Paparazzi in Love -part 5-

PAPARAZZI in LOVE –chapter 5-


====================

-previously-

“Lidahku pahit,” ujarnya singkat. Mau tidak mau aku tertawa mendengar ucapannya. Apa benar dia seorang leader Super Junior? Saat sakit begini, kenapa malah sangat menggemaskan? (>o<)

“Sudah kubilang, jangan manja~ Kau harus makan!!” paksaku. Leeteuk malah terus-terusan menutup mulutnya. Aarghh~ seperti anak kecil. ><

“Aku.. aku keluar dulu, Jiyoo-sshi,” Eunhyuk pamit padaku, “hyung, aku ada di luar kalau kau memerlukanku.”

Leeteuk memandangku aneh, “Apa yang kau lakukan padanya?”

“Mwoya? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Tadi Eunhyuk oppa masih baik-baik saja,” ujarku, “Sekarang kau harus makan, Leeteuk-ssi. Ayo buka mulutmu~”

“YA~!” sekarang dia malah berteriak. Sebenarnya dia ini benar-benar sakit atau tidak? Kenapa suaranya bisa senyaring ini? (=.=)

Kuperiksa telingaku, “Kenapa harus berteriak?? Aku tidak TULI!!”

“Kau memanggil Eunhyukie apa barusan?”

“Oppa. Wae?” tanyaku santai. Aku sibuk meniupi sesendok bubur dari sendokku, “Buka mulutmu~”

“Kenapa tidak memanggilku ‘oppa’ juga? Aku ini lebih tua darinya, seharusnya kau jug-“ kuhentikan omelan Leeteuk dengan suapan bubur ke mulutnya.😄

Aku menyendok bubur lagi, “Panggilan seperti apapun kan terserah padaku. Itu hak tiap orang!”

“Tapi itu artinya kau tid-“ sekali lagi kujejalkan bubur ke dalam mulutnya.😄

“Berhentilah mengomel~ Kau ini benar-benar perhitungan! Memangnya apa bedanya kalau aku memanggilnya ‘oppa’ dan memanggilmu dengan nama biasa, ha?”

“Kau akan membiarkanku menjawab atau menyumpal mulutku dengan bubur lagi?” wajahnya terlihat kesal, “Tentu saja itu berbeda!! Kalau member lain tahu, itu akan merusak imej-ku sebagai seorang leader. Bagaimana mungkin kau memanggil member yang lebih muda dariku dengan panggilan ‘oppa’, sedangkan untukku malah memanggil dengan nama langsung?”

Aku mendesah, “Memangnya ini penting? Aku menyukainya dan aku ingin memanggilnya dengan panggilan itu, apa ada yang salah?”

“Kau apa? Kau menyukainya??”

Omo~ Choi Jiyoo!! Kau ini tidak bisa jaga mulut ya?? (>o<)

“A.. aniyo~ kau salah dengar!!” elakku. Kubereskan mangkok buburnya, “Kau sudah selesai makan kan? Aku akan mencuci piring.”

Lenganku ditahannya. Persis seperti saat dia bersamaku di toilet. Leeteuk menarik tubuhku kasar. Ia membiarkan tubuhku jatuh di depannya. Sekali lagi bibir kami bertemu. Bukan untuk memberi nafas buatan. Kali ini aku tidak sedang tenggelam, bahkan aku membuka mataku lebar-lebar!!

“LEETEUK-SSI!!” kujauhkan tubuhnya dariku. Aku meninggalkannya yang tersenyum puas. Perlahan kusentuh bibirku. Masih terasa hangat. ><

Aku langsung menuju mobil mungilku. Berkali-kali aku mengumpat kasar atas kejadian barusan. Ahh~ kenapa harus ada insiden lagi?? Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkannya!!😦

TOK.. TOK..

Kaca mobil diketuk dari luar. Eunhyuk sudah berdiri di samping pintu pengemudi. Kubuka pintuku, “Waekurae, oppa?”

“Kau yang kenapa, kenapa pergi begitu saja? Apa ada masalah?” perhatiannya saat ini tidak bisa membuatku ceria. Hanya akan menambah perasaan aneh dalam dadaku. ><

Aku menggeleng, “Aniyo~ nan gwaenchana. Aku baru ingat aku harus segera bertemu temanku. Geureom, annyeonghi gase-“

“Chingu? Jinjjayo? Namja atau yeoja?” tanyanya. Eunhyuk berwajah antusias sambil memandangku.

“Namanya Nara. Menurut oppa itu namja?” kupaksakan bibirku untuk tersenyum. Segala perhatiannya ini sangat sulit kunikmati seperti biasanya. Ciuman itu.. AAARGHHH~ kenapa kejadian tadi malah terbayang terus?? ><

Eunhyuk menarik lenganku, “Jiyoo-ssi, aku tahu ini terlalu cepat, geundae, saranghae..”

Kubenamkan kepalaku dalam bantal dalam-dalam. Otakku terasa akan meledak tiap kali aku memikirkan segala kejadian hari ini. Kudengar Nara menggerutu pelan di sampingku. Aku tahu sekarang dia sedang frustasi dengan sikap diamku. Sudah kuputuskan aku tidak akan bercerita apapun padanya.

Nara menghela nafas panjang, “JIYOO-SSI, kau mulai membuatku kesal. Katakan sesuatu??”

“Apa?” kudongakkan kepalaku. Aku yakin saat ini penampilanku cukup memprihatinkan. Rambut acak-acakan dan wajah yang kusut.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” Nara duduk bersila di depanku, “Ya~ bagaimana dengan kabar beritamu? Apa sudah ada kabar baru? Gadis bernama Saera itu, apa ada informasi lain??”

“Kwan Nara,” panggilku. Nara menatapku. Aku berteriak, “JANGAN GANGGU AKU DULU~”

Dahinya mengerut, “Wae? Apa kau mendapat masalah dengan kasus ini?”

YA!! Benar sekali! Kasus ini sudah memberi banyak masalah! Sudah banyak hal yang memenuhi kepalaku sekarang!! ><

Aku mendesah, “Geumanhae~”

“He? Kau mau berhenti sampai sini?” Nara mengerjapkan mata sipitnya, “Waeyo? Apa mereka tahu kalau kau memata-matai mereka??”

“Memata-matai? Apanya yang memata-matai kalau setiap saat aku bertemu mereka?” dengusku pelan.

Kali ini Nara terperanjat, “MWO? Kau selalu bertemu mereka? Bagaimana bisa??”

“Mollayo.. Yang jelas aku memang tidak berbakat menjadi stalker. Sama sekali tidak ada bakat!!”

“Geureyo? Setidaknya berikan aku sedikit berita tentang mereka, dengan begitu aku bisa memberikan bayaranmu,” ujarnya. Benar juga. Bagaimanapun aku harus menyerahkan hasil pekerjaanku padanya. Aku hanya mengangguk paham. Nara tersenyum, “Akan kutunggu artikel-mu minggu depan.”

Aku terperangah, “Artikel? Bukankah kau bilang hanya bukti gambar??”

“Memang. Tapi kalau bukan reporter aslinya aku tidak tahu bagaimana membuatkan artikel yang cocok. Tidak apa-apa kan?” Nara mengucapkannya tanpa beban. Padahal seharusnya dia tahu kalau dia baru saja mendorongku ke dasar jurang. ><

‘Drrt..Drrt..’

Ponselku bergetar. Pesan.

[From: Hyukie oppa :D]

Aku sedang di depan apartemenmu. Mau turun sebentar?

“Aish.. aku bisa gila!!” tanpa sadar aku mengumpat pelan. Nara mengeryitkan dahi. Buru-buru kuputar otakku, “Pemilik apartemen menyuruhku menemuinya. Menagih uang sewa bulan ini, sepertinya. Aku turun dulu.”

Baguslah Nara tidak menambahkan banyak komentar. Kalau hari ini tidak ada Nara mungkin aku bisa menemuinya dengan santai. Tapi kali ini aku harus berusaha keras untuk tidak menimbulkan banyak pertanyaan.

Akhirnya aku melihatnya. Eunhyuk bersandar santai di pintu mobilnya. Kueratkan cardigan yang kukenakan, “Oppa, ada apa sampai harus menemuiku disini?”

“Menagih jawabanmu,” sahutnya singkat. Eunhyuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Karena tadi siang kau tidak memberiku jawaban apa-apa dan aku sudah mulai gila gara-gara itu, jadi kurasa aku harus memastikan hal itu sekarang.”

Bagus sekali~ Semakin banyak saja beban pikiranku. Ciuman Leeteuk, pernyataan cinta Eunhyuk, artikel yang mendadak harus kukerjakan dan sekarang aku harus memberikan jawaban atas pernyataan cinta tadi siang? Kenapa kalian tidak membunuhku saja??

“Mm.. Apa harus sekarang?” kumainkan rambut ikalku. Aku masih belum bisa memikirkan masalah ini sekarang. Otakku sudah akan meledak saat ini juga!!

Eunhyuk tersenyum, “Ani. Hanya saja, berikan aku sedikit kepastian. Apa kau menyukaiku?”

“Aku.. aku memang menyukai oppa, tapi aku tidak tahu apa itu bisa disamakan dengan pengertian ‘suka’ yang oppa maksud,” kali ini kumainkan ujung cardiganku. Debaran jantungku benar-benar sudah tak karuan. Kepalaku juga cukup pening saat ini.

“Itu sudah cukup,” ucapnya. Alisku mengernyit. Eunhyuk menggenggam tanganku, “Asal ada kata suka itu saja, aku sudah senang. Gomawo.”

Eunhyuk mencium keningku sebelum masuk mobil dan menjauh pergi dengan suara mesinnya. Aku? Aku hanya membeku di tempat. Benar-benar tidak bisa berpikir normal.

Tunggu dulu!! Tunggu!! Ini aku yang memang sedang tidak waras atau Eunhyuk yang sudah gila? Semua ini tidak berarti aku menerimanya kan? Aarghh~ Kepalaku benar-benar akan meledak!!

The next day

Berkali-kali kupijat pelipisku. Hari ini keadaan kepalaku jauh lebih parah. Ditambah lagi omelan Nara yang terus mengingatkanku tentang artikel yang harus segera kuselesaikan.

“Apa yang harus kutulis? Mana mungkin aku tega menulis tentang kisah cinta Leeteuk dan kisah segitiganya?” kuacak-acak rambutku.

‘drrt..drrt..’

Di layar ponselku sama sekali tidak ada nama yang jelas. Kutekan tombol hijaunya. “Ya?”

“Choi Jiyoo?”

“Ne. Nuguseyo?” suaranya terdengar tidak asing. Buru-buru kutepis kemungkinan bahwa yang sedang berbicara denganku ini adalah…

“Ini Park Jungsoo.”

Tamatlah riwayatku sekarang! Kenapa dia bisa menelponku di saat seperti ini? Sudah kuputuskan untuk berhenti menjadi stalkernya, tapi sekarang dia malah menghubungiku. Sial~

Kutarik nafas panjang. “Kau tahu dari mana nomorku, ha?”

“Kenapa kau galak sekali? Kau tidak ingat kejadian kemarin?” suaranya terdengar luar biasa menyebalkan. Memaksa otakku kembali ke insiden yang sangat memalukan.

“Berhentilah membahas hal itu,” tegasku. “Dengar ya, kita sama sekali tidak ada alasan untuk saling berkomunikasi seperti sekarang, jadi lebih baik kau tutup saja telepon ini”

“Siapa bilang? Temui aku di samping sungai Han 30 menit lagi, arachi?” seenaknya saja dia menyuruhku sebelum terdengar suara ‘tut’ di telepon.

“Hhh… apa maunya??”

Begitu sampai di sungai Han, aku sudah melihatnya duduk diam. Pandangannya terarah lurus ke depan sebelum ia sadar aku menghampirinya. Senyumnya terkembang begitu melihatku duduk di sebelahnya.

“Kau benar-benar datang,” kata Leeteuk sambil tetap memandangiku. “Kupikir kau bukan tipe penurut.”

Aku mendengus pelan. “Cih~ Jadi kau hanya mempermainkanku? Aku masih banyak pekerjaan, kalau kau tidak kebera-“

Ucapanku terhenti saat kepalanya bersandar di pundakku. Tubuhku membeku sesaat. Kulihat Leeteuk memejamkan kedua matanya. “Aku pinjam pundakmu.”

“Ka… kau kenapa? Apa kau sakit lagi?”

“Molla…,” sahutnya ringan. Dahiku semakin berkerut. Ia tersenyum. “Jiyoo-ssi, kau pernah ditinggalkan?”

“He? Ditinggalkan? Siapa yang meninggalkanmu?”

Leeteuk menepuk dadanya. “Sebagian dari ini meninggalkanku. Rasanya sakit sekali.”

Aku langsung tahu kalau dia sedang membicarakan Saera. “Bukankah kau yang sudah memutuskan untuk meninggalkannya? Apa kau menyesal?”

“Mm. Sangat menyesal,” suaranya parau. Mungkin ia sangat merindukan gadis itu. “Tapi aku tidak bisa begini terus kan?”

Kepalanya terangkat menatapku. Matanya mencari jawaban yang pasti dariku. “Geureom~ kau memang harus terus berjalan maju. Kenapa masih bertanya? Bodoh.”

Leeteuk malah terkekeh. “Benar sekali~ Aku memang bodoh. Ya~! Temani aku minum sekarang.”

“Siapa yang bilang kau boleh memerintahku seenaknya? Sirheo!” aku mendengus di depannya. “Sudah kubilang, pekerjaanku masih banyak, aku akan pulang sekarang. Sebaiknya kau juga pulang, semua dongsaengmu pasti mencarimu.”

Tangannya menahan lenganku. “Kalau kau tidak mau menemaniku, aku akan melompat ke sungai!”

“Terserah kau saja,” aku menepis tangannya. “Aku pulang dulu.”

Sesekali kulirik Leeteuk. Bertanya-tanya apa dia benar-benar akan melompat. Tapi aku melihat ia berjalan perlahan menuju sungai. Baru saja Leeteuk akan membiarkan tubuhnya terjun bebas saat aku berlari menahannya.

Kupeluk tubuhnya dari belakang. “Hentikan! Kau ini benar-benar gila!!”

Lagi-lagi ia hanya terkekeh. “Ternyata kau kembali. Syukurlah~”

“Apanya yang ‘syukurlah’? Aku akan menemanimu sekarang,” kupasang wajah kesal. “Kau puas?”

Dan Leeteuk hanya tersenyum penuh kemenangan. Bagus sekali~

“Kau tahu, ternyata aku sama sekali tidak bisa melupakannya,” Leeteuk kembali meracau. Pengaruh 3 botol soju ternyata bisa sampai seperti ini. “Tapi, sekarang aku tidak bisa bertemu dengannya lagi, Jiyoo-ssi. Bodoh sekali~”

Aku mendesah pelan. “Memang. Kau memang bodoh, Leeteuk-ssi, sekarang kau sedang berada di tempat umum dan kau malah mabuk, kau mau merusak imej-mu? Ayo kita pulang.”

Leeteuk sama sekali tidak menggubrisku. Kali ini dia menepuk dadanya. “Disini rasanya sakiiit… sakit sekali tidak bisa menahannya untuk tidak pergi.”

“Leeteuk-ssi, tolong jangan begini, ayo berdiri, kita pulang sekarang,” kucoba menarik lengannya tapi sia-sia, dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Satu-satunya keberuntungan kami adalah: tempat ini cukup terpencil dan sepi. “Hhh… eotteohke?”

Kuraih ponselku. Aku menekan tombol hijau setelah menemukan nomor yang kucari. “Aku butuh bantuanmu sekarang… Ya… Baiklah… Gomawo.”

Tinggal menunggu bala bantuanku datang. Kulirik Leeteuk yang duduk di sebelahku. Aku langsung mendengus. “Jadi kau masih berani tidur sekarang?”

Diam-diam kuperhatikan raut wajahnya. Tampak lelah dan pucat. Kurasa dia memang sangat merindukan gadis itu. Kalau memang gadis itu sangat berarti, kenapa harus meninggalkannya? Bukankah itu perbuatan orang bodoh?

“Jiyoo-ssi!!” suara yeoja memanggilku. Akhirnya datang juga. Nara melambaikan tangan ke arahku sebelum terkejut melihat siapa yang ada di sampingku. “OMO~ Ini… Leeteuk kan? Kenapa dia bisa bersamamu? Salah, kenapa kau bisa bersamanya? Bukankah tugasmu sudah selesai?”

Kuputar bola mataku. “Berhentilah bertanya~ Aku sudah mulai gila dengan semua pertanyaanmu. Sekarang bantu aku membawanya.”

“He? Membawanya kemana?”

“Masih butuh jawaban? Tentu saja ke dorm-nya,” ucapanku membuat Nara mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kau mau membantuku atau tidak?”

“N-Ne. Ki-kita benar-benar akan ke…,”

Kumiringkan kepalaku. “Iya. Kita akan ke dorm Super Junior. Sekarang berhentilah bertanya dan bantu aku mengangkutnya ke mobil.”

Nara hanya mengangguk aneh. Dan aku yakin sekali aku melihatnya tersenyum walaupun hanya sekilas.

Dengan susah payah kami bertiga sampai di depan pintu. Tidak, bukan bertiga, karena yang bersusah payah hanya aku dan Nara. Sedangkan Leeteuk sudah menghilang ke dunia mimpinya sejak tadi.

“Nuguseyo?” suara seorang namja terdengar di interphone. Seperti suara Heechul. Dan sepertinya aku mulai pintar membedakan suara mereka.

Kuatur nafasku. “I-ini Choi Jiyoo…”

“Choi Jiyoo siapa?” wah, orang ini benar-benar mau mengajakku perang. Apa dia tidak tahu sekarang leadernya sudah sangat menyusahkanku?

“Buka saja pintunya dulu,” tegasku. “Ppaliwa~!”

Pintunya terbuka lebar. Heechul terkejut melihatku yang berdiri memapah Leeteuk. “Teuk-ah, kau kenapa? Ya~! Kenapa dengannya?”

“Berhentilah berteriak dan bantu aku sekarang,” tegasku. Nara melayangkan tatapan bagaimana-kau-bisa-akrab-dengannya.

Member lainnya yang ada di lantai 12 membantu memapah sang leader. Aku merebahkan diri di sofa begitu Leeteuk sudah ada di kamarnya. Nara menyenggol lenganku. “Aku butuh penjelasan.”

“Hhh… penjelasan apa, ha?” aku langsung tahu jawabannya begitu Nara menunjuk tiap member Super Junior yang berada di kamar Leeteuk. “Arasseo~ Nanti saja ya.”

Shindong berjalan ke arahku. “Jiyoo-ssi, bagaimana kau bisa bersama Teuk hyung?”

Baru saja aku akan menjawab saat pertanyaan lain muncul dari Heechul. “Dan lagi, bagaimana dia bisa mabuk begini? Kau meracuninya ya?”

“Kau pikir aku ini kurang kerjaan? Tanyakan saja pada leadermu itu,” tukasku. “Pertama, bagaimana dia bisa bersamaku, itu karena dia yang tiba-tiba menelponku dan minta bertemu. Kedua, bagaimana dia bisa mabuk, jawabannya sama dengan yang pertama, dia malah menyuruhku menemaninya minum. Dan ketiga, aku sama sekali tidak meracuninya.”

Pintu dorm terbuka paksa. Ada penghuni dorm lantai 11 yang bergerombol disini. Sepertinya kabar tentang leader mereka tersebar sangat cepat. Donghae menghampiri Shindong, “Teuk hyung kenapa?”

“Mabuk,” sahut Heechul acuh. Tatapan heran muncul dari semua member. “Jangan tanya aku, tanya saja gadis ini.”

Eunhyuk yang pertama mendekat ke arahku. “Jiyoo-ssi, memangnya apa hubungannya denganmu?”

“Ahh… Itu, Leeteuk-ssi menelponku dan minta bertemu, lalu malah mengajakku minum dan,” kugaruk kepalaku yang tidak gatal. “Dia mabuk begitu habis 3 botol soju, jadi terpaksa kubawa dia pulang.”

“Begitukah…” sahutnya pendek. Wajahnya menggambarkan sesuatu yang aneh. Atau cuma perasaanku saja?

“Dan, dia, siapa?” Kyuhyun menunjuk Nara yang sejak tadi berdiri tegap di sampingku. Aku baru sadar dia sama sekali tidak mengeluarkan komentar apa-apa. Padahal ia tipe orang yang tidak bisa diam walaupun hanya 3 menit.

“Ini… Ini temanku, Kwan Nara,” kusuruh Nara memperkenalkan diri. Dan kali ini aku yakin wajahnya benar-benar berubah merah. Aku melirik jam tangan. “Kami harus pulang sekarang. Sampai jumpa semua.”

“Tapi sepertinya temanmu ini betah disini,” kata-kata Kyuhyun membuatku menoleh ke arah Nara. Dan memang benar, gadis itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Matanya terbelalak sambil memandangi Kyuhyun. Memalukan. Aku hanya bisa memutar bola mataku.

The next day

“Katakan padaku,” Nara bersila di atas ranjangku. Tangannya terlipat di depan dada. Matanya mencari jawaban. “Kau dan Super Junior, bagaimana bisa seakrab itu?”

Aku mendesah. “Aku sama sekali tidak menganggap itu sebagai sebuah ‘keakraban’. Kau terlalu berlebihan.”

“Leeteuk mabuk bersamamu, kau bisa diterima begitu saja di dorm mereka, dan lagi,” Nara mengamati wajahku. “Tatapan Eunhyuk yang agak… aneh.”

“Aneh? Apanya yang aneh?” aku memang tahu instingnya sangat tajam, tapi aku tidak tahu kalau dia bisa punya intuisi setajam ini.

“Kalian… seperti pasangan kekasih,” ujarnya santai.

Jantungku memacu lebih cepat. Kenapa dia selalu bisa membaca keadaan? Kalau saja dia tahu Eunhyuk memang sudah mengatakan ‘sesuatu’ padaku, dia bisa loncat-loncat kegirangan. “Kami hanya… berteman.”

“Tapi tatapannya tidak bilang begitu,” tegasnya. “Jujur saja~”

“Hhh…,” aku menarik nafas. “Dia memang bilang ‘saranghae’, tapi aku belum bilang apa-apa.”

Nara menggerutu. “Baboya!! Kenapa tidak langsung kau jawab? Bukankah kau juga menyukainya?”

“Mm. Tapi aku belum mengenalnya secara pribadi,” elakku.

“Lalu, Leeteuk?” DEG! Pertanyaan yang paling tidak kuharapkan malah meluncur dari bibirnya. Nara membaca gelagat anehku. “Kau dan dia, apa saja yang sudah terjadi?”

Lagi-lagi pikiranku terbang ke saat-saat insiden itu. “T-tidak ada! Tidak ada yang terjadi.”

Nara tetap menuntut jawaban. Keringat dinginku mengalir sebelum ponselku bergetar pelan. Pesan masuk.

[From: Hyukie oppa :D]

Aku ada di depan pintu apartemenmu. Bukalah~ Di luar dingin

“HE~??” aku melompat kaget saat membaca pesan singkat dari Eunhyuk. Dia ada di depan dan disini ada Nara. “Eotteohke?”

Nara mengernyitkan alis. “Wae?”

“Eum… ada Eunhyuk di depan pintu,” kugigit bibir bawahku.

“Lalu?” gadis di depanku ini malah semakin bingung dengan kebingungan yang kuderita.

Aku mendesah. “Benar juga. Apa yang kutakutkan? Tunggu sebentar ya.”

Nara mengangguk sekilas sebelum aku berjalan menuju pintu masuk. Kenapa aku malah berdebar begini? Begitu kubuka pintunya, dia memang sudah berdiri di sana sambil tersenyum. “Hai”

“Oppa…,” kuedarkan pandanganku ke tubuhnya. “Sekarang sangat dingin, kenapa jaketnya tidak dirapatkan?”

“Ternyata kau khawatir padaku juga? kupikir perhatianmu hanya pada Teuk hyung,” Eunhyuk mencibirkan bibirnya.

Nara berdeham pelan. “Jiyoo-ah, tidak mengenalkannya padaku?”

“Annyeong haseyo, Super Junior anchovy, Eunhyuk imnida,” ujar Eunhyuk sambil membungkukan badan.

Aku terkekeh melihatnya. “Aku yakin dia sudah mengenalmu, oppa.”

“Kwan Nara imnida,” sahut Nara singkat. Ia bangkit dari tempatnya. “Baiklah, aku tidak mau mengganggu kalian. Aku pergi dulu.”

“Ne, pulang sana, kasihan Raneul,” ujarku.

Nara tersenyum singkat. “Kutunggu artikelmu minggu depan.”

“Artikel apa? Kau sedang menulis artikel ya?” mata Eunhyuk berbinar. Ia ingat kalau aku sama sekali tidak pernah membuat artikel apapun, dan sekarang ia ikut senang karena ini artinya jabatanku naik. Tunggu dulu… Nara tidak boleh menjawabnya!!

“Cinta segitiga dalam Super Junior, sang leader dan pumpkin boy,” ujar Nara santai. Lalu ia meninggalkan apartemenku tanpa dosa.

Tanpa perlu kupastikan pun, sekarang aku tahu Eunhyuk sedang menatapku tajam. Matanya menuntut penjelasan. Sekarang apa yang bisa kujelaskan padanya?

-TBC-

33 thoughts on “Paparazzi in Love -part 5-

  1. Sumpahh twinn..
    Situ bikin aye benci ama karakter aye sendiri!!!! XDD
    Kagak lagi-lagi dah aye pake nama Nara!!
    Udah sering maksa, rada ‘kampungan’, gila, blak-blak’an pula!!
    Ya allahh~komplit amat ntu tipe yeoja yg patut dibenci. XDDD

    Situ ada dendam ama aye yak?😄
    Pokoknya lanjuttt~ aye pnasaran abis!!
    Aniweii, situ udah ada bakat bkin epep NC twin. -.-
    Dari tadi bnyak amat skinship+kisseunya. =.=

  2. mmh.. maap ya cha..
    tapi karakter nara ntu karakter yg paling bikin aye pengen bekep deh mulutnya..😄

    haduh.. haduh..
    moga aja si unyuk bisa dengerin penjelasan jiyoo dulu..

    kalo ngga.. ntar dia curhat k c hae.. dan hae akan sepenuhnya lupa sama saya.. XDD

    • baru tau kalo komennya msh pending. Miaan~ ><

      Ahaha~ kok pda emosi ama nara ya? *Twin, miaaaanhaae*
      Ooh, situ takut bakal ada eunhae momen? Tenang, aku jg ga bakal ngebiarin itu~!😄

      Thanks 4 visit, Vie~ *hug*

  3. Mianhae,komenx lgsung d part 5.abz buru2 bca next partx c,penasaran…jd ga smpet ngomen..hehe…
    Trus ni akhrx jiyoo jadi ma unyuk ato teukie…
    Smg teukie..smga teukie..*berdo’a dlm hati*

  4. rasanya saya mau gorok icha…
    wkwkwkwkwk
    icha tegaaaaaaaaaa…
    kasian shela…
    wkwkwkwk lanjut part berikutnya…

  5. Narabandelnarabandelnarabandel!! Unyuk~ jangan dengerin! >_<
    *diteplak author*
    hhoo..
    Holla hello~
    I'm back! *dilempar*
    hhee,,
    b'hubung jdwal yg tiba2 padet,, saia menghilang sesaat *sesaat?!* baru2 ini. Hhoho~
    *kabur*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s