Paparazzi in Love [Raneul’s Afterstory]

Paparazzi in Love

Raneul’s Story

====================

Raneul’s PoV

“Kuberi waktu 5 menit, kau harus sampai kesini tepat waktu,” omelan Nara eonni membuatku sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. “Daritadi banyak orang yang menanyakan dirimu, Kwan Raneul~”

Aku mendesah, “Memangnya siapa aku sampai semua orang menanyakanku? Itu kan pesta penyambutan teman Jiyoo eonni.”

“Tebak siapa yang menanyakanmu,” pancingnya.

“Mm… Jiyoo eonni?” jawabku asal. Disana ada member Super Junior dan Jiyoo eonni, jadi sudah jelas pilihan pertama adalah sebuah hal yang mustahil.

“Salah besar~ Kim Heechul menanyakanmu. Cepatlah kesini~” ucapan Nara eonni berhasil membuat langkahku beku. Kim Heechul? Super Junior Heechul? Yang merangkap aktor itu kan? Yang jadi DJ Youngstreet kan? “KWAN RANEUL~!! Kau tidak pingsan kan?”

Kuatur napasku. “Aniya. Untuk apa dia menanyakanku?”

“Mollayo~ karena itu cepatlah kesini!” untuk terakhir kalinya Nara eonni mengomel lalu memutus teleponnya.

Memangnya Kim Heechul yang itu benar-benar menanyakanku? Atau.. sekedar basa-basi? Ahh~ otakku sedang cacat. Terakhir kali aku bertemu dengannya, yang kutahu ia adalah orang yang selalu marah-marah padaku gara-gara kasus Jiyoo eonni.

“Mm… flat apartemen nomor 7?” kakiku melangkah perlahan sampai terhenti di depan pintu bertuliskan angka 7. “Ahh~ BINGO!” Pintu terbuka sebelum aku sempat menekan bel, “Omomo~ kau mengejutkanku!”

Ia menatapku agak lama, “Kau… adik Kwan Nara-ssi?”

Aku mengangguk kaku. “Sungmin oppa kan? Kenapa keluar? Acaranya sudah selesai ya?” Sesekali aku melongok melalui celah pintu yang terbuka. Tapi sepertinya masih ramai.

“Aku hanya… bosan di dalam,” ujarnya. “Masuklah, Jiyoo dan Nara pasti menunggumu.”

Kugaruk pipiku yang tidak gatal, “Sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal Im Saera, jadi aku sedikit takut masuk ke dalam.”

“Gwaenchanhayo~ Jiyoo kan teman kami, jadi kau juga dihitung. Lagipula Saera memang membutuhkan banyak teman,” jelasnya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Ahh~ Saera itu gadis yang Leeteuk oppa dan Sungmin oppa sukai kan? Itu… yang hampir menjadi bahan artikel Jiyoo eonni.”

“Begitulah. Tapi sekarang dia sudah bersama Teuk hyung. Jadi tidak ada lagi cinta segitiga,” Sungmin menunduk sedih, atau ini hanya perasaanku saja?

Kukatupkan kedua telapak tangan di depan dada, “Mianhae, oppa. Aku tidak bermak-“

“Geumanhae~ aku baik-baik saja,” ujarnya sambil mengibas-ibaskan tangannya, “Kau tidak mau masuk?”

“Aku mau masuk kalau oppa juga ikut masuk. Kaja~” tanpa ragu, kutarik tangan Sungmin masuk kembali ke tempat ramai itu.

“Annyeong haseyo~ Kwan Raneul imnida,” aku membungkukkan badan di depan gadis manis yang terduduk di kursi roda. Bisa kulihat Leeteuk sama sekali tidak beranjak dari sampingnya. Ia terlalu setia mendorong kursi roda itu kemana pun gadis itu mau. Pasangan yang sempurna~

Saera tersenyum lembut, “Annyeong haseyo, Raneul-ssi. Kau datang bersama Sungmin?”

“Aniyo~ tadi aku bertemu Sungmin oppa di depan pintu. Sekalian saja aku menariknya kesini,” ujarku santai. Sempat beberapa kali kutangkap Sungmin tidak bisa melepaskan pandangannya dari Raneul. Aigo~ lelaki patah hati.

“Nikmati pesta kecil ini ya,” pesan Saera. “Sungminie, temani Raneul-ssi. Kasihan kalau dia sendirian. Jiyoo sibuk bersama Eunhyuk, kakaknya sendiri sejak tadi malah mengekor Kyuhyunie.”

Spontan aku terkesiap, “Mwo? Nara eonni menguntit Kyuhyun oppa? Aigo~”

“Ne, sepertinya kakakmu itu sangat menyukai Kyuhyunie,” Saera mengalihkan matanya pada Leeteuk, “Teukie-ya, aku haus. Ayo ambil minum. Sungminie, jaga dia ya.”

Sungmin hanya mengangguk kaku sebelum melihat Saera berlalu. Bersama Leeteuk yang setia mendorong kursi rodanya, tentu saja. Kusenggol lengannya, “Jangan melihatnya seperti itu terus. Terlihat sekali oppa menyukainya.”

“Bicara apa kau ini? Ayo, ambil makanan,” Sungmin menunjuk ke arah yang berlawanan dengan Saera. Keningku berkerut melihat sikap sok kuatnya.

Sepanjang waktu Sungmin tetap berada di sampingku. Aku jadi aneh sendiri dengannya. “Oppa, kau itu sangat penurut pada Saera-ssi ya.”

“He? Begitukah?” sahutnya singkat tanpa menoleh ke arahku.

“Tentu saja. Kalau tidak, kenapa kau mau menemaniku sepanjang pesta kecil ini? Bukankah tadi Saera-ssi yang menyuruhmu?” kukeluarkan seluruh analisisku. Alisnya terangkat. “Kau masih menyukainya kan?”

“Aku sudah melepaskannya pada Teuk hyung,” jelasnya singkat. “Lagipula kenapa kau mau tahu? Kau mau membuat artikel Jiyoo-ssi jadi kenyataan?”

Aku buru-buru menggeleng. “Anieyo~ sejak mendengar kisah kalian, aku jadi penasaran, sebesar apa rasa suka oppa pada Saera-ssi, sampai bisa membuat konflik intern di grup sendiri. Tapi kurasa aku tahu sekarang.”

“Apa yang kau tahu?”

“Seorang Lee Sungmin sangaaaaaat menyukai Im Saera,” harus kuakui, aku terlalu berani untuk membicarakan hal ini dengannya.

Sungmin tertawa. Respon terakhir yang ada di pikiranku. Kupikir dia akan marah begitu aku menyinggung hal ini. “Memangnya tertulis di keningku?”

“Kira-kira begitu~” aku ikut tertawa lalu buru-buru bersembunyi di balik punggungnya. “Omo~ sembunyikan aku.”

“Waeyo?” bisiknya.

Sedetik kemudian aku bisa melihat Heechul berjalan ke arah Sungmin. “Min-ah, tadi kudengar dari Saera, Raneul sedang bersamamu. Kau melihatnya?” Sungmin tidak menjawab, ia menggeleng pelan. “Aigo~ kemana gadis itu? Aku menunggunya sejak tadi.”

Kim Heechul menungguku? Mau apa? Menyusahkan saja~

“Ada perlu apa, hyung?” baguslah~ Sungmin berani bertanya. Kupasang telingaku kuat-kuat. Dari tadi aku penasaran kenapa orang ini mencariku.

“Mm… kau tahu kan sikapku padanya agak keterlaluan saat ada kasus Jiyoo?” jelasnya terbata. Aku mengangguk setuju. Benar sekali! “Aku mau minta maaf padanya.”

“HE??” aku memekik keras. Aigo~ Kwan Raneul bodoh!! Dengan terpaksa aku keluar dari balik punggung Sungmin. Aku terpaksa tersenyum bodoh sambil menggaruk pipi. “Annyeong haseyo, Heechul sunbaenim.”

Heechul melotot ke arahku. “Jadi dari tadi kau sembunyi dariku?”

“Bagaimana menyampaikannya ya… Ya, seperti itulah,” elakku. Aku bisa melihat Sungmin menahan tawa di sampingku. Pesta menyebalkan~ nasibku jelek sekali hari ini.

“Dasar~ sudahlah, lupakan saja niat awalku,” Heechul mendadak angkat kaki sebelum kutahan lengannya, “Apa?”

Kukatupkan kedua telapakku, “Mianhaeyo, sunbaenim~ Kupikir tadi sunbae akan marah-marah lagi padaku.”

“Gadis ini sangat ketakutan, hyung. Maafkan saja dia,” bantu Sungmin.

“Cih~ terserahlah. Aku minta maaf soal sikapku saat terakhir kali kita bertemu,” Heechul menyodorkan tangan kanannya. Aku tersenyum menyambutnya. Ia berteriak girang saat menyadari benda yang kubawa, “Kau bawa apa? Kamera!! Potret aku~”

Aku melongo agak lama. “He? Potret?” Belum sempat kusiapkan Canon-ku, Heechul sudah bergaya dengan berbagai pose ala foto model. Omomo~ super narsis.

-the next day-

“Eonni~” aku merajuk saat Nara eonni menyuruhku kerja lapangan mendadak. Ada pembukaan restoran baru milik teman eomma, dan aku yang disuruh meliput kesana. “Yang lain saja, jangan aku. Jebal~”

Nara eonni terkekeh. “Waeyo? Karena nanti bisa bertemu mantan pacarmu?”

“Anieyo! Eonni memang sok tahu,” dengusku sebal. “Bukankah ada orang lain yang tidak sibuk? Kenapa harus aku?”

“Ya~! Teman eomma ini kan orang penting, lagipula mantanmu itu, siapa namanya? Myungsoo? Dia kan hanya anaknya, tidak mungkin datang kesana,” Nara eonni meyakinkanku.

“Jinjja? Eonni berani jamin dia tidak akan ada disana?” tanyaku.

Nara eonni mengangkat penggaris panjangnya. “Kau mau pergi kesana atau tidak?”

“Ara~ aku berangkat sekarang, redaktur,” aku melangkah keluar sambil menggumam kesal. Bisa-bisanya mengancam adiknya dengan penggaris seperti itu. Dasar eonni~

Kubawa sekuter klasikku ke tempat yang ditentukan. Ahh~ ramai sekali disini. Sepertinya Park Ahjussi akan kembali sukses dengan restorannya yang kesekian ini. Sayang anaknya sangat menyebalkan. Aku berdecak kesal mengingat nama Myungsoo.

“Hhh… seandainya ada Jiyoo eonni, aku tidak akan kesepian begini,” gumamku. Kupersiapkan kamera Canon hitamku sebelum membidik beberapa momen penting. Setelah kuperhatikan sekeliling, ternyata pria menyebalkan itu memang tidak ada. Syukurlah~

Seseorang menepuk pundakku. Myungsoo? Kupukul dia dengan kameraku. “AH~! Sakiit!! Apa yang kau lakukan?”

Tamat riwayatku!! “OMO~ Sungmin oppa??” Buru-buru kuperiksa kepalanya yang baru saja jadi korban kamera spesialku, “Gwaenchanhayo?”

“Menurutmu?” Sungmin masih saja mengelus kepalanya yang mulai memar. Dua hari ini memang bukan hariku. “Kenapa kau memukulku? Aku hanya mau menyapa, Raneul-ssi.”

“Ne, mianhae. Mianhae. Kupikir ada orang iseng yang menggodaku,” elakku. Mana mungkin aku bilang kalau tadi aku mengiranya sebagai mantan pacarku? Aigo~

Sungmin tersenyum mendengarnya. “Menggodamu? Siapa yang mau menggoda gadis bawel sepertimu?”

“Aish… sepertinya aku harus memukul kepalamu sekali lagi!” kuangkat kameraku tinggi-tinggi. Lagi-lagi aku harus bersembunyi di balik punggung Sungmin.

“Ya~! Waekurae? Ada Heechul hyung lagi?” ia melihat sekeliling lalu berbalik melihatku lagi, “Tidak ada Heechul hyung disini. Aku sendirian. Tenang saja.”

Kukibaskan kedua tanganku sambil berbisik, “Anii~ bukan Heechul sunbae, itu… pria yang memakai jas cokelat itu, kau lihat?”

“Ne, lalu?” ujarnya.

“Itu mantan pacarku. Aku tidak mau bertemu dengannya,” aku terus melihat Myungsoo yang berjalan ke depan restoran. Sepertinya dia mencari seseorang. “Aish… Nara eonni bilang dia tidak mungkin ada disini.”

Mendadak Sungmin menarikku ke depan. “Kenapa kau harus takut dengannya? Apa kau kabur membawa uangnya sebelum kalian putus?”

“Anieyo! Sembarangan bicara!! Aku tidak mau bertemu dengannya karena dia itu sang-“

“Raneul-ah, akhirnya aku menemukanmu! Daritadi aku mencarimu, aku yakin kau pasti akan datang meliput peresmian restoran baru ayahku ini,” ujar Myungsoo panjang-lebar. “Kutunjukkan restoran mewah kami, kaja~”

Seenaknya saja dia menarik tanganku paksa. Kulepaskan pergelangan tanganku dengan cepat, “Lepaskan~ jangan seenaknya menyentuhku. Lagipula aku sudah selesai disini.”

“Aigo~ ayolah, kau belum melihat dekorasi mewah disini kan?” inilah sifatnya yang paling kubenci. Park Myungsoo ini terlalu sombong atas kekayaan ayahnya.  Ia berusaha menarik tanganku lagi, tapi lengannya tertahan oleh Sungmin. “Siapa kau? Lepaskan tanganku!”

Sungmin tidak menurutinya, “Benar kan, kau bahkan tidak mau ditarik paksa seperti ini, jadi berhentilah bertindak seenaknya pada orang lain.”

“Ya~! Jangan karena kau artis, kau bisa bersikap angkuh begini! Ini restoran ayahku, kau bisa kuusir dari sini!” ancam Myungsoo. Belum sembuh juga penyakit sok kayanya.

“Lalu kenapa?” Sungmin melepaskan tangan Myungsoo kemudian berganti menarikku, “Kita diusir dari sini. Ayo pergi.”

Aku menurut sambil terus menatap wajah Sungmin. Baru kali ini aku tidak lagi menoleh ke arah Myungsoo. Tapi aku yakin sekali Park Myungsoo itu sempat melongo melihat Kwan Raneul yang dulu tergila-gila padanya sekarang menjadi sangat penurut pada pria lain. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku begini.

“Mantan pacarmu itu menyebalkan,” Sungmin baru berkomentar saat kami berhenti di sebuah taman. “Padahal tuan Park tidak sesombong itu.”

Alisku terangkat, “Oppa kenal Park Ahjussi?”

“Mm. Beliau salah satu kolega ayahku. Kau memanggilnya ‘ahjussi’? Jangan-jangan hubunganmu dengan pria tadi sudah sangat serius ya?” terkanya asal.

“Aniyo! Kenapa semua orang membuatku kesal gara-gara Park Myungsoo hari ini?” aku mengomel sendiri. “Park Ahjussi itu teman sekolah eomma. Sampai sekarang juga masih berteman baik.”

Sungmin kembali berkomentar, “Sepertinya kau masih menyukainya?” Aku baru akan protes saat ia buru-buru menambahkan, “Tertulis jelas di keningmu.”

“Menyebalkan~” dengusku. Aku mencoba mengacuhkannya dengan kembali berkutat dengan kameraku. Memeriksa semua hasil foto dan memastikan kameraku tidak rusak setelah kugunakan untuk memukul kepala Sungmin. “Eh, apa kepalamu baik-baik saja?”

Kulihat Sungmin mengerucutkan bibir. “Kau masih ingat sudah melukai orang? Tidak apa-apa. Kurasa aku tidak akan mengalami amnesia. Sayang sekali.”

“He?” kumiringkan kepalaku heran. Kenapa lelaki ini malah berharap amnesia? Aneh~

“Kalau aku amnesia, setidaknya aku akan melupakan semua hal tentang Im Saera. Sulit rasanya melihatnya di samping orang lain,” tatapannya menerawang ke langit.

Kugaruk pipiku, “Mm… Bukankah itu namanya melarikan diri? Kenapa tidak hadapi saja semuanya? Sedikit lagi pasti perasaan oppa akan baik-baik saja.”

“Seandainya semudah itu,” ujarnya tanpa menoleh ke arahku. “Ya~! Bagaimana caramu melupakan mantan pacarmu yang tadi itu?”

Aku berpikir memeras otak, “Apa ya… aku juga tidak tahu, karena aku belum benar-benar melupakannya, kurasa.”

“Benar kan? Sudah kubilang itu susah,” Sungmin menarik napas panjang.

“Tapi kita baru separuh jalan kan? Ayo berusaha bersama!!” kukepalkan tanganku ke atas. “Kita pasti bisa! Terapi menghilangkan patah hati dimulai!! Kwan Raneul, Lee Sungmin, FIGHTING~!!”

Sungmin memandangku aneh lalu terkekeh, “Turunkan tanganmu, semua orang sedang melihatmu.”

-the next day-

“Rencana hari ini: sibukkan diri sebisa mungkin,” aku mengecek lagi catatan anti-brokenheart milikku.

Sungmin hanya melihat tulisanku sambil mengerutkan kening, “Bagaimana caranya?”

Kugigit bibir bawahku, “Mm… mollayo. Tapi oppa kan sudah super sibuk, jadi itu tidak akan sulit kan?”

“Siapa yang bilang cara untukku? Maksudku, bagaimana caramu menyibukkan diri?” ucapan Sungmin membuatku terkesiap. Dia memikirkanku? “Kenapa melamun? Bagaimana? Kau punya hobi yang bisa membuatmu sibuk?”

“Ah, apa yaa…” aku memikirkan hal yang selalu kulakukan. “Aku suka memotret, jalan-jalan, melihat bunga, ke perpustakaan, lalu makan.”

Sungmin mengerutkan kening, “Makan? Itu hobimu?”

“Begitulah~” aku tersenyum lebar.

“Terserah saja. Ayo kita lakukan semuanya bersama hari ini,” ajaknya. Tanpa menunggu jawabanku, ia mengambil catatan kecilku dan mulai menulis, “Jadi pertama kita jalan-jalan ke taman. Kau bisa memotret dan melihat bunga. Bagaimana?”

Aku mengangguk kaku lalu mulai bertanya, “Kenapa kau mau melakukan ini denganku?”

“Ne? Bukankah kau yang mengajakku berusaha bersama?” baru kali ini aku sadar kalau setiap ucapan Sungmin selalu membuatku terkejut. Diam-diam aku berpikir, Lee Sungmin tidak buruk.

Sepanjang taman ini semua bunga mekar dengan indah. Tentu saja, sekarang kan sudah masuk musim semi. Kuarahkan bidikan kameraku ke setiap objek yang menarik. Ahh~ perasaanku sangat baik hari ini.

“Kau jago?” Sungmin memerhatikanku yang sibuk memotret. Aku langsung mendongak. Ia menambahkan, “Memotret. Apa kau suka fotografi?”

Aku menimbang-nimbang. “Aku suka memotret dan fotografi, memang tidak sebagus hasil Jiyoo eonni, tapi aku hobi memotret. Kau juga kan?”

“Kau tahu?” keningnya berkerut. Aku senang sudah berhasil membuatnya terkejut.

Senyumku terkembang lalu aku mengangguk. “Mm. Kalau oppa mau tahu, aku suka mencari tahu tentang oppa. Sama seperti Jiyoo eonni yang mengidolakan Eunhyuk oppa, aku ini penggemarmu.”

“Jinjja? Kukira kau suka Heechul hyung,” lagi-lagi ia membuatku terkesiap. Bagaimana bisa ia berpikir begitu? Padahal aku takut setengah mati pada Heechul. “Kau selalu tidak berani menatap matanya.”

“Itu karena aku takut padanya,” gumamku pelan. Aku berbisik pada diri sendiri, “Dan aku juga tidak berani memandang matamu.”

-a week later-

Selama seminggu ini terapi anti-patah hati kami berjalan mulus. Selama seminggu itu pula, aku selalu dibuat terkejut oleh semua hal tentang Lee Sungmin. Ia juga bilang hal yang sama padaku. Setiap saat aku selalu bisa memberinya jawaban yang mengejutkan. Dan selama ini, kami cocok.

“Aku suka objek yang berwarna, lebih terlihat nyata,” ungkapnya hari ini. Inilah salah satu persamaan kami, penyuka fotografi. Tidak terlalu sama, memang. Karena aku selalu terkagum-kagum dengan semua hasil bidikannya. Begitu hidup dan nyata.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Oppa, sudah seminggu, bagaimana?”

“Apa?” keningnya berkerut.

“Ini… terapi kita, bagaimana perasaan oppa pada Saera-ssi sekarang?” dengan hati-hati aku bertanya. Dalam hati aku berharap lelaki ini sudah melupakan semua perasaannya.

Tapi tidak, Sungmin menunduk murung. “Mollayo. Selama seminggu ini aku tidak bertemu dengannya. Dia sedang terapi, kakinya kan belum pulih. Lagipula kalau pun bertemu, aku takut perasaan ini masih ada.”

“Bodoh,” entah kenapa rasanya aku marah dan kecewa. “Aku sudah bisa melupakan Myungsoo. Sekarang aku tidak pernah memikirkannya lagi.” Nada suaraku terdengar putus asa.

Sekarang Sungmin tidak memberikan respon apapun. Ya Tuhan… kenapa rasanya menyakitkan? Kenapa aku berharap terlalu banyak padanya?

Sungmin menoleh, “Setidaknya kau berhasil lepas dari masa lalumu. Kita setengah sukses kan?”

“Aku mau pulang!” buru-buru aku bangkit dan berjalan cepat meninggalkannya. Tapi mungkin karena hari ini sama sekali bukan hariku, kakiku terkilir saat aku menuruni anak tangga yang ada di taman ini. “Sakiiit~”

Sungmin berlari cepat menyusulku. Ia berlutut dan memeriksa pergelangan kakiku, “Terkilir. Tidak bisa berjalan kan?” Aku mengangguk kaku. “Naik ke punggungku.”

“He?”

“Naik ke punggungku. Kuantar kau pulang,” ujarnya. Perhatiannya saat ini terasa tidak senyaman perhatian sebelumnya. Mungkin karena kenyataannya aku sadar ia belum melupakan Saera. “Kau mau merangkak sampai mendapat taksi?”

Meskipun aku berdecak kesal, tapi toh akhirnya aku menurut. Kupeluk lehernya dari belakang. Jantungku berdebar kencang saat aku merasakan detak jantungnya. “Turunkan saja aku kalau kau merasa aku berat.”

“Kau memang berat,” ucapannya kembali membuatku kesal. “Tapi aku tidak mungkin menurunkanmu kan?”

“Wah, aku sangat tersentuh,” ejekku.

Sungmin tertawa, “Jangan sungkan.” Aku senang, tapi rasanya tetap kesal. Apa yang sedang dia pikirkan sekarang? “Raneul-ah, apa yang kau pikirkan itu salah.”

“He?” apa aku mulai menyuarakan pikiranku sendiri? Kwan Raneul bodoh~

“Selama seminggu ini aku sudah tidak pernah memikirkan Saera, pelan-pelan tidak ada Saera dalam otakku,” jelasnya. Memberikan semburat kesejukan dalam hatiku.

Dan ucapan ini meluncur begitu saja, “Kalau begitu, bisakah oppa mulai memikirkanku?”

-3 days later-

“Raneul-ah, saatnya membuka perbanmu~” aku menoleh singkat saat Nara eonni masuk ke kamarku. “Aigo~ kau pasti bosan ya hanya di rumah selama tiga hari ini?”

Aku tersenyum samar, “Aniyo. Sedikit, mungkin.”

“Belakangan ini kau suka pergi bersama Lee Sungmin kan?” ujarnya membuka permbicaraan. Awal dari interogasi, pikirku.

“Mm. Lalu?” sepertinya wawancara ini akan berlangsung cukuuuup lama.

Nara eonni menggumam, “Kenapa tiga hari ini sudah tidak lagi? Sejak ia mengantarmu pulang –waktu kau terkilir- eonni tidak pernah melihat atau mendengarmu bicara tentangnya lagi. Apa kalian bertengkar?”

“Kenapa kami harus bertengkar? Kami tidak ada apa-apa.” Aku tersenyum kecut. Nara eonni tidak melanjutkan pertanyaannya. Baguslah. Aku malas membahas ini.

Sejak itu –sejak perkataan bodohku- Sungmin sama sekali menghidariku. Ia tidak lagi menelepon atau mengirim pesan padaku untuk berjalan-jalan di taman itu. Aku bertanya-tanya, apa yang ia pikirkan waktu itu? Jangan-jangan ia berpikir aku berusaha membuatnya melupakan Saera secara paksa?

“Minggu depan ada tuga smeliput ke luar negeri, kau mau?” tawaran Nara eonni membuatku tertegun. “Aneh~ biasanya kau akan menawarkan diri dengan cepat. Kali ini ke Bangkok. Jiyoo bilang, kau mau mendapat jatah meliput ke luar negeri lebih sering, kau mau tidak?”

Aku menimbang-nimbang lalu menggeleng, “Eonni, aku mau melanjutkan sekolah ke luar negeri.”

“Mworagoyo?” bisa kulihat Nara eonni terkejut. “Kenapa tiba-tiba? Dulu saat ada tawaran beasiswa ke Cina, tidak kau ambil. Sekarang kenapa?”

“Eobseoyo~ aku hanya berpikir, aku harus mendalami ilmu jurnalistik-ku kan? Setidaknya tentang fotografi,” elakku cepat.

Nara eonni berdecak, “Gojitmal. Kau ini selalu saja gagal membohongiku. Siapa?” Melihat alisku terangkat, ia tersenyum. “Siapa yang ingin kau hindari?”

“Sungmin oppa,” jawabku jujur. Toh percuma saja berbohong pada Nara eonni. Ia selalu berhasil membaca kebohonganku.

“Benar-benar ingin pergi?” tanyanya lagi. Aku mengangguk kaku.

Sungmin mengaduk-aduk makanan di depannya tapi sama sekali tidak berniat menyendok dan memakannya. Saera menggeleng-geleng melihat kelakuannya, “Sungminie~ apa yang kau pikirkan?”

“Ne? Eobseoyo.” Sungmin berusaha mengelak. Melihat mata Saera menyipit, ia menarik napas panjang. “Ahh~ baiklah. Aku memikirkan seseorang.”

Saera berubah girang, “Jinjjayo?” Kemudian ia berteriak, “TEUKIE-YA~!”

“Ya~! Mau apa kau memanggil Teuk hyung? Aku kesini untuk menenangkan diri, bukan menyiarkan perasaanku!!” dengus Sungmin.

Leeteuk datang sambil membawa segelas jus strawberry di tangannya, “Saera-ya, jangan teriak-teriak. Tetanggamu bisa protes pada kita.” Saera tersenyum jahil. Leeteuk menoleh ke arah Sungmin, “Kenapa gadis ini jadi gila begini?”

“Teukie-ya!” Saera mencubit lengan Leeteuk. “Sungminie sedang jatuh cintaa~~”

“He? Jinjjayo? Kenapa tidak cerita? Siapa gadis itu? Marhae~” kini Leeteuk tak kalah antusiasnya dengan gadisnya.

Sungmin menggaruk pipinya pelan, “Mm… aku bingung, hyung. Dia tidak bilang menyukaiku, dia hanya memohonku untuk mulai memikirkannya karena… hyung tahu kan, aku terjebak pada cinta masa lalu.” Matanya melirik Saera sekilas.

“Ahh~ apa kau masih terjebak pada cinta itu?” kali ini ekspresi Leeteuk agak kesal. Matanya menyipit.

“Aniyo,” ucap Sungmin tenang. “Tapi sekarang aku malah menjauhinya.”

Saera menoyor kepala Sungmin, “Babo~ bagaimana kalau dia memang menyangka kau masih memikirkan cinta masa lalumu, lalu dia menyerah padamu? Aigo~ Sungminie~”

“Lalu aku harus bagaimana?” Sungmin menunduk lesu, “Sebenarnya, aku mulai bisa melupakan cinta lama itu dan mulai melihatnya. Dia suka fotografi, jalan-jalan, bunga, perpustakaan, dan makan. Aku suka saat dia menyemangatiku untuk melangkah maju, aku suka semua foto yang diambilnya, dan aku suka saat dia selalu membuatku terkejut dengan jawabannya.”

Mata Saera berbinar. “Uwaaa~ Sungminie sangaaaat romantis!!”

“Saera-ya! Berhenti memuji pria lain di depanku!” dengus Leeteuk kesal. Saera menjulurkan lidah. “Lalu apa yang mau kau lakukan?”

Sungmin mendesah, “Molla~”

“Sungminie,” panggil Saera. Sungmin menoleh cepat, “Sekarang berikan hatimu itu kesempatan.”

-the next day-

@Incheon airport

“Raneul-ah, kenapa kau malah mau sekolah ke luar negeri? Eonni akan sangat merindukanmu~” Jiyoo eonni memelukku erat.

“Aigo~ eonni, aku hanya akan ke Cina 4 tahun, tidak akan lama,” ujarku. Aku melirik Eunhyuk, “Oppa, jaga Jiyoo eonni, atau aku yang akan memberi oppa pelajaran.”

Eunhyuk mengangguk ragu, “Arasseo~”

Jiyoo eonni menarikku lalu berbisik, “Kami belum pacaran!”

“Kalau begitu pacaran saja, apa susahnya?” godaku. Wajah mereka memerah. Kyopta~~

“Kalau begitu, kau juga harus pacaran denganku!!” teriakan ini…

Kepalaku berputar cepat, “SUNGMIN OPPA?!”

“Hhh… begitu aku ke apartemenmu ternyata sudah kosong, lalu aku buru-buru kesini. Kau mau pergi tanpa memberi tahuku? Tega sekali~” napasnya tersengal. Apa dia berlari kesini? “Bagaimana dengan terapi kita?”

Aku menggigit bibir, “Bukankah terapi itu sudah selesai? Gagal kan? Karena oppa tidak berhasil melupakan orang itu.”

“Memangnya kalau kubilang aku berhasil melakukannya, kau tidak akan pergi?” seperti biasa, jawaban yang mengejutkanku.

Dengan cepat, aku mengangguk, “Seandainya oppa bisa melupakannya, aku tidak akan kemana-mana. Tapi ini sudah terlambat.”

“Tidak ada kata terlambat, gadis bodoh~” ujarnya santai. Ia melangkah mendekat, “Kau harus bertanggung jawab,” Lalu berbisik di telingaku, “Aku sudah melupakan Saera dan mulai menyukaimu, bagaimana ini?”

Mataku terbelalak lebar, “Oppa bohooong!!”

“Aniyo. Untuk apa aku bohong padamu?” lagi-lagi ia menjawabnya dengan tenang, “Aku sudah jatuh cinta pada gadis penyemangatku.”

“Jinjja? Tidak akan memikirkan Saera-ssi lagi?” kali ini aku hanya ingin mendengar kabar baik.

Sungmin memelukku cepat, “Tidak usah banyak tanya! Sekarang ini aku hanya menyukaimu!!”

“Akan kubawakan kopermu pulang,” aku melihat Jiyoo eonni menenteng bawaanku diikuti oleh Eunhyuk.

Aku membalas pelukan Sungmin lalu menoleh pada Jiyoo eonni, “Gomawoyo, eonni!”

-THE END-

====================

[epilog]

“Kau tahu tidak, aku berlari sepanjang 300 meter menuju bandara,” ujar Sungmin saat mengantarku pulang ke rumah.

Aku mengangguk-angguk. “Pantas saja oppa kelihatan kelelahan tadi. Kenapa begitu?”

“Karena kakakmu bilang pesawatmu akan segera berangkat kurang dari 15 menit, sedangkan saat itu jalanan macet total!” Sungmin melirik tajam ke arah Nara eonni.

“Aku tidak dengar. Lalala~” Nara eonni kembali memusatkan perhatiannya ke arah televisi.

Sungmin berdecak kesal lalu kembali bertanya, “Tapi kenapa kakakmu ini tidak ikut mengantarmu?”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang menyebalkan. “Karena orang itu sudah mempermainkanku.” Sungmin mengangkat alis. “Aku baru tahu hal ini dari Jiyoo eonni, dia bilang, orang itu bahkan tidak membeli tiket pesawat untukku! Bayangkan saja kalau oppa tidak datang dan melarangku pergi, aku pasti sudah dibuat malu oleh ORANG ITU~!”

Kulihat Sungmin melongo sementara Nara eonni terkekeh, “Tapi dia datang kan? Jadi kau tidak malu dan aku tidak rugi. Uang yang tadinya akan kubelikan tiket bisa kutabung lagi. Berpikirlah hemat.”

Kuputar bola mataku lalu aku mengomel, “Aigo~ sungguh perhitungan!!”

====================

24 thoughts on “Paparazzi in Love [Raneul’s Afterstory]

  1. ayem kamiiiiiiiiiiing
    ya Allah itu si Nara pelitnya kaga ketulungan dah.. =.=
    demi ade sendiri padahal.. ckckck..

    aaaaah.. akhirnya umin happy ending..!!!
    kasian saya ama diaa.. kalo sedih mulu perannyaa..😄

    ntu jiyoo ama unyuk kaga jadian2?
    hadoh plis deh.. teuki udh balikan, umin raneul udh jadian..
    pemeran utamanya kok ga jadi2?

    • Nara ketularan kakak iparnya *baca: hyukjae*😄
      Gara2 dmarain banyak orang, akhirnya aku bkin aja umin bahagia dunia aherat~ Panas ni mata bca komen isinya kasian ama umin. Jadi ga tega juga. ><

      JiHyuk kan masih pedekate, Vie~ Masih malu2 gitu ceritanyaa.😄

  2. shela aku ngaka sumpah waktu baca nama myungsoo,,, park myungsoo…
    aku langsung inget park myungsoo yang duet sama sica… XDDD

    kamu itu seneng banget ngagantung nasib uminku deh… T.T
    di sini aja digantung dulu…
    untung happy end…
    kalo nggak……………

    after story selanjutnya siapa???
    kyu???

    • he? jinjja? padahal Myungsoo ini aku ambil dari nama aslinya L infinite~ :3 Park’nya aku ambil dari Park Jungsoo *ganyambung*

      iyaa~ di PiL kemaren uda abis diomelin banyak reader, kasian ama umin katanya. Yauda aku bkinin afterstory disini onn~😄 Hepi ending kok~ aku paling ga bisa bkin sad ending. ><

      Next yang pasti yang paling ditungguin reader sjff: KyuNara couple~ Jeng jeng jeng jeng~~ XDD

      • jinja,,, yang botak depan itu lowh…😄
        qm coba aja cari park myungsoo…😄

        ahahahahaha,,, harus itu…
        tapi bikin sad ending emank lebih susah dari pada happy ending…

        kenapa kyuNara couple ada ‘jeng jeng jeng’nya segala???😄

      • hahaha~ sumpahh aku ga tau. Myungsoo cuma aku inget gara2 aku demen ama L. :3

        sad ending yg berhasil paling yg dulu di fb, yg minho~ uda 3 orang ngaku mewek.😄
        Soalnya Kyunara itu couple paling ditunggu di sjff~ -.-

  3. Huwaa…aq telat..
    Koq ga bilang2 c??:(
    itu si raneul keakx suka bgt garuk2 pipi y?xD *plakk*

    akhirnya..sungmin bahagia jg…syukurlah..U_U
    hehe..keren onn…
    Buruan d lanjut yak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s