesah, “Aku sudah cukup kenyang saat melihatmu makan.”

Beruntung masih ada kereta terakhir yang bisa membawa kami pulang ke Seoul. Perjalanannya tidak akan begitu panjang tapi aku sudah mengantuk. Sebenarnya aku mau saja memejamkan mata sepanjang perjalanan, tapi melihat si playboy ini sudah tertidur lebih dulu, kuurungkan niatku itu.

Mataku mendadak terbuka saat mendengar rintik-rintik hujan dan merasa suasana yang berubah dingin. Aku melihat ke luar jendela, “Hujan?”

“Ne, sepertinya kita akan kehujanan di Seoul nanti,” suara yang selalu bisa mengejutkanku. Aku menoleh dan melihat Donghae bersandar santai.

“Kau tidak tidur? Tapi tadi sepertinya kau tidur,” otakku berjalan agak lambat. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, “Sejak kapan aku tertidur?”

Donghae menggaruk kepalanya, “Aku terbangun saat kepalamu itu bersandar di pundakku. Kupikir ada batu yang menimpaku, tapi ternyata kepalamu lebih berat dari sebongkah batu.”

Aku memandangnya bingung lalu menemukan jaketnya menyelimuti tubuhku, “Ige mwoya?”

“Itu jaket. Apa kau masih setengah tidur sampai lupa nama benda ini?” godanya. Aku tersenyum pahit. “Kau terus mengigau, bilang ‘dingin.. dingin..’ sampai aku tidak tega. Jadi kulepaskan saja jaketku. Wangi kan?”

Aku menggeleng kuat-kuat tapi sepertinya aku memang bisa mencium wangi tubuhnya lewat jaket ini. “Kita belum sampai?”

“Sebentar lagi,” Donghae melihat jam yang terikat di pergelangan tangannya.

Donghae membiarkanku berselimut dengan jaketnya sepanjang sisa perjalanan. Setelah sampai di stasiun pun hujannya belum berhenti. Tanganku menengadah ke langit, “Bagaimana ini?”

“Haejin-ah, pegang tanganku,” Donghae mengulurkan tangannya. Biasanya, Lee Haejin yang normal akan langsung menepis tawaran ini. Tapi sepertinya ini adalah Lee Haejin yang setengah tidak sadar dan sedikit gila. Tanpa ragu, aku menyambutnya. Aigo~

Aku mencibir kesal, “Kukira kau mau mengajakku memanggil taksi dan pulang, tapi ternyata kau malah menyekapku di box telepon umum begini.”

“Ya~! Maksudku kan supaya kita bisa menelepon Hyukjae, biar dia dan Jiyoo yang menjemput kita,” elaknya. “Lagipula ini romantis. Di luar sana hujan, dan kita hanya berdua disini. Hebat kan?”

“Berhenti mengoceh,” telingaku berkonsentrasi pada nada sambung di ponselku. “Yeoboseyo? Hyukjae-ya?… Kami kehujanan, jemput kami sekarang… He? Pakai apa? Taksi, bodoh… Mm, jangan tinggalkan Jiyoo sendirian, dia tidak berani sendirian… Ne, noona tunggu… Ne,” kututup flap ponselku. Sekarang aku bisa menarik napas lega.

Mata Donghae menyipit, “Ahh~ kau sama sekali tidak punya jiwa romantis.”

“Aku punya. Tapi sangat sayang kalau kutunjukkan pada playboy kacangan sepertimu,” cibirku. Tiba-tiba Donghae menarik tanganku. Membuatku terdorong ke salah satu sisi box kaca ini. “M-mau apa kau? Jangan macam-macam, atau-“

“Atau apa?” Donghae memandangku dengan tatapan lirih. “Berhentilah menolakku. Aku lelah, Haejin-ah. Aku lelah menjadi orang lain hanya untuk menarik perhatianmu.”

Aku memekik agak nyaring tapi tidak cukup nyaring di tengah hujan ini. “Kau ini bicara apa? Lepaskan tanganku. Kau menyakitiku!”

Donghae tetap memandangku sedih. “Mianhaeyo.” Ia berpaling dariku. Sama sekali tidak berani menatapku lagi.

“D-donghae-ya? Gwaenchanha?” harus kuakui untuk kesekian kalinya, aku khawatir padanya. “Mianhae, aku hanya terkejut. Donghae-ya?”

Ia sama sekali tidak menjawabku. Aku juga tidak berani bicara apa-apa lagi. Sekarang aku hanya bisa mencerna ucapannya barusan. Apa maksudnya?

Setiap aku di dekatmu, kau tidak merasa. Setiap aku bicara denganmu, kau sama sekali tidak peduli. Ahh~ aku sampai harus menjadi playboy kacangan supaya kau bisa melihatku.

Berhentilah menolakku. Aku lelah, Haejin-ah. Aku lelah menjadi orang lain hanya untuk menarik perhatianmu.

“Aku tidak suka Lee Donghae yang berpura-pura,” kata-kataku membuatnya sedikit mendongak. “Aku suka Lee Donghae yang manis, yang suka anak kecil, dan selalu tersenyum ramah, bukannya senyuman memuakkan ala playboy.”

Donghae mulai mengangkat wajahnya. Tapi tetap saja dia tidak mengatakan apa-apa.

Mataku mencoba memandangnya lebih lekat, “Sekarang aku tahu kenapa aku sering marah padamu.” Donghae mengerutkan kening. Aku tersenyum, “Karena kau selalu pura-pura. Kau bukan Donghae, kau hanya playboy yang mengaku bernama Lee Donghae. Padahal kau tidak pernah cocok menjadi playboy.”

“Memangnya kau bisa tahu saat orang lain berpura-pura? Kau ini kan tidak peka,” Donghae bersikeras.

“Aku tidak peka karena aku tidak bisa merasakan Lee Donghae yang palsu. Aku baru sadar waktu kau bersama Jiyoung tadi siang,” jelasku. “Saat itu aku memang menemukan Donghae yang dulu. Lee Donghae, tetangga apartemenku yang menyenangkan.”

“Itu karena kau selalu mengabaikanku. Lee Haejin baru memarahiku saat aku bersama gadis-gadis lain,” ujarnya polos.

“Memangnya aku harus bagaimana? Hyukjae bisa mengolok-olokku kalau aku bersikap genit padamu,” ujarku lirih. Aku hampir berteriak padanya. “Aku menyukai tetanggaku yang manis!”

Kemudian mataku melihat pintu box terbuka, “Eonni?”

“Omo~ Jiyoo? Hyukjae?” dengan susah payah aku menelan ludah. “K-kalian sudah lama disini?”

Hyukjae tersenyum aneh, “Lumayan. Sejak noona bilang suka pada tetangga yang manis. Nugu? Donghae?”

“B-bukan!! Mana taksinya, ayo pulang,” aku berjalan cepat menembus hujan lalu masuk ke dalam taksi. Aigo~ mau ditaruh mana mukaku ini? Gara-gara Lee Donghae, Hyukjae dan Jiyoo akan punya korban penganiayaan mental selama seminggu kedepan!!

-TBC-

46 thoughts on “Amore Cafe 3rd cup

  1. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~
    ini couple juga romantis *die*
    gile, ni hari penuh cerita romantis xD
    4th cup–I’m waiting~

    p.s : entah knpa aku jadi ngefans sama jihyuk couple — abaikan xD

  2. jiyoo beneran kembali ke jalan yang lurus(?) deh…😄
    kayaknya jiyoo ama hyukjae ntar bakal sekongkol buat ngebantai haejin deh…
    abis beneran dy…😄

    berhubung aku bingung mau komen apaan lagi gara” komen 5ff sekaligus…
    aku tunggu lanjutannya aja deh…
    sms yo…😄

  3. walopun dah baca n komen di blog sebelah, tp kurang lengkap kalo lum komen disini kekekekekeke…

    gue suka kata2 donghae yg ini
    “Setiap aku di dekatmu, kau tidak merasa. Setiap aku bicara denganmu, kau sama sekali tidak peduli. Ahh~ aku sampai harus menjadi playboy kacangan supaya kau bisa melihatku.”

    mo curcol, gw jg pernah cari perhatian ama cowok tp dgn cara ngajak dia berantem mulu *untuk gw ga jd playgirl kacangan* kekekekekeke

    • Semua reader kayanya mula jatuh cinta ama donge di kata2 itu dehh~😄
      Tapi emang ga tau kenapa kepikiran cara konyol kaya gitu buat karakternya hae. -.- Pluss… kayanya cara kaya gitu juga sangat manusiawi. Tuhh buktinya dirimu pake.😄
      Makasihh uda komen yaa~🙂

      • gw make jurus itu dulu pas waktu masih kuliah, skrg mash dah ga suka lagi cos dah ga pernah lg jumpa am tuh mahluk kekekekeke*curcol again*

        btw kpn2 bikin FF ttg kibum dunk, gw kibum bias soale hehehehehehe😉

        gomawo…

  4. tuh kan…
    heartbroken lagiiiii~~~
    my nemo sama orang laen.. T___T
    hah.. yasudahlah.. sekarang kan lagi ama minoo~

    tp suka kok ceritanya.. =D
    meskipun sama orang lain.. cerita bang bonge tetep bikin ktwa2 gaje..

    JiHyuk!!! cepetan jadian~~~~
    4th cupnya ditunggu…

    p.s. kalo ngepost ff lagi bilang2..

    • Mian deh Vie, ini kan project ama author di sjff. Dadakan.😄 Ini juga Haejin yg sama di ToPnya Icha.
      Hehehe~ ini aja uda di protes temenku gara2 ternyata lebih cepet terbit d sjff. Miaaan. ><

  5. iyaaa~~ tenang ajaa..
    disini juga si donge d.anggurin..
    aye kan lagi cintaaaaaaaa~~~ banget ama bang minoo~~..😄

    lah? kok bisa duluan terbit di sana??
    aneh~~

    • Berbahagialah ama bang mino~😄
      Gini, kan emang uda ngirim email ke adminnya, lah beliau ga sms kalo mau di publish, biasanya aku post barengan, jadi temenku biar bisa baca disini aja. Pas ditanya, beliau lagi ga ada pulsa katanya.😄

  6. huwee~~
    trharu liat donghae n haejin..
    bg donghae, sjak kpn sih kao jdi playboy gara2 cwek ? kubilang am emak mu yah..*sok2 dkat dgn donghae* *d amuk am istri2 na*

    suka..suka..part ini.
    lnjut yah ! d tnggu^^~

  7. ini semua jadi romantisssss!
    Aduh saya senyum senyum sarap ._.
    Anggung jawab onn bikin saya gilaaaa…
    Ahhhhh ini bukannya belajar biologi malah baca ff xD
    wkwkwkwk,lanjut next chap deh ._. Jantung udah naik turun deg2an gmn kelanjutanyaaaaa

  8. Huwaaaa ikanku….kerennnnn kata kata rayuannya membuat qw merinding disco cr selimut *eeehhhhh …..
    aku bisa masuk pintj rumah semudah memasuki hati gadis *kakkaka gombalan yg bwtmual …….
    akhrnya haejin dah jujur ama hatinya dah…. Moment telpon box yg indh……
    lanjuuttty next chaptr

  9. wuahahahaha . . . . . . . udh mNdingn hae ma haejin jd’n aj, sMa” suka jg, hihihi. :p
    and hyuk jd’n ma jiyoo,, psNgn aneh sMua,,
    aigoo, jiyoung bikin orng gemes aj, kna kau lee hyuk jae .. hihihi🙂
    Next Chapt ..!

  10. Jangan2 haejin juga suka sama donghae oppa , uwaaaah selamat oppa , perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan .
    Tinggal jiyoo sama hyukjae kalau gitu🙂

  11. wah,, lebih banyak haejin-donghaenya… Tapi seru kok..
    I’ll be waiting for jiyoo-hyukjae story and it must be really romantic as always… ^^

  12. hahaha …jihyuk nguping eonnix *last scane

    suka bgtttt apa nnti merk jdian ..woooahh penasaerang …
    part ini px haejin n donghae yg lainx numpang *lol…

  13. gaya tulisan’y keren bisa narik minat reader buat terur baca n nunggu kelanjutan’y,,, DAEBAK CHINGU!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s