Paparazzi in Love -part 4-

PAPARAZZI in LOVE –chapter 4-


====================

-previously-

Benar juga. Bagaimanapun keputusan yang dia ambil, sama saja menyakiti semua orang. Bahkan mengorbankan perasaannya sendiri. Aah~ aku pasti sudah bunuh diri kalau aku yang berada di tempatnya!! (T^T)

“Jadi kau memutuskan untuk..”

Leeteuk menatapku lagi, “Menghapus seorang Park Jungsoo dari otaknya dan membiarkan Park Jungsoo menjadi orang jahat di mata semua orang”

“Leeteuk-sshi…,”aku mendekat dan menenggelamkan kepalanya dalam tubuhku. Kubelai rambut blondenya lembut. Dan sepertinya aku sudah benar-benar tidak waras sampai aku berani memeluknya secara tiba-tiba seperti ini!! (>o<)

“Jiyoo-sshi…,” tadinya kupikir dia akan menjauhkan tubuhnya, tapi ternyata Leeteuk membalas pelukanku. Tubuhnya sedikit bergetar, aku yakin sekarang dia sedang menangis. Ahh~ kurasa aku tidak suka melihatnya begini. Kasihan sekali.😥

‘drrt..drrt..’

Ponsel Leeteuk bergetar. Membuatku harus melepaskan tubuhnya. Kami sedikit canggung saat ini. >///<

“Nu.. nuguya?” kulihat Leeteuk sibuk mengamati layar ponselnya. Mungkin hanya pesan.

Leeteuk menoleh, “Eunhyukie. Aku harus pulang sekarang. Mereka menungguku.”

“Mm.. geureom, bagaimana dengan Sungmin?” aku hati-hati menyebut nama itu.

“Jangan cemas. Kami tidak akan bertengkar di dorm,” jelasnya. Aku mengangguk mengerti. Tangannya menyentuh lenganku, “Gomawo..”

“Ne? Untuk apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Pulanglah. Aku juga mau pulang.” kutepis tangannya pelan. Aku meninggalkan Leeteuk yang masih duduk di lantai.

“AAARGHH~~” aku berteriak sekuat-kuatnya ke arah laut. Gara-gara ‘insiden’ antara Leeteuk dan Sungmin, aku malah mengalami kejadian paling tidak mungkin di dunia! (>o<)

Aku benar-benar tidak bisa bertahan dengan masalah mereka. Mungkin aku harus menyerah saja. Firasatku jelek kalau aku meneruskan kegiatan mata-mataku ini. :3

Lagipula, bagaimana mungkin aku memeluknya seperti tadi? Apa otakku ini sudah rusak?? ><

“Kira-kira apa yang akan dipikirkan angel of badluck itu ya? Jangan-jangan dia malah merasa aku menyukainya.. ANDWAE~~!!”

Seseorang menepuk pundakku, “Siapa itu angel of badluck?”

“NARA-YA!! Kau membuat jantungku melompat keluar!! Apa yang kau lakukan disini?” kuelus dadaku. (>.<)

Nara terkekeh, “Kebetulan aku melihat mobilmu disana, kupikir memberimu sedikit kejutan akan menyenangkan. Ahaha~ YA! Kau belum menjawabku, siapa itu angel of badluck? Namjachingu-mu?”

“Sembarangan!! Bukan siapa-siapa. Lupakan saja.” ujarku. Aku tidak mau Nara tahu kalau ada kejadian memalukan antara diriku dan Leeteuk. ><

“Geurae. Lupakan saja. Eh, bagaimana dengan tugas stalker-mu? Sukses?” Nara mengamati wajahku.

Huwaa~ apa yang harus kukatakan?? (>o<)

“Mm.. aku masih belum mendapatkan apa-apa. Apa aku bisa berhenti sekarang? Gadis bernama Saera itu belum muncul lagi. Lagipu-“ mendadak kututup mulutku!! :3

Nara memicingkan matanya, “Nuguya? Saera? Aah~ kau sudah tahu namanya? Berarti stalking-mu lancar, ha?”

“A.. anio. Tidak selancar itu. Itu.. kebetulan saja. Kebetulan~” elakku. Aigo.. Choi Jiyoo, kau benar-benar bodoh!! ><

“Selanjutnya pasti akan lebih mudah, berjuanglah!!” gadis ini malah menyemangatiku. Akhirnya usahaku untuk mundur teratur dari masalah ini GAGAL TOTAL!!😦

Di saat ingin berhenti malah membuat Nara semakin penasaran dengan skandal Leeteuk!! Babo~ =3

-the next day-

Sudah berulang kali aku memikirkan ini. Bahkan sampai tidak tidur semalam. Aku dilema dengan masalah ini. Aku ingin sekali menyerah sekarang, sama sekali tidak ingin terlibat lebih jauh dalam masalah Leeteuk. ><

“Agashi, mau pesan sekarang?” pelayan muda ini sudah 3 kali mendatangi mejaku. Mungkin dia takut aku hanya akan numpang duduk disini. Menyebalkan~ (=.=)

“Ye, tolong 2 sandwich dan 2 gelas es cappuccino,” suara lain yang menjawab pertanyaan sang pelayan. Aku mendongak melihat sumber suara itu. Terdengar familiar.

“Eunhyuk oppa? Sedang apa disini?” kuamati penampilannya yang  terlalu rapi untuk sekedar sarapan di kafe. Kenapa aku sering sekali bertemu dengannya?😄

Eunhyuk menarik kursi di depanku, “Sarapan. Aku sering sarapan disini.”

Aku tertawa, “Gojitmal~ aku ini ELF, aku tahu oppa jarang sekali sarapan di luar, kecuali kalau terpaksa. Jadi jujur saja, sedang apa disini?”

“He? Kau ELF? Kupikir kau sama sekali tidak berminat pada kami,” sahutnya. Memangnya siapa yang tidak akan tertarik pada kalian? Pernyataan aneh~ (==)a

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Sedang apa disini?”

“Sekarang sedang dalam keadaan terpaksa, jadi aku sarapan disini,” ujarnya. Mataku memandangnya galak, “Baiklaaah.. aku melihat mobilmu di depan, dan kupikir kau perlu teman untuk sarapan.”

“Sengaja kesini karena aku?” kukerjabkan mata sipitku. Eunhyuk mengangguk malu-malu. Aah~ aku jadi sedikit tersanjung. Member Super Junior favoritku sengaja merubah hal yang biasa dilakukannya demi aku? >///<

“Kau.. baik-baik saja?” tanyanya mendadak.

Alisku mengernyit, “Nan gwaenchanayo~ Wae? Memangnya aku terlihat sedang sakit?”

“Anio. Hanya saja, aku merasa harus menjagamu. Aku takut kau akan sering mengigau tentang ibumu lagi. Apalagi kalau sambil menangis, aku benar-benar tidak tega,” jelasnya. Baiklah, aku mulai bingung dengan kata-katanya. Mengigau? Menangis? Kapaaan?? ><

“Aku.. aku tidak mengerti, oppa,” raut bingungku memang tidak bisa kusembunyikan. Eunhyuk terkekeh melihat wajah luguku. (==’)

“Waktu kau demam, kau mengigau sambil menangis. Kau tidak berhenti memanggil umma-mu,” ujarnya santai.

He~ aku pernah mengigau begitu?? Di depannya pula? Aigo.. mau ditaruh mana mukaku ini? >///<

“Ahh.. pasti memalukan ya?” kuhela nafas panjang.

“Apanya yang memalukan? Sama sekali tidak. Hanya saja waktu kau menggenggam tanganku, tanganku jadi basah karena keringat,” ucapannya yang ini membuatku menutup wajah. Aku menggenggam tangannya? Kenapa hanya waktu tidur? Kenapa bukan disaat aku sadar saja??😄

“Umma meninggalkanku,” kuberanikan bercerita padanya.

Eunhyuk memandangku lama, “Kalau tidak mau cerita, tidak usah saja.”

“Ani. Aku mau cerita,” aku tersenyum, “Saat itu musim dingin, umma pergi bersama pria yang tidak kukenal. Tapi sepertinya appa mengenalnya. Sebenarnya, kalau meninggalkanku pun aku akan baik-baik saja. Hanya saja terasa agak menyakitkan saat umma sama sekali menolakku. Mungkin aku jadi sering mengigau karena itu, selalu terjebak dalam masa lalu yang menakutkan.”

“Jiyoo-sshi.. kemarin kau bisa menangis, sekarang kau juga boleh menangis,” entah sejak kapan Eunhyuk menggenggam tanganku.

Aku mengambil nafas panjang, “Aku tidak akan menangis. Aku sudah berjanji pada appa, aku tidak akan pernah menangis lagi!!” :’)

Eunhyuk menatapku cemas. Pandangan itu berbeda dengan milik Leeteuk. Sepasang mata ini sangat teduh dan menenangkan. Ahh~ pertahananku runtuh!! Air mataku menetes satu demi satu.

“Mi.. mianhae.. seharusnya aku tidak boleh begini,” ujarku sesenggukan. Tanganku sibuk menyeka sungai kecil di pipiku. Aku berusaha tersenyum di depannya. Bagaimana pun Eunhyuk adalah namja yang kupuja, aku tidak mau memperlihatkan kelemahanku di depannya. Andwae.

Tanpa komentar, Eunhyuk meraih tubuh mungilku dalam pelukannya. Lengan yang merangkulku terasa kuat. Seolah menjagaku seperti gelas kaca yang tidak boleh pecah.

“Karena inilah aku harus selalu menjagamu,” ujarnya. Kepalanya menunduk, “Kau tidak sekuat penampilanmu.”

Aku diam. Sama sekali tidak menjawab. Atau aku tidak ingin merusak kenyamananku berada dalam pelukannya?

“Wae? Kenapa oppa seperti ini?” pertanyaan itu meluncur dari bibirku, “Apa oppa hanya kasihan padaku?”

Eunhyuk mengangkat bahu, “Molla. Hanya saja, kau sangat menarik. Tadinya aku mau saja tidak peduli padamu, tapi ternyata aku malah makin tidak bisa mengabaikanmu. Aku sampai harus membuntutimu kemanapun kau pergi sejak pagi ini.”

“Mwo? Sejak pagi ini? Jadi benar-benar jauh-jauh sarapan disini karena aku??”

“Ne, aku juga sudah tahu rumahmu sejak kemarin. Aku sengaja memisahkan diri dari member lain dan mengikuti mobilmu sampai apartemen kecil,” ujarnya santai.

Bagaimana bisa dia mengucapkan semua itu dengan nada sesantai itu, padahal aku sudah luar biasa malu? ><

“Ahh, berarti oppa juga tahu kemarin aku ke pelabuhan?”

Eunhyuk mengangguk, “Geureom~ aku juga melihatmu bersama seorang gadis.”

Aku menunduk, “Memalukaaan!! Kenapa oppa berbuat begitu? Aku malu.” (>o<)

“Bukankah sudah kubilang kalau aku makin tidak bisa mengabaikanmu? Perjalanan itu kumulai semalam sampai pagi ini. Aku hebat kan?” ucapnya bangga. (-__-)

“Hebat? Itu menyebalkan, bahkan termasuk tindak penguntitan!! Oppa beruntung aku tidak melaporkan ini ke polisi!” omelku.

Eunhyuk hanya terkekeh melihat sikap salah tingkahku. Puas sekali sepertinya dia menertawakanku. ><

Mimpi apa aku bisa dibuntuti oleh namja favoritku? O.o

“HUJAAAN~~” Eunhyuk menengadahkan tangannya ke langit. Dengan cepat tangannya basah. Hujannya memang agak deras. ><

“Butuh tumpangan?” tawarku. Eunhyuk tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “Mwoya?”

“Kunci mobil. Aku tidak akan membiarkan seorang yeoja menyupiriku,” sahutnya. Aku tertawa melihat sikap gentle-nya. Karena kupikir hal itu adalah hal yang mustahil.😄

Perjalanan kami di tengah hujan terasa singkat. Mungkin karena kami mendapat beberapa topik pembicaraan selama itu.🙂

“He~ jadi Im Saera dan Leeteuk sudah saling mengenal sejak Super Junior belum debut??” ini salah satu bahan obrolan kami. Aku juga tidak sengaja menyinggung soal Im Saera di depan Eunhyuk. ><

Eunhyuk mengangguk sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan basah di depannya, “Ne, bisa dibilang mereka itu sudah dekat sejak 7 tahun lalu. Saera adalah calon trainee juga, tapi dia memilih untuk menyelesaikan sekolahnya dan berkuliah dengan baik.”

Aku bertanya dengan hati-hati, “Geureom, apa hubungan mereka dengan Sungmin?”

“Kau tahu darimana soal Sungmin hyung? Apa Teukie hyung yang cerita?”

“Aniii~ aku merasa sikap mereka berdua agak aneh saat kita makan siang kemarin,” elakku. Sepertinya Eunhyuk percaya-percaya saja. Syukurlah~ >/\<

“Sungmin hyung yang mengenal Saera noona lebih dulu. Bahkan menurutku hanya Im Saera yang ada di matanya. Aku sempat mengira kalau mereka akan pacaran, tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja Teukie hyung dan Saera noona datang berdua sambil berpegangan tangan,” jelas Eunhyuk.

Sudah kuduga, kisah cinta segitiga standar. (==’)

Kugigit bibir bawahku, “Geureom, Sungmin?”

Eunhyuk mengangkat bahu, “Molla~ kadang aku sempat melihatnya menatap mereka dengan pandangan nanar. Kurasa Sungmin hyung sudah melepaskan Saera noona untuk orang lain.”

Dari sini aku bisa mengambil kesimpulan kalau Leeteuk sedikit merasa bersalah pada Sungmin, makanya dia mengambil keputusan untuk melepaskan Saera. Apa ini bisa jadi bahan berita??

Tapi aku sama sekali tidak punya bukti gambar!! Eottoke~~?? ><

“Jiyoo-sshi, boleh aku minta nomor ponselmu?” Eunhyuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya, “Simpan disini.”

Aku hanya menurut. Kulihat wallpaper di layarnya, “Ige.. nuguya?”

Foto Eunhyuk bersama Leeteuk dan seorang gadis di tengah mereka. Sepertinya itu di Sukira. (==)a

“Itu yang namanya Im Saera noona. Manis kan?” Eunhyuk menjawab tanpa melirikku. Aku hanya mengangguk setuju. (^^,)

“Mm.. sepertinya ini bukan foto lama, apa mereka masih berhubungan sampai sekarang??” tiba-tiba aku penasaran dengan hal itu. ><

Eunhyuk memandangku saat lampu sedang merah, “Ne, itu foto yang diambil sebulan lalu. Geundae, sepertinya Teukie hyung sudah putus dengannya.”

“Waeyo?”

“Waeyo?” tanyanya balik. Matanya menatap wajahku dalam-dalam. Lampu sudah hijau tapi Eunhyuk sama sekali tidak menyentuh setir di depannya. Mobil di belakang kami sudah mengeluarkan cacian dan suara klakson yang nyaring. (>.<)

“Oppa, lampunya..” aku menunjuk lampu jalanan yang sudah hijau. Dan setahuku, hijau itu sama dengan JALAN, benar kan?? :3

Eunhyuk menginjak pedal gas dengan kuat. Ini pertama kalinya VW kecilku mencapai kecepatan 90 km/jam!! Kugertakan gigiku kuat-kuat. Ini. Kecepatan. Yang. Melebihi. Batas. Wajar. Ke-mobilan. (=o=)

“Wae? WAE?? Kenapa kau sangat bersemangat saat membahas masalah ini? Kenapa kau sangat antusias dengan kisah cinta Teukie hyung? Kau menyukainya??” kali ini sepertinya Eunhyuk marah. Geundae, WAEYO?? ><

Bibirku bergetar, “Oppa mau membuat kita mati konyol?? Hentikan mobilnya SEKARANG!!”

CKIIIT!!

Tubuhku agak terdorong ke depan. Kepalaku membentur dashboard mobil. Dan SAKIIIT~~ T^T

“Omo~ Jiyoo-sshi, gwaenchanayo?” Eunhyuk menyentuh keningku yang membiru, “Mi-mianhae..”

“Sebenarnya oppa ini kenapa? Benar-benar mau membunuhku? Di jalanan hujan yang selicin ini malah mengajakku balapan!!” aku tidak bisa terlalu marah padanya. Entahlah, mungkin karena aku masih menjadi ‘penggemar’nya? O.o

“Mian.. pasti sakit. Kita ke rumah sakit saja ya?”

Kutepis tangannya dari keningku, “Sirheo~ Sekarang jelaskan padaku, waeyo? Kenapa tadi sikap oppa begitu? Apa salahku??”

“Tidak ada. Aku hanya kesal,” Eunhyuk tidak berani menatapku. Aku malah tidak bisa berhenti memandangnya. Memangnya apa yang sudah kulakukan? (==)a

Tak lama, dia mengangkat kepalanya. Sekarang mata yang kukagumi itu sedang menatap ke dalam mataku. Aigo~ ini. Bukan. Mimpi. Kan? ><

“Sa-saranghae.” kata-kata singkat darinya bisa membuatku mematung. Kurasa sekarang waktu sedang berhenti. Tetesan air hujan seperti tayangan video yang sedang di-pause. Pelan-pelan wajahnya mendekat. Apa dia akan menciumku? :3

Melihatnya yang seperti itu malah membuatku memejamkan kedua mataku. Aku bersiap menerima sentuhan dari bibirnya. (>3<)

‘drrt.. drrt..’

Getaran ini membuatku membuka mata. Ponsel Eunhyuk bergetar, “O-oppa, ponselmu bergetar. Kurasa ada telepon masuk.”

Eunhyuk membuka matanya tepat di depan wajahku. Sepertinya bukan cuma aku yang merasa malu dengan hal ini, “Sebentar, Jiyoo-sshi. Yeoboseyo?”

Kini dia sudah sibuk dengan ponselnya. Sekarang yang harus kulakukan adalah: mengatur kembali irama jantungku yang tadi berantakan gara-gara Eunhyuk. (>o<)

“Jiyoo-sshi,” panggilnya singkat. Aku menoleh tanpa bertanya, “Kita akan ke dorm kan?”

“Ye, bukankah aku memberi oppa tumpangan? Setelah itu aku akan pulang,” jelasku santai.

Eunhyuk mengulangi maksudnya, “Ani, aku ingin kau ikut denganku ke dorm sebentar. Aku butuh sedikit bantuan.”

“bantuan? Mwoya?”

Kubuka pintu kamar ini dengan pelan. Selimut tebal membungkus badannya. Ada obat dan gelas air di meja sebelah ranjangnya. Tapi apa dia sudah makan? ><

“Teukie hyung, bagaimana keadaanmu??” Eunhyuk menerobos tubuhku dan masuk seenaknya ke kamar ini. Dasar~~

Kutarik lengannya, “Jangan berisik, oppa~ Leeteuk-sshi sedang tidur.”

Eunhyuk menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia berbisik, “Apa yang harus kita lakukan?”

“Aku akan memasak bubur, oppa bisa ambil handuk dan air hangat untuk mengompres kan?” perintahku disambut dengan anggukan kepala darinya. Aku berjalan ke dapur dan mulai memasak.🙂

“Teukie hyung sedang sakit. Barusan Shindong hyung menelepon untuk menyuruhku merawatnya. Jadwalku lah yang paling lengang sekarang.” Eunhyuk menjelaskan sambil tertawa.

Alisku mengernyit, “Sakit? Sakit apa?”

Eunhyuk mengangkat bahu, “molla~ belakangan ini Teukie hyung memang terlihat sedikit tertekan. Banyak masalah yang mengganggu pikirannya.”

“Jadi kita akan merawatnya sekarang?”

“Ne, sekarang dia sedang sendirian. Tapi karena aku takut menambah sakitnya, aku harus membawa bala bantuan.” lagi-lagi Eunhyuk tersenyum lebar. Dasar~😄

“Bala bantuan? Aku bukan tentara~” rajukku. ><

“Jiyoo-sshi, bagaimana caranya mengompres?? Aku tidak tahu~” Eunhyuk berdiri di belakangku sambil menenteng handuk kecil yang basah. Ampunn~ ><

“Oppa, lantainya basah gara-gara handuk ini. Sebentar lagi aku kesana, buburnya segera matang,” aku terus mengaduk nasi lembek di depanku, “Bukankah waktu aku demam, oppa juga mengompres kepalaku? Kenapa sekarang bisa tidak tahu??”

“Itu bukan aku. Teukie hyung yang mengompresmu.” ujarnya sebelum meninggalkanku di dapur.

Benarkah? Leeteuk yang melakukannya? Kupikir Eunhyuk yang melakukan semuanya saat aku demam. :3

Aku membawa nampan dengan mangkuk berisi bubur panas. Eunhyuk hanya duduk santai di samping ranjang tanpa melakukan apa-apa. (==’)

Kuletakkan nampan di atas meja. Aku memberi isyarat agar Eunhyuk minggir dan memberiku tempat. Kutempelkan telapak tanganku ke kening Leeteuk. Agak panas memang. Dengan hati-hati, kuletakkan handuk kecil disana.

Kali ini kuusap perlahan pipinya, “Leeteuk-sshi, bangunlah dulu, kau harus makan sesuatu.”

Leeteuk hanya merespon dengan gerakan kecil. Dengan susah payah akhirnya dia bisa membuka kelopak matanya, “Jiyoo? Sedang apa kau disini?”

“Merawatmu. Kau bisa duduk kan? Aku sudah membuatkanmu bubur. Ayo makan~” kubantu dia untuk duduk.

“Sirheo~ aku tidak mau makan” dengusnya kasar.

Kupukul lengannya, “Kalau kau tidak mau makan, bagaimana kau bisa sembuh, ha? Jangan manja~~”

“Lidahku pahit,” ujarnya singkat. Mau tidak mau aku tertawa mendengar ucapannya. Apa benar dia seorang leader Super Junior? Saat sakit begini, kenapa malah sangat menggemaskan? (>o<)

“Sudah kubilang, jangan manja~ Kau harus makan!!” paksaku. Leeteuk malah terus-terusan menutup mulutnya. Aarghh~ seperti anak kecil. ><

“Aku.. aku keluar dulu, Jiyoo-sshi” Eunhyuk pamit padaku, “Hyung, aku ada di luar kalau kau memerlukanku.”

-TBC-

18 thoughts on “Paparazzi in Love -part 4-

    • Ahaha~ teuki sudah berada di tangan yg tepat *nunjuk diri sendiri*

      Huwee.. kapan aku ngerjain unyuk? yang ada dia yg bkin aku stres gara2 dy makin genit. Ini balas dendam onn, bales dendaaaam~! ><

  1. huwa,,, difat mereka berkebelikan antara MWl ama PiL…
    unyuk jadi sweet gitu… >.<

    eh,,, itu daripada umin di cuekin mulu ama saer mnding sama aku aja dah…😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s