Paparazzi in Love -part 7/ending-

    PAPARAZZI in LOVE –chapter 7/last chapter-

    ====================

-previously-

“Oppa,” Jiyoo memandang langit-langit apartemennya. “Apapun yang terjadi nanti, berjanjilah kau akan melupakan gadis jahat ini.”

“Aku tidak yakin,” Eunhyuk mendesah, “Hhh… kalau itu yang kau minta-“

“Aniya. Bukan yang kuminta, tapi yang harus oppa lakukan,” potong Jiyoo. “Tidak akan sesulit itu melupakan seorang gadis, kan?”

Eunhyuk masih meresponnya dengan tawa. “Tidak ada gadis yang bisa kulupakan begitu saja.”

“Mata keranjang~”

Sekali lagi mereka tertawa. Tapi dalam hati, gadis itu tahu ia harus memaksa Eunhyuk melupakannya setelah malam ini. Sudah cukup banyak masalah yang dibuat olehnya. Bibirnya tersenyum tapi pandangannya nanar. Jiyoo memeluk lututnya sendiri. Berharap isakannya tidak terdengar ke telinga pria itu.



-the next day-

Sinar matahari yang menembus jendela besarnya membuat Jiyoo terbangun. Matanya terbuka perlahan. Ia merasa kedua matanya agak berat. Sepertinya matanya sedikit bengkak. Tentu saja, semalaman ia menangis, mana mungkin matanya baik-baik saja?

Jiyoo melirik jam mejanya. Masih jam 6 pagi. “Aku harus mandi,” Ia menggumam kepada dirinya sendiri sebelum melangkah gontai menuju kamar mandi.

Air jernih yang meluncur dari kran membasahi wajahnya. Jiyoo merasa harus menyegarkan kembali pikirannya pagi ini. Semua energi dan kewarasannya sudah terkuras habis semalam. Ia tahu pertemuannya dengan Eunhyuk, baik secara tak langsung sekalipun, bisa membawa efek yang cukup besar baginya. Seperti pagi ini, ia terbangun dengan mata nyaris bengkak dan sembab. Tampangnya pun tak kalah lusuh.

Sekilas ia menajamkan pandangannya ke arah kalender dinding. “Sudah seminggu,” Lagi-lagi ia menggumam. “Harus diserahkan hari ini?”

Dering ponsel berbunyi nyaring tepat setelah Jiyoo terpaku di depan kalender. Buru-buru ia menekan tombol hijau. “Ne?”

“Annyeong haseyo, eonni~” suara riang terdengar di ujung telepon. Jiyoo tersenyum mendengarnya. “Bogoshipeoyo~”

“Nado, Raneul-ah. Bagaimana kabarmu?” bibirnya mengulas senyuman tipis. “Kapan kau kembali dari Thailand?”

“Baik sekali. Baru semalam aku kembali. Nara eonni harus lebih sering memberiku tugas meliput berita ke luar negeri,” ujar Raneul semangat. “Ah.. apa artikel eonni sudah selesai?”

Senyumnya mendadak lenyap. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Mm. Wae?”

“Begini, untuk edisi kali ini aku yang bertanggung jawab. Aku tahu ini agak tidak sopan, tapi bisakah eonni mengantarkan artikelnya langsung ke penerbit?” pintanya.

“Geurae? Tidak perlu di-edit?”

Terdengar suara tawa renyah Raneul di ujung telepon. “Tidak perlu. Aku percaya pada eonni. Jadi? Bisa?”

Jiyoo menyanggupi sebelum hubungannya terputus. Dengan gesit ia meraih lembaran-lembaran kertas di samping laptopnya yang masih dalam keadaan terbuka. Ia mengacak laci mejanya dan mengambil amplop cokelat yang agak besar sebelum memasukkan kertas-kertas artikelnya.


Kyuhyun berusaha keras menyeret kakinya ke kamar mandi saat matanya yang masih berat melihat Eunhyuk duduk di sofa. Keningnya berkerut. Agak menakjubkan bisa melihat seorang Lee Hyukjae bangun paling pagi mengingat dia-lah member paling sibuk dan pemalas di dorm 11.

“Pagi sekali, hyung,” Kyuhyun mendekati Eunhyuk perlahan. “Ada jadwal pagi?”

Pria di depannya hanya memijat-mijat pelipisnya yang menusuk. Sejak semalam Eunhyuk sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, jadi ia memilih untuk tetap terjaga hingga pagi. “Eobseoyo. Hanya… tidak bisa tidur.”

“Soal artikel Jiyoo-ssi?” tebak Kyuhyun. Ia sudah agak terbiasa melihat suasana dorm dipenuhi dengan nama gadis itu.

Eunhyuk mendesah berat. “Hhh… mungkin.”

“Kalau hyung dan Teuk hyung yakin dia gadis baik, kurasa tidak perlu cemas,” ujar Kyuhyun tenang.

“Seandainya bisa sesederhana itu, aku tidak akan panik begini,” lagi-lagi tarikan nafas Eunhyuk berat. Ia frustasi. Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi.

Mereka diam agak lama sampai suara ribut terdengar di depan pintu. Seseorang menerobos masuk dan berteriak, “EUNHYUK-AH!! Dimana kau?”

Yang dipanggil menoleh cepat. “Heechul hyung? Waekurae?”

“Kau… kenapa tidak bilang kalau ada masalah sebesar ini, ha?” Heechul berjalan cepat menghampiri Eunhyuk. “Kau pikir aku sudah bukan bagian dari Super Junior lagi? Sepertinya cuma aku yang belum tahu.”

Leeteuk mengikutinya dari belakang. “Ya~! Tidak perlu berteriak kan? Kami bukan sengaja tidak memberitahumu, aku tahu kau bukan tipe penyabar, karena itu aku diam saja.”

“Teuk-ah, jangan berkata apa-apa. Kau tahu persis kau juga bersalah dalam masalah ini,” dengus Heechul. “Sekarang siapa yang bisa memberitahuku apa yang harus Super Junior lakukan sekarang?”

Tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab pertanyaan Heechul. Kini mereka hanya duduk berkumpul tanpa mengeluarkan suara apapun. Setiap orang mulai berspekulasi dengan pikiran-pikiran buruk yang berjalan merayap di dinding akal sehat mereka.

“Memangnya kita yakin kalau gadis itu akan…” Siwon menggigiti kuku jarinya.

Melihat tidak ada satu pun membernya yang berusaha menjawab, Eunhyuk berdeham. “Sepertinya begitu. Tidak ada yang bisa menghalanginya.”

“Hhh.. berikan alasan yang bagus padaku kenapa kalian bisa membawa Super Junior ke dalam masalah ini?” Heechul memandangi Leeteuk dan Eunhyuk bergantian. “Sebenarnya apa yang sedang kalian pikirkan? Kalian tahu dia itu seorang paparazzi, tapi tetap saja melakukan hal konyol begini.”

Kening Ryeowook berkerut. “Hal konyol?” Ia mengulang ucapan Heechul.

“Bercerita hal pribadi pada orang di luar kita, apalagi orang itu adalah paparazzi, apa lagi namanya selain konyol?” tukas Heechul kasar. “Apa yang akan kalian lakukan sekarang? Apa kalian memang ingin menghancurkan grup ini?”

“Hyung…” Donghae menengahi. “Siapapun pasti tidak menyangka kalau gadis itu akan memanfaatkan Teuki hyung atau Hyukjae, jadi sia-sia saja kalau kita membentak-bentak mereka begini. Lebih baik jangan membuat masalah semakin runyam.”

Sesaat kemudian Heechul berdiri dari tempatnya. “Kalian mau membuat Super Junior semakin terpuruk?”

Eunhyuk tidak berani memandang Leeteuk maupun Heechul. Tidak ingin membiarkan pikiran jelek merasukinya, ia memilih tetap diam. Ia benar-benar tidak bisa dan tidak ingin menumbuhkan dugaan negatif tentang gadis itu. Eunhyuk selalu berkata dalam hati berkali-kali. “Jiyoo pasti punya alasan sendiri.”

“Mworagoyo?” suara Heechul yang tiba-tiba membuat Eunhyuk terkesiap. Ia bahkan tidak sadar sudah menyuarakan pikirannya dengan begitu jelas. “Kau tidak lupa kan kalau kau juga bersalah dalam masalah ini?”

“Ara~ Jwoisonghaeyo,” ucapnya sambil tetap menunduk. Hanya itu yang bisa ia katakan, memangnya apa lagi? Semakin memperdebatkan masalah ini, maka ia yakin Heechul akan terus mengeluarkan semua spekulasi buruknya soal Jiyoo.

Heechul berdecak. “Kupikir kau adalah member yang punya rasa peduli tinggi pada Super Junior, tapi malah kau yang membawa kami ke dalam masalah seperti ini.”

“H-hyung, aku-“ Eunhyuk baru akan menjelaskan saat ia mengurungkan niatnya. “Maafkan aku.”

“Cih.. bahkan sekarang kau tidak bisa membantahku? Kenapa? Apa gadis itu sudah benar-benar merasuki otakmu?” sungut Heechul. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke sofa dan menyandarkan kepala. “Jangan pernah melibatkan perasaan pada saat yang salah.”

“Perasaan apa?” Leeteuk mengulangi. Keningnya berkerut sementara matanya terus-menerus menatap Eunhyuk.

Heechul mendengus. “Orang buta juga bisa melihat kalau Lee Hyukjae ini sangat tertarik pada Choi Jiyoo. Memangnya kau ini bodoh, Teuk-ah?” Ia membelalakkan matanya. “Jangan bilang kau juga menyukai gadis itu?”

Leeteuk buru-buru menggeleng. “Anieyo~”

“Sebaiknya itu benar kalau kau tidak mau ada lagi cinta segitiga aneh disini,” lagi-lagi Heechul mendengus. Matanya melirik ke arah Leeteuk dan Sungmin bergantian.

Sungmin merasa agak risih dipandangi dengan tatapan Heechul. “Jadi bagaimana? Apa lagi yang bisa kita lakukan?”

“Tidak ada,” sahut Kyuhyun cepat. Tangannya menggenggam ponsel. Entah sejak kapan ia membelakangi membernya dan menerima telepon. Wajahnya memucat. “Nara bilang Choi Jiyoo sudah menyerahkan artikelnya langsung ke penerbit.”

“MWO?” mereka berteriak dalam waktu yang bersamaan.


“Kamsahamnida, eonni.” Raneul membungkukkan badannya singkat setelah menerima amplop yang baru saja Jiyoo serahkan.

Jiyoo tersenyum. “Ne. Kapan terbit?”

Gadis di depannya melirik jam tangannya. “Kalau masuk mesin sekarang, mungkin malam ini turun cetak dan besok sudah terbit. Waeyo? Ingin cepat-cepat memamerkan artikel pertama eonni ya?”

“Molla~ tapi itu salah satunya,” senyum Jiyoo masih terkembang. Ia merogoh tas saat dering ponsel menghentikan senyumannya. “Ne?… Ahh~ benar, Choi Jiyoo imnida… Ne? Mworagoyo?… Algesseumnida… Ne, gomabseumnida.”

Senyuman itu kini sepenuhnya menghilang dari wajahnya, berganti dengan raut pucat pasi. Pandangan matanya berubah kosong. Ia membiarkan tangannya tergantung lemas sambil tetap menggenggam ponsel. Kepalanya terasa berputar.

Raneul sedikit cemas dengan perubahan wajah Jiyoo. “Eonni? Gwaenchanha?”

Yang ditanya tidak menjawab. Atau tidak bisa menjawab? Jiyoo merasa seluruh tenaganya hilang mendadak. Ia memegang lengan Raneul kuat-kuat. Seolah tanpanya, ia bisa terjatuh karena gravitasi bumi.


Eunhyuk terus melayangkan pandangannya keluar jendela tanpa benar-benar berkonsentrasi pada satu objek. Ratusan kali ia menepis semua pikiran buruk tentang Choi Jiyoo tapi potongan-potongan kenyataan yang muncul justru sebaliknya.

“Hyuk-ah,” suara panggilan leadernya spontan membuat Eunhyuk menoleh. “Tidak coba meneleponnya?”

Heechul menyela cepat. “Memangnya ada gunanya? Kalau pun dia bisa dihubungi, apa yang bisa kita harapkan? Ketua redaksinya saja sudah bilang kalau artikel ini akan turun cetak malam ini. Berarti kita hanya bisa bersiap untuk kehancuran besok.”

“Super Junior akan hancur?” Ryeowook mengulangi dengan suara bergetar, seolah rasa takut dan sedih bercampur dalam suaranya. Semua member pun merasakan hal yang sama.

“CHUL-AH~ Tolong jangan membuat situasi ini semakin buruk,” ujar Leeteuk.

“Sejak awal situasi ini buruk. Sejak awal situasi KITA memang buruk~!” tegasnya. “Kau pikir apa yang bisa terjadi pada kita kalau ada satu masalah yang menimpa kita lagi?”

Leeteuk mendesah. “Chul-ah, cukup.”

Heechul mengabaikannya. “Kau pikir kita bisa bertahan sekali lagi kalau masalah besar datang kembali? Masalah kita sudah cukup banyak, Teuk~”

“Karena itu kubilang jangan membuat ini lebih buruk~!” nada suara leader meninggi. Semua orang tahu apapun yang menimpa mereka, sang leader-lah yang paling memikirkannya. Leeteuk lah yang selalu memikirkan cara mengatasinya. Tapi saat ini ia sendiri berpikiran sama dengan Heechul. Bisakah mereka bertahan sekali lagi kalau masalah besar kembali terjadi? Bisakah ia?

“Aku akan mencoba menghubungi Jiyoo,” sela Eunhyuk. ia tidak tahan mendengar membernya beradu mulut dan terus mengaitkan Jiyoo dalam masalah mereka. Layar ponselnya sudah menampilkan nama Jiyoo, tapi bahkan ia tidak sanggup menekan tombol hijau.

Setelah menarik napas beberapa saat, Eunhyuk meregangkan otot-ototnya dan menyuruh jempolnya segera melakukan apa yang diperintahkan sang otak. Ponselnya tertempel di telinga agak lama sampai suara operator terdengar di ujung sana. Tidak aktif, kemana dia?


-the next day-

Eunhyuk mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Saat ia melirik jam, tiba-tiba saja ia sadar kalau sekarang sudah pagi. Bahkan ia baru sadar matanya sama sekali tidak tertutup sedikit pun. Ia meragukan dirinya sendiri. Selama ini ia tidak pernah tidak bisa tidur atau mengalami insomnia. Kumpulan jadwal super sibuknya selalu berhasil menyuruh matanya terpejam. Tapi saat hatinya sedang berkecamuk begini, rasanya keinginan tidur pun tidak bisa mengalihkan pikirannya.

Pintu dorm 11 terbuka dan Leeteuk berjalan terseok ke arah Eunhyuk. Alisnya terangkat. “Tidak tidur?”

“Tidak bisa tidur.” sahutnya singkat. Senyum tipis terurai disana, tapi matanya sayu. Eunhyuk tidak dalam keadaan baik saat ini. “Hyung,” Leeteuk menoleh. Eunhyuk menarik napas, “Apa ini nyata? Aku tidak pernah bermimpi menyukai gadis yang bisa membuat kita begini.”

Leeteuk tidak menatapnya. Matanya terarah lurus ke depan. “Kupikir aku juga tidak pernah salah menilai orang. Entah bagaimana, aku malah bercerita tentang hal pribadiku padanya. Bodoh.”

“Aku juga pernah membahas Saera noona dengannya. Hanya saja…”

“Geumanhae~ apalagi yang bisa kita lakukan?” Leeteuk mendesah. “Hadapi saja semuanya setelah ini.”

Eunhyuk diam. Benarkah masalah besar akan datang sekali lagi? Ia terus-menerus memikirkan ucapan Heechul kemarin. Jika sekali lagi masalah datang, apa mereka tidak akan bisa lagi bertahan seperti ini? Otaknya menolak memikirkannya. Pikirannya kembali teralihkan pada gadis yang sejak semalam tidak bisa dihubungi. Apa Jiyoo sedang melarikan diri dari Super Junior? Atau berusaha menghindarinya?


Siang harinya tidak ada seorang member pun yang keluar dorm. Mereka berkumpul sekali lagi di ruangan yang sama. Tidak ada lagi Heechul yang mengumpat kasar seperti kemarin. Mereka semua hanya diam. Bersiap menghadapi bencana yang sudah diramalkan tapi tidak bisa mereka hindari.

Sudah ketiga kalinya Siwon melirik jam tangan mahalnya. “Sudah siang tapi belum ada kabar apapun.”

“Mm… seharusnya majalahnya sudah terbit kan?” Ryeowook menopang dagu. “Kenapa belum ada tanggapan dari perusahaan?”

“Apa mungkin batal terbit?” tebak Donghae.

Heechul angkat suara. “Mana mungkin, ha? Mereka tidak akan melewatkan kesempatan emas seperti ini.”

“Hyung,” suara Kyuhyun yang bersamaan dengan dering ponsel berhasil menarik perhatian seluruh member. “Kwan Nara menelepon. Bagaimana?”

Shindong menanggapi. “Angkat saja.”

Setelah member lain mengangguk memberi ijin, Kyuhyun menekan tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. “Ne?… Ne, kami sedang berkumpul di dorm 12. Wae?… Ahh~ geuraeyo?… Ne, arasseoyo… Ne.”

“Apa katanya?” Leeteuk menatap magnae dengan pandangan antusias. “Bagaimana respon masyarakat dengan edisi majalahnya kali ini?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Dia tidak membicarakan hal itu.”

“Lalu?” Eunhyuk yang sejak tadi diam tidak bisa menutupi lagi rasa penasarannya.

“Dia hanya bilang ingin bertemu dengan kita.” dengan santai Kyuhyun menggeletakkan ponselnya di meja.

“Dengan Jiyoo?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Eunhyuk. Seluruh member memandangnya aneh. “Aku hanya bertanya. Apa itu juga sudah dilarang?”

Kyuhyun mengangkat alis. “Molla~ dia hanya pesan supaya kita berkumpul.”


‘Ting… Tong…’
Suara denting bel memecah kedamaian dorm 12. Mereka yang tadinya hanya diam sambil mencuri pandang satu sama lain mendadak menggila dengan suara bel yang terdengar. Dengan cepat mereka menghambur ke ruang depan, berebut siapa yang harus membuka pintu dan menghadapi siapapun yang ada di balik pintu. Kalau mereka sedang sial, berarti itu pihak manager dan perusahaan. Sebaliknya, dan doa semua orang, jika ini Kwan Nara, setidaknya mereka bisa sedikit meringankan debar jantung yang memburu.

“Annyeong haseyo.” semua member menarik napas lega saat melihat dua orang gadis berdiri di depan pintu. Mereka tidak jadi tamat sekarang. Paling tidak nyawa mereka sedikit diperpanjang.

“Nara-ya, annyeong.” Leeteuk memimpin memberi salam. Sejenak kemudian matanya tertuju pada gadis yang berdiri di sebelah Nara. Ia memiringkan kepalanya. “Nuguya?”

Yang merasa disebutkan menyapa Leeteuk sopan. “Annyeong haseyo, Kwan Raneul imnida.”

“Ini adikku. Paparazzi juga di majalahku.” ujar Nara singkat.

Heechul mendengus kasar. “Kau membawa paparazzi lain lagi kesini? Tidak cukup satu paparazzi yang merepotkan kami?”

“Chul-ah~!” sela Leeteuk. Ia segera membungkuk sopan tanda minta maaf. “Masuklah.”

Nara beringsut mengikuti Leeteuk ke ruang tengah. Raneul mengikuti dengan gemetar karena sejak tadi Heechul memerhatikan geraknya dengan tajam. Mereka duduk di antara member Super Junior yang sudah berwajah pucat, setidaknya itu yang bisa ditangkap Nara.

“Apa sudah membaca majalah kami pagi ini?” Nara mengawali pembicaraan lebih dulu. Melihat semua member menggeleng, ia tercengang. “Belum? Kalian tidak membelinya?”

Heechul berdecak. “Berikan satu alasan kenapa kami harus membeli majalah yang akan menghancurkan kami.”

“Kami tidak berani membacanya, jadi kami menunggu kabar dari perusahaan atau netizen,” sahut Kyuhyun seolah mengartikan ucapan Heechul menjadi agak halus.

Raneul membuka suara dengan takut. “Kurasa kalian tidak perlu cemas lagi.”

“Tidak perlu cemas? Bagaimana kami tidak cemas kalau bencana itu tepat di depan wajah?” lagi-lagi Heechul mendengus kasar.

Yesung menangkap ketakutan Raneul. “Hyung, tenanglah sedikit. Kau membuat gadis-gadis ini takut.”

“Aku tidak akan basa-basi lagi,” ujar Nara. Ia melemparkan majalah ke atas meja. “Baca saja.”

Respon berbeda-beda tampak pada wajah semua member. Beberapa mengernyitkan alis dan yang lain masih tidak mengerti apa maksud Nara. Heechul sendiri tidak berkomentar apapun selain mendecakkan lidah.

Eunhyuk mengawali gerakan dengan mengambil majalah di depannya. Matanya terbelalak membaca judul artikel yang ditulis tebal. “I-ini… benar-benar berita hari ini?”

Raneul mengangguk membenarkan. “Aku tidak sempat mengintip isinya karena kupikir itu tidak perlu. Tapi ternyata…”

Heechul menarik paksa majalah itu dari tangan Eunhyuk. Sejenak kemudian ia memekik. “Ya~! Apa kalian benar-benar cerita macam-macam pada gadis itu? Kenapa berita yang terbit malah begini?”

Dengan cepat semua member membentuk lingkaran mengelilingi majalah itu. Donghae membaca judul artikelnya. “Kegiatan Super Junior Sehari?”

Kening Leeteuk berkerut. “Kenapa judulnya ini? Kapan dia meliput kegiatan kita selama sehari?”

Eunhyuk membolak-balik halaman artikel itu. Sepanjang penglihatannya, ia hanya melihat beberapa foto Super Junior. Ada fotonya saat syuting Starking, gambar membernya saat sedang makan bersama dan foto dirinya sendiri saat sedang sarapan. Ia ingat waktu itu ia sedang sarapan bersama Jiyoo, tapi ia tidak tahu kapan gadis itu memotretnya.

“Kalian benar-benar bercerita tentang Saera-ssi atau gadis itu saja yang pikun?” Heechul merebahkan tubuhnya di sofa. “Paparazzi mana yang melepaskan berita sebagus ini?”

“Kurasa Jiyoo tidak tega melakukan hal jahat pada kalian. Pagi tadi dia mengembalikan uang bayaran yang sudah kutransfer ke rekeningnya.” jelas Nara.

Siwon menarik napas. “Apa ini artinya berita itu tidak akan pernah terdengar keluar?”

Nara mengangkat bahu. “Hanya Jiyoo yang tahu ceritanya. Dan aku juga tidak mau mengambil keuntungan dari hal ini. Jadi kurasa kalian bisa tenang.”

Semua member mengembuskan napas lega. Kecuali satu. Eunhyuk sibuk menebak-nebak kenapa gadis itu memintanya membencinya kalau memang dia tidak melanjutkan artikelnya? Ponselnya yang sejak kemarin mati berarti juga bukan untuk melarikan diri. Lalu kenapa?

“Eunhyuk oppa,” ia memutar kepalanya cepat saat Nara memanggilnya. “Jiyoo tidak mengatakan apa-apa padamu?”

Eunhyuk hanya menggeleng. Menangkap sesuatu yang tidak beres, ia bertanya. “Waeyo?”

“Eobseoyo. Kupikir dia sempat mengatakan sesuatu.” ujar Nara. Ia menarik tangan Raneul, “Ayo kita pulang.”

“Kenapa pulang?” tanya Leeteuk sambil beranjak dari tempatnya.

Raneul akan membuka mulut saat Nara mendahuluinya. “Ada acara yang harus kami hadiri.”

“Acara?” ulang Eunhyuk. Alisnya terangkat heran. Pikiran tentang Jiyoo muncul sekelebat.

“Ne, acara pemakaman.” jelas Raneul.


Eunhyuk memandangi jejeran pohon yang berdiri tegak di kanan-kiri jendela mobilnya dengan tatapan kosong. Napasnya tercekat dan terasa berat setiap kali memikirkan gadis itu. Sesekali Leeteuk mengajaknya bicara tapi tidak ada respon yang ia tunjukkan. Kepalanya mulai berputar saat wajah gadis itu muncul di pikirannya.

“Hyuk-ah, kau dengar aku?” Leeteuk yang mulai tidak sabar menepuk pundaknya.

Dengan enggan, ia menoleh. “Ne, hyung. Waeirae?”

“Tidak usah berwajah cemas begitu. Sejak tadi kau hanya diam, itu menakutkan.” Leeteuk mencoba menghibur.

“Hyung,” ia mendesah. “Apa kau pernah membayangkan bagaimana tertekannya dia? Dia memintaku membencinya, Hyung.”

Leeteuk mengernyitkan alis. “Lalu? Apa kau bisa melakukannya? Paling tidak, apa pernah sedikit saja terbersit kau bisa membencinya?”

Eunhyuk tersenyum samar dan menggeleng. “Sudah sering kuusahakan, tapi tidak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa berpikiran negatif tentang Jiyoo.”

“Benar-benar cassanova.” ledek Leeteuk. Eunhyuk mengerucutkan bibirnya saat ia mendengar sindiran itu.


Kini nisan itu sudah ada di depannya. Eunhyuk berdiri sejenak kemudian berlutut. Tangannya mengusap permukaan nisan perlahan. “Jwoisonghamnida.” Ia menggumam pelan sehingga hanya telinganya sendiri yang mendengar.

“Oppa?” panggilan seorang gadis membuatnya memutar kepala. Ia menemukan gadis itu berdiri di depannya sambil membawa buket bunga. “Sedang apa disini?”

Eunhyuk tersenyum. “Mengunjungi ayah mertuaku.”

“Ayah mertua apa? Darimana oppa tahu kalau ayahku meninggal?” Jiyoo berjalan mendekat ke batu nisan ayahnya.

“Dari Kwan bersaudara.” Eunhyuk mengangkat bahu ringan. “Kenapa tidak memberi kabar?”

Jiyoo mulai meletakkan karangan bunga lily putih di atas nisan. “Aku juga mendengar ini tiba-tiba. Siapa yang bisa merencanakan kematian?” Gadis itu tertawa miris. “Appa meninggal setelah aku menyerahkan artikel di kantor penerbit.”

“Geurae? Mianhae. Aku terlambat kesini.” Eunhyuk menunduk.

Gadis di depannya tersenyum. “Gwaenchanha. Mm… dengan siapa kesini? Jalanannya agak rusak kan? Pasti susah sampai kemari.”

“Benar~ dengan susah payah, mobil kami menyusuri desamu. Sebenarnya semua member mau ikut, tapi masing-masing sibuk, dan Heechul hyung belum cukup siap bertemu denganmu, jadi aku datang bersama Teuk hyung.” jelas Eunhyuk panjang-lebar.

“Bersama Leeteuk-ssi?”

“Ya~! Sudah kubilang jangan panggil aku dengan cara tidak sopan begitu. Setidaknya panggil dengan ‘sunbae’, arachi?” suara Leeteuk terdengar dari jauh dan membuat mereka berdua menoleh cepat.

“Kenapa tiba-tiba leader Super Junior terdampar disini? Bukankah seharusnya kau sedang mengurusi dongsaengsmu?” ledek Jiyoo.

Leeteuk tersenyum lebar. “Aku memang sedang mengurusi salah satu dongsaengku. Apa kau tidak tahu bagaimana kau membuat Lee Hyukjae menjadi seperti orang gila belakangan ini?”

“Hyung…” Eunhyuk merajuk. Ia bisa melihat Jiyoo menunduk malu dan wajahnya bersemu merah. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

Sang leader mengangkat bahu. “Baiklah~ terserah saja.” Ia berjalan menjauh meninggalkan Eunhyuk dan Jiyoo.

Eunhyuk kembali berlutut di depan nisan. “Inikah ayahmu?”

“Mm. Inilah sumber kekuatanku.” ujar Jiyoo pelan. “Dia juga salah satu alasan terbesar kenapa aku tidak membuat artikel kalian.”

Kening Eunhyuk berkerut melihat mata Jiyoo yang berbinar.

“Geumanhae~ oppa tidak perlu tahu,” ujar gadis itu lembut. “Sekarang, ijinkan aku mengenalkan oppa pada pria pertama yang sangat kucintai.”

Eunhyuk bangkit dari tempatnya. “Ahh… benar juga, kami belum berkenalan secara langsung.”

“Appa, namja ini bernama Lee Hyukjae, atau biasanya dia dipanggil Eunhyuk.” Jiyoo berpaling pada Eunhyuk, “Oppa, ini uri aboji, namja istimewa dalam hidupku.”

“Annyeong haseyo, aboji.” panggilan Eunhyuk untuk ayahnya membuat Jiyoo memukul lengannya. “Sakiit~ kenapa memukulku?”

“Kenapa memanggilnya begitu? Memangnya oppa ini siapa? Panggil saja ahjussi.” ujar Jiyoo tegas.

Alis Eunhyuk terangkat. “Kenapa? Bukankah beliau ini ayah mertuaku?”

“Siapa yang bilang kalau aku bersedia menjadi pacar ke-sekian oppa?”

“YA~! Aku belum punya pacar. Kalau aku sudah punya, untuk apa aku terus-menerus memikirkan gadis bernama Choi Jiyoo?” tegasnya. “Lagipula, bukankah kau juga menyukaiku?”

Jiyoo memalingkan badannya. “Tidak pernah~”

“Gojitmal haji maseyo, agashi.” Eunhyuk mencubit pipinya. “Kau pikir aku bodoh?”

Keningnya berkerut. “Memangnya tidak?”

“Kau gadis menyebalkan. Aku akan berpikir ulang untuk melamarmu.” sahut Eunhyuk santai. Jiyoo mendadak berbalik ke arahnya sambil mendelik. “Kenapa? Kau mengharapkan aku melamarmu?”

Jiyoo tergagap. “A-ani~! Siapa yang bilang?”

“Aku yang bilang, baru saja. Kau tidak dengar?” goda Eunhyuk. “Bagaimana? Kau mengijinkanku memanggil ayahmu dengan sebutan ‘aboji’ atau tidak?”

“Terserah~” Jiyoo meninggalkan Eunhyuk sendirian di nisan ayahnya.

Eunhyuk berpaling ke arah nisan. “Aboji, aku pasti bisa mendapatkan putri kecilmu itu.” Ia berlari kecil untuk menyamakan langkah dengan Jiyoo.

-The End-


[Epilog]

Jiyoo mengangguk singkat. Bibirnya mengulas senyuman aneh. Ia tahu Nara hanya ingin membantu, seperti apa yang biasa ia lakukan. Tapi sekarang rasanya ia ingin sekali menolak bantuan ini. Tanpa sengaja hatinya mengambil alih pikirannya. Sama sekali bukan tindakan profesional, pikirnya. Kebingungan ini mulai merayap perlahan. Membuat otaknya bekerja keras untuk mencari jawaban yang seharusnya.

Ia menarik nafas panjang sebelum matanya terarah pada layar ponsel di tangan. Jiyoo mencari nomor yang ia rindukan. Ponsel itu kini tertempel di telinganya sampai nada tunggu berhenti terdengar. “Yeoboseyo?”

“Ne?” suara parau di ujung telepon membuat Jiyoo tersenyum lega. “Putri kesayangan appa?”

Jiyoo mengangguk walaupun ia tahu ayahnya tidak bisa melihatnya. “Ne. Appa, bagaimana keadaan appa? Perlu ke rumah sakit lagi?”

Untuk sesaat gadis itu lega bisa mendengar suara tawa ayahnya. “Tidak perlu. Appa masih baik-baik saja. Ada apa menelepon?”

“Jadi sekarang putri appa ini perlu alasan untuk sekedar menelepon?” goda Jiyoo. “Animnida. Hanya ingin mendengar suara appa. Bogosipeoyo, aboji.”

Sejenak suara ayahnya tidak terdengar. Jiyoo sibuk menutup mulutnya agar tidak menangis saat ini. “Katakan saja ada apa. Appa mengenal seorang Choi Jiyoo seumur hidupmu.”

“Kalau ada dua keputusan yang harus kuambil, dimana itu akan menghancurkan orang lain dan pilihan lainnya adalah kebahagiaanku, apa yang akan dipilih?” Jiyoo memikirkan kata-kata yang tidak akan membuat ayahnya cemas. Pertaruhannya adalah kehancuran Super Junior dan hidup ayahnya. Jadi bagaimana ia bisa memilih?

Ayahnya berpikir agak lama. “Appa tidak tahu kalau Jiyoo bisa menghancurkan orang lain. Menurutmu, apa itu mungkin?”

“Appa~ aku serius.” rajuknya. Ia sudah lama tidak bermanja-manja dengan ayahnya, dan sekarang itu membuat Jiyoo tersenyum.

“Seandainya kau lebih memilih kebahagiaanmu, apa kau akan menyesalinya?” pertanyaan ayahnya yang tak terduga mmebuat Jiyoo berpikir keras. “Benar kan? Kau bahkan tidak sanggup mementingkan kebahagiaanmu. Jadi apa yang membuat putri ayah ragu?”

Jiyoo diam. Ia tak bisa meneriakkan bahwa kebahagiaannya itu berhubungan dengan sang ayah.

“Kalau ini ada hubungannya dengan appa,” sang ayah seolah bisa mendengar teriakan dari hatinya. “Kau tahu pasti appa akan sangat menyesali hal itu. Sekalipun itu demi kebahagiaan, tapi saat kebahagiaan itu dibangun dari kehancuran orang lain, bagaimana kau bisa bahagia?”

Jiyoo menghela napas panjang. Matanya terpejam agak lama sebelum ia mengucapkan. “Appa, saranghae.” Dan memutus teleponnya.

====================
PS: Kelaar~ Tengkyu buat semuanya yang uda nungguin part terakhir ini. ^^

58 thoughts on “Paparazzi in Love -part 7/ending-

  1. hadoooh..
    kaga ada mention nih..

    aish, terharu ama kata2 appa-mu..

    aish, sumpah yah pengen mukulin ichul..
    yang pertama gara2 dia sotoy banget disini dan yang kedua adalah karena kucingnya foto2 ama siwon donghae.. T___T

    • sepertinya begitu.. soalnya aku tau lewat FB sih..😄
      kan suka ada yg otomatis tuh..

      eh, enak aja aye disamasamain ama kucing..
      padahal c hae mustinya takut ama baengshin..
      kali aja c baengshin laper terus makanin diaa.. *ikan*

  2. huwa~
    akhirnya selesai juga~
    aku yakin jiyoo gag akan ngancurin super junior… >.<

    aku yakin Jiyoo gag setega itu…😄
    aku bingung mau komen apaan lagi…
    terlalu banyak yang pengin aku komen tapi malh jadi gag bisa komen…😄

    pokoknya ff lain q tunggu selesainya juga ya~ ^^
    saranghae… ^^

    • iyaa~ sujud syukur lah ni epep bisa kelar hari ini. ><
      Jiyoo khan emang gadis baek2 onn, ga bakal tega ama keluarganya sampe kaya gitu. LOL.😄

      irit komen nih? Tapi tengkyu~🙂

      Sip~ lanjut MWL dulu sekalian ama oneshoot yg menanti. Kekeke~
      Nado saranghae.. ^^

  3. Hahahaha seruu~~! Bacanya ngebut ><; kekeke

    Ituu~kayaknya agak gimana gitu ngebayangin seorang choi shiwon gigitin kuku wkwkwk :3

    unyuuuk~suka senyam-senyun geje bayangin part romantis wkwk

  4. Akhirx slese jg..
    Kereennn…>o<
    ff mu sukses bkin aq sdikit mlupakan dendamq ma unyuk..huakakak…xD

    skrg konsen bkin lanjutnx MWL ya…ff yg paling d tunggu2 seluruh dunia tu..

  5. Gud..gud…
    Ara~..aq ga bkal dndam lg koq,paling cm sebel dikit2 doang…fufufu…^^v
    y ga la,pasti smua orang nunggu2 lnjutn MWL koq,kn ntu ff terkeren yg pnah ada…*sok gombal*
    hehe..tp bneran keren koq onn…

  6. tadi baru dari sujuff,
    dan, nyampe sini, saya babat saja ampe part 7😄

    ceritanya kereeeen~~
    saya iri yang bisa bikin FF bagus gini, bahasanya rapi T^T
    sepertinya FF selanjutnya bakal saya simpen+save dulu
    buat dibaca-baca sebagai selingan😄

  7. huaaaa ko dah ending??*ga rela.hahaa
    critanya keren suka deh >.< smpe bingung mw comment apa lg..hehe
    Btw salam kenal yah😉

  8. Perasaanku gak keruan bgt pas Jiyoo ngasih artikelnya *curhat* >,< untung aja dia gak jadi nulis yang cinta segitiga itu.

    Wahh, chukkae author, aku dan temen-temenku udah dibikin mabok sama ini FF! Bener-bener bikin penasaran, makanya aku baca duluan disini, habis gak sabar kalo nunggu lanjutannya di sjff ^o^

    Super Nice FF! =))

    • Ahaha~ pada mikir Jiyoo nulis beneran ya? Jiyoo kan cewe baek2, ga mungkin sejahat itu kok.😄

      kamsahamnida.🙂 Temen2? Banyak yak? Uwaaa~ malu. ><
      Makasih uda mau mampir & yg terpenting, leave comment. Mudah2an tetep komen di sjff juga ya. Soalnya ini FF satu2nya yg ada disana.😀

      • iya banyak, sampe di sekolah kita senyum-senyum mulu kepikiran ini FF hwahaha *curhat*🙂

        jangan lupa share FF lagi ya, onn!😀

      • Jinjjayo? Uwaa~ onnie bikin anak2 orang jadi gila dong? *plak*😄
        Makasih yaa, buat temen2nya juga.🙂

        Share FF? Insya Allah~ mudah2an sjff masih mau nerima FF onnie yaa.😀
        Sekali lagi makasihh. ^^

  9. Yaaah~ Ending.
    *pdahal lgi jingkrak2 ksenengan gara2 ga usah ngomenin atu2 lagi di fic ni* XDDDD *dilempar onn*
    Maklum onn,, onlen pake hp. Rda ribet dah mw komenx.
    Kbetulan z lgi kya akan pulsa yeuh.. XDDDDD
    qrain c Jiyoo bneran ngasih artikel yg ono. Udah dag dig dug saia. Eh taunya.. Bagus lah bagus. X)

    • Huahahahaha~ yg nyuruh komen atu2 siapa nak? Langsung ke part terakhir juga gpapa kaliii~😄
      Orang kayaaa maennya komen ke FF orang ya? Baguss~ XDD
      Makasih uda baca PiL sampe tamat. *bow again*

  10. c’kunyuk bisa tiba” pdkt trus m jiyoo…
    penasaran m ujungnya apa yg bakal jiyoo tulis pgn baca dulu endingnya tapi tar gak seru tp penasaran,,, akhirnya dibaca dr awal… haha

    keren say jd paparazi mau lah onn tp specialist poto hyuk toples #yadong

  11. wae blm siap??? sepertinya menyengangkan,haha….
    penghubung perasaan eunteuk gt??? wkwkwk cocok lah km ama abang^^
    eh shel kamu tu author sjff yah??? baru bc coment diatas.hehe

  12. hueeeeeeee ~😥
    nangis baca kata kata Appa Jiyoo eonni😦
    Appa lebih memilih kebahagiaan oranglain T-T
    hiks .. eommaaaaaaaaaaaa T_T

    JiHyuk disini gag jadian ..
    hubungannya ngegantung (?) ><
    tapi ntar adiannya so swet😀
    hehehehe ~❤ JIHYUK DAEBAK❤ ^O^

  13. huuaaaa…jadi ikut penasaran apa isi artikelnya
    keren banget ni ff
    baru bis akomen…biasa tadi bacanya di hape hehehe
    ff disini selalu punya alur khusus untuk nemuin jiyoo sam suju…..bagus

  14. yaaa’ sadn and happy berbaur jadi satu..
    tapi syukurlah kesalahpahaman nya udah kelar, walaupun diselingi chulppa yang nyebelin..
    hhaaaaa..😀

  15. akhirnya jiyoo sm eunhyuk oppa, tdnya q pkr bakal ada kisah triangel love sm teukie oppa tp ternyata teukie oppa cman anggp jiyoo sbg tmn yg mnyenangkan-sampe dia nyium jiyoo-aja😄..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s