Paparazzi in Love [Jiyoo’s Afterstory]

Paparazzi in Love [Jiyoo’s Afterstory]

====================


Jiyoo’s PoV

Berulang kali aku menggigit bibir bawahku dengan cukup kuat. Setelah merasa semua kekuatanku musnah, kututup laptop hitam di depanku dengan agak kasar. Aku bergumam, “Kau benar-benar mau mengujiku?”

Tubuhku bersandar di sofa. Berharap bisa menenangkan diri sedikit. Tapi hasilnya nihil. Pandanganku menjadi kabur saat aku menatap langit-langit apartemen. Kilasan video tadi malah tidak mau hilang dari otakku.

“Waahhh… Super Show dengan banyak aksi pamer abs!!” telingaku tidak sengaja mendengar obrolan beberapa paparazzi di samping studio tivi. Kuputuskan untuk berhenti sebentar.

Yang lainnya merespon dengan tak kalah antusiasnya. “Eunhyuk oppa daebak~~! Aksinya bisa membuat seluruh gadis menjadi gila!”

Kekeke~ aku tertawa dalam hati. Tentu saja daebak. Eunhyuk adalah yang terbaik. Diam-diam aku merasa bangga dengan pujian yang ditujukan padanya.

“Bersama Donghae oppa menyanyi solo, aigo~ super seksii!!” puji salah satu dari mereka lagi. “Mereka berhasil membuat banyak gadis terpesona.”

Ahh~ pujian dimana-mana. Aku baru akan meninggalkan gerombolan paparazzi itu saat telingaku mendengar yang lain menambahkan, “Sayangnya, kenapa harus semesra itu dengan dancer wanita? Aku patah hatii.”

He? Apa katanya? Dancer… wanita? Kubatalkan niat angkat kakiku.

“Ne~ aku sudah lihat videonya, banyak gadis yang berteriak histeris saat dancer itu menyentuh EunHae,” ucapan yang satu ini hampir membuatku berteriak. Untung saja aku langsung membungkam mulutku.

M-menyentuh?

Begitu penasarannya dengan aksinya bersama sang dancer, aku malah langsung mencari videonya. Jiyoo-ya babo~!! Sekarang keadaanku lebih buruk. Aigo~ kenapa dia bisa berbuat begitu? Selalu show-off! Kalau hanya sekedar pamer abs seperti promo kemarin, tidak masalah. Tapi ini… menyentuh wanita lain di depan banyak orang. Sama sekali tidak bisa dimaafkan!

‘Drrt… drrt…’ [Eunhyuk oppa😀 calling…]

Biasanya aku akan mengangkat teleponnya dengan penuh semangat, tapi kali ini, JANGAN HARAP! Aku menggerutu, “Telepon saja dancer seksi itu!”

Agak lama, akhirnya ponselku berhenti bergetar. Lihat saja, apa dia sadar kalau aku sedang marah. Beraninya bertingkah genit begitu! Cari matii~

‘Tok… tok…’

Alisku terangkat. Ada yang mengetuk pintu balkonku? Jangan-jangan maling? Aku baru saja mengambil payung panjang dan bersiap menyerang saat ada suara yang kukenal. “Jiyoo-ya, kau di dalam kan? Buka pintunya~”

Aku mendekat ke arah balkon, “Eunhyuk oppa?”

“Ne~ cepatlah, disini dingin~” ujarnya lagi. Begitu tirai kubuka, memang ada dia disana. Lengkap dengan senyum gusinya. Senyum seseorang yang seolah tanpa dosa. Eunhyuk langsung masuk dan merebahkan tubuhnya ke sofa begitu aku membuka pintu balkon. “Dingin sekali di luar.”

“Siapa suruh masuk lewat balkon? Masih ada pintu yang lebih wajar daripada memanjat balkon apartemenku di lantai 2,” sahutku dingin. Sedingin angin malam yang baru saja dia rasakan di luar.

Eunhyuk meregangkan otot. “Aku tidak suka cara yang biasa,” jawabnya. “Kenapa tidak mengangkat teleponku?”

“Sibuk,” aku melangkah ke dapur dan membawa segelas jus jeruk lengkap dengan es batu. “Minumlah.”

“Kau sedang marah ya?” Eunhyuk mengamatiku yang melipat tangan sambil berdiri. Begitu aku menggeleng, ia menghampiriku. “Kalau kau tidak marah, kenapa tega sekali memberiku minuman dingin padahal aku sudah bilang aku kedinginan?”

Aku membuang muka lalu mengangkat gelas tadi. “Kalau tidak mau minum, ya sudah.” Eunhyuk menahan lenganku, aku menoleh. “Apa?”

“Kalau kau marah, bilang saja. Jangan bersikap dingin begini,” ujarnya lemah. “Aku baru saja dari bandara, dan aku kesini mau melihatmu, bukannya diabaikan begini.”

“Marah? Ada hak apa aku untuk marah?” kuletakkan kembali gelas di tanganku dengan agak keras. “Apa Choi Jiyoo ini punya hak untuk marah pada Super Junior Eunhyuk? Marhae~ apa aku punya hak?”

Eunhyuk memandangku lekat-lekat. Keningnya berkerut heran. “Ini pertama kalinya kau memarahiku, apa aku berbuat salah?”

“Sudah kubilang aku tidak marah! Kenapa aku harus marah pada oppa? Oppa mau berbuat apapun di atas panggung, itu bukan urusanku!” bibirku bergetar saat berteriak. Mendadak rekaman video tadi terbayang lagi di mataku.

“Panggung?” ulang Eunhyuk. Ia mengangguk paham, “Kau melihat fancam Super Show kemarin?”

Dengan berat, aku mengangguk mengiyakan. “Karena itu, jangan meneleponku! Telepon saja dancer itu dan pulang ke rumahnya sana!”

“Jiyoo-ya,” panggilnya singkat. Eunhyuk tidak lagi memandangku. Ia menundukkan kepalanya. “Sebenarnya apa hubungan kita?”

Pertanyaan itu menusuk kedua telingaku. Mendadak aku sadar. Benar, kami tidak ada hubungan yang jelas. Lalu kenapa rasanya aku sangat marah dan kecewa saat melihat video itu?

“T-tidak ada,” sahutku pelan. “Benar. Kita tidak punya hubungan apa-apa. Karena itu… karena itu aku tanya ada hak apa aku untuk marah?” Kupaksa bibirku tersenyum lebar.

Eunhyuk menatapku datar. “Benar kan? Seharusnya aku yang marah karena tiba-tiba kau berteriak padaku.”

“Mianhaeyo,” ujarku singkat. Rasanya hatiku lebih kecewa saat mendengar hal ini daripada melihat jutaan videonya bersama gadis lain.

“Aku pulang saja ya, aku lelah.” Eunhyuk melangkah cepat menuju pintu apartemen. Tapi kemudian ia berhenti, “Begitu aku keluar dari sini, berarti aku sudah tidak punya alasan lagi untuk kembali kesini.”

Lidahku mendadak kelu bahkan untuk sekedar memanggil namanya kembali. Apa ucapannya itu serius? Apa dia benar-benar tidak akan kembali kesini? Kembali padaku?

Eunhyuk menarik napas panjang saat ia sampai ke dorm. Gadis itu sama sekali tidak menahannya. Dasar gadis kejam, pikirnya. “Hhh… kalau begini aku benar-benar tidak bisa kesana lagi.”

“Apa, hyung?” Eunhyuk baru sadar ada Ryeowook di meja makan. Kepalanya menggeleng. Ryeowook mengangguk paham lalu kembali melihat Eunhyuk, “Pergi kemana tadi? Dari bandara langsung hilang.”

“Pasti ke apartemen Jiyoo lagi,” ujar Donghae yang keluar dari kamar. Ia merebahkan tubuh di sebelah Eunhyuk, “Tidak menginap disana?”

“Tutup mulutmu,” cibirnya. Eunhyuk berbisik pelan, “Lagipula kami tidak ada hubungan apa-apa.”

Tapi tidak cukup pelan sampai terdengar oleh Donghae, “Katamu kau sudah bilang ‘saranghae’ padanya?” Eunhyuk mengangguk, Donghae mengangkat alis. “Apanya yang tidak ada hubungan? Itu namanya pacaran kan?”

“Yang bilang saranghae hanya aku, bukan dia,” Eunhyuk mengembuskan napas berat. Ia yakin perasaannya sudah tergambar jelas saat ia bersama Jiyoo, tapi gadis itu terus membuatnya bingung soal status hubungan mereka.

“Beberapa gadis memang tidak suka terikat,” ujar Donghae.

“Berarti tidak semua gadis suka pacaran?” kening Eunhyuk berkerut. Ia berpikir keras, bagaimana kalau Jiyoo adalah gadis yang seperti itu? Tidak suka pacaran. Lalu bagaimana nasibnya yang sangat butuh kejelasan ini?

Donghae mengibaskan tangannya, “Anii~ bukan begitu. Tidak suka terikat bukan berarti tidak mau pacaran. Mungkin Jiyoo sudah cukup bahagia saat kau bilang kau menyukainya. Memangnya kau tidak bisa melihatnya?”

“Apa?”

“Matanya itu berbeeeeda, bodoh~” ujar Donghae dengan yakin. “Saat menatapmu, setiap pandangannya itu seperti gadis yang selalu jatuh cinta.”

Eunhyuk mengangguk paham, “Karena itu dia marah saat melihat video itu.”

“Ne?” kali ini Donghae yang mengerutkan kening tidak mengerti.

“Super Show dengan dancer wanita itu, Jiyoo melihatnya lalu dia marah-marah padaku,” Eunhyuk berusaha mengingat wajah Jiyoo yang nyaris merah karena kesal. “Apa menurutmu dia memang menyukaiku?”

Donghae tersenyum lalu menepuk pundak Eunhyuk, “Kalau gadis sudah cemburu, berarti dia saaaaaangat memujamu.”

-the next day-

Baiklah. Aku sudah sangat salah begitu masuk ke dalam rumah ini. Bukannya membuatku tenang, Nara malah mengomel. “Sudah kubilang, terima saja Eunhyuk. Kau malah selalu mengabaikannya. Aigo~ Choi Jiyoo yang terhormat, sebenarnya dimana otakmu? Kalau begini, kau mau bagaimana? Lelaki itu punya harga diri yang tinggi, jadi ka-“

“STOP~~ kau tidak bosan menceramahiku begini?” aku menggerutu pelan. Haruskah aku bilang kalau aku datang padanya karena aku butuh pencerahan?

“Tapi memang sejak awal aku mau memarahimu. Kenapa kau bodoh sekali sampai menggantungnya seperti ini?” Nara mengetuk kepalaku dengan telunjuknya pelan.

Kepalaku mendongak ke langit-langit. “Aku takut memilikinya.”

“He? Mworagoyo?” ulangnya.

“Dia bukan lelaki biasa dengan seragam kantoran, dia itu idola. Memilikinya, seperti menggali lubang kuburanku sendiri,” napasku terasa sesak. “Setiap saat membaca di internet ‘my hyukie’, ‘suamiku’, bla bla bla. Aku sama sekali tidak siap.”

Kali ini Nara yang menarik napas barat. “Lalu kenapa kau marah semalam? Gara-gara penampilannya di atas panggung kan? Itu hanya semakin menegaskan, kau menyukainya.”

“Aku tidak suka. Tidak suka melihatnya begitu. Tidak suka dia disentuh atau menyentuh gadis lain,” kepalaku menunduk. “Ahh~ aku sudah seperti fan fanatiknya.”

Nara terkekeh. “Babo.”

Benar-benar tidak membantu. Selama disana, aku hanya memberi hiburan gratis pada Nara. Tampak sekali dia puas tertawa. Tapi kenapa kata-katanya selalu menggema dengan sangat jelas di telingaku?

Kalau kau mau jadi berbeda, katakan saja satu hal padanya. Saranghae.

Aku tertawa pahit. “Memangnya mengucapkannya semudah itu?”

Mendadak aku memikirkan kata-kata Eunhyuk. Apa dia tidak akan kembali? Ahh~ memikirkannya saja bisa membuat kepalaku luar biasa sakit. Aku menyukainya. Mencintainya, malah. Tapi bagaimana membuatnya mengerti? Ketakutan ini luar biasa besar. Aku takut mencintai idola sepertinya.

“Jiyoo-ya?” seseorang memanggil namaku ragu. Aku memutar badan dan melihatnya tersenyum ke arahku. “Ahh, benar! Annyeong~”

Tubuhku membungkuk singkat. “Annyeong haseyo, Donghae-ssi.” Keningnya berkerut. “Waeyo?”

“Kenapa tidak ada panggilan ‘oppa’ untukku?” tuntutnya. Wajahnya agak kesal, tapi kemudian dia tertawa. “Arasseo. Hanya ada Eunhyuk Oppa dalam otakmu kan?”

“A-aniyo,” kepalaku tertunduk. Tak lama, mataku menangkap Donghae yang sendirian. “Mau kemana?”

Donghae menunjuk beberapa mobil yang agak besar. “CF. Sendirian. Tapi sudah selesai. Kau?”

“Mencari pencerahan,” ucapku spontan. Buru-buru kuralat, “Dari rumah Nara, maksudku.”

Lelaki di depanku ini mengajakku masuk ke salah satu mobil. Donghae memandangiku terus. Sepertinya dia mau mengatakan sesuatu. Atau memang dia tahu masalahku dan couplenya?

“Aku tidak suka dilihat begitu,” ucapku pelan. Tapi sepertinya Donghae mengerti dan mulai mengalihkan pandangannya. “Waeyo?”

Donghae mengangkat bahu, “Aku sudah tahu soal Hyukjae. Sudah kubilang padanya kalau kau pasti menyukainya, hanya saja-“

“Arayo. Dia adalah lelaki yang butuh kejelasan,” kutarik napas panjang. Memastikan udara yang kuhirup bisa membuatku lebih tenang. “Tapi aku tidak, belum siap. Dia itu lelaki yang berbeda.”

“Semua gadis yang dekat dengan kami selalu takut pada kata ‘idola’ padahal kami tetap manusia biasa,” ujarnya lirih. “Seorang gadis juga menolakku gara-gara ini. Jiyoo-ssi, apa menjadi idola itu sebuah dosa?”

Buru-buru kukibaskan tanganku, “Anieyo~ akulah yang aneh karena tidak pernah siap dengan semuanya.”

“Sebenarnya kau pernah bilang ‘saranghae’ tidak padanya?” tanyanya. Aku menggeleng lemah. “Kenapa tidak pernah bilang?”

Lagi-lagi aku menarik napas panjang. “Itu bukan hal mudah. Sudah kubilang aku takut. Kalau seandainya aku mengatakan hal itu, bagaimana kalau dia semakin menginginkan suatu kejelasan?”

“Tapi kau sadar tidak, dia malah seperti orang bodoh sekarang. Mencintaimu sepihak, tanpa ada respon yang jelas darimu. Itu menyedihkan, Jiyoo-ya,” Donghae membuatku menatap lurus ke depan. “Sekarang apa bedanya Lee Hyukjae yang seperti itu dengan seluruh fans wanitanya? Sama saja. Mereka sama-sama mencintai sepihak, tanpa ada balasan.”

Aku menatap jalanan kosong. Otakku berpikir keras. Berusaha mencerna omongannya tadi. Benar. Apa bedanya perasaan Eunhyuk dan jutaan penggemar fanatik yang mencintainya?

Eunhyuk kembali memainkan ponselnya. Tidak ada dering atau apapun dari benda itu yang menandakan ada yang mencarinya. Ia mendesah berat. “Apa dia memang tidak pernah memikirkanku?”

Tapi akhirnya rasa penasarannya lah yang menang. Ia mengambil kunci mobil dan melangkah cepat menuju mobilnya. Kali ini ia benar-benar harus menelan ludahnya sendiri. Gadis itu terlalu penting untuk diabaikan.

“Sekarang apa yang harus kulakukan?” setelah sampai di depan gedung apartemen gadis itu pun, Eunhyuk tidak berani turun dari mobil. Ia terus mengamati balkon kamar Jiyoo di lantai 2. Otaknya berdebat sendiri. “Apa aku harus masuk? Atau tidak?”

Kemudian matanya menyipit saat melihat bayangan seseorang dari tirai balkon kamar gadis itu. Bukan, bukan siluet tubuh Jiyoo. Sedetik kemudian ia sadar bahwa ada orang lain disana. Seorang pria.

Eunhyuk mendesis saat mengenali tubuh lain itu. “Donghae?”

Pandangannya tak lepas dari siluet yang familier baginya. Ada siluet lain disana, yang ini milik Jiyoo. Gadis itu benar-benar berada disana. Tapi tidak bersamanya. Jiyoo bersama Donghae. Segera diraihnya ponsel tipis dari sakunya.

Setelah menunggu nada sambung, seseorang menjawabnya. “Ne?”

“Kau ada dimana?” mata Eunhyuk tetap mengawasi sosok Donghae yang juga menempelkan ponsel ke telinganya.

“Na… syuting CF. Wae?” Eunhyuk hampir membanting ponselnya saat ia tahu sahabatnya itu berbohong.

Tapi ia berusaha menguasai diri, “Mau makan bersama? Aku lapar.”

“Mm… mianhae, Hyuk-ah. Aku sedang ada urusan sekarang. Lain kali saja ya?” ujarnya singkat. Eunhyuk tak menjawab dan langsung menekan tombol merah.

Gadis itu tidak membalas perasaannya, tidak menahannya keluar dari pintu itu, dan sekarang dia bersama pria lain di apartemennya. Eunhyuk sama sekali tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih normal selain Jiyoo menyukai Donghae.

“Aneh,” Donghae berkomentar singkat setelah menjawab telepon yang sepertinya dari Eunhyuk.

Aku menghentikan kegiatan corat-coret di atas kertas dan mendongak, “Waeyo?”

“Hyukjae, tiba-tiba menelepon, mengajak makan, begitu kubilang tidak bisa, dia langsung mematikan teleponnya,” ujarnya sambil memasukkan kembali benda mungil itu ke sakunya.

Alisku terangkat, “Apanya yang aneh? Bukannya biasa saja?”

Donghae menggoyangkan telunjuknya, “Ckckck~ biasanya dia akan merengek, memohon sampai aku bilang iya. Kali ini sepertinya dia agak aneh. Apa ada masalah ya?”

“Couple gilaa~ mungkin dia sudah menemukan teman makan lain,” komentar singkatku membuat Donghae menunjukkan wajah memelas. “Kenapa lagi?”

“Dia tidak mungkin suka makan dengan orang lain selain denganku,” ujarnya sok innocent. Aigo~ seseorang, tolong hentikan EunHae moment!!

“Aku pulang,” Donghae masuk ke dalam kamar dan melihat Eunhyuk yang duduk bersandar di tembok. “Kau kenapa?”

Eunhyuk menggeleng lalu memandang teman sekamarnya itu, “Kau kemana?”

“Syuting, lalu makan, dan pulang,” ujarnya santai. Ia melepaskan tas slempangnya dan duduk di sebelah Eunhyuk, “Tadi kau jadi makan di luar?”

Lagi-lagi Eunhyuk menggeleng, “Aku sudah tidak lapar.” Kemudian ia berbaring, “Aku lelah.”

“Ha? Ne, jaljayo,” Donghae mengerutkan kening melihat tingkah Eunhyuk. Baru kali ini sikapnya agak dingin. Apa dia baik-baik saja? Tapi tenanglah, sebentar lagi kau akan bahagia, pikir Donghae.

-the next day-

“SUDAH~~~” aku berteriak senang saat melihat karton yang tadinya berwarna putih polos ini sudah berubah penuh warna. Donghae menoleh dan melihat hasil karyaku. “Bagaimana? Bagus kan?”

Kepalanya menggeleng pelan, “Kau ini anak TK ya? Memangnya Hyukjae itu suka dengan tulisan yang ramai begini?”

“Ya~! Tapi paling tidak, ini adalah karyaku sendiri. Disini tercurah semuuuua perasaanku untuknya,” sesaat setelah ucapan aneh ini, Donghae menoyor kepalaku. “Kau ini!! Aku masih seorang gadis, kau tega memukulku?”

“Kalau tulisanmu hanya, ‘Eunhyuk oppa, saranghae’, apa bedanya dirimu dengan jutaan gadis yang datang ke Super Show?” dengusnya.

Aku mengembuskan napas berat. “Benar. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Bilang langsung aku tidak berani, menulis di kertas itu cara yang paling mudah. Ah, tidak juga, jantungku tetap berdebar cepat saat menulis ini.”

Donghae memandangiku aneh lalu tertawa, “Kau ini benar-benar menyukainya ya?”

“Kalau tidak, apa mungkin aku terus frustasi begini?” kutiup poniku yang panjang. Kemudian aku balik menatap Donghae, “Tanyakan soal ini.”

“Apa?”

Telunjukku terarah pada kertas yang berserakan di lantai, “Ini~ bawa ini satu, tanyakan padanya, apa dia bisa mengerti perasaan yang tertulis disini.”

“Kau ini benar-benar kekanak-kanakan. Pantas saja Hyukjae sangat menyukaimu,” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tetap mengambil selembar kertas hasil karyaku. “Aku tidak tahu kenapa aku mau membantumu sejauh ini.”

“Ahh~ Lee Donghae adalah pria yang sangat bijaksana, penolong, dan baik hati,” kukedip-kedipkan mataku ke arahnya.

Donghae mendengus, “Aku tidak butuh pujianmu. Akan kucoba menunjukkan kertas TK ini padanya. Kau puas?” Ia bangkit dan melangkah keluar apartemen.

“Kertas TK apa, itu hasil karyaku,” kupukul pundaknya pelan.

“Setidaknya orang seumurmu bisa membuat yang lebih berkelas dibanding dengan coretan ini,” ejeknya lagi.

Aku melotot, “Ya~! Milikmu itu sama sekali tidak lebih baik dariku. Lihat saja kertasmu itu, gambar hati dipadukan dengan matahari, lalu ada gambar wajah terseny-“

Donghae membekap mulutku, “Berhenti mengoceh!!”

Mataku menghadap ke layar televisi tanpa berkedip. Diam-diam senyumku terkembang saat melihatnya ada disana. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya? Tidak bicara dengannya? Aku merindukannya.

Kuangkat ponselku dan kucari namanya. Pikiranku berdebat agak lama, “Telepon? Atau tidak?”

Tapi kemudian aku terkesiap saat benda ini bergetar. [Lee Donghae calling…]

“Mm? Mau apa orang ini meneleponku?” jariku menekan tombol hijau sebelum kutempelkan ponsel ke telingaku, “Yeoboseyo?”

“Jiyoo-ya,”

“Jiyoo-ya,” suara itu membuat Eunhyuk menoleh cepat. Donghae yang memunggunginya tidak menyadari kehadiran Eunhyuk. “Soal kertas itu, berjanjilah jangan marah… Begini, kertasnya basah…” Seketika itu Donghae menjauhkan ponselnya. Sepertinya gadis di ujung telepon itu berteriak. “Arayo… Mianhae, tadi aku tidak sengaja menumpahkan air ke atasnya… Mm.”

Eunhyuk memutuskan tidak mau mendengar lebih banyak lagi. “Kertas?” gumamnya.

Dengan cepat, ia masuk ke kamar dan menemukan gulungan karton putih di pojok ruangan. Kertas itu agak lusus. Apa kertas ini? pikirnya.

Tangannya membuka gulungan itu dengan hati-hati. Tapi setelah melihat isinya, ia malah ingin merobek kertas itu. Napasnya berubah tak beraturan karena kesal. Ia mengepal telapaknya kuat dan berdesis, “Bagaimana bisa mereka melakukan ini?”

Pandangannya mendadak kabur tapi tulisan itu tergambar jelas di matanya. ‘Sarang hae. Choi Jiyoo.’

Malam ini aku kesal dan senang pada saat yang hampir bersamaan. Kesal, karena pria bernama Lee Donghae bilang kertas itu basah dan setengah rusak sebelum ditunjukkan pada Eunhyuk. Tapi dengan cepat perasaanku berubah drastis saat Eunhyuk kembali menghubungiku.

“Aku akan ke apartemenmu sekarang. Jangan kemana-mana,”

Dengan cepat, aku mengecek isi lemari es. Kepalaku menggeleng-geleng, “Tidak ada makanan apa-apa? Aigo~” Tapi kemudian aku menghidupkan kompor dan merebus air. “Teh saja. Di luar kan dingin.”

Selama 30 menit aku sibuk merapikan isi rumahku. Teh yang kusiapkan juga sudah dingin. Setiap 5 menit, aku pasti melirik jam dinding. Sesekali kulipat tanganku di dada. Otakku menebak-nebak, kenapa masih belum datang?

Lima menit berikutnya, kuambil jaket yang tergantung di balik pintu kamar dan aku melangkah keluar apartemen. Sepertinya aku memang tidak bisa berhenti mencemaskannya. “Akan kutunggu di luar.”

Dingin. Sangat dingin. Berulang kali kugosok-gosokkan tanganku yang terus bergetar karena kedinginan. Mataku menyapu sekeliling, tapi aku tidak melihat mobilnya dimana pun. Badanku bersandar di dinding kemudian aku berjongkok. Sesekali kumainkan hembusan napasku yang putih karena udara dingin.

Eunhyuk memerhatikan Jiyoo dari balik pohon. Gadis itu sibuk bolak-balik di kamarnya. Kali ini ia tidak memarkir mobilnya di depan apartemen. Ia sengaja membuat gadis itu merasakan kegelisahan yang sama sepertinya. Rasa gelisah saat ia terus menunggu gadis bernama Choi Jiyoo.

Tapi kemudian Eunhyuk tertegun begitu melihat Jiyoo keluar dari apartemennya. Gadis itu menggosok-gosokkan tangannya sambil sesekali mendongak ke jalanan. Sepertinya Eunhyuk tahu apa yang ditunggunya. “Mencari mobilku, Jiyoo-ya? Aku tidak selemah itu.”

Ia mendapati Jiyoo mengembuskan napas putih. Kemudian ia menggumam, “Masuklah. Di luar sangat dingin kan?” Tapi tiba-tiba kakinya melangkah cepat tanpa sadar saat gadis itu bersin. Eunhyuk menarik lengan Jiyoo kuat, “Kenapa malah menunggu di luar? Ayo masuk.”

Tubuhku mendadak beku saat tiba-tiba Eunhyuk muncul entah darimana dan langsung menarik lenganku. “Kenapa malah menunggu di luar? Ayo masuk.”

“Oppa sudah disini sejak tadi?” itulah pertanyaan pertama yang muncul saat kami masuk ke apartemen. Eunhyuk hanya diam dan tidak memandangku. “Mau mempermainkanku ya?”

Lagi-lagi ia tidak menjawab. Tapi kemudian ia duduk di sofa, “Kenapa tidak pernah bilang?”

“He? Apa?” kulepaskan jaketku dan kuambil teh yang sudah kusiapkan. Aku duduk di sampingnya, “Ini. Teh –yang tadinya- hangat. Oppa terlalu lama, sampai dingin begini. Mianhae.”

Tanpa komentar, ia menyesap tehnya. Eunhyuk memandangiku lagi, “Kertas itu dan Donghae.”

“Ah! Oppa melihatnya?” pekikku nyaring. “Donghae-ssi merusaknya. Pasti oppa kecewa ya?”

“Kecewa? Tentu saja aku KECEWA!” bentaknya. Aku terperanjat melihatnya begini. Eunhyuk sangat marah, sepertinya. Pasti Lee Donghae tidak menjelaskan kesalahan yang sudah dilakukannya.

“M-mianhaeyo. Memangnya kalau kertas pernyataan cinta untuk oppa itu rusak, oppa benar-benar kecewa? Donghae-ssi babo~” aku mengomel sendiri.

“Tentu saj-“ raut wajah Eunhyuk berubah. “Mworagoyo? Kertas pernyataan cinta untuk siapa?”

Aku mengerutkan kening, “Untuk oppa. Aku membuatnya sebisaku, tapi kata Donghae-ssi, kertasku seperti coretan anak TK. Padahal buatannya tidak lebih bagus dariku.”

“Donghae? Kau membuatnya bersama Donghae?” kali ini Eunhyuk benar-benar tampak bingung sendiri.

“Mm. Sudah 2 hari ini dia mengajariku cara menyatakan cinta lewat kertas,” jelasku. Lalu buru-buru kutambahkan, “Karena aku tidak bisa bilang langsung, jadi kupikir lewat kertas akan lebih gampang.”

Eunhyuk menggaruk pipinya, “Jadi itu untukku?”

“Memangnya untuk siapa lagi? Siapa yang bilang butuh balasan kata ‘saranghae’?” aku menarik napas panjang dan mengembuskannya. “Meskipun aku belum sepenuhnya siap, tapi ternyata aku lebih tidak siap melihat oppa keluar dari pintu itu dan tidak kembali. Jadi, aku harap satu kata ini bisa menjelaskan perasaanku, aku mencintaimu, Lee Hyukjae.”

“Bodoh,” gumamnya pelan.

Aku mengomel, “Aku tahu aku bodoh, tapi setidaknya aku sudah berusaha membuat oppa senang kan?”

Eunhyuk mengacak rambutku pelan dan membenamkan tubuhku di pelukannya, “Akulah yang bodoh. Aku sudah menjadi orang paling bodoh saat mencintaimu. Choi Jiyoo-ssi, aku lebih mencintaimu.”

Kulepaskan pelukannya pelan, “Tapi bukankah oppa sudah cukup bodoh sebelum mencintaiku?”

“Berhenti merusak suasana,” Eunhyuk mengomel.

-THE END-

====================

[epilog]

“Mworagoyo? Aku? Selingkuh dengan Donghae-ssi?” aku nyaris berteriak saat Eunhyuk bilang begitu setelah pengakuan cintaku. Tapi kemudian aku terkekeh, “Darimana datangnya pikiran menggelikan begitu?”

Eunhyuk tersenyum pahit. “Aku melihat Donghae ada di apartemenmu. Saat kutelepon pun dia malah berbohong padaku. Lalu kertas itu.”

“Kertasnya kenapa? Bukannya itu sudah jelas pasti untuk oppa?” keningku berkerut.

“Tulisannya,” ujarnya singkat.

“Tulisannya kan ‘Saranghae. Choi Jiyoo’. Lalu?”

Wajah Eunhyuk berubah kesal lagi, “Tulisannya itu ‘Sarang Hae’ secara terpisah. Lalu ada namamu disana. Kupikir itu berarti kau mencintai Hae.”

“Jinjjayo? Memangnya aku menulis begitu ya?” aku berusaha mengingatnya. “Tapi sepertinya aku sudah menulis dengan benar. Mungkin aku yang salah, mianhae~”

“Jangan tersenyum tanpa dosa begitu. Kau membuatku nyaris kena serangan jantung,” omelnya.

Tubuhku bergerak sendiri dan kukecup pipinya. “Maaf. Saat itu tanganku memang sedang tidak bisa diajak kerja sama. Otakku ini sudah rusak karena terus memikirkan Lee Hyukjae.”

====================

51 thoughts on “Paparazzi in Love [Jiyoo’s Afterstory]

  1. shelaaaaaaaa….
    knapa kau membuat bang donge ku jadi begini??
    haduh..

    ckck..
    eniweii.. chukkae yaaa.. akhirnya jadian juga dah tuh.

    mian ya shel, jarang komen2..
    abis tiap mu komen.. log.nya sellau bukan yg aku..
    ntar kalo komen.. di sangkanya orang laen..
    tapi aku baca semua yg di post di sini kok..😄

  2. whuuaa! Mampir ke blog kak shela ada postingan baru >.<😀

    Entahlah rasanya scene unyuk tiba2 muncul di balkon kayak edward cullen mampir ke kamar bella
    Hahahaha~~😛

    Unyuuk~ aku suka kalau kamu udah jeles' (plak!)

  3. waaaaaa…………….

    ahirnya mreka jadian jg..
    Jiyoo-ah, chukae dah jadian ama hyukjae
    hahahahahahahhahahaha

    like this chap…

    • IYA~~! Aku beneran lagi curhat pas liat video ss3 yg itu. Tapi ini sebelon aku stres liat foto yg kemaren bikin aku mewek.😦
      Lagian tu toge ngeselinnya minta ampun. Dari kemaren mood-ku dibikin turun mulu~

      • hahahahaha…
        kamu curhat beneran???
        tapi emank kalo aku baca ini ff kayak diary bukan ff beneran deh…😄
        jangan” besok” kamu mau post curhatan lagi yang liat foto kemaren…😄
        gag papa deh kalo curhat kayak gini…
        kreatif kamu shel,,, kreatif…🙂

        itu dia masi jadi toge shel…
        coba kalo udah tumbuh gede???
        ngeselinnya kayak gimana coba… *disambit labu*

      • Hehehe~ tergantung feeling itu mah onn. Kemaren emang lagi keseeeel gara2 video. ==a Soal foto, males banger aku inget2 feelingku waktu itu. -.- Toge oh toge~ Nyebelinnya naudzubilah.

      • kalo kemaren lagi kesel kayaknya sekarang lagi happy banget ya???
        makannya jangan dikasi makan toge terus…
        jadi gitu kan dy???
        ganti kasi makanan yang laen juga…
        ikan teri misalnya???😄

  4. Ejiee~ JiHyuk so sweet deh! Author jago nih bikin yang sweet begini! Haha bagusbagus =))

    Ohiya, sekalian nih MWL-nya dong Onn, part terakhir nih~ Jangan biarkan aku larut dalam rasa penasaran~ T.T *lebe* ^^v

  5. dari kemaren saya ga berani liat adegan stripping nyanyi solo unyuk ama si ikan😄
    takut ikutan sakit hati (?)

    nulisnya setegah hati ga?
    secara, saya juga, abis liat perf jun-chan (xiah junsu) xiahtic langsung down abis =.=

    • Hiksu~ *ngelap ingus*
      Sakit ati lahh, tapi ya kaya yg Jiyoo bilang, penasaran, makanya donlot. Hasilnya? Ya kaya Jiyoo juga. Uring2an. -.- Pokoknya disini mah curhat abis2an.
      Stengah hati sih ga, soalnya justru gara2 video itu makanya nekat bikin ni ff. ><

  6. anyyeong…reader baru disini🙂
    aku udh baca partnya di sujuff!
    Kyaaa~keren banget after storynya!bikin lagi!*plakk hehehe
    Salam kenal buat author🙂

  7. Onnie !! I’m coming!?
    …”aku tidak suka cara yang biasa”… Entah knpa z suka bgt unyuk blg kyk gi2. Kesannya romantis2 menantang {?} makin cnta saia ma hyuk*popo~~
    Onn, mian bru koment skrg >,<……pdhal z dah prnh bca ff disini tp z gx tw klu onnie benci SR. Tp mumpung jaringan lage baek ma saia jd z usahain koment*curhat deh saia*
    Ff onnie emank selalu keren! TOP BGT !!

  8. wooh~ aku lagi iseng pergi kesana sini *boong! daritadi juga didepan lappy* tiba tiba ketemu blog ini dan…. ada afterstory-nya jiyoo~ AAAAAAAH!!! *girang*

    dari semua cerita jihyuk, aku emang paling suka mereka di PiL. eunhyuk keliatan lebih dewasa gitu kkekekee~ dan masalahnya tuh kompleks banget, bikin aku gregetan bacanya. coba dibikin novel atau film-nya yaa <–banyak nuntut /PLAK

    ohya eonni, WMLnya dilanjutin ya. ntar kalo udah complete baru aku baca semuanya terus aku komen satu satu tiap part kkekekee <–bawel amat!

    • Iyaa~ akhirnya mutusin bikin afterstorynya, lebih buat diri sndri sihh~😄
      Jyahh.. mana ada yg mau bikin film/novel, tulisan kacangan gini. ><
      Tapi makasihh banget buat dukungannya. *bow*😀

      MWL akan segera lanjut, mudah2an. Soalnya hyukie alias lappy eonni uda sembu~~h.😀
      Makasihh yaa~🙂

  9. HOREEEEEEEEE \^^/
    AKHIRNYA JADIAAAAAAAAAAANNNNN ^^

    tapi lagi-lagi kudu disadarin sama salah satu member dulu ~~~
    ckckckck ~~
    Hyukjaeeeeeeeeeee ><
    mesti raguuuuuu ~~ langsung embat (?) aja napaaaaaa ???😀
    1 kata K E R E N eonni ^^

  10. waaaaaaaaaaaa…. happy ending semuanya…..😀
    aku suka semua yg happy ending…. xD
    ditunggu lg yg lain ya shel… <3333

  11. cieeeeeeeeee….. ternyata mulai dari sini story nya…. *ngangguk2…
    ketauan banget barunya….. heheheeh
    keep writing eonni..🙂😀

  12. aigo~ jiyoo so sweet bgt, pasti ketularan dongek oppa ya?😄.. akhirnya eunhyuk oppa ga galau lg krn jiyoo udah ungkapin prasaan sukanya😀..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s