Amore Cafe 1st cup

Amore Café -1st cup-

====================


Haejin’s PoV

Ramai. Kenapa siang ini Amore café begitu ramai, sedangkan aku hanya sendirian? Ahh~ tidak mungkin meminta bantuan Ryeowook dan Sungmin yang sedang di dapur kan? Dimana anak itu saat kubutuhkan?

“Eonni,” suara yang kukenal membuatku memutar badan. Gadis di depanku tampak terengah-engah. Napasnya tidak beraturan. “Aku terlambat ya? Mianhaeyo~”

“Jiyoo-ya, dari mana saja, ha? Hari Minggu selalu ramai dan kau tetap terlambat. Jangan bilang kau juga ke sekolah di hari Minggu,” aku mengomel sambil menyiapkan secangkir vanilla latte.

Jiyoo buru-buru memakai seragam kerja berwarna biru muda yang sama denganku. Dengan sigap, ia mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda. “Tadi pagi aku masih harus menemani Jiyoung piknik. Acara taman kanak-kanak. Mana mungkin aku membiarkannya sendirian sedangkan teman-temannya membawa orang tua?”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. Choi Jiyoo yang kukenal sejak kecil tidak pernah memikirkan orang lain benar-benar sudah berubah sekarang. “Aigo~ kenapa kau tidak minta eonni saja yang menemani Jiyoung? Kita bisa bertukar shift kan?”

“Eonni~ Jiyoung itu tanggung jawabku,” ujarnya singkat. Jiyoo melangkah cepat sambil membawa nampan. Melihatku melamun, ia menegur. “Apa yang eonni pikirkan?”

“Eonni heran kenapa kau selalu menolak bantuan eonni,” aku sudah menemukan jawabannya sebelum Jiyoo menjawab, “Apa gara-gara anak ini?” Telunjukku mengarah tepat ke seorang pria berwajah mesum. “Ya~! Lee Hyukjae, jangan mengikuti Jiyoo terus!”

Hyukjae tersenyum lalu duduk di depanku, “Aku datang untuk menjemput noona~”

“Bohong~ sejak aku turun dari bis, dia selalu membuntutiku. Kalau tidak ingat dia ini adik eonni, aku pasti sudah lapor polisi,” Jiyoo melirik Hyukjae tajam. Lalu pandangannya berubah cerah saat menatapku, “Eonni, apa Henry sunbae sudah datang?”

Aku pura-pura berpikir agak lama. “Mm… kau mau jawaban seperti apa?”

“Eonni~ jangan menggodaku. Aku serius. Ada yang harus kubicarakan dengan sunbae,” rajuknya singkat. Aigo~ dasar remaja. Melihatku menggeleng, ia mendesah. “Kalau begitu aku akan ke dapur, membantu Wookie dan Minnie.”

“Geureom, aku juga ke dapur dulu, noona,” Hyukjae membungkuk singkat. Buru-buru kutarik kemejanya. “Mwoya~~?”

Kutoyor kepalanya pelan. “Mau kemana kau?”

“Mengejar cintaku,” jawabnya polos. Omomo~ jawaban macam apa itu? Begitu melihat tatapan setanku, ia menunduk. “Noona, kenapa kau sangat tidak merestuiku dengan Jiyoo? Memangnya apa kekuranganku?”

Aku tersenyum lembut. “Kekuranganmu itu hanya satu, sepupuku tersayang. Kau mau tahu?”

Dengan semangat, Hyukjae mengangguk. “Kalau hanya satu, aku pasti bisa memper-“

“Kekuranganmu adalah: kau sama sekali tidak punya kelebihan,” aku terkekeh keras sementara Hyukjae mencibir kesal. “Lagipula Jiyoo itu terlalu baik untukmu, jadi lupakan saja. Aku tidak akan membiarkan Jiyoo bersama dengan lelaki super gombal sepertimu, Lee Hyukjae.”

Hyukjae merengut lalu mengarahkan tatapan tajam pada Henry yang baru datang. “Lalu, lelaki seperti apa yang cocok dengannya? Yang seperti itu?”

“Ya~! Jangan sembarangan menunjuk atasanku seperti itu!” bisikku. Aku tersenyum saat melihat Henry, “Annyeong haseyo, sunbaenim.”

Henry balas tersenyum manis. Aigo~ pantas saja Jiyoo tergila-gila pada Henry Lau. Senyumnya maut! Saat melihat Hyukjae, ia bertanya, “Menjemput noona-mu, Hyuk-ah?”

“Aniyo. Aku menjemput Choi Jiyoo, calon ibu dari anak-anakku,” ujarnya sengit. Kutoyor kepalanya lagi. “Noona~”

“Kalian selalu kompak,” Henry tertawa melihat tingkah ajaib kami. Aku terpaksa ikut tersenyum. “Haejin-ssi, Jiyoo mana?”

Aku menunjuk ke arah dapur. “Membantu Wookie dan Minnie di dapur. Tadi dia juga mencari sunbae.” Begitu Henry berlalu, aku kembali memarahi Hyukjae, “Ya~! Kau ini tidak bisa bersikap sopan ya? Lagipula kau kesini memang untuk menjemputku kan?”

“Aku kesini untuk Jiyoo. Noona memang selalu besar kepala,” desisnya. Badannya menghindar cepat begitu aku mengangkat tanganku lagi. “Pria bernama Henry itu selalu sok akrab denganku. Kenal saja tidak, seenaknya memanggilku ‘Hyuk-ah’. Cih~”

“Kau ini cemburu padanya ya?” tebakku.

Hyukjae menggoyangkan telunjuknya. “Ckckck~ untuk apa aku cemburu padanya, noona? Tidak ada hal yang harus kucemburui dari anak orang kaya yang hanya bisa bersantai di atas kekayaan orang tuanya.”

Aku menunjuk lurus ke arah Henry dan Jiyoo yang berdiri berdampingan. “Itu~ cintamu dan calon ibu dari anak-anakmu sedang dirayu olehnya.”

“Aish~ pria blasteran kurang ajar! Memangnya dia tidak pernah diajari untuk tidak mengambil milik orang lain tanpa ijin?” Hyukjae menggulung lengan kemejanya dan bersiap berjalan ke dapur.

Kutoyor lagi kepalanya. Aku tidak tahu berapa kali aku menoyornya hari ini, tapi tingkahnya hari ini memang benar-benar menjengkelkan. “Ya~! Sejak kapan Jiyoo itu milikmu? Lagipula Jiyoo itu bukan barang.”

“Dia akan menjadi milikku segera~” lagi-lagi ucapan konyol dari seorang Lee Hyukjae.

‘CLING~’

“Selamat datang,” aku reflek tersenyum saat mendengar gemerincing bel yang dipasang di atas pintu masuk café. Begitu melihat sepasang lelaki dan perempuan yang masuk, aku memutar bola mataku.

Hyukjae menghambur ke arah sang lelaki. “Donghae-ya!!”

“Ah, Hyuk-ah, apa yang kau lakukan disini?” tanya lelaki yang bernama Donghae. Ia melirikku lalu tersenyum lebar. “Menjemput Haejin?”

Aku membuang muka lalu masuk ke dapur. Kudengar Hyukjae bersuara. “Menjemput Jiyoo.” Aish~ anak itu menyebalkan. Sekarang Lee Donghae akan benar-benar mengira kalau aku adalah gadis menyedihkan yang bahkan tidak diperhatikan oleh satu-satunya sepupuku.

“Eonni? Ada apa?” Jiyoo menepuk pundakku pelan. Aku mendongak. “Eonni kelihatan kesal? Apa gara-gara Hyukjae?”

Aku bergumam. “Hyukjae hanya 10%nya.”

“Sisanya?” Jiyoo menjawabnya sendiri begitu mengintip ke depan. “Ahh~ pria super playboy itu datang lagi. Kali ini siapa gadis yang bersamanya?”

“Neneknya.” ujarku asal

Jiyoo menahan tawa sambil menutup mulut dengan tangannya. “Mana mungkin itu neneknya? Kenapa eonni selalu marah padanya? Bukannya kalian itu bertetangga?”

“Tetangga paling menyebalkan di muka bumi. Kenapa dia tidak pindah apartemen saja?” desahku. Aku menarik napas panjang untuk meredakan emosiku. “Jiyoo-ya, kau saja yang melayaninya.”

Wajah Jiyoo mulai memelas. “Ada Hyukjae disitu.”

“Hyukjae bukan bakteri~” rajukku. Jiyoo memang selalu anti dengan makhluk bernama Lee Hyukjae. Tapi aku juga tidak mau berjalan kesana dan melihat playboy kacangan bernama Lee Donghae. “Ya~! Shiftku kan sudah selesai. Jadi, tugas siapa sekarang?”

“Arasseoyo~” Jiyoo berjalan dengan malas ke depan. Sebenarnya bukan caraku untuk menghindari masalah, tapi makhluk itu terlalu ‘berbahaya’.

@Amore Café -17.45-

Jiyoo tampak memerhatikanku saat aku mengemasi barang-barang dari loker. “Eonni tidak mau menemaniku shift malam?”

Aigo~ dasar penakut. “Kalau kau tidak suka shift malam, kenapa memaksa sunbae memberikannya? Lagipula besok kau masih harus sekolah kan, Jiyoo-ya?”

“Aku butuh uang tambahan. Sepatu Jiyoung sudah tidak layak pakai,” ujarnya. Ia menopang dagu di meja kasir. “Kasihan kalau dia terus-menerus diejek teman-temannya.”

Alisku terangkat. “Jiyoung bilang begitu? Dia sering diolok-olok?”

Jiyoo menggeleng. “Mana pernah anak itu mengadu pada noona-nya? Ahh~ hanya saja selama piknik tadi pagi aku melihat beberapa anak memerhatikan sepatu Jiyoung.”

“Jinjja? Aku tidak bisa membantu, uang tabunganku juga sedang menipis,” ujarku lemah. “Ah, apa kau mau kutemani malam ini?”

“Geumanhae. Lagipula Hyukjae sudah menunggu eonni sejak tadi. Aku akan baik-baik saja,” Jiyoo melirik Hyukjae yang masih duduk bersama Donghae. Entah pergi kemana ‘neneknya’ yang tadi disana.

Aku sama sekali tidak bergerak sampai Jiyoo membawakan tas dan mendorong tubuhku. “Jiyoo-ya.”

“Mau pulang sekarang, Haejin-ah?” pertanyaan yang sama sekali tidak kubutuhkan dari Lee Donghae. Lalu ia berganti melirik Jiyoo, “Malaikat cantik, kau tidak pulang?”

Jiyoo bergidik ngeri mendengar Donghae memanggilnya begitu. Aku menjentikkan jari, “Playboy kacangan, jangan coba-coba merayu gadis ini!”

“Wae? Kau cemburu?” tuduhan yang tidak beralasan. Fitnah~ Donghae berdecak. “Semua gadis memang selalu menungguku.”

Kuputar bola mataku. “Tidak ada yang mau menunggu playboy kacangan sepertimu. Tidak hari ini, minggu depan, dan selamanya.”

“Ne!” Hyukjae menyahut nyaring. Aku mengernyitkan kening, tumben Hyukjae membelaku. “Karena Jiyoo ini akan selamanya menjadi cintaku.”

Aigo~ satu lagi calon playboy kacangan. Dengan cepat, kutarik tangan Hyukjae keluar café. “Kita pulang sekarang. Kaja~”

Tapi Hyukjae menghentikan langkahnya saat Donghae tetap tinggal. “Donghae-ya, kau tidak pulang?”

“Ada malaikat cantik disini, aku akan menunggunya,” tanpa perlu kupastikan, Donghae sedang melirik Jiyoo. Kemudian ia melambaikan tangannya, “Hati-hati di jalan~”

Hyukjae masih belum bergerak. “Noona, kau bisa pulang sendiri kan?”

“WAE~~?” pekikku nyaring.

“Cintaku dalam bahaya!! Playboy pinggiran itu bisa merayu Jiyoo,” ujarnya serius. Aigo~ semua lelaki di sekelilingku sama sekali tidak ada yang normal.

“Aish~ Jiyoo akan baik-baik saja. Kau tega membiarkanku pulang sendirian?” kutarik lagi tangannya dengan sekuat tenaga. “Biarkan saja Donghae menemani Jiyoo. Lebih bagus kalau dia mengantarnya pulang.”

Hyukjae makin mengamuk. “ANDWAE~~! Kalau pria kacangan itu mengantar Jiyoo pulang lalu berbuat macam-macam kan berbahaya!!”

Aku mencibir. “Bukankah itu lebih mirip dirimu? Otakmu ini kan mesum.”

“Donghae-ya!” Hyukjae sama sekali tidak mendengarkanku. Ia malah berjalan masuk kembali ke café.

Donghae mengerutkan kening heran. “Kau belum pulang?”

“Antarkan Haejin noona pulang,” ujar Hyukjae santai. MWO~? Apa katanya barusan? Aku tidak salah dengar kan?

Kutarik Hyukjae cepat. “Ya, ya, ya!! Apa yang kau katakan barusan?”

“Noona, biar Donghae saja yang mengantarmu, sedangkan aku disini menemani Jiyoo. Lebih aman kan?” jawaban yang sama sekali tidak masuk akal! Hyukjae tersenyum, “Playboy itu sudah kukirim pulang, Jiyoo aman, dan noona juga bisa pulang dengan tenang.”

“Kau bilang tadi kau takut Donghae melakukan sesuatu pada Jiyoo kalau dia mengantar Jiyoo pulang, lalu sekarang kau menyuruhnya mengantarku pulang. Kemana perginya kekhawatiranmu yang tadi??” omelku.

Hyukjae mengangkat bahu. “Donghae tidak akan macam-macam pada noona. Sudahlah, noona akan aman bersamanya.”

O.M.O.N.A.!! Ungkapan bahwa darah lebih kental daripada air sama sekali tidak berlaku!!

“Wahh~ akhirnya aku bisa mengantarmu pulang. Ini bisa disebut kencan kan?” lagi-lagi playboy kacangan ini mengoceh sembarangan.

“Kau tidak bisa diam ya?” ujarku dingin. Melihat wajahku yang kesal, ia menurut. “Kau lebih manis kalau kau diam begini.”

Ucapan yang salah. Ia kembali berkicau, “Semua orang memang bilang aku manis. Kemana saja kau, kenapa baru sadar?”

“Cabut saja kata-kataku,” kuarahkan telapak tanganku ke wajahnya.

Kami hanya diam sepanjang jalan menuju pemberhentian bis. Aku melirik layar ponselku, jam enam sore tepat. Bagaimana nasib Jiyoo yang harus bersama Hyukjae selama 4 jam ke depan? Kasihan sekali~

“Haejin-ah,” panggilnya singkat. Aku menoleh tanpa menyahut. Donghae menatapku, “Kenapa kau membenciku?”

Pertanyaan yang membuatku agak terkejut. “Ne? Kapan aku bilang aku membencimu?”

“Ya~! Kau pikir aku buta? Orang lain juga bisa melihat kalau kau sangat membenciku. Memangnya apa salahku?” tanyanya serius.

Aku berpikir sejenak. Apa memang seperti itu? Apa iya aku membencinya? Aku merasa dia tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Hanya saja… aku tidak suka. Tapi sejak kapan? Kenapa?

“Mm… sebenarnya aku sama sekali ti-“

Ucapanku terhenti saat Donghae mulai merogoh ponselnya. “Ne?… Jagiyaa~… Malam ini?… Tidak bisa… Mianhae… Ne.” Begitu ia selesai, ia kembali menatapku, “Apa yang mau kau katakan barusan?”

Perasaanku mendadak kesal. “Aku lupa! Lupakan saja!”

“Kau cemburu?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tidak masuk akal!” omelku. Cemburu? Memangnya seperti apa rasanya cemburu?

Donghae tertawa. “Aku hanya menebak.” Kemudian ia berusaha mengganti topik pembicaraan kami, “Ah, aku punya kabar bagus. Kau tahu kenapa aku sering ke café tempatmu bekerja?”

“Tidak,” sahutku. Buru-buru kutambahkan, “Dan aku tidak mau tahu.” Lagipula aku yakin jawabannya adalah supaya dia bisa dengan sangat rajin pamer gadis yang berbeda di depanku. He? Kenapa hanya di depanku? Untuk apa aku merasa seperti itu?

“Kau ini gadis yang sangaaaat sensitif,” ujarnya. Donghae mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. “Jjajang~!”

Aku meraih benda itu. “Nametag? Lee Donghae, Amore… AMORE CAFÉ??”

“Benar~ aku akan bekerja di café yang sama denganmu mulai besok,” sahutnya tenang. Kemudian ia bertanya, “Hyukjae tidak memberitahumu? Dia juga akan bekerja disana. Kami berdua akan bekerja disana!!”

Dengan susah payah, kukumpulkan kesadaranku. “K-kau dan Hyukjae? Hyukjae juga?” Melihat Donghae mengangguk yakin, aku berpikir keras, “Mulai besok aku akan bersama dengan kalian? Sepupu menyebalkan dan playboy kacangan? Dosa apa aku?”

“Seharusnya kau senang. Hyukjae jaaaaaauh lebih gembira dariku,” Donghae memasukkan kembali nametag ke dalam sakunya.

“Hyukjae jauh lebih gembira??” ulangku. Omo~ bagaimana nasib Jiyoo?

Belum sempat kubayangkan reaksi Jiyoo dengan kabar ini, ponselku berdering nyaring. [Jiyoo calling…] Begitu kutekan tombol hijau, aku bisa mendengar dia berteriak. “EONNI~~~!”

Karena aku tidak ingin menderita tuli permanen lebih awal, terpaksa kujauhkan ponsel dari telingaku. “Mwoya? Kenapa kau berteriak begini?”

“Hyukjae.. bilang.. dia.. kerja.. di Amore.. mulai.. besok…,” ujarnya terbata-bata. Apa dia sangat syok? Aku tidak tahu kalau Hyukjae sangat menakutkan baginya. “Apa itu benar??”

“Eonni juga baru tahu. Playboy kacangan ini juga akan ikut,” Donghae menoleh cepat begitu mendengar kata ‘playboy’. Kemudian aku sama sekali tidak mendengar suara Jiyoo lagi. “Jiyoo-ya? Kau tertidur?”

“Aku bisa gilaaa~~” bisa kudengar Jiyoo sangat frustasi. “Belum cukup aku selalu dibuntuti olehnya? Sekarang harus melihatnya setiap hari selama 4 jam  non stop?”

“Jiyoo-ya, seharusnya kau sama senangnya denganku,” kudengar suara Hyukjae membahana. Dia pasti bertingkah konyol lagi di depan Jiyoo.

“Jangan mimpi~” sepertinya Jiyoo memaki Hyukjae. “Eonni, bagaimana ini? Bisa-bisa surga Amore-ku berubah menjadi neraka!!”

Ah~ benar juga, Amore adalah surga baginya karena ada Henry disana. Aku ikut menggerutu. “Kau pikir aku tidak syok waktu playboy kacangan ini memberitahuku? Aku juga sama, Jiyoo-ya.”

“Kalian memang pemalu,” potong Donghae.

Kemudian terdengar suara Hyukjae lagi, “Ayo kita mulai kehidupan kita di Amore~~”

-TBC-

50 thoughts on “Amore Cafe 1st cup

  1. Wahahaha…
    Keren onn…xD
    tp koq pendek bgt c???
    Tumben jiyoo ga napsu ma kunyuk?pdahal biasanya…..,…
    XDD
    buruan d lanjut y,next part panjangn jg..hehe

  2. BWAHAHAHAHAHA~
    ciee malu2 deh ih pasangan2 ini *noel2*
    unyuk iniiiii, lugu2 nakal gmanaaaa gto xp
    as usual,neng imut~ bagus bagus..
    lucu deeh,😀
    penasaran gmana ntar jadinya hari2nya mereka berdua.

  3. LOL!!!
    asli aku ngakak terus waktu baca ini ff…

    pada ooc dari karakter aslinya gini tapi malah jadi bagus… >.<
    itu hae kenapa jadi playboy???
    unyuk habis makan apaan jadi aneh gitu???
    jiyoo kerasukan apa jadi gag suka ama unyuk???
    jota,,, jota,,, jota…
    aku baca lanjutannya yak…🙂

    • Hahaha~~ ini FF dadakan, maklumi aja kalo banyak yg rada2 ga nyambung ato gimana. Bener2 ngebut. ><
      Hae itu imej di mataku selama ini adalah: playboy mokpo. Unyuk kan emang dari sononya rada2 pede tingkat dewa. Trus Jiyoo disitu bukan lagi kerasukan, aku emang pingin bikin unyuk ngejer2 aku.😄

      • hahahahaha~ tapi lucu beneran….
        semua kebalik dari yang biasanya… XDD
        hae playboy??? emank sih dia punya bibit(?) playboy…😄
        tapi disini di bener” playboy kelas teri deh kayaknya…😄
        iya biasanya pede tingkat dewa…
        tapi ini lebih dari dewa mah,,, diatasnya dewa banget deh…😄
        ternyata jiyoo kerasukan pedenya unyuk…😄

      • Tuhh kan, pada setuju hae dengan imej player. Walopun playboy kacangan alias tingkat teri, tetep aja judulnya playboy onn~😄 Jiyoo kelamaan berduaan ama hyuk, jadi ketularan pede tingkat surga~😄

      • dia ada modal tampang siiiih…
        coba kalo kelakuannya juga mendukung…
        wah,,, udah bukan kelas teri lagi dia mah…😄
        wah udah gag pede tingkat dewa lagi???😄

  4. baru tau amore cafe buatan unnie😄
    ihiiy~ JiHyuk lagi?
    disini unyuk mengingatkanku pada jamannya Happiness,
    yaaa cocoklaa dengan sikap-sikapnya,
    dulu dia cerewet sampesekarangjugacerewetsih

    kalo donghaenya,
    pas jamannya super girl😄
    playboy gondrongan /plak

    eh, saya baru nyadar ada si mochi =3

    • JiHyuk ftw~!!😄 Harus wajib kudu JiHyuk, biar makin eksis. Kekeke~
      Unyuk kan emang doyannya gaje gini, jadi ya cocok lah. #plakk
      Hahaha~ yeyey… Donge emang ada tampang player.😄
      Mochi itu cinta selingan Jiyoo~ XDD

  5. beneran deh ngakak bayangin ini dua cewek pada alergi sama dua cowok yang gak pernah nyerah ngikutin mereka ke mana-mana.,,,,wkwkwkwk

  6. wakakakaka,Hae sang playboy kacangan xD lol lol
    hyukkie berasa penguntit sejati tapi tolol xD *ditoyor*
    ahhh awal yang menarikkk~! aku baca part 2 nya aja deh😀

  7. Akhrnya qw baca juga kekekeke…. Annyeong….. Elsa imnida…. Eunhae line but wookie biased hohohoho

    Seru bener dah ffnya… Hyuk astagaaaaaaaaaaa kagak punya malu *plakkkk terang terangan pokoknya…. N si ikan jd ngegombal gni…. Kopel serasi… *ikan kopl*
    yoo liat hyuk macm liat hantuu ada apa memangya…. N haejin ckxkckc cemburu yg indah wkwkwkw…..
    permisiiiiii lanjut next part aja yaaaaaaa

  8. Kenpa jiyoo gag nafsu sama eunhyuk kan eunhyuk lucu orang .
    Itu juga kenpa haejin gag suka sama donghae , padahal kan donghae oppa ganteng banget
    Tp sepertinya cerita selanjutnya bakalan seru deh🙂

  9. eonni, babomanyeo is coming!!!
    aku sedang mengejar misi ngubek-ngubek ff eonni, dan eng ing eng… ketemu dengan amore cafe!!!
    Awal yang seru dan buat aku penasaran sama kelanjutannya..

  10. hahaha,,, lucu pas yg kata2 ‘hyukjae bukan bakteri’ tpi buat q hyukjae itu sejenis virus yg melumpuhkan semua sistem saraf,buat lap iler gara2 mandang wajah mesum’y aja susah,,, hohooo

  11. annyeong q reader baru diblog kamu ini, slm knl🙂.. ini ff pertama yg q bc, q sk bgt sm ceritanya.. lucu bgt n ga terkesan berat jd q enjoy bgt bcnya.. jg krn main castnya, eunhae couple adlh bias q😀.. baru liat posternya udah lgsg tertarik, pkknya sk bgt😀..

  12. Lucu bangeeet,, aqku baru nyasar ke sini dan langsung baca ini,, ya ampun bikin ngakak,, Hyu Jae, Donghae,, kekeke~

  13. Buakakakakakakak Donghae kenapa jadi konyol begini?? Playboy berwajah unyu dengan mata sendu hehe lebih cocok Poo yang jadi playboy kayaknya, gregetnya lebih dapet hahay
    Dan, wow Bruno Mars versi Asia ikutan juga disini!!! Makin seger deh pikiran hahay semangat, She ^^9

  14. Astaga~
    ane yg terakhir komen nie eon..
    tapi sebaiknya saya agak2nya intro dulu kali ya😀
    ane widi asal SUMUT eon, aq 93 line, biasnya Donghae sama Eunhyuk :v

    aq dah bnyak baca ff eon, y kayaknya aq cocok dapat predikat silent reader lah *horeee
    tapi aq ada alasannya loh eon, aq baca ff nya lewat hape😥
    hape q juga BUKAN bertipe hape mahal, loadingnya lama banget, ff eon juga panjang2
    kalo aku komen, pasti bakal lama lagi kan ??😦 *mewek+mulai curhat*
    tapi aku suka bgt ma ff mu lah eon…
    suka banget ma POO YOO STORY nya… ngena banget lah pkoknya…
    aq minta maaf banget, baru komen sekarang….
    kalo komen satu2 ff, kyknya lama banget eon, jadi aku komen di part 1 dan part terakhir aja yaaa…

    KhamsaHAE~ *HUG*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s