Paparazzi in Love [Teuk’s Afterstory]

Paparazzi in Love [Teuk’s Afterstory]

====================

Langkah Leeteuk terhenti saat melihat dua orang yang sangat dikenalnya berdiri berdampingan. Satup-sayup ia bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

“Benar~ dengan susah payah, mobil kami menyusuri desamu. Sebenarnya semua member mau ikut, tapi masing-masing sibuk, dan Heechul hyung belum cukup siap bertemu denganmu, jadi aku datang bersama Teuk hyung.” jelas Eunhyuk panjang-lebar.

“Bersama Leeteuk-ssi?”

“Ya~! Sudah kubilang jangan panggil aku dengan cara tidak sopan begitu. Setidaknya panggil dengan ‘sunbae’, arachi?” Leeteuk berjalan mendekat ke arah Eunhyuk sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

“Kenapa tiba-tiba leader Super Junior terdampar disini? Bukankah seharusnya kau sedang mengurusi dongsaengsmu?” ledekan gadis itu membuat Leeteuk sedikit mencibir.

Kemudian ia tersenyum lebar. “Aku memang sedang mengurusi salah satu dongsaengku. Apa kau tidak tahu bagaimana kau membuat Lee Hyukjae menjadi seperti orang gila belakangan ini?”

“Hyung…”Eunhyuk memandangi Leeteuk sambil merajuk. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

Akhirnya ia mengangkat bahu. “Baiklah~ terserah saja.” Kemudian ia berjalan menjauh meninggalkan Eunhyuk dan Jiyoo. “Dasar pasangan muda.”

Leeteuk’s PoV

Sepertinya aku harus segera menelepon rumah sakit jiwa. Setelah bertemu dengan Jiyoo, Eunhyuk selalu tersenyum aneh sendiri. Sepanjang perjalanan ini, aku bisa melihatnya yang bertingkah abnormal. “Hyuk-ah?”

“Ne?” Eunhyuk menyahut tapi tetap saja senyumannya aneh. Aigo~ jangan-jangan dongsaengku ini sudah gila. “Mm, hyung,” Aku meliriknya tanpa bersuara. “Apa aku boleh menikah lebih awal?”

Mendengar permintaan gilanya, aku menginjak rem mobil seketika. CKIIT~!! Badanku maju ke depan tapi tertahan oleh sabuk pengaman. Sayangnya kepala Eunhyuk sudah terlanjur menempel pada dashboard. “Ya~ gwaenchanha??”

“HYUNG~! Sudah gila? Kenapa berhenti mendadak??” ujarnya sambil mengelus-elus kening. “Sakiit~”

“Mianhaeyo. Siapa suruh kau malah bertanya hal aneh begitu? Aku justru curiga kau yang sudah gila,” aku memang menyesal, tapi aku tetap terkekeh melihatnya menderita.

“Memangnya apa yang sudah kukatakan?” tanyanya polos.

Aku mulai menjalankan kembali mobil ini. “Soal pernikahan! Kau pikir aku tidak terkejut mendengarnya?”

“Aku hanya bertanya, bukan berarti aku akan melakukannya dalam waktu dekat,” elaknya.

“Anak bodoh~ kau pikir aku tidak melihat warna mukamu yang sudah berubah merah terang begitu? Wae? Kau mau melamar Jiyoo?” godaku. “Kalau sampai kau melangkahiku sebagai leader, langkahi dulu mayatku.”

Eunhyuk menimbang-nimbang, “Aniyo. Aku tidak mau melangkahimu, hyung. Lagipula Jiyoo masih 18 tahun, mana mungkin aku menikahinya sekarang?”

“Aish… kalian ini bahkan belum resmi pacaran, tapi kau berani membicarakan pernikahan?” rutukku pelan. “Lagipula kau kan tahu aku sendiri belum punya pacar, jangan berani-berani mengungkit soal pernikahan di depanku.”

Aku melihat Eunhyuk mengerutkan kening. “Saera noona bagaimana?”

Pertanyaan itu membuatku tertegun. Entah kenapa rasanya dadaku terasa sesak saat mendengar nama itu. Kenapa? Kupikir aku sudah terbiasa tanpanya. Tapi sepertinya hatiku tidak akan pernah bisa terbiasa.

-the next day-

“LEETEUK-SSI~!!” siapa orang yang berani berteriak di studio begini? Bahkan meneriakkan namaku. Kuputar badanku dan aku melihat gadis itu berdiri di koridor. Senyumnya terkembang tapi kenapa firasatku malah tidak enak?

“Jiyoo-ssi? Mau apa kau kesini?” mataku memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Penampilanmu hari ini agak… berbeda?”

Gadis di depanku ini malah memasang tampang polos. Bagaimana mungkin seorang Choi Jiyoo yang terbiasa dengan celana jins dan t-shirt sederhana kali ini mengenakan rok dengan cardigan merah muda? Lengkap dengan rambut panjangnya yang diikat satu. Belum lagi segala aksesoris gadis yang menempel. Apa ini Choi Jiyoo?

“Memangnya kenapa? Apa ini berlebihan?” tanyanya bingung.

Kuusap mataku berkali-kali. Aku harus memastikan bahwa penglihatanku ini masih normal. “Ani. Hanya terlihat lebih manis. Kau mau kencan?”

“A-aniyo. Eunhyuk oppa mengajakku bertemu disini,” tampak sekali ia gugup. Kemudian ia berbisik, “Apa kau pikir Eunhyuk oppa akan mengajakku kencan?”

Aku tertawa mendengar ucapan polosnya. “Ya~ kurasa dia akan langsung mengajakmu kencan kalau penampilanmu seperti ini.”

“Penampilan apa?”

“Kau ini bisa membuat Eunhyuk langsung mengajakmu ke Namsan Tower kalau penampilanmu manis begini,” jelasku panjang-lebar. “Apa kau yakin dia tidak mengajakmu berkencan?”

Jiyoo menggeleng. “Eunhyuk oppa hanya minta bertemu.”

“Lalu kenapa pakaianmu…” kuarahkan telunjukku ke cardigan dan roknya. Dengan cepat aku menarik kesimpulan, “Ahh~ kau memang berharap dia akan mengajakmu ya?”

“Aish… Leeteuk-ssi!!” bisa kulihat pipinya memerah. Kenapa pasangan ini sangat lucu?

Kemudian mataku menangkap sosok Eunhyuk yang berjalan mendekat. “Ya~ pangeranmu datang.” Jiyoo memukul lenganku sedangkan aku merasa sesuatu yang berbeda dari Eunhyuk, “Hyuk-ah, kau memakai parfum?”

“Ne, hyung. Aku minta punya Donghae tadi pagi. Otte? Wangi kan?” ujarnya sambil mencondongkan badannya ke arahku. Bahkan untuk parfum pun dia minta dari Donghae? Aigo~ mimpi apa aku punya dongsaeng ajaib seperti dia?

“Memangnya kalian mau kemana? Kencan?” tanyaku cepat. Tapi bukannya menjawab, Eunhyuk malah menarik lenganku. “Waeyo?”

Eunhyuk berbisik pelan, “Temani aku kencan, hyung.”

“MWO?” aku terkejut mendengar ucapannya. “Kau mengajakku? Aku memang tidak punya pacar, tapi aku juga tidak mau pergi kencan bersamamu!”

Kemudian ia mengibas-ibaskan tangannya, “Anieyo~ kau salah. Aku mau mengajak Jiyoo, tapi aku ingin kau ikut.”

“Ya~! Kenapa harus aku? Bukankah kau biasa pergi berdua?”

Eunhyuk menggaruk-garuk kepalanya. “Aku gugup, hyung. Lagipula mana mungkin aku bisa bilang ini kencan kalau kami saja belum resmi?” Lalu ia memohon lagi, “Ayolah, hyung. Bantu aku. Aku janji aku tidak akan mengabaikanmu disana.”

Janji memang hanya janji. Berani bilang tidak akan mengabaikanku tapi membiarkanku jalan di belakangnya. Sedangkan dia? Dengan santainya berjalan berdua dengan Jiyoo. Lee Hyukjae, aku sangat ingin memukulmu.

“Oppa, ayo naik itu!!” aku melihat Jiyoo menunjuk wahana Roller Coaster. Melihat wajah Eunhyuk berubah pucat, aku terkekeh. Sudah tahu penakut, kenapa mengajak kencan ke taman hiburan?

Setelah berdebat berdua, akhirnya mereka memutuskan naik wahana komedi putar (?) dan meninggalkanku sendirian. Eunhyuk cari mati~!

Daripada berkeliling tidak jelas, aku memilih duduk di kursi kayu sambil memerhatikan orang-orang yang berjalan di depanku. Anak-anak berlarian, bahkan pasangan seperti Eunhyuk-Jiyoo pun banyak. Tiba-tiba mataku tertuju pada kembang gula yang dipegang oleh seorang gadis. Warnanya merah muda. Dan secara mendadak, aku bisa merasakan rasa manisnya di mulutku.

“Teukie-ya! Ini manis, cobalah,” gadis di sampingku ini belum berhenti mencoba menjejali mulutku dengan kembang gula yang ia beli. Melihatku menutup mulut rapat-rapat, ia mencibir. “Untuk apa kau membelinya kalau kau tidak mau makan?”

Kutarik napas panjang, “Ini kan kubelikan untukmu, untuk apa aku ikut memakannya?”

Lagi-lagi ia mengerucutkan bibir. Ia selalu tampak manis kalau ia marah, tapi aku benar-benar tidak suka melihatnya marah. Dengan cepat kumasukkan banyak kembang gula ke mulutku. Ia tertawa melihat pipiku yang penuh. “Manisnya Teukie-ku!!”

Agak lama sampai aku berhasil menelannya. “Hhh… kau sangat senang? Melihat Teukie-mu kesulitan, kau senang?”

“Ne, aku sangat senang melihat Teukie-ku kesulitan menghiburku,” godanya. Ia tertawa sampai dimples-nya terlihat. Dimple yang sama dengan milikku. Ia terlihat manis sekarang. Begitu kutempelkan bibirku ke bibirnya, ia terkesiap sambil menatapku. “Ini tempat umum~!”

“Aku hanya ketagihan kembang gula, dan sepertinya bibirmu itu penuh dengan kembang gula,” elakku cepat. Kemudian ia tersenyum lagi sebelum kembali menyerangku dengan kembang gula bertubi-tubi.

“Hyung?” kibasan tangan Eunhyuk di depanku membuat kenangan itu menghilang tiba-tiba. Memaksaku kembali ke dunia nyata. Duniaku yang sepi. Aku mendongak tanpa suara. Ia duduk di sampingku, “Kenapa tersenyum sendiri? Kau bahkan tidak melihatku melambaikan tangan dari jauh. Di tempat seramai ini masih bisa melamun?”

Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku sendiri. Aku… tersenyum? Benarkah aku bisa tersenyum saat memikirkannya?

Jiyoo berjalan mendekat sambil menyodorkan minuman kaleng. “Teuk-ssi, minumlah.” Aku tersenyum kecil menerimanya. Ia mengatupkan kedua tangannya, “Mianhaeyo. Kami sudah merepotkanmu.”

“Baru sadar?” ujarku ketus. Kemudian aku tertawa, “Sudahlah~ kalian ini kan dongsaengku, lagipula aku merasa aku harus mengawasi Hyukie saat bersamamu.”

“He? Mengawasiku? Memangnya apa yang bisa kulakukan?” alis Eunhyuk terangkat.

“Kau ini selalu tidak bisa berkutik di depan gadis, aku takut kau pingsan karena terlalu gugup,” ujarku asal. Kupikir tidak baik membuat imej Eunhyuk rusak sebelum ia berhasil berkencan dengan Jiyoo. Berterimakasihlah padaku, Hyukjae~

Kulihat Jiyoo mengerutkan kening, “Jinjjayo?”

“Begitulah,” aku mengangkat bahu santai.

Tiba-tiba Eunhyuk merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia pamit sebentar untuk mengangkat telepon kemudian kembali dengan wajah pucat, “Hyung…”

-a few moment ago-

@Incheon airport

Saera melangkah ringan sambil menarik koper besar berwarna hitam. Kacamata gelap terpasang di matanya. Sesekali napasnya terasa berat. Meninggalkan Seoul beberapa hari untuk menenangkan diri sama sekali tidak membuat perasaannya lebih baik. Ia selalu merindukannya. Hatinya tidak tenang saat Sungmin memberi kabar kalau mereka terlibat masalah dengan seorang paparazzi. Paparazzi yang memotret saat-saat terakhirnya bersama Teukie-nya.

Melihat Sungmin berdiri di samping mobil, ia tersenyum. “Sungmin-ah, aku merindukanmu!”

“Aku… juga,” sahut pria itu singkat. Dalam hati ia berbisik, aku lebih merindukanmu. “Langsung ke apartemenmu?”

Saera menimbang-nimbang sebentar, “Mm-hmm. Ah, tapi aku masih harus bertemu temanku untuk mengambil pesanan barang. Aku akan kesana naik taksi, jadi-“

“Kuantar,” Sungmin mengambil paksa koper gadis itu dan memasukkannya ke dalam bagasi. Kemudian ia membukakan pintu untuk Saera, “Masuklah.”

Gadis itu tersenyum dan menggeleng. “Aku mau pergi sendiri. Tidak apa-apa kan?” Saera mengeluarkan sekumpulan kunci yang digabung jadi satu, “Ini kunci apartemenku, tunggu disana ya.”

“Hhh…,” Sungmin menarik napas panjang lalu berkomentar, “Siapa yang bisa melarang Im Saera? Akan ada makanan istimewa begitu kau sampai.”

Saera memamerkan kedua dimples-nya, “Lee Sungmin yang terbaik~!!”

“Tidak sebaik Park Jungsoo,” gumaman Sungmin membuat Saera tertegun. “Aku tahu kau memesan sebuah Kristal mungil untuknya.”

“Kau tahu?”

Sungmin tersenyum samar. “Berapa kali kubilang, aku tahu semua hal tentang Im Saera. Pergilah~”

“Gomapta, Sungmin-ah.” Saera memeluk Sungmin cepat lalu memanggil taksi. Tangannya sempat terlambai ke arah Sungmin sebelum taksi itu melaju meninggalkannya.

Pria itu hanya diam sambil memegangi dadanya. “Sekali lagi. Sekali lagi kau meninggalkanku.”

Taksi yang ditumpanginya meninggalkan rumah yang lumayan besar saat Saera selesai menjemput pesanannya. Kristal mungil dengan ukiran nama ‘Teuk-teukie-ku’. Ia tersenyum memandangi hadiah kecil itu. Kali ini ia bertekad, ia akan memperjuangkan Leeteuk. Apapun yang terjadi, ia harus membuat Leeteuk kembali berjuang. Saera tahu persis seperti apa pria itu. Leeteuk meninggalkannya bukan karena maunya. Semuanya karena keadaan. Keadaan yang selalu membuat mereka menyerah.

Lamunan Saera terganggu saat dering ponselnya memanggil. Ia tersenyum melihat caller id, “Sungminie~… Ne, aku sudah akan pulang. Kau membuat apa untukku?… Jinjjayo?… Mm. gomapta… Ne.”

‘BRUGG!’

Taksi itu oleng dan berputar satu kali sampai akhirnya terbalik. Kejadiannya begitu cepat saat Saera merasakan kepalanya sangat sakit. Tangannya menyentuh cairan kental merah yang keluar dari hidung dan kepalanya. Ia melihat Kristal mungil itu pecah. Air matanya jatuh sebelum ia merasa penglihatannya mulai kabur dan semuanya berubah gelap.

Leeteuk’s PoV

Seumur hidup aku memang percaya pada ‘kontak batin’, tapi aku tidak mau meyakininya sekarang. Semua pikiranku tentangnya, lamunanku yang selalu mengarah padanya, dan hatiku yang selalu terasa nyeri membuatku sampai kesini. Kakiku  bergetar tapi tetap kupaksa melangkah. Entah kenapa koridor rumah sakit ini terasa sangat panjang. Terlalu panjang seolah tidak ada ujungnya.

Eunhyuk sendiri tampak panik. Wajar. Saera memang cukup dekat dengannya –selain denganku dan Sungmin-. Jiyoo di sampingnya bisa menggenggam tangannya erat, tapi aku? Aku cukup bersyukur kakiku masih mampu menopang tubuhku.

Duniaku runtuh saat Eunhyuk mengabarkan hal ini. “Hyung… Saera noona kecelakaan mobil. Kata Sungmin hyung, ia kritis.”

Berkali-kali aku merutuk, kenapa kau harus kembali? Hiduplah dengan baik di Jepang. Hiduplah tanpa beban disana. Hiduplah tanpa Teukie-mu ini.

Member lain sudah mendahului kami di rumah sakit. Kulihat Sungmin terduduk lemas di kursi koridor. Wajahnya pucat dan sayu. “Sungmin-ah, Saera! Bagaimana dia?”

“Tidak baik. Sangat tidak baik.” Sungmin menjawab dengan suara parau dan sekarang rasanya dadaku terasa nyeri.

Ryeowook menambahkan, “Aku seperti dibawa ke masa lalu. Dulu Kyuhyunie, sekarang Saera noona.”

“Lebih parah dari Kyuhyun waktu itu,” timpal Donghae, “Kepalanya terbentur keras dan darah tidak berhenti keluar dari hidungnya. Kaki kanannya juga patah. Sementara hanya itu yang dikatakan dokter.”

Kakiku mulai lemas. Aku pasti terjatuh seandainya Eunhyuk tidak menahan tubuhku. “Hyung! Duduklah dulu.”

Sekarang rasanya kepalaku berputar. Telingaku sudah tidak bisa mendengar apa-apa. Mataku mulai terasa kabur. Yang bisa kudengar hanya suaranya. Yang ingin kulihat sekarang hanya wajahnya. Tuhan… setidaknya biarkan Saera bertahan.

“Teukie-ya, aku tidak suka melihat tulisan baru di cyworld-mu. Kau kenapa?” Saera duduk tepat di samping ranjangku.

Aku mendongak untuk menatap wajahnya. “Kenapa kesini pagi sekali?”

Saera menggembungkan pipinya. “Aku selalu kesini setiap aku ingin. Sudah dilarang ya?” Kemudian ia menarik selimutku, “Bangunlah~ kenapa kata-kata di cyworld-mu semalam begitu aneh?”

“Hmm… karena aku sedang kesepian,” aku menggeliat sebentar lalu duduk bersandar. “Susahnya menjadi leader, tekanan media, dan semua hal ini membuatku kesepian. Lama-lama aku merasa tidak ku-“

Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Saera memelukku erat. Badannya bergetar. Ia menangis. “Lain kali… lain kali, kalau kau merasa kesepian, datanglah padaku. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Mengerti?”

Kuusap pipinya lembut. “Aku mengerti. Berhentilah menangis, kau membuatku ingin menangis juga.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menangis,” ujarnya sambil tersenyum.

Kau tidak akan membiarkanku menangis kan? Lalu kenapa kau tidak bangun saat air mataku terjatuh? Saera-ya, Teukie-mu ini merindukanmu.

“Dia akan membelikan hyung sebuah Kristal,” ucapan Sungmin membuatku memutar badan. “Aku yang menjemputnya di bandara, tapi dia ingin menjemput Kristal itu sendiri.”

Aku diam sejenak lalu menjawab, “Aku bahkan tidak tahu dia kembali.”

“Seperti yang kubilang, hyung, selamanya dia adalah milik Park Jungsoo.” Sungmin mulai mengalihkan pandangannya dariku. Ia menangis lagi.

Sungmin memindahkan ponsel ke telinga kirinya, “Mworagoyo? Kau akan pulang ke Seoul? Apa disana kau tidak nyaman?”

“Ani, aku sangat merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya, ingin mendengar suaranya, ingin…” suara Saera tertahan dengan air mata yang mendesak keluar.

“Sae-“

“Gwaenchanha. Aku baik-baik saja,” Saera kembali mengeluarkan suara cerianya. “Sungmin-ah, kau tahu, aku tidak akan pernah menangis karena dia. Itu janji kami, kami tidak akan menangis lagi. Dan aku melakukannya~! Aku tidak menangis lagi, setidaknya jarang.”

Gadis di ujung telepon itu tertawa lepas. Sungmin bisa merasakan Saera sedang bangga pada dirinya sendiri karena ia berhasil menepati janji pada Leeteuk. Padahal Sungmin tahu sang leader selalu sedih mengingat gadis ini. “Saera-ya, kau menang~!”

-A week later-

“Rasanya gelap, seperti kau hanya berjalan sendirian, tapi tidak tahu kemana tujuanmu,” telingaku mendengar Kyuhyun bercerita tentang bagaimana rasanya koma. Ia melanjutkan, “Sesekali kau akan merasa sesak dan dingin, tapi bahkan kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan.”

Dadaku kembali terasa nyeri saat mendengarnya. Aku pernah mendengar hal itu dari Kyuhyun langsung saat ia sudah lumayan pulih dari kecelakaan 2007. Tapi sekarang telingaku dipaksa mendengarnya lagi. Dulu aku merasakan nyeri yang sama persis seperti sekarang, membayangkannya berada dalam suasana yang gelap dan sepi itu sendirian.

Aku memilih masuk ke kamar rawat Saera daripada mendengarkan hal menyeramkan itu lagi. Ia masih tetap sama. Masih terbaring dan memejamkan mata. Aku menarik kursi. “Kau belum mau bangun?”

Tentu saja ia diam. Hatiku kembali nyeri saat melihat balutan perban dimana-mana yang membungkus tubuhnya. Melihat semua luka di kepala, lengan, dan kakinya, aku berpikir, seperti apa kecelakaan yang ia alami? Apa yang ia rasakan sebelum kecelakaan itu terjadi?

“Semua orang sudah menunggumu selama seminggu,” ucapku parau. “Aku… aku sudah menunggumu seumur hidupku.” Aku meraih tangannya dengan hati-hati, “Bangunlah. Kau tahu persis bagaimana aku tanpamu, kau sangat mengerti bagaimana Teukie ini tanpa Im Saera.”

Air mataku menetes dan kubiarkan terjatuh di tangannya yang diam.

“Cepatlah sembuh, Teukie-ya. Kau tega membuatku panik begini?” kuintip Saera yang mengusap air mata di pipinya. Melihat bibirku tersenyum, ia berteriak. “Kau tidak tidur??”

Aku terkekeh melihat ekspresinya. “Memangnya aku bisa tidur kalau kau terus mengajakku bicara?” Kucubit pipinya pelan, “Lagipula aku ini hanya sedang demam, bukan sekarat. Kenapa menangis seperti itu?”

“Tetap saja, kau ini sedang sakit. Sakit seringan apapun, judulnya tetap sama, sakit.” Saera mengomel sambil menyodorkan segelas air, “Kau haus tidak? Mau minum?”

“Kenapa kau ini perhatian sekali?” ujarku sebelum menenggak air mineral dari tangannya.

Saera memiringkan kepalanya lalu tersenyum. “Karena aku ini pacar yang baik, calon istri yang sempurna, dan gadis yang hanya bisa berbuat begini pada Super Junior leader. Aku tidak bisa memberikan banyak hal kecuali perhatian ini.”

“Arasseo~ akan kuingat itu. Im Saera akan selalu memberikan banyak perhatian pada Park Jungsoo.” Saera memegangi pipi kanannya yang kucium.

-the next day-

“SAERA KRITIS!!” teriakan Sungmin membuat napasku seolah berhenti. Jantungku berdebar cepat tapi rasanya dadaku ini kosong.

Karena ini sudah dini hari, tidak semua member berada disini. Setidaknya ada aku dan Sungmin yang memang tidak pernah pulang. Bergantian menemui dan menjaganya. Di saat genting begini masih ada Eunhyuk, Donghae, Yesung, dan Ryeowook yang langsung menuju ke rumah sakit. Kami semua cemas.

Otakku tidak bisa berpikir jernih. Aku terlalu takut membayangkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi, baik itu kemungkinan terkecil sampai kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Tuhan… seandainya bisa, aku ingin menggantikannya. Sudah terlalu banyak kesedihan yang kuberikan. Kali ini, hanya kali ini saja, biarkan aku menjadi orang yang membuatnya tersenyum.

“Let’s break up,” akhirnya kata-kata dingin itu meluncur dari bibirku.

Gadis di depanku ini tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti gadis lain. Ia memejamkan matanya lalu menatapku. “Hanya begini saja, Teukie-ya? Hanya ini yang bisa kau lakukan untuk menjagaku?”

“Saera-ya…” suaraku bergetar saat memanggil namanya. Berat melepasnya, tapi memang inilah yang harus kulakukan. Aku tidak bisa terus-menerus melukai Sungmin dengan segala perasaanku pada Saera. aku juga tidak bisa selalu membuat Saera tidak nyaman dengan semua tekanan dari SM. Semua hal itu membuat ulu hatiku sakit.

“Bisakah kita berjuang sekali lagi?” ucapannya membuatku tertegun. Ia meraih tanganku, “Teukie-ya, kita bisa melakukannya tanpa kau melepasku. Aku… aku tidak bisa.”

Kutarik seluruh oksigen masuk ke dalam paru-paruku. “Ini sulit. Bukankah lebih baik kita menyerah?”

Saera tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dan satu-satu air matanya menetes. Aku memaki diriku sendiri. Apa yang sudah kulakukan? Kenapa malah membuatnya menangis? Aku benci Park Jungsoo, katakan itu, Saera-ya. Katakan kau membenci Teukie-mu ini. Kumohon~

“Aku mencintaimu, Teukie-ya,” ujarnya sambil menunjukkan wajahnya yang basah. “Selalu mencintaimu.”

“Aku mencintaimu, Saera-ya. Selalu,” ucapanku terbata saat berada di sampingnya. “Selalu mencintaimu.”

Pintu kamar Saera terbuka perlahan, “Leeteuk-ssi?” Aku menoleh dan melihat Jiyoo menenteng keranjang buah. “Kau baik-baik saja? Aku membawakan buah untuk Saera-ssi.”

“Mm. Letakkan di meja saja,” kuhapus air mata di pipiku.

Jiyoo berdiri di samping kursiku. Ia membungkukkan badan. “Annyeong haseyo, Saera-ssi. Choi Jiyoo imnida, paparazzi yang sempat menyusahkan Leeteuk-ssi,” Kulihat Jiyoo mengamati wajah Saera yang sedikit lebam, “Omo~ kau sangat manis. Persis seperti kata Eunhyuk oppa. Tapi kurasa kau akan lebih manis kalau tersenyum, jadi bisakah kau segera bangun?”

“Jiyoo-ssi…” suaraku terdengar serak.

“Apa? Aku hanya memberi salam,” ujarnya santai. Kemudian ia memandangi Saera lagi, “Aku sangat ingin mengenalmu, Saera-ssi. Untunglah semalam kau melewati masa kritis, jadi sekarang kita bisa bertemu. Kau tahu, aku sangat cemas semalam. Aku terus berdoa supaya kau selamat dan kita bisa berkenalan secara resmi.”

Aku memotong ucapannya. “Gadis inilah yang membuat kami kesulitan, Saera-ya. Hampir saja kami hancur gara-gara Choi Jiyoo ini.”

“Mworagoyo? Tapi aku tidak mengerjakan artikelnya kan? Kau ini sangat pendendam~” Jiyoo mencibir kesal. “Saera-ssi, kau tahu tidak, pria ini pernah mabuk berat demi dirimu. Kusarankan, jangan sampai kau melihat dia mabuk. Menyusahkan~”

“YA~!” Baru saja aku akan membalas kata-kata Jiyoo saat aku merasa tangan Saera bergerak. “T-tangannya!! Tangannya bergerak!!”

“Aku akan panggil dokter!!” Jiyoo meninggalkan kamar Saera dengan cepat.

Aku menggenggam tangan Saera erat. Kelopak matanya bergerak sedikit demi sedikit sampai akhirnya aku bisa melihat mata cokelatnya terbuka. “Saera-ya? Kau bisa mendengarku?”

“Tentu saja. Kau berteriak keras sekali sampai aku terbangun, mana mungkin aku tidak mendengarmu?” suaranya terdengar serak tapi aku tahu dia akan baik-baik saja. Saera tersenyum ke arahku, “Aku memesan sebuah Kristal kecil, tapi benda itu pecah waktu kecelakaan. Padahal ada namamu disana.”

Mendengarnya bisa berceloteh panjang-lebar begini, aku benar-benar lega. “Yang penting namaku selalu ada di hatimu, itu cukup.”

Saera meringis sambil mengerutkan kening. “Sejak kapan Teukie-ku jadi gombal begini?”

“Noona, wajahmu berubah biru!!” seruan Eunhyuk membuatku langsung menoyor kepalanya. “Sakiit~! Noona, Teuk hyung memukulku.”

Saera menatapku galak lalu berkomentar. “Teukie-ya, pukulanmu kurang keras. Hyuk-ah, wajahku ini masih lebam, pasti biru!!”

“Tapi kau tetap cantik, noona~” goda Eunhyuk. Kemudian ia mengamati tas besar yang terbuka, “Kapan noona akan pulang ke rumah?”

Aku mengambil alih untuk menjawabnya. “Sore ini. Dokter bilang, Saera sudah baik-baik saja. Bilang pada semuanya untuk datang menjemput Saera.”

“Ne, hy-“

“Andwae~ Teukie-ya, tidak perlu memaksa mereka datang menjemputku. Mereka pasti sibuk,” Saera kembali menoleh pada Eunhyuk, “Hyuk-ah, jangan beri tahu mereka. Beri tahu saja kalau aku sudah di rumah nanti.”

“Baiklah, noo-“

Aku memotong. “Sudah kubilang pastikan mereka semua datang.”

“Jadi bagaimana? Harus datang semua atau tidak?” tanya Eunhyuk bingung. Ia terus menatap kami bergantian dengan bingung.

“Baiklah, terserah kau saja. “ akhirnya Saera memilih mengalah padaku. Aku tersenyum lalu mengerling pada Eunhyuk dan ia mengacungkan jempol.

Aku mendorong kursi roda yang sementara menjadi kendaraan Saera. Kakinya masih belum bisa dipakai untuk berjalan dan ia terus mengomel soal itu. “Hhh… aku seperti bayi~!” itulah yang sering ia katakan.

“Kau memang bayi. Bayi milik Teukie~” godaku nakal. Kemudian aku mencium keningnya, “Terima kasih untuk tidak meninggalkanku.”

Saera mengerutkan kening, “Aku tidak akan bisa meninggalkanmu.”

“Kali ini aku butuh garansi,” kujentikkan jariku dan apartemennya berubah gelap. Suasana di luar yang sudah agak malam membuat semuanya sempurna. Satu per satu lilin menyala. Setiap member memegang satu lilin panjang. “Terima kasih sudah menjadi cahayaku.”

Aku bisa merasakan tangannya menggenggam tanganku erat. “Teukie-ya…”

“Sekarang, izinkan aku menjadi cahayamu. Maafkan Teukie-mu yang menyebalkan ini,” ujarku tenang. “Sesuai permintaanmu, aku ingin kita berjuang sekali lagi.”

Saera masih memandangiku dalam-dalam, “Kau janji? Tidak akan mengusirku dari hidupmu lagi?”

“Tidak akan. Lagipula kau sedang berada di atas kursi roda, memangnya kau bisa kemana tanpaku?” kucubit pipinya. “Kesalahan terbesarku adalah membiarkanmu pergi dan kembali dalam keadaan seperti ini.”

“Noona~” Donghae melangkah maju ke depan dan berlutut untuk menyamakan tinggi dengan Saera yang duduk di kursi roda. “Jangan menerima lamaran Teuk hyung dulu, masih ada 5jib dan seterusnya, kami masih ingin melihat noona selamat.”

Saera tertawa dan mencubit pipi Donghae, “Arasseo~”

“YA~! Kenapa mencubit Donghae mesra begitu?” kulipat tanganku sambil melengos kesal.

“Kenapa? Bukankah kau pengganti ayahnya, jadi sekarang aku adalah ibunya kan?” elaknya cepat. “Memangnya seorang ibu dilarang mencubit anak-“

Kuhentikan ocehannya dengan ciuman cepat di bibirnya. “Jangan membuatku marah.”

“Arayo,” Saera masih menatapku tapi dengan tatapan mengambang. Ekspresinya lucu. Sejenak kemudian ia memiringkan kepala. “Lalu, kita mau apa berkumpul di apartemenku?”

“PESTA~!!” suasana gaduh langsung menggema. Mereka berhamburan kesana-kemari. Semua kue dan makanan di meja mulai berantakan.

Aku menarik napas dan berjongkok. “Bukan ini maksudku. Aku tidak menyuruh mereka berbuat onar begini.”

“Gwaenchanha~ kapan lagi rumahku ramai? Lagipula aku memang sangat merindukan semua ini. Suasana gaduhnya, ramai, dan kacau dari membermu.” Saera tersenyum ke arahku, “Dan juga darimu. Kecelakaan itu ternyata bisa membuatnya lebih mudah.”

Kututup telingaku lalu kudorong kursi rodanya. “Lalala~ aku tidak dengar. Aku amnesia. Tidak tahu ada kecelakaan apa.”

“Aku serius~ dengarkan aku, kalau aku tidak kecelakaan, pasti kau masih bersikap dingin padaku, iya kan?” terkanya. Melihatku acuh, ia mengomel, “Teukie-ya~ aku benar kan?”

-THE END-

[Epilog]

“Kristal? Kenapa Kristal?” kukerutkan keningku ke arah Saera. Aku bertanya tentang pecahan-pecahan Kristal yang sempat memberi luka goresan di lengannya. Saera bilang seharusnya benda itu menjadi hadiah untukku.

Ia tersenyum. “Karena kau sangat indah. Tapi kau juga rapuh. Selalu bisa pecah dan hancur setiap saat. Seperti Kristal kan?”

Aku mengangguk membenarkan. “Ditambah lagi, hargaku sangat mahal, iya kan?”

Saera mengibaskan tangannya. “Aku hanya ingin kau tahu, meskipun kau itu rapuh, tapi kau sangat indah. Kau berkilau dan berharga, jadi aku akan menjagamu supaya kau tidak pecah.”

“YA~! Lalu siapa yang akan menjagamu kalau kau hanya memikirkan Kristal bodoh ini?”

Telunjuknya terarah padaku. “Tentu saja kau. Kita akan saling menjaga. Bisa kan?”

“Aku selalu ingin melakukannya,” kubelai rambutnya pelan. Mataku melihat sosok Sungmin yang berdiri di ujung ruangan. Aku sadar sekali lagi aku menyakitinya, tapi ia tersenyum lalu menjauh dari kami.

“Hyung, tolong jaga dia sekali lagi.” pesannya terus menggema di telingaku.

====================

44 thoughts on “Paparazzi in Love [Teuk’s Afterstory]

  1. Dan
    secara mendadak, aku bisa
    merasakan rasa manisnya di
    mulutku← teuk lebay -__-‘ \plaak

    Kesalahan terbesarku
    adalah membiarkanmu pergi dan kembali dalam keadaan seperti ini. ← OxO so sweet leetek-ssi >..<; pabooya~!😛

  2. shela~~
    mian baru komen…
    gara” penghapus ini…😄 *ngerti kan maksudku???*

    huweeee,,, aku mewek baca ff ini…
    bukan gara” teuki,,, tapi gara” umin…
    umin di buang mulu kayak gitu… T.T
    ada after story’a umin kan???
    harus happy ending!!!
    kalo nggak siap” aja kamu…😄

  3. Saia udh komen di sini blom sih?
    *celingak celinguk* B|
    Aww~
    so swiiii~t. BDD
    Kirain kaga jdi ama Saera lagi. Eh, twnya.. XDDDD
    Minmin~ malang dirimu naak,, X(
    tpi ad after story umin kan?
    *kabur ke cerita umin*

  4. annyeong.. reader baru-imida salam kenal author🙂 *sy panggil onnie ato apa? bggg xP* petama x baca sih yg kyunara,itu jg nemu di google.. tp bukan di blog ini hehe.. coba baca*krn nemu paling atas mulu sih* bagus nih..coba cari ada yg laen ga ya.. itu kn afterstory.. terus ketemu ini blog.. coba-coba baca yg laen.. pilih teuki dulu ah.. ternyataaa.. bagussss…*biar kgak tau saera sapa,ini itu sapa juga.. tapi bahasa nya enak* jadiii.. sy mao baca dari part 1 ah xP ini ff uda lama juga yah.. sy tlat.. tp gpp deh. uda tamat jd ga nunggu lg.. hehehe..*ditendang author xp*

  5. akhirnya teukie oppa mutusin bwt sm saera lg, snng bgt ngliat mrk sm2.. nyesek pas teukie oppa nangis T_T.. tp skrg udah bahagia sm saera🙂..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s