Love at Summer Time [L.a.S.T]/Heechul

Love at Summer Time [L.a.S.T.]

Langit Seoul terasa semakin panas di kulit Aisa. Ia mendesah. Sudah masuk musim panas rupanya, pikirnya. Dengan begitu ini berarti musim panas ketiganya di kota Seoul sejak ia memutuskan meninggalkan Bogor, Indonesia dan terdampar menuntut ilmu di negeri ginseng.

Aisa memijat pelipisnya. Hari ini sangat menyita pikirannya. Sudah ia duga seharusnya tadi ia duduk manis saja di perpustakaan dan bukannya mengikuti Kyu-hyun pergi bermain game. Akhirnya sekarang ia harus memikirkan seribu satu cara menyelesaikan tugas dalam waktu kurang dari 24 jam. Ia berdecak, “Akan kupaksa tuan Cho membuat tugas laporanku~”

“Shin Yoon-hee~!” seseorang meneriakkan namanya dari jauh, membuat Aisa memutar badan. Alisnya terangkat begitu melihat Im Sae-ra berlari kecil. Gadis itu berhenti tepat di depannya sambil terengah. “Hhh… mau kemana?”

Ia memiringkan kepala. “Kau berlari seperti tadi hanya untuk menanyakan ini?” Aisa kembali berjalan. “Pulang. Tugas laporan Tuan Park belum kukerjakan, dan tugas itu harus ada di mejanya besok siang, jadi aku sama sekali tidak punya waktu bersantai.”

“Gojitmal~ tidak punya waktu bersantai tapi aku melihatmu keluar kampus bersama Kyuhyunie. Kalian kemana?” Sae-ra mengatur napasnya yang masih tersengal.

“Menurutmu? Apa mungkin seorang Cho Kyuhyun mengajakku berkencan? Dia memintaku –memaksa, tepatnya- menemaninya main di pusat game,” ujarnya. “Memangnya kenapa?”

Sae-ra menyejajarkan langkahnya tepat di samping Aisa. “Ahh~ tadi kulihat Hee-chul tidak berhenti memelototi kalian, makanya aku buru-buru mencarimu setelah makan siang. Kalian masih pacaran kan?”

“He~? Pacaran? Sejak kapan aku bilang aku pacaran dengan seorang Kim Hee-chul?” Aisa membelalak lebar. Sepikun-pikunnya ia, ia tidak akan lupa seandainya ia memang sedang pacaran dengan seseorang.

Ingatannya melayang ke dua pekan lalu.


Langkah Aisa terhenti begitu ia mendengar dua pria sedang bergosip. Ia tidak akan menguping pembicaraan mereka kalau saja hal yang mereka bicarakan itu bukan tentang dirinya.

“Shin Yoon-hee? Dia gadis Indonesia? Kenapa bisa terbang jauh kesini?” ujar salah satu pria yang ia sebut Mr. X.

Lawan bicaranya angkat suara. “Molla~ kabarnya dia menerima beasiswa atau mengikuti program pertukaran pelajar. Yaa.. seperti itulah.”

“Lalu apa yang begitu istimewa?” ucap sang Mr. X dengan nada merendahkan.

Temannya menjawab, “Dia menjadi pacar gelap Profesor Lee!!”

DEG! Jantung Aisa dipaksa berhenti berdetak. Bagaimana bisa gosip murahan seperti itu muncul? Lagipula Profesor Lee itu kan sudah tua –hampir seusia kakak ayahnya di Indonesia- Tidak adakah dosen atau asisten dosen lain yang bisa digosipkan bersamanya, mengingat masih ada Tuan Park yang hanya berjarak 8 tahun dengannya?

“Apa yang kau lakukan disini?” Aisa terkesiap begitu seseorang menepuk pundaknya. Ia berbalik dan menemukan seorang pria cantik berdiri di belakangnya.

“OMO~ Kim Hee-chul ssi, kau mengagetkanku!” pekiknya cepat.

Kedua pria yang sedang bergosip tadi buru-buru memalingkan muka begitu menyadari kehadiran Aisa. Mereka akan meninggalkan tempat itu begitu Hee-chul berkata, “Kalian ini laki-laki atau bukan? Bergosip saja seperti seorang gadis. Lain kali urusi saja masalah kalian sendiri.”

“Ya~! Memangnya kau ini siapa? Justru kau yang tidak perlu mengurusi kami.” salah seorang dari mereka menantang. Seseorang yang suaranya Aisa kenal sebagai Mr. X.

“Aku? Aku Kim Hee-chul, artis tetap di klub teater kampus ini.” jawaban Hee-chul membuat Aisa menepuk dahi. Jawaban macam apa itu? Dia pikir dia itu sangat terkenal? Tidak semua penghuni kampus menonton teater kan? Hee-chul mendengar pikiran Aisa. “Sekaligus pacar dari Aisa ssi.”

“MWO?” Aisa terkejut sejenak lalu menginjak kaki Hee-chul. “Siapa yang kau bilang sebagai pacar?”

Kedua pria tadi mengangkat alis. “Aisa ssi? Siapa itu?”

“Aish~ kalian ini bergosip tanpa tahu latar belakang orang yang kalian gosipkan?” Hee-chul mendorong Aisa ke depan. “Perkenalkan, Shin Yoon-hee alias Aisa. Gadis asli Bogor, Indonesia.”

Aisa bisa melihat kedua pria tukang gosip itu semakin bingung. “Jangan pedulikan dia. Dia hanya pria gila.”

“Apa kau bilang? Siapa yang kau bilang gila?” Hee-chul berbalik ke arah Aisa sambil membelalakkan matanya.

“Kalian benar-benar pasangan aneh.” ujar salah seorang dari mereka sebelum meninggalkan Aisa dan Hee-chul.

Gadis itu menghela napas panjang. “Hhh… karena perbuatanmu itu, sekarang aku akan dikenal sebagai kekasih dari sang bintang teater.”

“Bukankah itu bagus? Kau akan seterkenal aku.” ucapan Hee-chul membuat Aisa memutar bola matanya dan berjalan pergi. Hee-chul berteriak sebelum menyusulnya, “AISA~ AISA SSI~!!”



“Apa menurutmu Hee-chul cemburu?” Sae-ra tak berhenti bertanya sampai Aisa berhenti di depan kamar asramanya. Melihat tak ada respon, Sae-ra kembali bersuara, “Yoon-hee ah, kau dengar aku kan? Shin Yoon-hee ssi?”

Aisa berputar ke arah Sae-ra dan melotot. “Ini sudah di luar kampus, panggil aku Aisa. Memangnya nama Indonesia-ku sesusah itu?”

“Ara~ Aisa, bagaimana menurutmu? Apa Hee-chul menyukaimu?” Sae-ra membuntuti Aisa masuk ke kamar dan langsung duduk di ranjang.

Setelah menggeletakkan tas dan membuka laptopnya, ia mendongak. “Teori apa yang kau pakai sampai bisa mengatakan hal semacam itu?”

“Aigo~ kau pikir aku buta? Memangnya aku tidak memerhatikan sikap Hee-chul padamu?” tuntut Sae-ra. “Katakan saja, apa kau menyukainya?”

Aisa bersandar dan mulai mengetik. “Aniyo. Kenapa aku harus menyukainya lebih dari teman?”

“Bukankah selama kau disini, kau selalu bersamanya?” tebak Sae-ra.

Kali ini ia mendesah panjang. “Karena itu kubilang kenapa harus lebih dari teman? Aku menyukainya sebatas itu, tidak lebih.”

Sae-ra memiringkan kepalanya. “Wae? Memangnya tidak mungkin?” Aisa menjawabnya dengan mengangguk. Tampaknya jawaban itu tidak membuat Sae-ra puas, “Kenapa tidak mungkin?”

“Hhh…” Aisa memalingkan pandangannya dari layar laptop ke arah Sae-ra lalu menghela napas. “Pertama, karena dia itu AB dan AB itu spesies aneh. Kedua, dia bahkan lebih cantik dariku. Aku belum, atau bahkan tidak akan siap melihat setiap pria yang hanya akan menatapnya. Itu melukai harga diriku sebagai seorang gadis. Puas?”

Alis Sae-ra terangkat lalu ia mengomel. “Jawaban macam apa itu?”

“Itu jawaban yang paling masuk akal,” Aisa menyahut santai sementara tangannya tetap menari di atas laptop. Sebuah pertanyaan mengganggu pikirannya. Benarkah ia tidak bisa menyukai Kim Hee-chul?


Aisa baru akan memejamkan matanya saat ponsel berdering dan minta dijawab. Ia meraih ponsel itu dengan agak sedikit kasar. “Wae?”

“Belum tidur?” suara itu membuat Aisa semakin kesal. “Temani aku makan di luar.”

“Hee-chul ah, kenapa menelepon selarut ini hanya untuk hal sepele? Aku sangat mengantuk~ Tugas Tuan Park baru selesai 15 menit yang lalu. Kau tahu tidak aku sangat lelah saat ini?” tanpa sadar Aisa malah menggerutu panjang-lebar di telepon.

Setelah dirasa Aisa selesai mengomel, Hee-chul mulai bersuara. “Karena itu, akan kupulihkan semangatmu. Kaja~”

“Sirheo. Kalau kau hanya ingin membicarakan hal ini, akan kututup teleponnya sekarang, oke?” Aisa baru akan menekan tombol merah sebelum Hee-chul mengancamnya dengan sesuatu. Dengan malas, ia bangkit dari ranjang dan mulai mencari sweaternya. Ia sempat mengumpat sebelum mengunci kamar. “Dasar AB~!”


Hee-chul tersenyum puas menatap layar ponselnya. Ada gunanya juga ia menyimpan nomor telepon rumah Aisa di Indonesia. Ia bisa mengancam gadis itu dengan bukti beberapa foto saat Aisa tertidur ketika kelas Biologi. Sebenarnya kalau boleh jujur, Hee-chul sendiri tidak tahu kenapa ia mengambil foto gadis itu seperti ini. Tidak hanya saat ia tertidur, tapi setiap gadis itu melakukan sesuatu. Shin Yoon-hee itu menarik, pikirnya.

“Kim Hee-chul~!” Hee-chul sontak menoleh dan mendapati Aisa berjalan cepat menghampirinya. Senyumannya terkembang sejenak sebelum gadis itu menjitak kepalanya. “Mau apa menyuruhku kesini?”

Hee-chul mengelus kepalanya pelan. “Ya~! Kau ini gadis atau bukan? Kenapa seenaknya memukul kepala pria? Tidak sopan.”

“Memangnya menyuruh orang datang tengah malam begini itu termasuk tindakan sopan, tuan Kim?” sungut Aisa. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku butuh teman malam ini, jadi aku meneleponmu.” ungkap Hee-chul. “Mau kemana?”

Alis Aisa terangkat. “He? Bukankah kau yang mengajakku?”

“Bioskop?” Hee-chul mulai mengangkat kakinya setelah gadis di depannya mengangguk setuju. Tapi kemudian lengannya tertahan. “Apa?”

Aisa mengulurkan tangan. “Ponselmu. Mana?”

“Mau apa kau?” Hee-chul mengangguk paham sebelum Aisa menjawab. “Ahh~ foto-mu ya? Benar kan? Tidak akan kuserahkan.”

“Kau benar-benar membuatku kesal~ aku heran, bagaimana kau bisa punya fotoku saat tidur? Aha~! Kau penggemarku ya?” mata Aisa menyipit.

Hee-chul mendengus kasar. “Sembarangan! Memangnya kau pikir negara-ku ini kekurangan idola, sampai aku harus menjadi penggemar gadis Asia Tenggara sepertimu?”

“Tapi kau sadar tidak kalau kau ini sangat menyebalkan? Sikap khas AB-mu itu sering muncul tiba-tiba seperti ini. Membuatku kesal setengah mati.” Aisa selalu mengerucutkan bibir saat mood Hee-chul berubah mendadak. Hee-chul tak merespon. Sikapnya memang sering begini –berubah tiba-tiba tanpa pemberitahuan- tapi ia heran kenapa gadis itu tidak pernah menjauhi pria AB aneh sepertinya.


Aisa duduk manis di kursi bioskop kecil ini sambil sesekali menunduk dan memejamkan mata. Tidak peduli film apa yang sedang diputar, adegan apa yang terjadi, atau sang aktor yang ratusan kali lebih tampan dari siapapun di dunia ini, ia berkali-kali merutuk dalam hati kalau ia sangat mengantuk~!

“Ai, AISA~!!” teriakan Hee-chul yang tepat di telinganya membuat Aisa mendongak kaget. Ia melihat Hee-chul yang kesal lalu menutup kembali matanya. “Kenapa tidur? Filmnya sedang diputar, jangan tidur sekarang.”

Ia membuka matanya dengan malas. “Wae~? Bukankah sudah kubilang saat ini aku dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menikmati, apalagi berkonsentrasi pada film apapun?”

“Aku harus mempelajari karakter seperti ini untuk pertunjukkan selanjutnya,” Hee-chul menunjuk ke layar hitam besar di depannya.

Aisa memutar bola matanya dan menggumam dalam bahasa Indonesia. “Derita loe.” Lalu ia kembali memejamkan mata.

“Berhenti mengejekku dengan bahasa-mu. Gadis menyebalkan~” gerutu Hee-chul. Ia sering kesal dengan Aisa, tapi ia belum pernah berniat meninggalkan gadis itu semenyebalkan apapun dia. Pikirannya tetap sama, Shin Yoon-hee itu menarik.


Aisa menggeliat pelan sebelum benar-benar berhasil membuka kelopak matanya dan sadar kalau lehernya sangat sakit. “Mm-hmm…”

“Sudah sadar?” asal suara itu membuat ia menoleh cepat dan mengernyitkan alis heran. “Kalau kau bertanya apa kau tertidur, jawabannya iya. Dan apa kita masih di bioskop, kau seratus persen benar.”

Gadis itu masih terlihat tidak sadar. “Lalu, kenapa kita masih disini? Tepatnya, kau. Kenapa kau masih disini?”

“Kau memintaku meninggalkanmu sendirian disini?” Hee-chul menjawab sekenanya lalu meregangkan ototnya. “Uwaah~ badanmu benar-benar berat. Kepalamu saja bisa membuat pundakku pegal setengah mati.”

Aisa terkesiap dan sadar kalau sejak tadi kepalanya bersandar ke pundak Hee-chul. Ia melirik jam tangan tapi kemudian ia sadar suasana bioskop tidak cukup terang. Lantas ia mendongak ke arah Hee-chul. “Jam berapa sekarang?”

“Mau bertanya berapa lama kau tidur? Tenang saja, belum pagi. Masih jam 2 dini hari, jadi kira-kira kau tidur sepanjang pemutaran film dan bangun tepat setelah film ini berakhir.” Hee-chul menjelaskan sambil menunjuk layar besar yang sudah gelap.

Alis gadis itu berkerut. “Dan kau membiarkanku tidur selama 2 jam lebih?”

“Mm. Memangnya apa yang kau harapkan? Aku membangunkanmu dan membuatmu memerhatikan film itu?” ujar Heechul sambil menguap. “Mana mungkin aku melakukannya? Memangnya aku ini pria yang sejahat itu?”

“Memangnya bukan?” gadis itu sudah bisa bercanda, berarti kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, pikir Hee-chul. “Ahh~ kau pasti lelah, ayo pulang.”

Hee-chul menggeleng. “Aku masih ingin jalan-jalan. Atau kau mau pulang? Istirahat di kamar asrama-mu?”

“Aniyo. Aku sudah segar. Batere-ku sudah terisi penuh sampai pagi nanti.” Aisa memamerkan senyumnya. “Kali ini aku bisa menemanimu.”

“Temani aku ke surga.”


“Uwaaah~” mata Aisa berkilat-kilat memandangi jutaan lampu terang kota Seoul dari atas. Ia memejamkan mata dan merentangkan tangannya. “Aigo~ disini menyenangkaan!!”

Hee-chul memandanginya lama. “Benar kan? Disini adalah surga. Surga-ku.”

“Omo~ kau ini.. Surga itu ada disana,” telunjuk Aisa mengarah ke langit hitam. “Tuhan membawa kita kesana nanti, pada saatnya. Tidak akan ada tempat seindah itu di dunia ini. Arachi?”

“Ya.. Ya.. Ya…,” Hee-chul mengabaikan ucapan gadis itu. “Kau mau es krim?”

Alis Aisa terangkat. “Kau gila? Tengah malam begini makan es krim?”

“Tapi ini malam musim panas, memangnya kau belum merasakan semangat musim panas tahun ini?” ucapnya angkuh. “Sejak pagi aku sudah bisa merasakan kalau musim panas sudah datang. Jadi kita harus melakukan tradisi khas musim panas.”

“Apa? Mencari kunang-kunang?” ujar Aisa asal.

Hee-chul memilih mencibir. “Kau pikir ini Jepang? Beginilah susahnya kalau kau medapat teman dengan negara beda iklim dan musim.”

“Ya~! Kau pikir di Indonesia tidak ada musim panas?” tangan Aisa mendarat indah di kepalanya.

“Sakiiit~ kenapa kau hobi memukulku?” lagi-lagi Hee-chul mengelus kepalanya. “Lagipula kau pikir aku ini bodoh? Mana ada orang yang menyamakan musim kemarau dengan musim panas?”

Aisa berkelit. “Bukankah sama saja? Sama-sama kering dan panas. Hanya saja lebih panas disini.”

Mendengar jawaban gadis itu, Hee-chul mengalah dan hanya memutar bola matanya. “Terserah kau saja. Tetap temani aku makan es krim. Kaja~”


Pagi ini Aisa berjalan gontai menuju kembali ke kelasnya. Ia baru saja meletakkan tugasnya di meja Tuan Park dan sekarang ia harus kembali ke kelas Profesor Kim. Aisa merasa kepalanya sakit sekali. Ia berusaha menghilangkannya dengan memijat tengkuk belakangnya, tapi hasilnya nihil.

Langkahnya yang terseok mendadak terhenti saat ponselnya berdering. Ia menggerutu melihat caller id di layar dan menjawab panggilan sambil terus berjalan. “Wae?”

“Kenapa galak sekali?” ujar Hee-chul di ujung telepon. “Apa suasana hatimu sedang buruk?”

Aisa mengerang pelan dalam bahasa Indonesia. “Buseet~! Masih berani nanya loe?”

“Ne? Sudah kubilang berhentilah mengomel dalam bahasa aneh. Kau pikir aku mengambil jurusan sastra Indonesia?” Hee-chul balas mengomel.

“Aigo~ berhenti berteriak! Kau sama sekali tidak membuat keadaanku lebih baik.” Aisa mengganti bahasanya. “Gara-gara es krim semalam, kepalaku rasanya mau meledak~! Seharusnya aku menolak ajakan makan es krim darimu. Ahh~ Kim Heechul babo~!!”

Hee-chul terkekeh di telepon. “Aku juga mau mengatakan hal yang sama denganmu. Sekarang aku malah sedang demam.”

“Mwo? Demam? Bagaimana keadaanmu?” mendadak gadis itu menghentikan langkahnya. “Kau dimana?”

“Aku di ruang teater. Semalam sudah kubilang aku harus latihan peran baru kan?” ujarnya tenang. Ia tidak tahu kalau hati Aisa mendadak kacau. Gadis itu menyuruhnya menunggu disana sampai ia tiba. Entah apa yang membuat kakinya memutar arah dan mengurungkan niat berjalan ke kelas Profesor Kim.


“Kau ini.. sudah kubilang jangan makan es krim, kau tetap memaksa. Sebenarnya kau pakai untuk apa telingamu ini, ha?” Aisa terus mengomel sebelum ia mendengar denting panjang dari thermometer yang ia ambil dari ruang kesehatan. “OMO~! Kau benar-benar demam!! Hasilnya 38 derajat celcius dan kau tidak merasa pusing?”

Hee-chul tersenyum lebar. “Anieyo. Hanya sedikit lapar.”

“Sudah kuduga AB memang spesies aneh,” dengusnya pelan. “Yaah~ setidaknya nafsu makanmu baik-baik saja. Kutemani kau makan, kaja~!”

“Kau tidak ada kelas?” alis Hee-chul terangkat.

Aisa tersenyum aneh. “Ada kelas Profesor Kim, tapi aku melarikan diri.”

“Ahh~ kau mencemaskanku?”

“Sembarangan~! Kenapa AB selalu bertingkah aneh begini?” lagi-lagi Aisa mengomel soal golongan darah.

Hee-chul menyipitkan matanya. “Memangnya kau pikir B tidak punya kekurangan?”

“Setidaknya golongan darah B bertingkah masuk akal dan normal.” Aisa membela diri. “Sudahlah. Aku tidak ada waktu berdebat soal ini denganmu. Ayo makan~!”


“Aku kenyang~!” Hee-chul menyandarkan badannya ke kursi. Tangannya menepuk-nepuk perutnya yang penuh dengan jajangmyeon.

Alis Aisa terangkat. “Aku tidak percaya kalau kau ini sedang sakit. Kurasa kau hanya sedang lapar.”

“Aku ini benar-benar sakit.” Hee-chul mendengus. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, “Ya~! Kau tidak pulang kampung?”

“Wae? Kenapa mendadak mengusirku?” ujar Aisa sambil memainkan ponsel di tangannya.

Hee-chul mengangkat bahu. “Bukan. Hanya bertanya. Bukankah setiap awal musim panas selalu menjadi saat-saat berlibur?”

“Kau baru bersamaku musim panas tahun lalu, bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu sebagai kebiasaanku?” Aisa memiringkan kepala. “Pertama, tugas dan pekerjaan sambilanku menanti selama liburan ini. Kedua, orangtua-ku belum menyuruhku pulang.”

Tawa Hee-chul meledak. “Jadi kau menunggu orangtua-mu mengundangmu pulang? Kau ini anak mereka atau bukan?”

“Hee-chul ah babo~!! Kalau mereka belum memintaku pulang, berarti rumah kami sedang ramai.” Aisa mencibir.

“Ramai?”

Gadis itu mendesah. “Halmoni selalu menyuruhku tetap di Indonesia, beliau penentang utama keberangkatanku kesini. Setiap aku pulang ke Bogor dan kebetulan beliau sedang ada di rumah kami, beliau selalu mencari cara membuatku tinggal lebih lama. Jadi kalau beliau sedang menginap di rumah saat liburan seperti ini, orangtua-ku tidak akan menyuruhku pulang.” Aisa menjelaskan. “Kau ingat saat kita pertama kali bertemu? Aku sangat terburu-buru mengejar waktu masuk kuliah setelah turun pesawat karena halmoni –entah bagaimana caranya- membuat tiket pesawatku tersangkut di atas pohon.”

Lagi-lagi Hee-chul tertawa lebar. “Omo~ halmoni-mu benar-benar daebak!! Menurutmu beliau melakukannya sendiri?”

“Pasti tidak. Sepupuku, Shela, sering bersekongkol dengan halmoni. Aigo~ aku benar-benar selalu ingin memukulnya kalau dia sudah berbuat aneh-aneh bersama halmoni.” Aisa mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat.

“Ahh~ aku ingat nama itu!” Hee-chul tersenyum yakin sementara kenangannya berputar ke masa lalu.


Last Summer, 2009.

“Jung-soo, kau yakin kita harus menjemput guru akting itu disini?” Hee-chul berkali-kali melirik jam tangan. Sudah 30 menit lebih ia berdiri menunggu di pintu kedatangan bandara Incheon.

Yang bernama Jung-soo tampak mengangguk. “Seharusnya begitu.”

“Tega banget deh loe, sekongkolan ama oma! Loe mau gue di-DO ya?” bahasa yang terdengar asing di telinganya membuat Hee-chul tertarik. “Shel, gue baru landing tapi langsung diburu waktu kuliah nih… Mm. Gue baru mendarat dengan selamet sentosa, tapi gue gak yakin bakal selamet di kelas Matik… Jangan ketawa! Sumpah, gue bakal dendam ama loe seumur idup~!”

Tanpa sadar, Hee-chul terus memerhatikan gadis berbahasa aneh itu. Merasa mengenalnya, ia memiringkan kepala. “Gadis itu…” Ia menepuk pundak Jung-soo, “Ya~! Itu… kenal?”

Kening Jung-soo berkerut saat mengarahkan pandangannya ke gadis yang dimaksud. “Sepertinya hoobae. Tapi aku tidak mengenalnya.”

Hee-chul mengangguk paham dan kembali mengamati gadis itu. Pikirannya baru teralihkan saat guru akting yang ia tunggu segera muncul. Dengan terpaksa ia merelakan pemandangan menariknya menghilang perlahan.

“Mm. Kau pergi saja dulu ke kampus. Antarkan guru kita ini. Aku akan cari taksi lain.” pesan Hee-chul pada Jung-soo yang sudah duduk manis bersama sang guru dan asistennya di dalam mobil. Dalam hati ia kesal, bagaimana bisa guru baru yang bahkan belum tetap itu sudah menyiapkan 3 asisten yang mengikutinya kemanapun? Setelah taksinya menjauh, ia menggerutu. “Seharusnya tadi membawa mobil van saja.”

Hee-chul sedang berdiri mematung menunggu taksi saat ia melihat gadis itu lagi. Ponselnya sudah tidak tertempel di telinganya. Sekarang tangannya sibuk menenteng tas yang agak besar.

Ponsel Hee-chul menginterupsi kenyamanan pikirannya. Buru-buru ia menekan tombol hijau sambil mengangkat tangan satunya untuk memanggil taksi. “Ne? Ah, Jung-soo ah, wae?… Ne, aku baru saja mendapat taksi… Antarkan saja guru itu ke ruangan klub, biarkan semua anggota berkenalan dengannya… Ne, sebentar lag-“

PRAK~!

Sesuatu mendorong tangannya dan membuat ponsel terlepas dari pegangannya. Hee-chul menoleh. “YA~! Ponselku!!”

“Omo~ jwoisonghamnida. Aku tidak sengaja, aku baru akan masuk ke dalam taksi dan tiba-tiba aku… menyenggolmu,” gadis itu buru-buru membungkukkan badan ke arahnya. “Mianhamnida.”

“Taksi? Ini taksi-ku. Aku yang memanggilnya, agashi.” Hee-chul menggerutu sambil mengamati ponselnya yang terjatuh.

“Jinjjayo? Taksi ini milikmu? Jwoisonghamnida.” ujarnya lagi. Hee-chul menyadari sesuatu saat ia akan mengomel lagi. Gadis ini… gadis yang sejak tadi berbahasa aneh dan berhasil menarik perhatiannya. Bahkan ia tidak percaya gadis ini bisa berbahasa Korea.

Tapi buru-buru ia teringat pada ponselnya yang berceceran di aspal. “Bagaimana ini? Ponselku berantakan!”

“Akan kuganti secepatnya. Ahh~ kau bisa pakai ponselku dulu, sebagai jaminan.” tawaran gadis itu membuat Hee-chul makin terkejut. Gadis mana yang dengan sukarela menukar ponselnya begitu saja?

Hee-chul menggeleng. “Sirheoyo. Siapa namamu?”

“Aisa. Ah, kau bisa memanggilku Yoon-hee, Shin Yoon-hee.” gadis itu menjulurkan tangannya.

Alisnya terangkat. “Kim Hee-chul imnida. Tapi, ‘Aisa’? Nama apa itu?”

“Indonesia. Aku orang Indonesia, tapi jangan cemas, aku juga punya nama Korea.” Yoon-hee, atau Aisa ini tersenyum ke arahnya. Tangannya terulur, “Ini, kau pakai saja ponselku. Aku akan mengganti milikmu secepatnya.”

“Kalau begitu, kutunggu di ruang teater seminggu dari sekarang.” Hee-chul menerima ponsel tipis itu.

Kali ini kening Aisa yang berkerut. “Omo~ kita satu kampus?” Hee-chul mengangguk dan gadis itu mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Kupikir aku harus berurusan dengan orang asing.” Setelah Aisa masuk ke dalam taksi, ia berpesan. “Ah, acuhkan saja telepon, pesan atau hal apapun dari gadis bernama Shela. Dia gadis aneh, percayalah!”



“Hee-chul ah~!” teriakan Aisa menyadarkan Hee-chul. Ia sontak menoleh. “Kenapa melamun? Pasti kau membayangkan yang tidak-tidak ya?”

Giliran Hee-chul menoyor kepala Aisa. “Otakmu ini benar-benar sembarangan! Kau pikir aku pria macam apa?” Ia memandang ke langit, “Hanya teringat pada kenangan indah.”

“Kenangan apa?” alis Aisa terangkat. “Ahh~ kau sedang jatuh cinta?”

Hee-chul memiringkan kepalanya. “Jatuh cinta? Apa ini bisa disebut cinta?” Menyadari gadis di depannya memasang raut wajah bingung, ia menjelaskan. “Setiap ada sesuatu yang terjadi padamu, dialah orang pertama yang kau pikirkan. Saat kau tahu sesuatu yang buruk terjadi padanya, kau hanya ingin berlari menemuinya, ingin menjadi yang pertama menghiburnya. Apa itu cinta?”

Aisa berpikir keras. Apa itu dinamakan cinta? Ucapan Hee-chul tadi persis sama seperti tingkah laku yang sering ia lakukan. “Mollayo. Tapi, bukankah cinta itu berarti kau ingin memilikinya? Tidak ingin membaginya dengan siapapun?”

“Itu namanya kau egois dan itu bukan cinta, itu hasratmu saja.” Hee-chul mendadak menatap mata Aisa dalam. Seperti ada sesuatu yang bergetar, Aisa menempelkan telapak tangan ke dadanya. “Kau kenapa?”

Gadis itu tergagap, “Tatapanmu itu… menakutkan~! Seperti bukan Kim Hee-chul.”

“Yoon-hee ssi~!” teriakan nyaring itu membuat Aisa memutar badan. Ia tersenyum mendapati Kyu-hyun berjalan ke arahnya. “Sedang apa disini?”

“Menurutmu? Tentu saja makan. Kau sudah makan?” pertanyaan Aisa membuat Hee-chul mendelik lebar. Ia merasa raut wajah gadis itu berubah drastis saat melihat Kyu-hyun. Selalu itu yang ia rasakan setiap kali melihat mereka bertemu.

Kyu-hyun menyadari sorotan tajam dari Hee-chul. “Sepertinya aku mengganggu. Lagipula aku sudah makan, aku mencarimu. Tuan Park meminta kita menjadi kelompok dalam tugas selanjutnya.”

“Jinjjayo? Kalau begitu, aku akan pergi menanyakannya pada tuan Park.” Aisa bangkit dari kursinya. “Hee-chul ah, aku pergi duluan. Jangan lupa minum obat dan makan teratur. Ahh, dan jangan pernah memaksakan diri lagi, banyak istirahatlah. Arachi?”

Alis Hee-chul terangkat. “Sepertinya kau tidak mengambil fakultas kedokteran, agashi.” Melihat Aisa yang siap menjitak kepalanya lagi, ia buru-buru meralat. “Arasseo. Aku mendengarkanmu.”

“Telepon aku kalau kau butuh apa-apa. Bye~!” gadis itu sempat melambaikan tangannya ke arah Hee-chul sebelum ia meninggalkannya bersama Cho Kyu-hyun.

Entah kenapa kedua matanya terasa gatal saat melihat Aisa bersama pria lain. Hee-chul bergumam pada dirinya sendiri. “Kenapa rasanya begini?”


Buku-buku tebal tergeletak dalam keadaan terbuka di depannya, tapi pandangan Aisa tidak tertuju pada mereka. Tangannya sibuk memainkan ponsel yang sejak tadi diam. Ia mencibir kenapa ponsel itu sama sekali tidak berbunyi? Memangnya sesulit itu mengeluarkan sedikit dering? Melihat tidak ada reaksi dari sang ponsel, ia mendesah.

Kyu-hyun yang sejak tadi memerhatikannya langsung berkomentar. “Kau saja yang meneleponnya.” Aisa mendongak ke arahnya dengan alis terangkat. “Hee-chul hyung. Kau menunggu teleponnya kan?”

“A-aniyo~! Siapa bilang?” dengan susah payah Aisa menyangkal, tapi akhirnya ia mengakuinya. “Hhh… baiklah, aku memang menunggu teleponnya. Wajar kan? Dia sedang sakit dan aku mencemaskannya.”

“Kenapa?”

Aisa terkesiap dengan pertanyaan Kyu-hyun. “Kenapa? Tentu saja karena dia temanku. Pertanyaan aneh.”

“Sepertinya bukan begitu. Sepanjang penglihatanku, kau hanya bisa melihatnya, hanya akan mendengarkannya, dan hanya menyukainya.” Kyu-hyun menyandarkan tubuh. “Ahh~ sepertinya aku kehilangan peluang.”

Gadis itu mengerutkan kening. “Ne? kenapa cara bicaramu jadi sangat membingungkan begini?”

“Aku menyukaimu.” Kyu-hyun menatap mata Aisa dalam-dalam.


“Aku menyukaimu.” langkah kaki Hee-chul terhenti di depan perpustakaan. Ia ingin memberi kejutan pada Aisa bahwa demamnya sudah sembuh total. Dari Kyu-hyun, ia tahu mereka sedang berada di perpustakaan. Sekarang ia yang mendapat kejutan. Kejutan yang tidak menyenangkan.

Tangannya memegang selembar kartu ucapan bergambar hati dan sekotak tiramisu untuk gadis itu. Shin Yoon-hee menyukai tiramisu, pikirnya. “Kurasa dia tidak membutuhkan ini.”

“Kyu-hyun ah, aku menganggapmu sebagai teman, tidak lebih.” Hee-chul tidak bermaksud menguping sampai Aisa merespon ucapan Kyu-hyun. “A-aku menyukai orang lain.”

Terdengar tarikan napas berat dari Kyu-hyun. “Aku tahu. Hee-chul hyung kan? Bukankah sudah kubilang kalau aku sering memerhatikanmu?”

Hee-chul baru akan meninggalkan tempat itu sebelum mendengar namanya disebut. Sepertinya ia belum siap mendengar ada nama lain lagi yang mengisi pikiran gadis itu. Ia menggumam, “Aku?”

“Sejak awal aku memang penggemarnya, maksudku semua pertunjukkan teaternya, tidak ada satu pun yang kulewatkan. Aku… aku tidak percaya musim panas tahun lalu aku mulai mengenalnya, semakin mengaguminya, dan tanpa sadar aku malah mulai menyukainya.” Aisa mencoba menjelaskan perasaannya. “Tapi kurasa dia sedang jatuh cinta pada gadis lain.”

Kyu-hyun mengerutkan kening. “Jinjja? Kau tahu gadis itu?” Melihat Aisa menggeleng, Kyu-hyun tertawa. “Babo~! Itu kau!”

“He? Mana mungkin~”

“Aigo~ Yoon-hee ssi, ada berapa gadis yang bisa atau tahan bersama Hee-chul hyung? Dia memang tampan, tapi semua gadis takut kalau dia sudah marah. Lagipula dia memang tidak pernah bisa jauh dari gadis yang selalu dia panggil ‘Aisa’, benar kan, hyung?” mata Kyu-hyun menangkap basah siluet Hee-chul dari balik pintu kaca perpustakaan.

Hee-chul menampakkan diri perlahan. Membuat Aisa terbelalak. “Hee-chul ssi? K-kenapa ada disini?”

“Hyung, coba beritahu gadis ini sejak kapan kau menyukainya?” ujar Kyu-hyun sambil berjalan mendekat ke arah Hee-chul. “Dia tidak percaya kalau kau sudah lama menyukainya. Beritahu dia sejak kapan tepatnya.”

Aisa bisa melihat Hee-chul menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Musim panas tahun lalu, aku bertemu dengan gadis berbahasa aneh yang menarik perhatianku. Selama seminggu, ponselnya ada di tanganku. Dari waktu seminggu itu aku tahu dia gadis mandiri, berasal dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah, aku juga tahu dia sangat suka tiramisu dan musik, kebanyakan dia suka musik Jepang. Setahuku dia cukup rajin dan penyayang. Dan ya, aku menyukainya sejak pertama kali mendengarnya mengomel dalam bahasa Indonesia.”

Kyu-hyun menyenggol lengan Aisa. “Kenapa kau diam saja?”

“A-aku… tidak tahu harus bicara apa.”

“Aigo~ kalian!” Kyu-hyun mendecakkan lidah kesal. “Kenapa masih canggung? Aku sengaja membuat kalian bertemu begini bukan untuk saling diam. Hyung, dengan susah payah aku sudah memancing perasaannya, setidaknya selesaikanlah tugasmu sebagai seorang pria.”

“Kau sengaja?” mata Aisa terbelalak. Ekspresi terkejut yang sama tampak di wajah Heechul. “Kau mempermainkan kami?”

Kyu-hyun buru-buru menggeleng. “Anieyo~ aku hanya kesal karena kalian hanya bisa selalu pura-pura padahal kalian tahu persis kalian saling bergantung.” Kyu-hyun menatap mereka bergantian, “Jadi, tidak ada yang mau mengakhiri pembicaraan ini?”

“Aku,” sahut Hee-chul cepat. Ia menyerahkan sekotak tiramisu ke tangan Aisa. “Tiramisu ini enak. Sepertinya kau akan menyukainya,” Mendengar kata-kata Hee-chul, Kyu-hyun menepuk kening. “Dan kuharap kau juga menyukai pria AB ini.”

Aisa menunduk sejenak lalu tertawa. “Hanya ini yang bisa pria AB lakukan untuk menyatakan perasaannya? Tidak bisa lebih baik lagi?”

“Ya~! Aku sudah mengumpulkan segenap kekuatanku untuk melakukan ini!” dengus Hee-chul.

“Arasseo. Sepertinya aku akan merubah peringkat golongan darah favoritku,” Aisa maju perlahan dan berbisik pelan. “Golongan darah AB menempati peringkat pertama.”


Musim panas tahun ini akan segera berakhir. Aroma musim gugur tercium dengan helai demi helai daun yang berjatuhan. Saking sibuknya dengan ponsel yang tertempel di telinganya, Aisa tidak sempat melihat-lihat atau sekedar merasakan suasana musim yang berganti. Sesekali ia mendesah kesal, “Sudah kubilang aku tidak bisa datang ke pertunjukkan oppa. Aku harus pulang ke Indonesia besok.”

“Kenapa tidak kau tunda saja kepulanganmu? Lagipula bukankah kau sudah janji minggu lalu? Jangan bilang kau lupa.” Hee-chul menjadi setengah kesal.

Aisa mengambil tempat duduk di sudut kafe. “Aigo~ sudah kubilang ini mendadak. Halmoni sedang sakit, aku harus pulang melihat keadaannya.”

“Memangnya halmoni tidak bisa memilih waktu lain?” ucapan Hee-chul membuat Aisa ingin memukul kepala pacarnya yang menyebalkan itu. “Ya sudah~ pergi saja. Tidak usah kembali ke Seoul juga tak apa!”

“Baiklah~ oppa yang menyuruhku ya,” sahut Aisa santai. “Liat aja kalo ga ada gue bisa apa loe.”

Hee-chul mendecakkan lidah. “Jangan sekali-kali memakiku dalam bahasamu~! Lihat saja nanti kalau aku sudah bisa bahasa Indonesia, kau tidak akan bisa membodohiku lagi.”

“Tidak akan ada guru yang tahan mengajari oppa. Bisa-bisa mereka malah melarikan diri duluan kalau oppa sudah marah-marah.” Aisa menyesap teh lemon di depannya.

“Ada. Aku sudah punya guru bahasa Indonesia di sampingku. Mau bicara dengannya?” sepertinya Hee-chul memberikan ponselnya pada orang di sampingnya.

Aisa mencoba menguji ‘guru’ Hee-chul. “Halo? Siapa disana?”

“AI~! Halo~! Apa kabar loe?”

Suara di ujung telepon membuat Aisa tersedak. “OMOMO~! Shela? Ngapain loe ama laki gue?”

“Hehh~ kalian belom resmi, ngapain panggil-panggil Hee-chul pake sebutan laki?” ujar Shela santai. Kemudian suaranya terdengar menjauh. “Mm? Apa? Mau bicara sama Ai lagi?”

Aisa mengerutkan kening. Sejak kapan sepupu kecilnya itu bisa bahasa Korea? Ia tidak ingat pernah mengajarinya bahasa keduanya. Sepertinya ponselnya sudah berpindah tangan, “Oppa?”

“Ne. Otte? Guruku bagus kan?” kali ini Aisa benar-benar tidak habis pikir. Kapan Hee-chul dan Shela bertemu sampai bisa terlalu akrab begini?

Aisa bertanya ragu. “Kenapa Shela bisa ada di Seoul? Bukan, kenapa Shela bisa ada di rumah oppa?”

“Siapa yang bilang aku di rumah? Kami ada di kampus. Kau tidak tahu sepupumu ini mau mendaftar ke kampus kita?” jawaban Hee-chul membuat Aisa lemas. Sudah cukup ada makhluk sejenis Kim Hee-chul, Im Sae-ra, dan Cho Kyu-hyun di kampusnya, sekarang masih harus ditambah Shela? Ia benar-benar minta dibangunkan dari mimpi buruknya. “Yeoboseyo? Jagi~ kau masih hidup?”

“Aku berharap aku pingsan.” Aisa menghela napas panjang.

“Andwae~ kau belum menikah denganku, tidak boleh ada sesuatu yang jelek menimpamu sebelum kita menikah,” jelas Hee-chul.

Wajah Aisa memanas. “Siapa yang bilang kita akan menikah? Sudahlah, siapkan saja pertunjukkan baru oppa besok. Aku harus pulang ke asrama dan packing sekarang. Annyeong~”

“Saranghaeyo~” ujar Hee-chul sebelum benar-benar memutus telepon.

Aisa menggumam pelan, “Aku lebih mencintaimu.”


Hee-chul menyambut Aisa yang baru turun dari taksi dengan senyuman lebar. Aisa memandangnya heran. “Kenapa mengantarku? Bukannya ada pertunjukkan hari ini? Pergilah~”

“Omo~ siapa bilang aku mengantarmu?”

Alis Aisa terangkat. “Lalu?”

“Aku juga akan terbang ke Indonesia,” ujar Hee-chul santai. Melihat kening Aisa berkerut, ia bertanya, “Kau tidak tahu? Aku diundang khusus.”

“Oleh?”

Hee-chul berpikir sejenak. “Halmoni. Orangtuamu juga mengundangku. Dan Shela yang mengantarkan undangan khususnya padaku.” Sebelum Aisa menambahkan sesuatu, ia berkata, “Soal pertunjukkan itu, sudah ada Jung-soo yang menggantikanku.”

“Halmoni? Shela? Aigo~ oppa ikut bersekongkol dengan mereka? Jadi halmoni tidak sakit?”

“Ahh~ sudahlah, bukankah ini artinya kita bisa mengunjungi orangtuamu sebelum masuk semester baru? Kaja~!” Hee-chul mendorong tubuh Aisa yang masih terpaku di tempatnya.

Pesawat mereka lepas landas. Meninggalkan keteduhan awal musim gugur di Seoul dan menuju musim pancaroba di Indonesia.

-THE END-


[epilog]

“Sempat kupikir kau menyukai Kyu-hyun,” ujar Hee-chul saat ia menemani Aisa duduk di perpustakaan. “Siapa sangka kau malah menyukaiku.”

Aisa mengerutkan kening. “Kenapa bisa berpikir begitu, oppa?”

“Setiap bertemu Kyu-hyun, wajahmu selalu cerah. Bibirmu ini selalu tersenyum lebar. Biasanya seorang gadis akan bertingkah seperti itu di depan pria yang disukainya kan?” jelas Hee-chul.

Sejenak kemudian tawa Aisa meledak. “Aigo~ benarkah? Padahal ada alasan khusus di balik itu.”

“Apa?”

Aisa menarik napas dan menjelaskan. “Game. Kyu-hyun itu seorang gamer kan? Belakangan ini, dia membawa kaset game baru yang membuatku dan Sae-ra tertarik, kami sering berebut meminjamnya dari Kyu-hyun, karena itu setiap aku bertemu dia, aku berharap dia tetap membawa kaset itu.”

“Hanya itu?”

“Mm. Memangnya apa lagi?” Aisa memiringkan kepala. “Tapi katanya kaset itu masih menginap di rumah Sae-ra, jadi aku belum sempat meminjamnya lagi.” Melihat Hee-chul tertawa, Aisa bertanya, “Waeyo?”

Kepalanya menggeleng, tapi ia tetap tertawa. “Ternyata pesona Kyu-hyun hanya terletak pada game-nya.”

“Sepertinya begitu.” Aisa mengangguk setuju. Sedangkan Kyu-hyun yang berada di kursi belakang mereka hanya bisa mengerucutkan bibir.


====================

    [August 15, 2010]
    Saengil chukkhaeyo, Onnie~
    Dengan ulang tahun onnie hari ini, berarti hubungan kita udah masuk usia setahun~! Yippy~😄
    Selama setahun ini, makasih buat semuanya.

    Makasih buat onnie yang selalu jadi “kakak” buat aku. Makasih buat segala virus tentang Suju-nya. Makasih uda mau direpotin ama mahluk ajaib dari Madura ini. Makasih uda mau nemenin aku tiap saat. Dan makasih uda lahir ke dunia ini 18 tahun yang lalu buat jadi orang yang penting di hidup cewek begajulan ini.

    Maaf, ga bisa ngasih sesuatu yang lebih spesial dari ini. Maaf cuma bisa ngasih doa. Maaf cuma bisa terus berdoa supaya onnie jadi orang sukses. Maaf cuma bisa kasih onnie rasa sayang ini. :’)

    Wahai kakak dadakan-ku, Aisa Amanah:
    hepi b’day~ ^o^
    semoga Heechul abadi di hatimu. Kekeke~

    Saranghae,
    Shela.

    ====================

    PS: Moga berkenan ama kado kecil ini. Mengingat epep onnie yang dulu pernah terbengkalai dan oneshoot pun jadinya pendek banget, sekarang aku bikinin ini spesiaaal~😄 *FYI: ini 16 page*

    Walopun sekarang status onnie uda “mahasiswi IPB”, tapi aku harap onnie masih suka baca FF. *gabung. XD*

45 thoughts on “Love at Summer Time [L.a.S.T]/Heechul

  1. Author ikutan ngeksis!!! =.=”
    untung unyuk gag ikutan nongol juga…😄

    huwa,,, heenim,,, aku baru pernah liat heenim yang kayak gitu…😄
    itu ai deket ama kyu cuma gara” game doank???
    hhhh~ bener” deh…😄

    @Ai: Saengil chukkhae… ^^
    moga” kamu ________ *fill in the blank*
    amin… ^^

      • gitu ya???
        aturan dari mana itu???😄
        ahahahahahaha,,, belum slese ngambeknya???😄

        habis ini aku gag rep komenmu lagi ntar kayak yang MWL isinya cuma komen qt doank…😄

  2. Huwaaa.. Terharuuu..
    Gomawo shelaa..
    Ga bisa mangap. .
    *gabung*

    w jdi petani gingseng di korea. Dasyat. Ckckck
    cengar cengir ih baca ni ff. Berharap beneran. Mending kyu jg jdi pacarku shel, biar bisa gonta ganti. Wkwkwk
    *lo kira baju*

    Eh, Ini kado yg berkesan loh. Ini udah luar biasa bgt shel. Amin buat doa2 nya.

    Coba aja beneran sekampus ma mereka.

    Oh. Jdi strategi jitu buat memancing ichul, kudu pake bahasa aneh ya. Okeh.. Jangankan bahasa indonesia, pake bahasa sunda w jabanin dah. Wkwkwk

    skali lagi makasih ya. Saranghaeyo.

    • Sama2 onn. Maaf ya cuma bisa ngasih beginian, kalo madura-bogor deket mah aku uda nyamperin onnie kesana. Tapi akhirnya cuma bisa ngasih ini. :’)

      Ini uda aku siapin agak lama, abis bingung mau ngasih apa ke onnie. Mudah2an mah onnie masih suka baca FF.😄
      Ehh, kali2 aja ntar onnie bisa dikirim ke korea buat mencari spesies ginseng baru. Kekeke~

      Nado saranghae~ Saengil chukkhaeyo~!! (^o^)//

  3. Jih.. Aku mah Dikasi kado bersyukur. Kado barang mah bisa beli pake duit shel, tapi kado yg kau berikan ga ternilai , bikin nya aja menguras otak dan tenaga. Belum resiko otak kamu ngebul, trus jari jemari pada cantengan, ditambah waktu yg kau korbankan. Jahaha
    *ngawur edan*

    gak usah minta maaf shel, blum lebaran. Lagian salah apa jg kamu.

    Eh, madura ma bogor deket kali shel. Coba liat di peta. Ckckckck

    pokoknya makasih buat smua mua mua nya. Saranghaeyo…

    • Ngilang di sms taunya nongol disini. Dasarr~😄
      Resiko2 yg onnie sebutin mah rada serem yak, gimana ceritanya jari cantengan gara2 ngetik??

      Yaudah, minta maafnya pas lebaran aja yak~ Setaun loh, kita setaun!!! *heboh*
      Inget banget jaman2 kita sms-an geje sambil nungguin bedug maghrib. I miss that moment~

      Iyaa, deket banget dri peta, 25sentian lah onn. XDD
      Sama-sama ma ma ma ma~~ saranghaeyo lagi? uda berapa kali kita saranghae2an?? Nado saranghae~😄

  4. hhahaha~~heechul aneh *digaplok* emang pada dasarnya AB begitu? kirain aku si kyuhyun emang beneran suka sama aisa *lega*

  5. Hai…saya eksis lg d dunia perkomenan!! *disambit bakiak*

    ciee…lady hee hee,Romantis ni yee..
    ciee…kyukyukyu, jadi mak compang eh comblang nih yee..

    *diceburin k selat madura gara2 komen gapen*

  6. numpang komen

    suka sangad ama ni FF…
    gw setuju kalu orang AB itu adalah mahluk aneh bin ajaib, cos gw jg punya sodara yg golongan darah AB, tingkahnya ampir sama ama heechul hahahahaha

  7. Wash ffnya bags banged onn😀
    Tapi aku rad a kesinggung, golongan darahku juga AB onn, he9
    emangnya tabiat AB sejelek itu Onn ? Ha9
    Pokoknya onnie daebak =D

  8. CHULIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEE ~~~😀
    akhirnya punya pacar jugaaaaaa . wkwkwkw😀
    dari indonesia lagiiiiiiiii .. :p
    indonesia mana Aisa ? #noel2Aisa

    keren eonni ^^
    gag bisa komen dah tiap baca FF eonni Couple sapa aja .. ^^
    apalagi JiHyuk ^^/
    hehehe … #hug eonni :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s