Amore Cafe 2nd cup

Amore Café -2nd cup-

====================

Jiyoo’s PoV

Kedua bola mataku bersinar cemerlang saat melihat pria keturunan Amerika-Cina bernama Henry Lau bersandar di samping mobilnya dan menungguku. Ia tersenyum manis. “Kau selalu cantik, Jiyoo-ssi.”

“Sunbaenim~” aku berjalan mendekatinya. “Mau kemana kita?” Dengan cepat kukalungkan lenganku ke lehernya.

Henry mengelus pipiku lembut, “Dinner super romantis. Kau suka kan?”

Melihatku mengangguk senang, ia mengangkat dagu lancipku. Wajah kami menjadi lebih dekat sekarang. Saaaaaaangat dekat. Mataku berkedip berkali-kali sebelum aku sadar bahwa dia akan… menciumku? Uwaa~ my first kiss!!

“YA~! Pria blasteran sombong!!” suara menyebalkan ini… Aigo~ Lee Hyukjae? Dia berjalan ke arahku dan Henry, “Jangan usik cintaku!!”

Henry memandangiku aneh, “Kalian pacaran?” Rasanya aku ingin menggeleng kuat-kuat, tapi tidak bisa!

“Bukan. Dia bukan pacarku,” untung saja Hyukjae segera menjawabnya. “Dia adalah calon ibu dari anak-anakku!” HA? MWORAGO??

Henry tersenyum lembut lalu melepaskan tanganku, “Sepertinya aku sudah mengganggu kehidupan kalian.”

“A-aniyo! Sunbaenim, bukan begitu!!” aku berusaha menahannya pergi, tapi Henry sudah terlanjur meninggalkanku. “Henry sunbaenim~~!!”

“Jagiya~ ada aku disini,” Hyukjae menarik tanganku lalu perlahan wajahnya mendekat. Ahh~ aku tidak mau dicium olehnya. Kenapa badanku kaku sekali? Siapapun, TOLONG AKU~~!!

“NOONA~~~~!” teriakan itu membuatku langsung membuka mata lebar-lebar.

Aku duduk lalu melihat sekeliling. “Kemana makhluk jadi-jadian itu?”

Jiyoung memandangku aneh dari samping ranjang. “Noona, kau kenapa? Mimpi buruk?”

“Mimpi?” ulangku pelan. “Hanya mimpi? Syukurlaah~~” Mataku kembali menatap Jiyoung, “Ada apa, Jiyoung-ah?”

“Noona tidak mau sekolah?” pertanyaan yang sederhana, tapi berhasil membuatku terbelalak. Aku kelabakan mencari ponsel yang entah ada dimana. Jiyoung tampak prihatin pada noona-nya, “Sudah jam 7 tepat.”

“OMO~~ Mati aku!!” dengan cepat, aku meluncur ke kamar mandi. Setelah mandi dengan kecepatan super maksimum, aku memasang dasiku di depan cermin. Aku menggerutu kesal, “Gara-gara Lee Hyukjae!!”

“Jiyoung-ah, patuhlah pada  ahjumma, oke?” pesanku singkat pada Jiyoung. Badanku membungkuk singkat pada Park ahjumma, “Maaf merepotkan lagi, ahjumma.”

Park ahjumma mengibaskan tangannya. “Aigo~ jangan sungkan, Jiyoo-ya. Sudah berapa lama kau mengenalku? Jiyoung-ah, beri salam pada noona-mu.”

“Noona, annyeonghi gaseyo~~” Jiyoung membungkuk sopan lalu mengarahkan telapak tangannya ke arahku, “Hi-five!!”

Aku tertawa dan menyambut uluran tangannya. “Hi-five!! Annyeong~”

Begitu meninggalkan Jiyoung dan menitipkannya pada Park ahjumma, aku berjalan –berlari, tepatnya- ke arah pemberhentian bis. Aku tidak boleh terlambat hari ini!

Ahh~ tapi ternyata aku terlambat sedetik. Bisnya meluncur saat aku sudah melihatnya. Mau tidak mau aku harus berlari –lagi- untuk mengejarnya, “YA~~! Hentikan bisnya!!”

‘CKIIT~’

“Naiklah, agashi,” sang supir mempersilahkanku masuk. Aku membungkuk hormat tanda terima kasih. “Bilang terima kasih juga pada pacarmu itu, dia yang berteriak memintaku menginjak rem.”

Aku melongo heran. “He? Pacar?”

Supir itu menunjuk seorang pria di kursi belakang, “Itu, pacarmu kan? Dia melihatmu berlari mengejar bis, makanya dia panik dan memintaku menghentikan bis ini.”

“Lee Hyukjae??” aku memekik nyaring begitu melihat sosok yang sama dalam mimpiku. Sosok menyebalkan yang selalu membuntutiku.

Hyukjae tersenyum lebar saat melihatku, “Annyeong~ kau kuat sekali berlari ya.”

“Aish~ kau mengejekku?” aku duduk di kursi yang ada di depannya. Mengingat mimpiku semalam, aku tidak akan mau duduk bersebelahan dengannya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Menunggumu naik bis. Kukira kau tidak masuk sekolah, tapi kemudian aku melihatmu berlari mengejar bis ini,” jelasnya. “Ahh, dan lagi, sekolahku kan dekat dengan sekolah putri Baehwa. Jadi, sekalian saja aku menemanimu naik bis ini.”

Aku terperangah mendengar jawabannya. Kutepuk-tepuk pipiku supaya aku segera normal. “Kau benar-benar ajaib. Tapi… terima kasih.”

“Jangan sungkan. Kita kan akan segera jadi pasangan kekasih,” ujarnya tenang. Aigo~ kembali lagi tingkah anehnya. Hyukjae mengeluarkan sebungkus roti dan air mineral, “Hadiah~”

Melihat ini, aku berdesis. “Sebungkus roti dan sebotol air seperti ini kau anggap hadiah?” Tapi mengingat aku yang tidak sempat sarapan, kuraih saja ‘hadiah’ itu. “Hadiah dalam rangka…?”

“Hari pertama kita menjadi rekan kerja di Amore Café~!!” teriaknya senang. Aku terlalu terkejut sampai tidak jadi menggigit roti strawberry di tanganku.

“Aku akan bekerja disini mulai besok,” ujar Hyukjae tiba-tiba.

Kusipitkan mataku lalu aku tertawa, “Teruslah bermimpi.” Tapi kemudian aku yang berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk. Hyukjae menyerahkan sebuah nametag bertuliskan Lee Hyukjae dengan logo Amore Café. Persis seperti milikku. “Ini… sungguhan?”

“Kau pikir aku ini bercanda? Lalu kau pikir darimana aku mendapatkan benda ini, jagiya~?” nada suaranya masih seperti bercanda. Tidak~ ini tidak mungkin nyata.

Dengan cepat, kukeluarkan ponsel putihku. Setelah menekan tombol hijau dan menunggu, aku langsung berteriak begitu diangkat. “EONNI~~~!”

Setelah kabar paling buruk itu terkonfirmasi, tubuhku mendadak lemas sementara Hyukjae berteriak senang. “Ayo kita mulai kehidupan kita di Amore~~”

Dengan susah payah, aku menelan ludah. “Benar juga. Karena itu aku bermimpi buruk.”

“He? Kau bermimpi buruk? Kasihan sekali uri yeobo,” Hyukjae maju ke bangkuku dan mengamati wajahku dari dekat. Aigo~ seperti dejavu dari mimpi burukku.

“Yeobo apa? Jangan seenaknya merubah namaku,” dengusku. “Jangan mendekaaat~ sana kembali ke kursimu. Bahaya kalau kau berdiri di dalam bis.”

Bukannya sedih karena kumarahi, Hyukjae malah tersenyum senang. “Ternyata kau memang sangat peduli padaku, yeobo.”

“Siapa yang pe-“

CKIIT~

Bis ini berhenti mendadak. Membuat badanku terdorong ke depan. Tapi sepertinya bibirku menyentuh sesuatu. Sesuatu yang lembut. Dan firasatku bilang ini adalah sesuatu yang buruk.

“Y-yeobo,” Hyukjae terlihat menyentuh bibirnya. Tuhan~ demi apapun jangan sampai… “Kau menciumku?”

Perasaanku benar-benar campur aduk. Berulang kali aku berusaha menepis kenyataan yang baru saja kualami. Kenyataan yang sama sekali tidak boleh jadi nyata! Itu ciuman pertamaku. “Ahh~ aku ingin menangis.”

“Waeyo?” Nara menarik kursi dan duduk di sebelahku. Aku menggeleng lemas tapi ia memaksa, “Kenapa? Sejak pelajaran pertama sampai jam istirahat, kau selalu melamun. Apa kau sakit?”

Kugigit bibirku. Bibir? Ahh~ membuatku semakin tidak nyaman. “Aniya. Aku baik-baik saja. Mungkin.”

“Mungkin? Dari tadi kau menyentuh bibirmu terus,” Nara memandangku aneh. “Kau baru berciuman ya?”

“He? ANIEYO!” elakku tegas. “B-bagaimana pun, itu tidak termasuk kategori ciuman!!”

Nara semakin menyipitkan matanya, “Jadi kau benar-benar sudah ciuman? Aigo~ Choi Jiyoo yang selalu dingin pada pria ini sudah ciuman? Siapa? Ah, apa atasan di café tempatmu bekerja?”

“Seandainya benar Henry sunbae yang menciumku, aku pasti tidak akan susah seperti ini. Lagipula ini kecelakaan,” jelasku. “Bisnya berhenti mendadak, sudah kubilang supaya dia jangan berdiri di depanku, tapi dia sama sekali tidak mendengarkan. Lalu… ahh~ begitulah!!”

“Nugu?”

Aku menarik napas panjang, “Hyukjae.”

“MWO??” Nara terkesiap sejenak lalu tawanya meledak. “Pasti kau sangat senang.”

“Senang apanya? Aku frustasi sekarang,” lagi-lagi tarikan napasku berat. “Lalu mulai siang ini dia akan bekerja di Amore. Hhh… aku bisa benar-benar gila!”

Gadis bermata cokelat ini menatapku dalam-dalam. “Jangan-jangan ini jodoh? Sejak kecil kalian sudah saling mengenal, dia selalu mengikutimu, lalu kalian akan bekerja di tempat yang sama, dan ciuman pertamamu ternyata untuknya. Aigo~ jodoh yang bagus.”

“Otakmu ini sudah rusak ya?” aku menggerutu tapi Nara malah terkekeh makin nyaring.

@Amore -14.15-

Tidak seperti biasanya, aku masuk ke dalam café dengan sangat hati-hati. Aku sibuk melihat kanan-kiri. Masih sepi. Tidak ada tanda-tanda Lee Hyukjae, “Aman~ ”

“Malaikaaat~” seseorang menegurku dan membuatku terkesiap. Seseorang yang dipanggil playboy oleh Haejin eonni, Lee Donghae, berdiri sambil membawa nampan berisi cangkir kosong. “Kaget ya? Mian. Kau tidak siap-siap? Sebentar lagi shift kerjaku dan Haejin akan habis, ayo sana ganti baju.”

Aku mengerutkan kening, “Shift kerjamu dan Haejin eonni?”

Donghae balik mengangkat alis, “Kau tidak tahu? Mulai sekarang, aku dan Haejin-ssi akan menjalankan shift dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang, jadi jam 2 sampai jam 6 adalah tugasmu dan Hyukjae.”

“MWORAGOYO??” teriakanku membuat Donghae menutup telinganya. Aku tidak salah dengar kan? Aku dan Hyukjae? Begitu melihat Haejin eonni, aku berlari ke arahnya. “Eonni~”

Haejin eonni menatapku heran. “Kau belum siap-siap?”

“Kenapa pertanyaan eonni sama persis seperti Donghae-ssi?” alisku terangkat lalu aku ingat tujuan utamaku. “Lupakan saja. Ah, aku mau tanya, kenapa shift-ku harus bersama Hyukjae?”

“Jiyoo-ya, sekarang kan pegawai disini bertambah, jadi kita sudah tidak perlu bekerja dengan shift dobel. Tidak mungkin kan aku bekerja mengambil 2 shift, pagi dan sore?” jelasnya tenang.

“Aigo~ bukan itu yang kutanyakan. Aku juga tidak mau terus-menerus menyuruh eonni menemaniku setiap shift sore, hanya saja… kenapa harus bersama LEE HYUKJAE?” tuntutku.

Donghae memotong ucapanku cepat, “Jadi kau ingin bersamaku? Sudah kuduga kau memang menyukaiku, Jiyoo-ssi.”

“Tutup mulutmu dan kembali ke dapur,” perintah Haejin eonni tegas. Donghae langsung mudur teratur mendengar perintahnya. Lalu ia kembali menjelaskan, “Memangnya bagaimana maumu?”

Aku menggaruk pipiku bingung. “Kenapa aku tidak satu shift saja dengan eonni? Jadi para lelaki itu bisa satu shift, begitu pun kita.”

“Jiyoo-ya, mereka kan masih baru, kalau tidak dibimbing, bisa-bisa Henry sunbae yang rugi. Tadi saja Lee Donghae itu sudah memecahkan 2 cangkir, bahkan lebih parah, dia menumpahkan vanilla latte pesanan pelanggan.” Haejin eonni menjelaskan panjang-lebar. Sepertinya kesalahan Donghae di hari pertama sangat parah. Lalu kenapa Henry sunbae menerimanya?

“Mereka kan bisa belajar sendiri,” pokoknya aku harus menolak satu shift dengan Lee Hyukjae!!

Haejin eonni tersenyum. “Kau mau Henry-mu bangkrut?”

“Omo~ eonni!! Apa itu ‘Henry-mu’?” wajahku memerah saat mendengar kata ajaib itu.

“Lagipula kan Hyukjae juga masih sekolah, mana mungkin dia ambil shift pagi?” yang satu ini sama sekali tidak bisa kubantah. Aku mendesah. “Sudahlah, dia tidak separah itu.”

Memang tidak parah. Tapi saaaaaangat berbahaya. Aku mulai bermimpi buruk dan ciuman pertamaku raib. Selanjutnya aku harus benar-benar selalu bersamanya? Lalu bagaimana aku bisa menjalani hidupku yang tadinya damai ini? Siapapun, bunuh saja aku!!

‘CLING~’

Pintu café terbuka dan dimasuki sepasang makhluk yang kuanggap menyebalkan. “Mau apa kau kesini?”

Nara menggoyangkan telunjuknya di depan wajahku, “Aigo~ kau harus sopan pada pelanggan, Jiyoo-ya.”

“Akan kupertimbangkan kalau pelanggan itu bukan dirimu,” jawabku ketus lalu aku tertawa, “Mau pesan apa?”

“Siapa yang bilang aku mau pesan sesuatu?” Nara menarik lengan seorang pria di sebelahnya. “Cho Kyuhyun, pacarku.”

Aku mendadak linglung. “Kau mengunjungiku kesini hanya untuk mengajakku berkenalan dengannya?”

“Aniyo~ Kyuhyun bilang dia kenal dengan pemilik café ini dan-“

“Kau mau dia mengambilalih café ini lalu memecatku?” tebakku asal.

“Kau ini sangat membenciku ya?” cibirnya. “Jiyoo-ssi yang sangat kusayangi, aku hanya ingin tahu bagaimana wajah pangeran Amore-mu itu. Siapa namanya? Hen..”

Kyuhyun memotong ucapan pacarnya. “Henry Lau. Dia ada kan?”

Aku mengangguk singkat lalu menunjuk kantornya. Tak lama, kutarik Nara mendekat, “Ya~! Kau mengajak pacaran seorang robot? Kaku sekali.”

“Ckckck~ dia tidak sekeren itu. Aku hampir mati kesal waktu dia menceramahiku soal hasil ulangan matematika-ku.” Nara menarik kursi dan duduk di pojok ruangan. Matanya menangkap Kyuhyun dan Henry yang baru keluar ruangan, “Ya~! Apa itu yang namanya Henry?”

Aku mengangguk malu. Ini pertama kalinya Nara melihat Henry setelah dia bosan mendengar nama Henry dari mulutku tapi tidak ada wujud yang pasti. “Bagaimana?”

“Lumayan,” Nara berkomentar singkat. Tiba-tiba ia menambahkan, “Lelaki itu pasti sangat menyukaimu.”

Aku urung tersenyum saat melihat Nara yang tertegun lama begitu melihat Hyukjae. Terlalu lama sampai aku harus mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Apa yang kau lihat? Henry ada disana, bersama pacarmu.”

“Hyukjae. Dia melihatmu terus. Kurasa dia benar-benar menyukaimu,” ujarnya lagi. “Ah, bukannya dia yang berhasil menciummu? Kalian jodoh~ aku lebih suka melihatmu bersama Hyukjae daripada dengan Henry-mu itu.”

“Kau merusak mood-ku,” aku bertopang dagu kesal. Bagaimana mungkin Nara membandingkan Henry dengan Hyukjae?

Aku menggeleng melihat Hyukjae yang menggaruk kepala bingung saat harus menyiapkan Hot Cappucino. Dari tadi ia hanya diam sambil mengamati mesin kopi di depannya. Sementara aku melihat lelaki yang memesan itu sudah tidak sabar.

“Memangnya mesin kopi itu akan bekerja sendiri kalau kau pandangi terus?” aku menggeser tubuhnya dari tempatnya terpaku. “Lihat caraku melakukannya.”

Hyukjae mengangguk kaku sambil memandangiku. “Ciuman tadi pagi-“

“AUW~!” tanganku tidak sengaja menyentuh cairan cokelat panas itu. “Kenapa kau harus membicarakan hal itu di saat yang sangat tidak tepat, ha?”

“Panas ya? Sini, tanganmu,” dengan cepat, ia meraih tanganku dan membasuhnya dengan air kran. Hyukjae mengusapnya pelan. “Tidak melepuh kan? Untung saja itu bukan air mendidih. Kau ini, kenapa melamun saat bekerja dengan air panas?”

Aku tertegun sebentar melihat tingkahnya. Agak… terharu?

“Jiyoo-ssi, Hyuk-ah, apa yang kalian lakukan?” suara lembut Henry membuatku menarik tanganku dari Hyukjae.

Hyukjae memandang Henry tajam. “Tidak ada. Tangannya tadi terkena kopi panas, lalu kubasuh dengan air supaya tidak melepuh.”

“Kenapa kau bisa seceroboh itu, Jiyoo-ssi? Lain kali hati-hatilah,” ia sempat berpesan sebelum kembali masuk ke ruangannya. Ucapan yang datar dari bibir Henry membuatku sedih. Kenapa hanya seperti itu perhatiannya padaku?

“Cih~ pria sombong,” Hyukjae sempat mencibir sebelum ia kembali menarik tanganku. “Bagaimana? Sudah tidak apa-apa?”

Kutepis tangannya kasar. “Geumanhae. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Layani saja pelanggan yang sudah menunggu Hot Cappucino itu.”

“Ahh~ aku hampir lupa!!” pekiknya singkat sebelum meninggalkanku sendirian.

Kulirik jam tanganku, 5.45 PM. Jam kerjaku akan segera habis. Café juga sudah sepi. Tapi aku malah berjalan menuju atap café. Sejak pertama bekerja disini, aku suka balkon di lantai 2 yang menghadap ke barat ini. Bisa melihat semburat garis jingga yang selalu mengantar terbenamnya sang matahari, itu sangat menyenangkan.

Tapi aku sedang tidak ingin melakukannya. Aku hanya duduk dan bersandar membelakangi matahari. Tanpa sadar, aku memeluk lututku erat. “Apa aku memang terlalu banyak bermimpi?”

Aku menyukai Henry. Sejak pertama dia menyambutku bekerja di Amore, sejak dia dengan sabar mengajariku cara membuat Hot Chocolate, dan sejak dia memberitahuku rasa manis dari Tiramisu. Aku menyukainya. Selalu menyandarkan hatiku padanya. Tapi inilah kenyataan yang ada,kata suka itu hanya berasal dariku, bukan kami.

“Jiyoo-ya!” aku mendongak begitu mendengar namaku dipanggil. “Apa yang kau lakukan disini?”

Mataku menyipit tajam. “Tidak bisakah kau membiarkanku sendirian? Hariku sudah cukup kacau saat kau membuntutiku setiap hari.”

Lagi-lagi, bukannya marah, Hyukjae malah tersenyum. “Sepertinya kau masih belum terbiasa melihatku. Tapi aku pasti bisa membuatmu ketagihan bersamaku.”

“Aish~ kau ini sangat hobi bermimpi ya? Bangun-“ aku tertegun mendengar kata-kataku sendiri. Kemudian aku menggumam, “Benar. Bangunlah, jangan terus bermimpi.”

Hyukjae tidak menggubrisku. Kedua tangannya diletakkan di balik badan. “Jiyoo-ya, kue apa yang kau suka?”

“Tiramisu,” jawabku singkat. Kue itu adalah kue kesukaan Henry. Kue yang menjadi kesukaanku juga akhir-akhir ini.

“Tebakanku salah,” ujarnya lesu. Pelan-pelan ia menunjukkan benda yang dibawanya. Kue? “Kupikir kau suka Strawberry Cheese Cake.”

Aku mendengus. “Kau memang selalu sok tahu.” Melihat wajah kecewanya, aku memiringkan kepala. “Ini untukku?”

“Tadinya. Tapi ternyata kau suka kue lain,” Hyukjae hampir berdiri sebelum aku menarik kemeja putih yang menjadi seragam Amore-nya.

“Benda yang sudah diberikan, tidak boleh diambil lagi,” ucapanku membuat senyum gusinya terlihat. “Gomawoyo.”

Hyukjae mengeluarkan dua buah garpu dari sakunya. “Ayo makan bersama~”

“Ya~! Kenapa kau juga ikut makan? Ini kan untukku, jadi semuanya milikku,” kusembunyikan kue itu di balik punggungku. Hyukjae mencoba merebutnya paksa dariku. “Hyukjae-ya, kalau kau mau memberikan kue, harus tulus.”

“Aku tulus~ tapi aku mau makan bersamamu. Mana kuenya~?” Hyukjae masih terus berusaha merebut kue yang ada di belakang badanku. Kedua tangannya melingkar di sekeliling tubuhku. Aku tidak bisa berkedip melihat wajahnya yang terlalu dekat dariku. Jantungku tiba-tiba tidak bisa kurasakan lagi.

‘TENG… TENG… TENG…’

Bunyi denting jam sebanyak enam kali membuatku terkesiap. Hyukjae tampak linglung saat melepaskan ‘pelukan’nya dariku. Aku kembali melirik jam tangan, “S-sudah jam enam ya?”

“N-ne. Kenapa bunyi jam kuno di lantai 1 bisa terdengar sampai kesini?” Hyukjae menggaruk kepalanya kaku. “Mm… mianhae.” Melihatku yang mengerutkan kening, ia menunduk. “Sudah membuat tanganmu terkena kopi panas dan tadi tidak sengaja… mem-“

“Sudah,” potongku cepat. “Lupakan saja.”

Hyukjae mengangguk-angguk tak jelas lalu menoleh ke arahku lagi, “Mau kuantar pulang?”

Biasanya aku akan langsung menolak mentah-mentah tapi entah bagaimana, aku malah mengangguk setuju. “Ne.”

Pintu Amore Café sudah dikunci dan sekarang aku harus pulang. Jiyoung pasti kesepian di rumah Park ahjumma. Lagipula Park ahjumma pasti kerepotan harus mengurus Jiyoung seharian. Aku menarik napas panjang.

Hyukjae melihatku sambil mengerutkan kening, “Kau lapar?”

“Ne? Aniyo. Aku kan sudah makan kue darimu,” jawabku cepat. Ini pertama kalinya aku tidak bersikap kasar padanya. Kenapa bisa begini?

Hyukjae duduk di sampingku saat kami naik bis. Ia mulai bertanya tentang banyak hal. “Bagaimana Jiyoung?”

“Ho~ kupikir kau sudah tidak ingat padanya,” perlu kuakui, aku sedikit terkejut mengetahui Lee Hyukjae masih ingat pada Jiyoung. “Dia baik, sangat pandai, patuh, dan tampan.”

“Jinjjayo? Aku ingin melihatnya,” rajuknya. Mungkin Jiyoung malah sudah lupa padanya. Mereka bertemu waktu usiaku masih 10 tahun dan Jiyoung berumur 4 tahun. Entah masih ada atau tidak memorinya tentang Lee Hyukjae.

“Kurasa Jiyoung tidak mau melihatmu,” aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang kesal.

Hyukjae kembali mengarahkan tatapan tidak biasa ke arahku, “Jiyoung yang tidak mau melihatku, atau noona-nya yang takut jatuh cinta pada Lee Hyukjae?”

Aigo~ ucapannya ini… seperti bukan Lee Hyukjae yang kukenal. Bukan Hyukjae yang konyol. Belum lagi tangannya yang sekarang mulai menggenggam tanganku erat. Kenapa dia seolah berubah menjadi orang lain? Baru beberapa jam dia bekerja di Amore, tingkahnya sudah jadi romantis begini.

Dan entah bagaimana, Hyukjae bisa mengecup keningku lembut.

Kami hanya saling berpandangan sampai ponselku berdering nyaring. Setelah menenangkan jantung, kutekan tombol hijau, “Ne?”

“Noona~” suara Jiyoung di ujung sana sedang menangis.

“Jiyoung-ah? Waeyo? Kenapa menangis??” mendengar suara adikku yang sesenggukan, aku mulai panik. Hyukjae langsung menoleh ke arahku.

Dengan susah payah, Jiyoung berhasil menjelaskan. “Ahjumma pemilik apartemen membuang barang-barang kita ke luar, noona~”

“Mworago?”

-TBC-

44 thoughts on “Amore Cafe 2nd cup

  1. AIGOOOOOO~~~
    Eunhyuk-ya~~~~~~~~~ janganlah kau berselingkuh, ckckckck *gelengin kepala*
    onnie bikin aku penasaran kembali, lanjut yaa onn~~~

  2. wahh..akir na ngrti uga cra commen..*sujud syukur*

    hoho..annyong shelaaa^^
    ni akk mia, fans na kmu..

    ff bru yah ?, hoho akk suka..suka..
    d sni karakter unyuk slalu aj manja n over protektip y ? *sotoy*
    hoho..tpi akk suka kog

    akk tnggu klnjutan na yah !
    HWAITINGGG !!!

      • oooh jadi gara” makan toge dia jadi gitu terus di badannya juga jadi tumbuh toge raksasa gitu???
        ngeri amat,,, aku gag mau makan toge lagi deh…😄
        ahahahahah,,, bener” kemabali ke jalanyang benar(?)…😄

      • untung tadi togenya gag aku makan…
        aku kaget beneran tadi habis selese neomongin togw disini terus ke meja makan,,, di sayurnya ada togenyaaaaa~~ aku pingin ngakak ntar dikira kenapa” lagi sama orang rumah…😄

  3. itu.. Itu.. Kenapa jadi pinter? (?) dimana sosok tolol hyukjae? *digampar*
    aiyaaaaa si Jiyoo udah mulai kena pengaruh cassanova si kunyuk xD lol
    aduhhh saya berasa orang sarap senyum2 sendiri -_- lanjut aja deh part 3 xD

  4. wkwkwk… unyuk tukang maksa…. /plak xD
    btw, co cwit bgt ya klo kyu ngejar2 aku kyk gt??? wkwkwk…
    *nabok pii sndiri… :p

  5. Aaaaaa jiyoo dah mulai kecantol sepertinua kekekekekeke….
    ya ampunn kesia. Saat moment mimpi ama henry…. Qw ingat nyata….
    eeeeehhh lom di ksh tau apa qwnya yg g teliti…. Ortu kamana????

  6. Kasian liat jiyoo baru pulang kerja ditelpon adeknya dibilangin barang2 diapartementnya di buang
    Terus mereka ditinggal dimana?

  7. wah..wah..wah, there’s something growing in jiyoo’s heart, I wonder what is it???😕
    Hyukjae is a bit crazy, but he’s awesome though!! *kyustaring

  8. jiyoo kasar bgt sm hyukjae oppa, tp wjr sich siapa jg yg snng dibuntutin tiap hari gtu😄.. tp kyknya jiyoo udah mulai luluh sm hyukjae oppa😀..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s