Paparazzi in Love -part 6-

PAPARAZZI in LOVE –chapter 6-

====================

-previously-

“Artikel apa? Kau sedang menulis artikel ya?” mata Eunhyuk berbinar. Ia ingat kalau aku sama sekali tidak pernah membuat artikel apapun, dan sekarang ia ikut senang karena ini artinya jabatanku naik. Tunggu dulu… Nara tidak boleh menjawabnya!!

“Cinta segitiga dalam Super Junior, sang leader dan pumpkin boy,” ujar Nara santai. Lalu ia meninggalkan apartemenku tanpa dosa.

Tanpa perlu kupastikan, sekarang aku tahu Eunhyuk sedang menatapku tajam. Matanya menuntut penjelasan. Sekarang apa yang bisa kujelaskan padanya?

“Kau memanfaatkanku?” pertanyaan itu menohok telingaku. “Kau mencari tahu soal Im Saera, Teuk hyung dan Sungmin hyung dariku untuk artikel-mu kan?”

Kepalaku menunduk. Aku sama sekali tidak berani menatapnya. “A-aku tidak bermaksud begit-“

“Tentu saja~! Kau mendekatiku demi semua ini. Sejak awal inilah niatmu,” Eunhyuk mengumpat. “Dan bodohnya aku malah menyukaimu! Seharusnya aku tahu, semua paparazzi memang seperti itu.”

“O-oppa, bukan begitu. Sama sekali bukan begitu. Ak-“

Eunhyuk menepis tanganku. “Memang. Sama sekali bukan begitu. Akulah yang bodoh.”

“Tolong dengarkan aku, oppa,” mataku mulai terasa panas. Hatiku sakit saat ia bilang bahwa menyukaiku adalah sebuah kebodohannya.

“Kau hebat sekali! Daebak~!” Eunhyuk sama sekali tidak menatapku. “Semoga artikelmu sukses. Aku bahkan tidak yakin kalau Teuki hyung akan memaafkanmu kalau kau mengungkit soal Saera noona.”

Ia pergi. Benar-benar membuka pintu dan pergi. Sekarang aku benar-benar tidak bisa merasakan apapun. Mati rasa. Dingin. Apa aku sedih dengan kata-katanya? Atau aku sedih karena kenyataannya orang yang kusukai sekarang membenciku?

Author’s PoV

Eunhyuk terus-menerus mengumpat kasar. Ia tahu kalau gadis itu seorang paparazzi, hanya saja ia tidak percaya gadis itu bisa memanfaatkannya seperti ini. Karena ia tahu, ia sadar sepenuhnya bahwa ia sudah menyukai paparazzi itu.

Leeteuk menepuk pundaknya. “Ya~! Hyung ada disini, kenapa wajahmu seperti itu?”

“Hyung,” panggilnya. Leeteuk menoleh. “Apa kau menyukai Choi Jiyoo?”

“Jiyoo? Geureom~ Aku menganggapnya sebagai teman yang baik. Rasanya nyaman bersandar padanya.”

Eunhyuk memiringkan kepalanya. “Apa kau bercerita banyak pada Jiyoo?”

“Mm. Semua tentang Saera juga. Kau tahu kan aku sama sekali tidak bisa bercerita banyak tentangnya, tapi saat bersama Jiyoo, semuanya meluncur begitu saja dari mulutku,” ungkap Leeteuk. Ia hanya menganggap Jiyoo sebagai gadis yang menyenangkan. Ciuman dadakannya itu juga hanya untuk menunjukkan rasa sayang sebagai teman.

“Tapi kan dia itu paparazzi, hyung. Kau tidak cemas?” Eunhyuk semakin ingin tahu jawaban leadernya. Karena leadernya lah yang sedang menjadi calon penghias artikel pertama Jiyoo.

Leeteuk berpikir sejenak. “Aniyo. Memangnya kau percaya kalau Jiyoo gadis seperti itu? Gadis licik?”

Jawaban yang sangat mengejutkan Eunhyuk. Kenapa malah leadernya bertingkah seolah mengenal Jiyoo lebih baik darinya? Atau memang dirinya lah yang sama sekali belum mengenal Choi Jiyoo?

-the next day-

“Artikelnya sudah kau kerjakan?” Nara bertopang dagu di atas meja kafe. Pandangan tajamnya terarah pada gadis lesu di depannya. Gadis itu hanya diam sambil menatap layar laptop tanpa melakukan gerakan apa-apa. “Choi Jiyoo, aku sedang bicara denganmu. Halo??”

Jiyoo menoleh singkat lalu melanjutkan lamunannya. Ia mendesah. “Hhh… aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

“He? Yang harus kau lakukan sudah amat jelas,” ucap Nara. “Berkonsentrasilah pada laptop-mu dan mulai menulis artikel yang bagus. Dengar, aku sudah memilih beberapa foto yang bisa jadi hiasan artikel-mu.”

Lagi-lagi gadis di depannya itu diam kemudian menelan ludah. Ia tahu foto mana yang akan dipakai. Foto Leeteuk dan Sungmin yang bersitegang di toilet. Sesaat sebelum Jiyoo tiba-tiba memeluk Leeteuk menerima semua cerita versinya.

“Jiyoo?? Aku bicara denganmu, bukan dengan laptop kesayanganmu ini,” Nara mendengus kesal.

“Kau disini juga?” seorang pria menghampiri meja mereka.

Mata Nara membelalak lebar. “Leeteuk oppa??”

“Annyeong haseyo. Teman Jiyoo?” sapanya ramah. Leeteuk menarik kursi di sebelah Jiyoo. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jiyoo tak menoleh. “Sarapan.” Mendadak otaknya ingin tahu. “Kau sendirian?”

“Aniyo. Dengan Eunhyuk,” jawaban Leeteuk membuat Jiyoo tersentak. “Itu dia.”

Nara bangkit memberi salam. “Annyeong haseyo. Aku yang kemarin bersama Jiyoo. Ingat?”

“Mm,” Eunhyuk mengangguk singkat sambil melirik Jiyoo yang menunduk. “Kita harus bicara.”

“Aku akan berusaha memahami penjelasanmu,” ucap Eunhyuk. Ia membawa Jiyoo ke taman yang tak jauh dari kafe tadi. “Sekarang katakan apa yang mau kau katakan.”

Jiyoo memejamkan matanya sejenak. “Tidak ada.” Membuat Eunhyuk mengerutkan kening. Gadis itu membuka matanya. “Iya, tidak ada yang harus kukatakan kalau oppa berharap aku akan menyangkal ucapan oppa kemarin.”

“K-kau benar-benar memanfaatkanku?”

“Tidak. Sejak awal pikiran itu sama sekali tidak ada,” Jiyoo menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu panjang.

Eunhyuk duduk di sampingnya. “Lalu?”

“Kalau oppa bilang aku sedang menyelidiki gadis bernama Im Saera, itu benar. Aku memang melakukan itu. Tapi aku sama sekali tidak pernah ingin memanfaatkan siapapun,” Jiyoo mendesah. “Cerita lengkapnya pun aku dapat dari Leeteuk-ssi. Dan untuk sekedar pemberitahuan, aku tidak berminat mengangkat hal itu sebagai artikel pertamaku.”

“Kenyataannya, kau akan membuat artikel yang akan merusak nama Super Junior,” wajah Eunhyuk mengeras. Tegang. Ia sama sekali tidak bisa menerima bahwa gadis yang sedang ia sukai ini akan menghancurkan grup-nya sendiri. “Kau akan melakukannya?”

Jiyoo tak langsung menjawab. Kepalanya tertunduk. “Mollayo~” Gadis itu menatap lurus ke depan. “Kalau memang itu yang harus kulakukan, apa aku bisa mengelak?”

“Kau…,” suara Eunhyuk terdengar setengah parau. “Teuk hyung sangat mempercayaimu, kau tega merusak kepercayaannya?”

Lagi-lagi gadis itu hanya bisa diam. Ia sama sekali tidak berada dalam keadaan yang bisa memilih. Jiyoo tahu Leeteuk sudah sangat percaya padanya, karena ia bisa menceritakan semua hal tentang Saera pada Jiyoo. Sama sekali bukan hal yang mudah, terutama bagi seorang pria. Tapi bahkan situasi ini tidak mampu merubah apapun. Ia memikirkan uang tabungannya yang menipis dan nasib ayahnya yang masih sangat bergantung pada hasil beritanya ini.

Eunhyuk mendesah. “Kupikir kau gadis yang berbeda. Ternyata pikiranku ini salah besar.”

Dan ia berlalu pergi. Jiyoo berusaha menahan ledakan kesedihan yang mulai membanjiri ulu hatinya. Tadinya pria di depannya hanyalah seorang idola baginya, sekarang, entah sejak kapan, pria itu berubah menjadi seseorang yang penting. Seseorang yang menjadi salah satu alasannya untuk bernafas.

Malam itu lagi-lagi Nara menunggui Jiyoo di apartemen. Jiyoo masih belum bisa berpikir normal saat ini, tapi Nara terus merongrongnya soal artikel. Semua omelan Nara sama sekali tidak merubah kondisi sahabatnya itu. Jiyoo tetap memandang kosong ke layar laptopnya yang dibiarkan menyala sejak tadi. Otaknya masih tidak mau berkompromi soal artikel yang sekarang mendorongnya ke jurang ini.

“Jiyoo-ah,” Nara memanggil gadis yang sedang melamun di sampingnya. Yang dipanggil menoleh. “Eunhyuk dan kau, baik-baik saja kan?”

Jiyoo tersenyum samar. Eunhyuk dan dirinya? Sejak kapan ada penggunaan kata-kata jamak untuk mereka? Ia diam sejenak lalu mendesah. “Memangnya kenapa?”

“Tadi pagi sepertinya dia marah. Apa gara-gara ucapanku kemarin?” wajah Nara cemas. Ia membaca jawabannya dari rahang Jiyoo yang menegang. “Mianhae~ aku tidak tahu hal kemarin akan membawa masalah seperti ini.”

Dengan susah payah Jiyoo menelan ludah dan tersenyum. “Gwaenchanha. Semuanya baik-baik saja.”

“Mm… geuraeyo?” seolah ingin memastikan sekali lagi, Nara bertanya. “Kau boleh melepaskan artikel ini. Akan kusuruh orang lain mengerjakannya. Kita sudah punya bukti gambar kan? Jadi mereka tidak akan menyalahkanmu pada akhirnya.”

Dadanya terasa berat saat menarik nafas. Oksigen di sekitarnya seperti menipis, tapi anehnya paru-parunya sama sekali tidak terisi. Sesekali Jiyoo merasa ia tidak bisa bernafas.

Nara mulai memasukkan ponsel ke dalam tas. “Aku harus pulang sekarang. Raneul sudah di depan rumah, aku lupa kalau aku baru saja mengganti password apartemen kami,” Setelah membereskan barang-barang bawaannya, ia berjalan menuju pintu. “Artikelnya, atau gambarnya saja kalau kau mau, harus masuk meja redaksi dalam minggu ini. Aku tidak memaksamu, sejak awal niatku hanya ingin membantu.”

Jiyoo mengangguk singkat. Bibirnya mengulas senyuman aneh. Ia tahu Nara hanya ingin membantu, seperti apa yang biasa ia lakukan. Tapi sekarang rasanya ia ingin sekali menolak bantuan ini. Tanpa sengaja hatinya mengambil alih pikirannya. Sama sekali bukan tindakan profesional, pikirnya. Kebingungan ini mulai merayap perlahan. Membuat otaknya bekerja keras untuk mencari jawaban yang seharusnya.

Ia menarik nafas panjang sebelum matanya terarah pada layar ponsel di tangan. Jiyoo mencari nomor yang ia rindukan. Ponsel itu kini tertempel di telinganya sampai nada tunggu berhenti terdengar. “Yeoboseyo?”

Eunhyuk berkali-kali menepis pikiran picik dari kepalanya. Ia menolak semua pernyataan otaknya yang mengatakan kalau Jiyoo tidak lebih dari seorang gadis licik yang sebentar lagi akan menghancurkan Super Junior.

“Hhh….” ia hanya bisa menghela nafas setiap kali pikiran itu mampir. Bagaimana kalau Jiyoo benar-benar melakukannya? Grup ini ia bangun dengan susah payah bersama membernya, mana mungkin ia membiarkannya rusak begitu saja?

Leeteuk mulai memandang Eunhyuk dengan tatapan frustasi. Ia melepaskan headphone yang masih menempel. “Eunhyuk-ah, kau ada masalah?”

Yang ditanya tidak menjawab. Pikirannya masih berdebat sendiri. Butuh beberapa detik sampai ia berhasil mencerna pertanyaan itu. “Aniyo, hyung.” Dengan cepat ia meralat ucapannya sendiri, “Ah, ne. Ada. Sedikit, sepertinya.”

“He?” Leeteuk memiringkan kepala. “Sebenarnya ada atau tidak?” Dan kemudian ia tertawa, “Arasseo. Mau membicarakannya setelah Sukira?”

Ia lega saat Leeteuk menawarkan diri. Diam-diam ia memang harus membicarakan masalah ini, karena ini juga sangat berhubungan dengan sang leader. Eunhyuk memejamkan mata lalu mengangguk singkat.

Mata Jiyoo masih memandang lurus ke depan layar laptopnya. Kali ini tatapannya tidak lagi berupa tatapan kosong tanpa tindakan apa-apa, jarinya menari indah merangkai kalimat untuk artikel pertamanya. Tadinya ia ragu dengan semuanya, tapi seolah suara seseorang di ujung telepon tadi menguatkan nuraninya. Ia harus menulis dan mendapatkan uang, kemudian ia akan pergi meninggalkan kamera usangnya.

“Mm… kata-kata ini, kurang cocok,” telunjuknya menekan backspace untuk kesekian kalinya. Otaknya berpikir mengolah kalimat agar menarik. Sesekali ia mencari foto yang ia pikir cocok untuk artikelnya.

Sosok Eunhyuk memang masih sering membayanginya. Ia merasa bersalah pada pria itu. Sungguh.

“Menurutmu dia berani melakukannya?” pertanyaan itu sudah terlontar ratusan kali dari bibir Leeteuk. Setidaknya itu menurut telinga Eunhyuk. Dan untuk kesekian kalinya pula, ia mengangguk. “Aku sama sekali tidak yakin.”

Eunhyuk memutar bola matanya. “Hyung, manusia bisa melakukan hal nekat seperti ini. Tidak semua orang bisa kita anggap baik.” Ia melanjutkan saat Leeteuk baru membuka mulutnya, “Sekalipun menurutmu dia adalah orang terakhir di bumi yang bisa menyakitimu.”

“Tapi ini Jiyoo, maksudku, kita memang belum lama mengenalnya, hanya saja…,” kata-katanya terhenti. Dalam hatinya, Leeteuk menyandarkan semuanya pada gadis itu. Entah sejak kapan, tapi ia percaya pada Jiyoo. “Bagaimana menurutmu?”

“Apa?”

“Menurutmu, apa dia gadis seperti itu?” Leeteuk mengamati raut wajah lawan bicaranya. “Kau menyukainya kan? Paling tidak, kau tahu alasan kenapa kau bisa menyukainya.”

Kali ini Eunhyuk berhenti merongrong. Ia diam. Sama sekali tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Sejenak matanya terpejam. “Aku menyukai semua hal tentangnya, hyung.”

-the next day-

Jiyoo tertidur sambil menempelkan wajahnya di atas meja saat ponselnya berdering nyaring. Ia menggeliat sebentar sebelum melihat caller id di layar ponselnya. Lidahnya berdecak saat menekan tombol hijau. “Ne?”

“Pagi ini kau sibuk?” suara di ujung telepon terdengar riang. Jiyoo belum sempat menjawab saat Nara melanjutkan omongannya, “Temani aku makan siang di luar.”

Terdengar Jiyoo yang menggumam pelan. “Uangku menipis. Aku harus hemat.”

Nara merajuk. “Ayolah~ kutraktir?”

“Aniyo. Aku akan makan ramen di rumah,” ia merasa ada sesuatu dengan ajakan tiba-tiba Nara. “Ada yang penting? Atau kau hanya mau mengingatkanku soal artikel itu?” Kali ini Jiyoo yang mendahului Nara, “Aku sedang mengerjakannya semalam. Sedikit lagi akan selesai.”

“He? Kau mengerjakannya?”

Jiyoo memindahkan ponsel ke telinga kirinya. “Kau lupa siapa yang menyuruhku mengerjakannya?”

Suara Nara mengecil. “Tapi aku juga tidak lupa bagaimana keadaanmu sejak kemarin saat aku membahas masalah ini,” Ia mendesah, “Kalau kau keberatan, aku sudah menyuruhmu untuk tidak menulis apapun.”

“Terlambat,” dengan penuh kesadaran, Jiyoo tersenyum. “Aku sudah menulis dan kau tidak bisa menolak.”

Nara baru saja menjejalkan ponselnya ke dalam tas setelah ia selesai bicara dengan Jiyoo. Ia tahu sahabatnya itu sama sekali tidak ingin menulis tentang ini. Nara yakin kali ini Jiyoo sudah terlalu banyak melibatkan perasaannya sendiri. Sikap itu terlihat jelas di matanya. Bahkan Eunhyuk dan Leeteuk pun terasa tidak asing saat bersama Jiyoo.

“Terpaksa makan siang di rumah,” ia menarik nafas panjang dan berjalan pulang.

Langkahnya melambat saat ia melihat seorang pria berdiri bersandar di depan pintunya. Nara nyaris berteriak saat melihatnya disana. Seperti manekin sempurna yang dipajang khusus hanya untuknya.

Pria itu menyadari kedatangnnya. Ia hanya tersenyum tipis, walaupun Nara merasa senyumannya itu sangat menggoda. “Annyeong haseyo. Kau.. Kwan Nara kan?”

“N-ne, Kyuhyun oppa?”

Eunhyuk berhenti di depan kafe itu lagi. Kafe yang sama yang menjadi langganan Jiyoo saat sarapan. Ia bahkan tidak tahu persis sejak kapan kakinya melangkah sendiri kesana. Eunhyuk meregangkan otot-ototnya. Seolah tindakannya itu bisa membuatnya sedikit berpikir lebih jernih, padahal otaknya sama sekali tidak cukup bekerja dengan normal.

“Hyukjae-ah, bangunlah~!” ia merutuk dirinya sendiri.

Pandangannya terhenti pada satu meja. Meja yang sama seperti kemarin. Dan ia melihatnya. Gadis itu duduk tenang sambil menarikan jemari mungilnya di atas laptop. Diam-diam hatinya menghangat. Setidaknya gadis itu masih tetap gadis yang sama. Gadis yang akan selalu memesan cappuccino hangat. Gadis yang sama yang belakangan ini membuat kepalanya pening.

Entah sejak kapan ia hanya tertegun saat melihat gadis itu sampai akhirnya mata mereka bertemu. Jiyoo menemukannya. Gadis itu melihat Eunhyuk berdiri di luar sambil terus memandanginya. Ia nyaris yakin bibirnya menggumam. “Aku merindukanmu.”

Jiyoo mendengarnya. Ia mendengar sangat jelas saat kata-kata yang mungkin hanya halusinasinya itu meluncur dari mulut Eunhyuk. Ia merindukannya. Begitupun dia. Rasanya sudah terlalu lama sejak mereka sama sekali tidak pernah saling bicara atau bahkan bertemu seperti dulu.

Dengan sekuat tenaga, ia menggeleng. “Aku pasti salah dengar. Dia tidak mengucapkan apapun. Lalala~” Jiyoo memejamkan matanya. “Dan bahkan bibirnya sama sekali tidak bergerak. Aku pasti sudah gila.”

Gadis itu berharap saat matanya terbuka nanti, Eunhyuk tidak akan berada disana. Ia sangat berharap kali ini ia hanya sekedar berhalusinasi. Dan benar, pria itu sudah tidak lagi berdiri di luar. Jiyoo menunduk dalam dan sepertinya ia akan menangis.

Nara tercengang sambil memandangi pria yang kini duduk di ruang tamunya. Sepertinya ia butuh sedikit sengatan listrik agar membangunkannya dari mimpi ini. Super Junior magnae, Cho Kyuhyun ada di depannya!

“O-oppa, apa kau benar-benar Cho Kyuhyun?” pertanyaan konyol terlontar dari bibir mungilnya.

Kyuhyun mengerutkan kening kemudian mencibir. “Aniya. Aku adalah Edward Cullen.” Gadis di depannya malah mengerjapkan mata. “Aku memang Cho Kyuhyun. Kau butuh semua kartu identitasku supaya kau yakin?”

“Mm… tidak perlu,” Nara berusaha tersenyum senormal yang ia bisa. Karena jarang sekali orang akan tersenyum biasa kalau di depannya ini adalah Super Junior. “Lalu, ada apa?”

“Soal Jiyoo-ssi…,” Kyuhyun agak menegakkan duduknya. “Dia itu… paparazzi kan?”

Nara langsung mengangguk. “Mm-hm. Wae?”

“Apa artikel itu benar?” kali ini nada suaranya agak hati-hati. “Apa dia benar-benar akan menulis artikel tentang kami?”

Kening gadis itu berkerut. “Tahu darimana?” Nara menambahkan, “Maksudku, kupikir tidak banyak orang yang tahu soal ini. Dan lagi, kenapa pergi mencariku?”

“Semua hyung sedang membicarakan soal ini di dorm. Aku tidak tahu harus mencari siapa lagi. Mereka bilang kau ada hubungannya dengan ini,”

Nara menggigit bibir bawahnya. “Mm.. aku tidak memaksanya mengerjakan artikel itu. Tapi dia bilang dia sudah mengerjakannya. Jadi…”

“Suasana di dorm agak kurang menyenangkan. Dulu gara-gara Sungmin hyung dan Teuk hyung, sekarang giliran Hyukjae hyung yang selalu uring-uringan,” Kyuhyun berwajah memelas. Nara merasa simpati padanya. Bagaimanapun juga, dia itu magnae, pasti banyak tekanan. Pria itu melanjutkan, “Setiap kali aku akan bermain game, para hyung sibuk berdebat, aku jadi susah konsentrasi. Padahal sebantar lagi, hanya tinggal sebentar lagi, semua level dapat kuselesaikan. Kau bisa bayangkan perasaanku, Nara-ya?”

Gadis di depannya hanya bisa melongo.

Jiyoo menyandarkan tubuhnya ke sofa putih. Sesekali ia meregangkan lehernya yang sedikit kaku karena terus-menerus tegak saat mengetik artikel. Setelah agak membasahi matanya dengan aliran sungai kecil tadi pagi, ia terus berkutat dengan laptopnya. Dan sekarang artikel itu selesai.

Tapi suasana di luar sudah gelap. Ia menimbang-nimbang. “Besok kuserahkan atau akhir minggu ini saja?”

Otaknya terus ia suruh berpikir. Berpikir hal lain selain Eunhyuk, karena sesekali pikiran tentangnya merasuk perlahan dan mulai menyergap akal sehatnya lagi. Sekali saja pikiran itu mampir, Jiyoo berani bertaruh, ia tidak akan bisa menolaknya.

‘Ting… Tong…’

Bunyi bel rumahnya sendiri membuat Jiyoo terkesiap. Ia berjalan menuju pintu sesaat setelah menutup laptopnya. “Nuguseyo?”

Tidak ada jawaban. Ia agak ragu untuk membuka pintunya. Bagaimana kalau ini hanya pekerjaan orang iseng? Seingatnya banyak anak kecil yang suka mengerjainya seperti ini.

“Bukalah,” suara ini… dia. Eunhyuk sedang berdiri di depan kamar apartemennya. Tubuh Jiyoo mendadak lumpuh. Otak besarnya sama sekali tidak bisa menyuruh tangannya membuka pintu yang jelas-jelas ada di depan matanya saat ini. Jiyoo melihat bayangan hitam di bawah pintu. Sepertinya pria itu sedang jongkok bersandar di pintunya. “Tidak usah kau buka juga tak apa. Aku juga tidak tahu apa yang harus kubicarakan denganmu.”

Diam-diam Jiyoo menyeret kakinya ke pintu dan mulai menyandarkan tubuhnya ke pintu. Ajaib. Gadis itu bisa merasakan detak jantung Eunhyuk walaupun mereka terhalang pintu. Ia duduk di lantai sambil melipat lututnya. “Aku… minta maaf.”

“Geumanhae,” Jiyoo mendengar suaranya dengan sangat jelas. “Aku juga tidak punya hak melarangmu.”

Jiyoo menelan ludah. “Apapun yang kulakukan nanti, oppa boleh membenciku selamanya.”

“Jinjja?” Eunhyuk tertawa agak sumbang. “Bagaimana kalau tidak bisa?” Suaranya parau, “Bagaimana kalau aku tidak bisa membencimu? Apa kau tahu caranya?”

Tangan Jiyoo terkepal kuat. “Ingat saja kalau aku adalah yeoja jahat.”

“Untuk malam ini, aku tidak ingin melakukannya,” kata-kata itu meluncur begitu saja dan perlu Jiyoo akui, ia sangat senang mendengarnya. Paling tidak saat ini Eunhyuk tidak sedang membencinya. “Ya~! Kau tahu tidak, adegan seperti ini sering ada di film romantis. Bagaimana perasaanmu?”

“Adegan?”

Kali ini suara tawa Eunhyuk sangat jernih. “Ini… dua orang yang saling berbicara dengan hanya dibatasi pintu seperti ini. Bukankah ini romantis?”

Mendengar tawanya saja sudah bisa membuat Jiyoo senang. Ia senang bisa tertawa lagi bersamanya. “Jangan bilang oppa juga menyiapkan kamera video disana?”

“Ahh… benar juga! Seharusnya aku menyewa kameramen juga,” Eunhyuk banyak tertawa bersama Jiyoo malam ini. Sejenak ia menarik nafas, “Cerita ini benar-benar bisa dijadikan film, benar tidak?”

Jiyoo tak langsung menjawab. Ia takut jawabannya bisa merusak malam ini. “Mm-hm. Kita akan mendapat banyak penghargaan untuk ini.”

Mereka berbincang agak lama. Sama sekali tidak menyenangkan memang, dimana letak menyenangkannya saat kau harus berbicara di balik pintu?

“Oppa,” Jiyoo memandang langit-langit apartemennya. “Apapun yang terjadi nanti, berjanjilah kau akan melupakan gadis jahat ini.”

“Aku tidak yakin,” Eunhyuk mendesah, “Hhh… kalau itu yang kau minta-“

“Aniya. Bukan yang kuminta, tapi yang harus oppa lakukan,” potong Jiyoo. “Tidak akan sesulit itu melupakan seorang gadis, kan?”

Eunhyuk masih meresponnya dengan tawa. “Tidak ada gadis yang bisa kulupakan begitu saja.”

“Mata keranjang~”

Sekali lagi mereka tertawa. Tapi dalam hati, gadis itu tahu ia harus memaksa Eunhyuk melupakannya setelah malam ini. Sudah cukup banyak masalah yang dibuat olehnya. Bibirnya tersenyum tapi pandangannya nanar. Jiyoo memeluk lututnya sendiri. Berharap isakannya tidak terdengar ke telinga pria itu.

-TBC-

PS: next part is the last. ^^

37 thoughts on “Paparazzi in Love -part 6-

  1. huwaaaaaa,,,, sedikit lagi…
    tinggal sedikit lagi…
    tau” ada tulisan TBC …

    itu kyu q kira care gtu emank gara” dy care ama hyung”nya…
    gag taunya gara” game… =.=a
    bener” maknae evil gamekyu dah…😄

    huwaaaa,,, unyukkk…
    kenapa kamu sok romantis… *plak*

    wah,,, gag percuma q nungguin ini di post… >.<

    • Ahh.. itu tbc-nya rada ga pas narohnya onn. ><
      Ahahaha~ kyu pda dasarnya emg ga bener. Di otaknya game mulu. XDD

      Unyuk emg romantis, ama aku doank. Kekeke~
      Gomawo uda nungguin part ini onn.🙂

  2. Pingback: Tweets that mention Paparazzi in Love -part 6- « Sheverlasting's Blog -- Topsy.com

  3. Nara sadis *tepokin pantat nara* nappeun!!! ya!!! nappeun!!!😄
    Oh unyuk,the true cassanova,”tidak ada gadis yg kulupakan”
    bahaya ni orang,hrus dmusnahkan sblm memakan bxk korban!!😄

    • Ahaha~ si nara kenapa lgi sih? Aku uda bikin imej-nya sepolos mungkin loh.😄

      Iyaa~ dialah cassanova abadi. Sebel dah ama tgkahnya. ><
      Tpi jgn dimusnahkan dulu, dia msh langkaa~ XDD
      Gomawo uda mampir onn.🙂

  4. ya allah kyu..
    kirain teh beneran care ama hyung2.. gataunya care ama naek level.. ckckck..
    ada ada aja ah..

    hh.. jadi suka ama eunhyuk sayaa.. =.=

  5. onniii ..
    maaf ye komennya loncat2 XP
    hehe
    berhubung yg baru dah post, komen yg baru aja daahh .. hehe
    *piss*

    kyu eviiiillllllll !😄
    dasar magnae sarap ! wkwkkwk
    *PLAK*

    iii hyukiee ..
    keren deh ffnya ^^d

    • yang part 5 uda baca? ada yg bilang baru bisa ol besok/jumat nih kayanya. Hayoo~

      Bukan kyu kalo ga berhati evil~ XDD
      Hyukie kenapa? Sweet yak? Hehe..😀

      Makasih~ Makasih uda sering mampir kesini.😄

      • udaa😄
        tp males komen d situ.. hehe
        *langsung d lempar pake baskom*

        ini saia ol hari kamis XP
        kmaren tu kebetulan oppa lagi ol, jdi numpang bentar . penasaran sih! hehe

        iyo sama sama ^^

      • wkwk, tenang saja saia penggemar setia anda ko onn😄
        tp mian klo g komen, tu tandanya lgi g d bolehin omma ol d lappy..
        d hape susah masuk komennya (_ _”)

  6. mian onn, td pagi cuma sempet baca awalnya doank. disuruh off cepet2 T^T

    onn, aku naksir eunhyuk~!! wkwk. entah kenapa nih ff bikin aku gregetan ama dia. (?)

    trus adegan di pintu tuh… hyuk ama jiyoo romantis. bikin iri. *gigit jari*

    next part terakhir?? yaaah~😦

    *komen terpanjang di dunia*😄

    • Ahahaha~ disini c unyuk onn bikin super romantiss~ >< Jangan gregetan dulu, inget dek masih ada akang Wuki. Msa wuki dituker ama monyet, hayo?😄

      Couple Ji-Hyuk itu melebihi Eunhae. Kekeke~ *ketauan banget jeles ama donge*
      Next jdi terakhir, daripada dipanjangin tpi bingung lanjutinnya.😄

      Makasih uda komen panjaaang, onn sukaa~ ^^

  7. Ayo buruan d lanjutin..penasaran..
    >o<
    Ternyata cintax ma unyuk y…do'aq tak terkabulkn…T.T
    knp msti unyuk,kmana wookie?? *elus2 kpala wookie*

    • Ahaha~ emang niatnya ama unyuk kok. Jangan girang gitu ah (?)

      Tenang aja, wookie uda bahagia ama bias2nya yg laen. Yg ga hobi selingkuh. Kekeke~
      Thanks y uda mampir, dong-ah. ^o^

  8. oke nara…
    kau mau kujambak…
    jiyoo-eunhyuk aigooo love this couple so much…
    wkwkwkwkk

    kyu…
    bener2 daaaah…
    lanjut part berikutnya

  9. *muncul dri part sebelomx*
    Wah.. Daebak.
    Qrain saia bkalan sama mas Teuk. Twnya emang unyuk ya akhirx. Hmm~
    twist! twist!
    Waaah~ q nangis lo bcanya. Uuh~ cuciaaaan.. *kabur lagi*

  10. Partt yg galauuuuuuu . . . . . . . . . . keunde ,,,,, trobati oleh tingkh lakunya Cho Kyuhyun setan itU, astaga sumpah ngakak,, kira’n bnr dia kasian ma hyung’y,, tp trnyta alsn utmanya game lg”,,, ckckck #geleng” kpla.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s