[IMpressive Story] Ice Cream -Raena Edition-

Saengil chukka hamnida… Saengil chukka hamnida…

Saranghaneun naui Raena,

Saengil chukka hamnida… (^o^)

Sekarang umur kita sama. Kekeke~

Eniwei, tadinya ragu mau ngasih ni epep apa ga, setelah melalui diskusi yang alot ama Eunwook,

Akhirnya diputusin, this is for you~~

With love,

Im Saera, ur eternal twin🙂

====================

ICE CREAM

====================

Pernahkah kalian terjebak dalam cinta yang salah?

Cinta itu, cinta terlarang yang tidak boleh kumasuki.

Tapi cinta itu juga memberiku banyak senyuman.

Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan?


Raena’s PoV

“KYUHYUN-AH INMA~!” aku menusuk fotonya yang berada tepat di atas mejaku. Sekarang wajahnya sudah robek tak karuan. Biarkan saja!! Dia harus bisa merasakan rasa sakitku. “Kau pikir kau pria paling keren? Kau itu adalah pria paling menyebalkan yang pernah tercipta ke muka bumi ini, tahu?!”

Saera memandangku cemas. “Raena-ya, berhenti melakukan itu. Itu menyeramkan~”

“Wae? Aku sedang menenangkan diri,” aku menjawab tanpa menoleh pada Saera. Tatapanku hanya tertuju pada gambar diri Cho Kyuhyun dan cutter yang tergenggam erat di tanganku. “Aku benar-benar membencinya!!”

“Ara~ Tapi tingkahmu sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang sakit jiwa,” Saera mengambil paksa cutter di tanganku.

Aku menghirup oksigen di kamarku kuat-kuat. Seolah paru-paruku tidak pernah puas dengan udara yang ada. “Dia memang selalu bisa membuatku sakit jiwa.”

“Hhh… kenapa lagi?” kali ini Saera duduk bersila di depanku.

“Hari ini dia mengacuhkanku lagi,” ujarku lemas. Aku melanjutkan, “Di depan semua hyungnya. Belakangan ini edisi Starcraft kedua benar-benar membiusnya. Memangnya apa bagusnya game itu?”

Saera memutar bola matanya. Tangannya meraih majalah yang tergeletak di laci mejaku. “Lagi-lagi masalah itu. Bukankah kau sendiri yang membelikannya game itu? Kalau kau tahu dia akan mengabaikanmu lagi, lebih baik kau tidak usah bersusah payah membelikannya.”

“Tapi dia bilang dia tidak akan penasaran lagi kalau dia punya edisi Starcraft itu,” kutunjukkan sikap polosku.

1 week ago

“Raena-ya, kau tahu tidak kalau Starcraft ini edisi langka? Tidak banyak game mania yang bisa mendapatkannya,” Kyuhyun mulai memakai otaknya hanya saat membicarakan game. “Kalau aku bisa mendapatkannya, aku yakin aku bisa mati dengan tenang.”

Aku mendengus. “Apa hubungannya game ini dengan kematianmu? Kau akan membawanya saat kau mati? Berhentilah membicarakan game ini! Aku mengajakmu kesini untuk membantuku mengatur perayaan ulang tahunku!!”

“Ara~” wajahnya mulai dilipat. Inilah saat-saat yang paling kubenci: sifat babykyu.

“Hhh… Kyuhyun-ah, jangan jadi anak kecil di saat begini,” tidak ada respon darinya. “Baiklaaah~ Aku menyerah! Terserah kau saja. Apa maumu sekarang?”

Kyuhyun tersenyum sok manis. “Ayo kita coba game itu.”

“Kenapa tidak beli saja? Mainkan di dorm-mu,” lagi-lagi wajahnya berubah. “Ara~ karena harganya sangat mahal, kau hanya bisa memainkannya disini kan? Kaja~”

Tiga jam aku menemaninya bermain. Aku yakin sekali aku melihat pemilik toko ini sudah memelototi kami karena hanya numpang main game baru. Kenapa dia tidak kenal kata ‘bosan’ pada game? Heran~

Kutepuk pundaknya. “Kyuhyun-ah, ayo pulang. Sudah jam berapa sekarang? Aku tidak mau pulang terlambat.”

“Pulang saja sendiri. Aku harus mencoba karakter lainnya, paling tidak yang bisa memberiku banyak keuntungan saat ber-“ belum sempat ia menyelesaikan penjelasan panjang-lebarnya soal game itu, aku sudah meninggalkannya.

“Urusi saja game-mu!! Menyebalkan,” aku sibuk memaki orang yang terlalu sibuk dengan game favoritnya. Hhh… dia. Benar. Benar. Super. Duper. Menyebalkan.

Seseorang menggandeng tanganku. “Raena-ya, kau marah?”

Orang bodoh macam apa yang masih berani bertanya seperti itu? Kuacuhkan pertanyaannya. Kali ini akan kupastikan kalau aku tidak akan termakan sikap manisnya. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku tidak akan bicara lagi dengan-

“Cutie, kau masih suka makanan manis kan? Ayo kita makan ice cream disana,” Kyuhyun mengarahkan telunjuknya ke kios ice cream dan gulali.

“AYO~~!!” kenapa otakku tidak bisa menolak kehadiran makanan manis? B.O.D.O.H

“Kau tahu tidak, ternyata karakter yang menguntungkan itu justru kakek-kakek, dia bisa membuatku dapat poin tambahan. Sejatanya hanya tongkat, tapi benar-benar he-“

Kupotong penjelasannya. “STOP~! Kau tahu tidak, aku ini buta game. Jadi berhentilah menjelaskan game itu panjang-lebar. Percuma~”

Kyuhyun tersenyum lebar. “Baiklaah~”

“Tidak mau membelinya?” kujilati ice cream di tanganku. Kyuhyun mengangkat alis. “Itu… starcraft edisi langka tadi. Bukankah kau sangat menyukainya?”

“Mm. Tapi uangku sedang menipis,” ia menarik nafas panjang. “Biar saja. Mungkin nanti harganya akan turun.”

Aku mengangguk paham. “Kyuhyun-ah,”. Kyuhyun mengangkat kepalanya. “Kalau kau punya game itu, apa kau bisa berhenti membicarakan game di depanku?”

Kyuhyun berpikir agak keras. “Geureom~ Rasa penasaranku akan hilang kalau game itu sudah ada di tanganku.”

“Lalu kau membelikannya?” Saera membelalakkan matanya lebar-lebar. Kujawab dengan anggukan kepala. “IM RAENA~! Baboya?”

“Wa-waeyo?”

Saera mendesah. “Dia berhenti membicarakan tentang game, kan?” Lagi-lagi aku mengangguk. “Tentu saja! Rasa penasarannya memang akan hilang dan dia akan lebih konsentrasi pada game pemberianmu itu. Kalau begitu jangan protes saat Kyuhyun mengabaikanmu.”

“Ta-tapi kan maksudku agar dia bisa berhenti memikirkan game,” kilahku.

“Mana dia tahu kalau kau tidak menjelaskan panjang-lebar padanya?” Saera menepuk pundakku, “Memangnya kau pikir Cho Kyuhyun memakai otaknya selain saat main game?”

Alisku mengernyit. “Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak mau dinomor duakan. Oleh sebuah kaset game pula!”

“Terima saja nasibmu,” Saera terkekeh nyaring.

The next day

“Mau kemana?” Saera masuk ke kamarku sambil mengusap-usap matanya. Sepertinya semalam dia lembur lagi. Kelopak matanya menyipit, seperti menolak terbuka. Aku tertawa geli membayangkan respon Eunhyuk saat melihat Saera seperti ini.

Kupasang scarf orange garis-garis di leherku. “Dating~”

“He? Seingatku baru kemarin kau mengomel tak jelas soal Kyuhyunie,” ia merebahkan tubuhnya di ranjangku yang sudah tertata rapi. “Dia yang mengajakmu?”

“Mm-hmm,” sahutku cepat. “Eh, tidak juga.”

“Maksudnya adalah…,” dahinya berkerut heran.

Aku tersenyum tipis. “Sejak semalam aku tidak mengangkat teleponnya, tidak membalas pesannya dan sebelumnya aku sudah marah-marah padanya. Baru kurespon saat dia mengajakku keluar siang ini.”

“Ahh~ Ancaman rupanya,” Saera mengangguk-angguk paham. “Benar-benar ciri khas Im Raena. Mengancam.”

“Apa maksudmu, ha?” aku mencibir ke arahnya. “Hari ini akan kubuang semua pikiran game dari otaknya!!”

Saera tersenyum meledek. “Semoga berhasil.”

“Aku akan berhasil!!”

Author’s PoV

Kyuhyun melayangkan tatapan frustasi ke arah ponselnya. “Hhh…” . Sudah tiga kali ia hanya menghembuskan nafas pasrah seperti itu.

[From: My Cutie Cream]

Jangan sampai terlambat~ Di tempat ice cream biasa ya. ^^

“Yeoja…,” Kyuhyun berkomentar singkat sambil memutar bola matanya.

Ryeowook yang sejak tadi memerhatikannya akhirnya bersuara. “Wae? Kenapa tampangmu sama sekali tidak enak dilihat?”

“Pasti gara-gara Raena,” tebakan Eunhyuk berhasil mengubah ekspresi wajah Kyuhyun. “Benar kan? Gadis yang bisa membuatnya frustasi begini kan hanya Im Raena”

“Sama saja denganmu kan?” sahut Donghae dari dapur. “Kau juga akan uring-uringan kalau Saera dekat dengan namja lain, sekalipun itu kami.”

Eunhyuk mengabaikan ucapan couple-nya. Tatapannya beralih pada sang magnae. “Kenapa lagi dia?”

“Marah,”  Kyuhyun menjawab tanpa menoleh pada orang yang bertanya. “Gara-gara Starcraft. Padahal dia sendiri yang membelikanku kaset terbarunya.”

Donghae terkekeh. “Raena pikir kau akan menghargainya sedikit kalau kaset itu darinya. Tapi belakangan ini kau malah semakin sibuk. Tentu saja dia kesal.”

“Tapi bukankah semalam kau bilang pagi ini akan kencan dengannya?” Sungmin memiringkan kepalanya. “Berarti hubungan kalian masih baik-baik saja kan?”

Kyuhyun mendesah. “Aku memang mengajaknya supaya dia tidak marah lagi.”

“Lalu kenapa tampangmu begitu? Bukankah seharusnya kau senang bisa kencan dengan yeoja-mu?” sahut Eunhyuk. “Kalau aku malah terancam tidak bisa bertemu dulu dengan Saera. Belakangan ini pekerjaannya menumpuk.”

“Berhentilah membahas masalah pribadimu sendiri,” Donghae mencibir. “Lagipula aku yakin Saera memang lebih suka berhadapan dengan tulisan-tulisannya daripada bersamamu.”

Eunhyuk hanya mengerucutkan bibirnya tanpa berkomentar. Ia memang jarang berpisah terlalu lama dengan Saera. Karena itu saat gadis itu bilang pekerjaannya semakin banyak, Eunhyuk tidak bisa tidak uring-uringan di dorm.

“ANNYEONG~ Hyung disini!” pintu dorm lantai 11 terbuka lebar dan kepala Leeteuk muncul ke hadapan dongsaengs-nya. “Kenapa kalian ribut sekali? Apa ada topik menarik?”

“Ah, hyung~ Mereka meledek hubunganku dan Saera,” rajuk Eunhyuk.

Leeteuk memutar bola matanya. “Itu sudah jadi deritamu. Bukankah Saera juga sedang sibuk dengan buku selanjutnya? Kau ini harusnya bisa mendukungnya, arachi?”

Lagi-lagi Eunhyuk melipat wajahnya. Kesal, karena yang dimintai bantuan malah mengeluarkan nasihat panjang-lebar.

“Ada apa kesini, hyung?” tanya Sungmin. “Benar juga, Wookie sudah membuat sarapan, ayo makan bersama.”

Leeteuk tersenyum lebar. “Benar-benar dongsaeng pengertian~ Di atas tidak ada makanan. Daripada menunggu Yesung yang beli sarapan, aku turun kesini.”

Mereka bergegas berjalan menuju dapur. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku pada benda tipis di depannya. Eunhyuk berteriak menyadarkannya dari lamunan panjang. “Kyu~ Cepat sarapan dan siap-siap. Jangan biarkan Raena menunggumu terlalu lama.”

“Ne~” Kyuhyun bangkit sambil menggumam pelan. “Sudahlah, sudah lama aku tidak pergi berdua dengannya”

“Ah, Kyuhyun-ah,” panggil Leeteuk. Yang dipanggil menoleh sebentar. “Heechul bilang dia menunggumu di atas. Temui dia setelah sarapan.”

Kyuhyun mengangguk. “Ne. Aku akan ke kamarnya sebelum aku pergi.”

Raena’s PoV

Sekarang aku yakin pasti aku mirip orang gila. Aku duduk di bis sambil tersenyum lebar sendiri. Kucoba lagi mengatur ekspresi wajahku. Tapi saat aku menunduk memandang ponselku, aku mulai tersenyum lagi.

[From: My EvilBaby]

Mm. Aku akan sampai disana dengan kecepatan kilat. Jangan pesan ice cream sebelum aku sampai, my creamy~

Kuhembuskan nafas lega. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah padaku. Baguslah~ Akan kubuat game menghilang dari otaknya. Aku sengaja berangkat lebih awal dari waktunya untuk menyiapkan rencana penghapusan game. Akan kupenuhi pikirannya hanya dengan Im Raena, Im Raena dan Im Raena. “Aku harus berbagi kisah keberhasilanku.”

[To: Twin :3]

Sudah kubilang aku akan berhasil membuatnya amnesia. Kekeke~

[From: Twin :3]

Ara~ Akan kutunggu ceritamu sepulang kencan.

Ps: Hyukjae mengamuk lagi. Apa aku perlu memakai cara Kyuhyunie?

[To: Twin :3]

Mwoya? Mengajak kencan? Im Saera~ Kau ini wanita, pantang mengajak kencan lebih dulu. Biarkan saja anchovy itu. Bukankah dia sudah jinak padamu?😄

[From: Twin :3]

Mm. Benar juga. Kalau begitu lupakan saja. Nikmati kencanmu~ :3

Kumasukkan lagi benda mungil ini ke dalam tas-ku. Kadang aku heran, kenapa anak itu sangat penurut padaku. Tapi bukankah itu bagus? Setidaknya aku selalu bisa mengatur tingkah ajaibnya. “Omo~ Aku harus membeli sesuatu untuk Kyu.”

Hampir 15 menit aku berkeliling pusat perbelanjaan. Bingung apa yang harus kubeli untuknya. Ada banyak kaset game yang sering dia ceritakan, tapi menurut Saera, aku tidak boleh mengulangi kesalahan bodohku untuk kedua kalinya.

“Kaset game? Kau mau diabaikan lagi olehnya? Carilah benda lain,” kata-kata Saera yang tegas terngiang di telingaku. “Apapun boleh, asal jangan kaset game lagi!! Sudah ya, akan kututup teleponnya, editorku akan membunuhku kalau aku masih bersantai. Bye~”

Apapun boleh, katanya. Tapi ‘apapun’ itu termasuk benda macam apa?? Kuedarkan pandangan ke sekitarku. Style n Mode, toko baju? Kurasa dia tidak akan peduli tentang fashion pakaiannya. Yummy Cake n Bakery, toko kue? Kyuhyun tidak suka makanan penuh gula. Toy’s City, mainan? Boleh juga~

Sesaat setelah berada di dalam, aku mulai mengutuki diriku sendiri. Memangnya apa yang akan kuberikan padanya? Mobil-mobilan?

Tapi nyatanya mataku menangkap sesuatu yang menarik. “Omomo~ Itu kan salah satu karakter dalam game-nya? Dia juga sering memakai karakter itu kalau sedang main.”

Sebuah action figure game favoritnya berhasil membuatku berpikir cukup keras. Bukankah tidak boleh membeli kaset game lagi, apa salahnya memberikan sesuatu yang masih berhubungan dengan game? Aku semakin pintar~

Aku baru akan meraih mainan di depanku saat tangan lain juga sedang menuju ke arah yang sama. “Silyehamnida, aku melihatnya lebih dulu.”

“Jwoisonghaeyo, aku yang pertama melihatnya. Bisa-” dari suaranya, ternyata seorang namja. “Raena-ssi?”

He? Orang ini memanggilku. Aku melihatnya dengan teliti. “Nuguya?”

Ia tersenyum manis di depanku. “Jinki. Lee Jinki, teman sekolah dan teman di klub paduan suara. Ingat?”

Kumiringkan kepalaku sebelum aku menepuk dahiku. “AHH~ Jinki!! Apa kabar?”

“Baik. Bertambah baik saat kau mengingatku,” ujarnya. “Jadi… aku tidak tahu kau sudah berubah menjadi kolektor action figure.”

“Ani~ Ini hanya hadiah untuk seseorang,”

Alisnya terangkat sebelah. “Namja? Ternyata Im Raena yang dulu sangat galak sudah bisa punya namjachingu?”

“Mworago? Galak? Sembarangan~” aku mendengus. “Lalu, kau? Masih suka dengan anime jepang?”

“Mm. Begitulah. Tapi karena hari ini aku sedang senang bertemu denganmu, jadi kau ambil saja untuk pacarmu,” Jinki menyodorkan benda yang tadinya jadi rebutan tadi.

Berhubung aku bukan yeoja pemalu dan bahkan nyaris tidak punya urat malu, kuterima saja action figure itu. “Gomawo. Aku ke kasir sebentar, tunggu disini.”

Jinki mengajakku duduk di sebuah kursi salah satu food court. Saat kulirik jam tanganku, masih ada 15 menit lagi untuk bertemu dengan Kyuhyun. Aku bisa mengistirahatkan kakiku disini.

“Jadi siapa namja malang yang akan bertemu denganmu disini?” kupukul pelan lengannya. Jinki hanya tertawa. “Ara~ Mianhae.”

Aku tersenyum saat mengingat Kyuhyun. “Dia itu namja ajaib. Kadang-kadang bisa berubah sangat manis, tapi lebih sering bertransformasi menjadi namja menyebalkan. Aku benci kalau dia sudah mulai membicarakan game.”

“Ahh… dia game mania?”

“Ani,” jawabku. “Dia game addict!! Super addict! Super mania! Melebihi anak kecil.”

Lagi, Jinki tersenyum lagi. Senyuman yang dulu sangat kukagumi. “Sepertinya dia namja yang sangat perhatiaaan. Benar kan?”

“Berhentilah mengolok-olokku,” aku mendengus cepat. “Lalu, kau? Siapa yeoja yang mendapat kesialan di sampingmu?”

“Untungnya tidak ada, jadi aku tidak membawa malapetaka pada siapapun,” Jinki memamerkan deretan gigi putihnya.

Mataku menyipit. “BOHOONG~! Bukankah Lee Jinki yang dulu pernah bilang akan segera mencari istri begitu lulus sekolah?”

“Ahh… ketahuan ternyata!!” Jinki memasang tampang pura-pura kecewa. “Aku sudah bertunangan.”

Aku terkejut. Bahkan tidak dapat kupungkiri hatiku terasa sedikit perih. “Geu-geuraeyo? Dengan siapa?”

“Ingat Kwan Nara?”

“Nara? Ketua klub teater kita? Bohong~” mataku terbelalak lebar.

Jinki mengangguk. “Mm. Orang tua kami juga sudah saling mengenal, jadi tinggal menunggu hari yang tepat.”

Lidahku kelu. Untuk mengucapkan selamat pun rasanya sama sekali tidak mungkin. Mataku terasa panas dengan cepat. Saat ini aku berharap Kyuhyun akan segera datang. Setidaknya untuk menenangkan suasana hatiku yang tak karuan. Hanya dia yang bisa meredakan perasaan tak nyaman ini, mungkin.

‘drrt… drrt…’

Kuraih ponselku. My EvilBaby calling…

“Yeoboseyo? Na… Di food court… Mm… Aku menunggu disini… Ne…”

“Pacarmu?” Jinki menyipitkan matanya. Aku tersenyum tipis. “Geureom, aku akan pergi sekarang. Selamat kencaan~”

Jinki melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkanku. Mataku menatap kepergiannya nanar. Telapak tanganku menempel di dada. “Kenapa terasa sakit disini?”

Dari arah berlawanan, aku bisa melihat wajah Kyuhyun yang berlari kecil menghampiriku. “Creamy~ Kau menunggu lama?”

“Aniyo,” pikiranku masih gamang saat kemudian kulirik jam tanganku. “HEE~! Kau sudah terlambat 30 menit!!”

“Kau tidak sadar? Apa saja yang kau lakukan disini?” Kyuhyun duduk di sampingku. Ia meluruskan kakinya. “Tadi Heechul hyung mengajakku main Starcraft, kupikir tidak akan lama, tapi ternyata susah untuk pura-pura kalah agar dia melepaskanku. Mianhae.”

Pikiranku masih belum kembali seutuhnya dari bayang-bayang Jinki. “Mm. Terserah saja.”

“Apanya yang terserah? Aku tahu kau marah, tapi seti-“ Kyuhyun memperhatikan tatapan kosongku. “Kau dengar tidak?”

“He?” buru-buru kukembalikan kesadaranku. “Kau bilang apa barusan?”

Kyuhyun mengibaskan telapaknya. “Lupakan saja. Lebih baik kau begini daripada kau mengomel lagi” Matanya menangkap bungkusan plasting di sampingku. “Ige mwoya?”

“Ah, itu untukmu,” kuserahkan hadiah yang mempertemukanku dengan Jinki tadi.

“Huwaa~ Ini keren!! Gomawoyo, Raena-ya,” bisa kulihat matanya berbinar cemerlang. “Kau mau jalan-jalan sekarang? Makan ice cream?”

Author’s PoV

Raena membenamkan kepalanya di bawah selimut tebal. Otaknya sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan Lee Jinki. Saat bersama Kyuhyun tadi siang pun, pikirannya sudah terlanjur kacau. Padahal rencananya membuat Kyuhyun melupakan game saat di sampingnya sudah berhasil.

Saera berdecak memandangi kelakuan saudaranya. “Kau kenapa lagi? Kyuhyunie menghabiskan waktumu di toko kaset game?”

“Aniyo,” sahut Raena singkat tanpa membuka selimutnya. “Dia menemaniku kemana pun yang ku mau.”

“Lalu kenapa kau begini? Seperti orang patah hati,” kali ini Saera duduk bersandar di samping Raena.

Raena membiarkan matanya terlihat. Ia melirik Saera. “Benar~ Aku patah hati.”

“He? Kalian bertengkar? Kalian tidak putus kan?” Saera membuka paksa selimut Raena. “Kau kenapa? Marhae~ Marhae~”

Ia menyerah dengan paksaan Saera. Raena duduk bersila di ranjangnya. “Bukan Kyuhyunie.”

“Bukan Kyuhyun? Jangan bilang kau selingkuh,” Saera mengarahkan telunjuknya pada Raena.

“Molla,” jawaban Raena yang sepotong-sepotong membuat Saera semakin frustasi. “Aku bertemu Jinki hari ini.”

Saera mengerutkan dahi. “Jinki? Siapa itu?”

“Lee Jinki. Teman sekolahku,” Raena malas memberikan penjelasan lebih banyak. Toh saudaranya ini sedang berada di Jepang sepanjang masa sekolah. Wajar saja Saera tidak kenal teman-temannya.

“Cinta pertamamu?” tebakan Saera membuat Raena menoleh ke arahnya dengan cepat. “Sepertinya benar. Raena-ya, kau sudah punya Kyunhyunie.”

Raena tersenyum samar. “Aro~ Dia juga sudah bertunangan.”

“Bertunangan?” wajah Saera makin menunjukkan tanda-tanda bingung. “Lalu apa hubungannya dengan tingkah abnormalmu ini?”

Lagi-lagi Raena melakukannya, ia menempelkan telapak tangan di dadanya. “Disini, rasanya sakit.”

“IM RAENA~! Ini salah,” Saera hampir membangunkan seisi kompleks dengan teriakan histerisnya.

Kyuhyun tersenyum geli memandangi action figure yang berdiri tegak di atas meja. Ia memajangnya tepat di sebelah pigura gambar dirinya dan Raena.

“Dari ELF?” Sungmin masuk tanpa suara ke dalam kamarnya.

Magnae grup mereka merespon tanpa menoleh. “Ani. Dari Raena.”

“Ahh~ pantas saja,” Sungmin berkomentar singkat. “Makanlah dulu. Makan malam sudah siap. Kami menunggumu.”

“Mm,” sahut Kyuhyun sambil berdiri membawa hadiah dari gadis-nya.

Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sampai makan pun harus dibawa? Dasar aneh~”

Ryeowook sedang menata piring saat melihat Kyuhyun berjalan ringan ke arahnya. Benda yang berada di tangan Kyuhyun berhasil menari perhatiannya. “Kyuhyun-ah, ige mwoya?”

“Hadiah,” Kyuhyun menarik kursi dan membuat action figure-nya berdiri di depannya.

Donghae memiringkan kepalanya. “Dari Raena?”

“Ne. Sudah 15 menit dia terus-terusan tersenyum aneh sambil memandangi mainan itu,” Sungmin muncul dari kamar.

Eunhyuk mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. “Lima belas menit sejak ia pulang?”

“Sepertinya begitu,” Sungmin mengangkat bahu. “Memangnya kenapa?”

“Berarti selama 3 jam 15 menit dia tidak menyentuh laptopnya,” sahut Eunhyuk. “INI REKOR DUNIA~! Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Cho Kyuhyun, Super Junior magnae tidak bermain game. Dan itu demi seorang gadis. Daebak~!!”

Member dorm lantai 11 mengangguk-angguk setuju tepat sebelum Kyuhyun berteriak. “AH~! Starcraft-ku!!  Aku harus menyelesaikan level berikutnya!!”

“Sepertinya memang hanya selama 3 jam 15 menit saja,” komentar Ryeowook sambil mengangkat bahu.

Raena’s PoV

“RAENA-YA,” teriakan Saera membuatku terkesiap sekejap sebelum kuputuskan untuk menutup telingaku dengan bantal. “Giliranmu menyiapkan sarapan! Ppaliwa~”

“Ara~~” malas sekali rasanya bangkit dari kasur empuk nan nyaman yang sudah menjadi belahan jiwaku. Selain ponsel, laptop dan Kyuhyun tentunya.😄

‘TING TONG’

Suara bel terdengar cukup nyaring di telingaku. Kulirik jam kecil yang bertengger di laciku. Masih jam 6 pagi, siapa yang bertamu sepagi ini? Tukang Koran? Kenapa harus menekan bel?

Kudengar langkah Saera yang berjalan cepat. “Aku yang buka~”

Terserah saja, pikirku. Aku melangkah gontai menuju kamar mandi. Di depanku ada 2 cangkir serupa dengan 2 sikat gigi yang mirip. Warna merah milikku, yang putih milik Saera.

Kubasuh wajahku dan mulai kugosok deretan gigiku yang berjajar rapi. Tapi pikiranku masih belum bisa melupakan pertemuan dengan Jinki kemarin. Aku memandangi pantulanku di cermin. “Im Raena~ berhentilah bersikap gila hari ini!”

“Raena-ya,” Saera muncul di depan pintu. “Ada temanmu di depan.”

Kumiringkan kepalaku. “Teman? Jiyoo?”

Dan Saera hanya mengangkat bahu. “Kau lihat saja sendiri. Dia ada di ruang tengah. Biar aku yang menyiapkan sarapan hari ini, kalau menunggumu aku bisa terlambat.”

Saera berjalan meninggalkanku yang masih berkutat dengan sikat dan pasta gigi. Segera kubasuh mulutku, menghilangkan sisa-sisa busa putih dari bibirku. Kurapikan rambutku sedikit. “Hanya Jiyoo. Tidak usah terlalu rapi.”

Perlu kuakui bahwa membiarkanku muncul dengan penampilan begini adalah sebuah kesalahan besar. Rambutku masih kusut karena hanya kusisir dengan jari. Pakaianku masih berbentuk piyama longgar yang lusuh. Dan mataku masih sipit karena kesadaranku belum kembali seluruhnya. Sedangkan tamu yang sekarang duduk manis di sofa ruang tengahku adalah seorang pria. Lee Jinki!! Aku yakin Saera sudah tahu dan sengaja membuatku terlihat buruk di depan Jinki. IM SAERA, akan kubunuh kau!!

“Annyeong,” Jinki bangkit dari tempatnya begitu menyadari kehadiranku. “Kau tampak… segar.”

Aku tertawa masam. Dan aku yakin sekali aku mendengar Saera terkekeh di dapur. “Du-duduklah.”

“Aku tidak tahu kau punya saudara,” yang dimaksud pasti makhluk jadi-jadian bernama Im Saera.

“Ani~ Dia sepupuku. Selama SMA dia tinggal di Jepang. Keluarganya hobi pindah negara. Tapi kami memang dekat. Orang-orang bilang kami seperti saudara kembar,” jelasku. “Walaupun aku bersyukur aku tidak benar-benar mempunyai saudara kembar seperti dia.”

“Kalian memang sangat mirip,” Jinki tertawa. “Mm, apa rencanamu hari ini?”

“Aku? Molla,” kusilangkan kakiku. “Tidak ada rencana jelas. Tadinya aku mau membantu Saera mencari bahan untuk buku barunya, tapi sepertinya editornya menyuruhnya menghadap.”

“Dia penulis?” pertanyannya kujawab dengan anggukan. “Aku tidak pernah mendengar namanya.”

Saera mendadak muncul menginterupsi. “Bukan dengan nama Im Saera, tapi Igarashi Arisa. Bukuku berbahasa Jepang.”

“Igarashi Arisa? Kalau begitu aku adalah penggemar beratmu,” aku Jinki. “Tadinya aku sama sekali tidak tertarik pada bukumu, tapi temanku membawakan versi Korea-nya, dan aku sangat menyukainya.”

“Kamsahamnida,” Saera tersenyum ramah lalu menatapku. “Sarapan untukmu sudah kusiapkan, aku berangkat ya. Jinki-ssi, senang bertemu denganmu.”

Jinki mulai membicarakan Saera begitu ia menutup pintu. “Aku tidak percaya aku bisa bertemu dengan Igarashi Arisa secara langsung!! Kupikir dia penulis yang agak angkuh.”

“Memang.” sahutku singkat. “Lalu, ada apa kesini?”

“Ah, temani aku mencari hadiah,” Jinki menatapku sambil berbinar. “Untuk Nara. Sebentar lagi dia ulang tahun.”

Benar juga. Tanggal ulang tahun kami memang sama. “Baiklah. Aku akan ganti baju sekarang.”

“Kau tidak mandi?” ucapan Jinki membuatku melayangkan bantal ke arahnya.

“Yang ini?” Jinki menyodorkan sebuah bros cantik berwarna biru muda. Aku menggeleng. Merasa frustasi, ia menarik nafas panjang. “Kenapa tidak ada yang cocok dengannya?”

Aku masih sibuk mengamati berbagai ‘perkakas’ perempuan yang berderet rapi di hadapanku. “Mengingat sifat Nara yang sedikit unik, aku hanya merasa semua pilihanmu itu sama sekali tidak cocok dengannya.”

“Kalau kau, apa yang sedang kau inginkan?” pertanyaannya membuatku berpikir agak keras. “Apa saja, supaya aku bisa memikirkan hadiah yang cocok untuknya. Kau kan mirip dengannya.”

Mirip? Entah kenapa aku merasa sedikit kesal dengan ucapannya. Biasanya aku tidak akan pernah keberatan untuk disamakan dengan siapapun karena terkadang aku sering mendengar ucapan seperti itu saat bersama dengan Saera. Tapi kali ini, rasanya seperti agak… tersinggung? Aku sama sekali tidak suka kalimat perbandingan itu meluncur dari bibir Jinki.

Kukendalikan suasana hatiku. “Molla~ Aku sedang ingin… jepitan rambut?”

“He? Waeyo?” Jinki mengernyitkan alis.

Mataku menangkap sesuatu. “Itu! Aku mau yang seperti itu.” Telunjukku mengarah pada jepit rambut berbentuk ice cream yang bersusun tiga.

“Apa menurutmu Nara akan menyukainya?” ia bertanya sambil memegang jepitan rambut yang kupilih. Demi Tuhan, berhentilah membicarakannya!!

“Hhh… mana kutahu,” dengusku pelan. Tiba-tiba Jinki memasangkan jepitan rambut itu di kepalaku. “Apa yang kau lakukan?”

“Mencobanya,” ujarnya. “Ahh… cantik sekali. Aku beli yang ini saja.”

Kupicingkan mataku. “Nara belum tentu akan menyukainya kan?”

Jinki tidak mendengarku. Ia sudah berjalan menuju kasir untuk membayar jepitan ice cream tadi.

‘drrt… drrt…’

[From: My EvilBaby]

Creamy…

Aku tersenyum geli saat membacanya. Belum sempat aku membalasnya saat dering ponselku terdengar nyaring. My EvilBaby calling…

“Yeoboseyo?”

Author’s PoV

Jinki melangkah pasti ke arah meja kasir. Di tangannya sudah tergenggam jepitan manis berbentuk ice cream pilihan Raena. “Boleh minta kartu ucapan juga?”

Pelayan toko menawarkan beberapa pilihan kartu dan Jinki memilih kartu ucapan berwarna merah jambu dengan gambar ice cream yang mirip dengan jepitan rambut yang dipegangnya. Jinki mengambil pulpen dan mulai menulis…

July 6, 2010

To: Ice Cream Girl

Saengil chukkhaeyo~ Berharap kau tidak kecewa karena aku sudah lebih dulu memperlihatkan hadiahmu. Kekeke~

Raena-ya, percayalah, aku selalu mengingatmu. Mengingat semua tentangmu. Karena kau cinta pertamaku.

Aku tahu terlalu bodoh saat aku mengatakannya sekarang. Sangat terlambat, bukan?

Tapi orang bilang lebih baik terlambat atau tidak sama sekali,

Saranghae.❤

With all of stars in the sky,

Lee Jinki

Kado sudah dibungkus dan kartu ucapan spesial sudah terselip di dalamnya. Hanya tinggal menunggu hitungan hari untuk menyerahkannya pada Raena, pikirnya.

“Ne. Aku juga merindukanmu… He? Kau apa? Tidak main game selama 3 jam saja bangga. Kalau kau bisa berhenti selamanya, baru aku terkejut… Ara~ Mm. Saera? Dia sibuk dengan buku barunya, jadi kurasa Eunhyukie akan terbengkalai sampai batas waktu yang tidak ditentukan…,” butuh beberapa detik sampai Raena menyadari Jinki sudah berdiri di belakangnya. “Ya~ Temanku sudah datang, akan kutelepon lagi nanti… He? Jangan begitu… Ne…”

Saat melihat Raena mengakhiri obrolannya, Jinki tersenyum. “Pacarmu?”

“Mm. Begitulah,” sahutnya enggan. Raena masih agak bingung dengan pikirannya sendiri. Bayang-bayang Jinki kadang muncul terlalu sering dalam kepalanya. “Sudah selesai? Huwaa~ kau minta langsung dibungkus juga? Bagaimana kalau Nara tidak suka?”

Jinki tersenyum samar. “Penerimanya pasti akan suka.”

Author’s PoV

Kebingungan tetap menggerogoti otak Raena seperti benalu. Beberapa hari saat Kyuhyun sibuk bersama Super Junior-nya, saat itulah ia menghabiskan waktu bersama Jinki. Sesekali Jinki menunjukkan sikap yang agak janggal di matanya. Gadis itu merasa Jinki berusaha mendekatinya. Malam-malamnya diisi dengan suara Jinki. Pesan di inbox pun 85% dari Jinki. Tamu setiap pagi di rumah gadis itu pun adalah Lee Jinki.

“Ne, hari ini aku pergi ke restoran yang kau sarankan… Seafood-nya enak. Kau pintar mencari tempat,” Raena mulai merasa risih saat Saera melayangkan tatapan curiga sambil menyipitkan mata. “Besok kutelepon lagi… Mm. Aku akan makan… Bye.”

Saera mendesah. “Jinki lagi?”

“Waeyo?” gadis berambut lurus itu menggeletakkan ponselnya di meja sementara tangannya mencomot sebuah muffin oleh-oleh dari Saera.

“Sebenarnya seperti apa hubungan kalian?” tuntut Saera. Ia mencoba mengendalikan emosi dalam menghadapi saudaranya.

Raena memutar bola matanya. “Seperti apa? Ya seperti ini.”

“Pacar?” tanya Saera. Saudaranya menjawab dengan menggeleng. “Lalu apa? Mustahil seorang teman berlaku seperti Lee Jinki.”

“Memangnya apa yang salah?”

“Apa yang salah? Kau bertanya padaku?” Saera mendesis. “Hhh… dari semua tingkah kalian, sama sekali tidak mirip teman. Hal itu menjadi sangat salah saat ini karena masih ada Kyuhyun dan tunangan Jinki.”

“Kami tidak pacaran,” elak Raena.

Saera menatap gadis di sampingnya tajam. “Kau tidak sedang selingkuh kan?”

“Saera-ya, aku masih waras. Aku tidak akan selingkuh,” kilahnya. “Hanya saja…”

Mata Saera menuntut jawaban. “Wae?”

“Aku memang merasa dia sedang mendekatiku. Jinki tidak pernah bicara lagi tentang Nara di depanku. Perlakuannya sekarang adalah impianku sejak dulu,” Raena menatap lurus ke arah sepupunya itu.

“Raena-ssi, sadarlah. Lee Jinki hanya cinta pertamamu,” ujar Saera. “Sekarang kau punya Cho Kyuhyun. Super Junior Kyuhyun, ingat?”

‘drrt… drrt…’

Pesan masuk di ponsel Raena. Tangannya bergetar saat melihat pengirimnya. Air matanya bahkan nyaris jatuh.

[From: My EvilBaby]

Aku merindukanmu~ Belakangan ini semakin mengabaikanmu, mianhae. Tapi bisa kupastikan bukan gara-gara game. Kekeke~

Tanggal 6 nanti aku free. Ayo kencaaan~

“A-aku ingat,” jawabannya terdengar mengambang. Tapi, ya, Raena memang masih mengingat Kyuhyun di bagian kecil hatinya yang kini mulai dipenuhi sosok Jinki.

July 6, 2010

Raena duduk manis di sebuah sudut meja kafe. Di depannya ada kue tart kecil dengan satu lilin panjang yang tertancap di atasnya. Di depannya kini ada Jinki. Cinta pertama. Masa lalunya.

“Saengil chukkhaeyo~ Ucapkan permintaan lalu tiup lilinnya,” perintah Jinki diturutinya. “Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.”

Jinki menyodorkan kotak berlapis kertas kado dengan pita. Raena membuka dan melihat jepit rambut ice cream yang sempat ia pilihkan untuk hadiah ulang tahun Nara. Ia juga membaca kata-kata dalam kartu ucapannya.

“Jinki-ah,” panggil Raena parau. “Bukankah seharusnya kau merayakan ini dengan Nara? Sekarang dia juga sedang ulang tahun kan?”

Jinki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku hanya ingin melewatkan hari ini sebagai hari ulang tahunmu. Kau suka hadiahku?”

“Ini… ini tidak benar kan? Seharusnya kau bersama Nara. Seharusnya kita tidak memulai cerita ini,” bibir Raena bergetar. “Ak-aku… seharusnya aku bersama Kyuhyun sekarang.”

Pria berjaket hitam itu hanya menarik nafas panjang. “Tapi aku menyukaimu. Sejak dulu. Sejak kita satu sekolah. Sejak kita berlatih paduan suara bersama. Sejak aku tahu kau sangat suka ice cream.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak bilang sejak dulu?” tuntut Raena. “Sekarang semuanya salah. Semuanya tidak seharusnya begini.”

Jinki tersenyum. “Benar juga. Ini salahku yang terlalu sibuk belajar. Akulah yang terlambat mengatakan padamu. Sekarang, pergilah. Pacarmu pasti sudah menunggu.”

“Jinki-ssi,” gadis itu menyerahkan kembali hadiah Jinki. “Mianhae.”

Raena’s PoV

Pagi hari di musim semi seperti ini sangat cerah. Tapi pemandangan sempurna di hadapanku tidak bisa membuatku tersenyum. Entah apa yang sedang kusesali.

“Mm. Aku juga tidak mau merusak hubungan kalian. Tapi percayalah,” Jinki tersenyum ke arahku. “Aku hanya melihatmu selama kita saling mengenal. Dan sekarang, aku tidak menyesal sudah bisa bersamamu secara singkat. Gomawo.”

Apakah ini yang membuatku sesak? Melepaskan Jinki? Atau…

[From: My EvilBaby]

Teng… Teng… Teng… Jam berapa sekarang? Benar~ 00.00 tepat.

Im Raena, walaupun aku tidak bisa menahan godaan dan rayuan game, tapi aku berani memberikan garansi padamu. Cho Kyuhyun, EvilBaby dan BabyKyu ini hanya akan melihat Im Raena seorang di matanya. Geokjonghajima~😄

Saengil chukkhaeyo, my cutie creamy. Kutunggu kau di dorm ya~

Kyuhyun sama sekali tidak merasa aku sedikit berubah. Karena aku baru tahu, bukannya karena dia mengabaikan atau tidak peduli padaku. Tapi dia mempercayaiku. Percaya. Dan aku tidak bisa menjaga kata itu dengan baik.

Aku sampai di lantai 11, tempat dorm Super Junior. Tanganku baru akan membuka pintu dorm saat kudengar suara gaduh dari dalam.

“Ahh… Kenapa balonnya diletakkan disitu? Jelek~ Hyuk oppa, pindahkan ke pojok saja,” kudengar suara yang tak asing di telingaku. Im Saera juga disini?

“Saera-ya, bisa tolong kau bantu aku menyiapkan kue ini? Aku kerepotan,” kali ini suara lembutnya yang kudengar. My BabyKyu.

‘CKLEK…’

Kuputuskan untuk membuka pintu di depanku. Seperti video yang sedang di-pause, semuanya berhenti bergerak saat melihatku yang berdiri di pintu. Kugigit bibir bawahku. “Mm, aku tidak mengganggu kan?”

Kyuhyun menyenggol lengan Saera. “Kau bilang dia akan terlambat? Kenapa malah datang jauh lebih awal? Kau mengerjaiku ya?” Buru-buru Kyuhyun berjalan ke arahku, “Kata Saera-ssi kau ada pekerjaan yang harus kau selesaikan pagi ini, makanya kau akan sedikit terlambat kesini.”

“Melihatnya yang datang lebih awal, kurasa pekerjaannya sudah benar-benar selesai,” ucapan Saera membuat alisku terangkat. Mataku menatap Saera yang tersenyum aneh. Sepertinya pagi tadi aku tidak bilang kalau aku pergi dengan Jinki. Tapi kenapa Saera bisa tahu?

“Untuk apa membicarakan pekerjaan yang tidak jelas?” Eunhyuk menghambur ke tengah ruangan. “Ayo mulai pestanya~”

Kue tart bertingkat 2 berada di tengah. Tumpukan kado sudah tergeletak di pojok ruangan. Dalam sekejap, lagu selamat ulang tahun membahana di dorm yang tidak terlalu besar itu. Lilin panjang berjejer di pinggiran kue.

Shindong berteriak nyaring. “Ucapkan permohonan~! Kyuhyun-ah, bersikaplah lebih romantis.”

“Hyung~ Raena sudah tahu bagaimana aku, kalau aku berubah romantis, bisa-bisa dia menyangka aku kerasukan roh jahat,” elak Kyuhyun.

“Benar juga, semua orang istimewa dengan caranya sendiri kan, Raena-ssi?” timpal Saera. Rupanya ia sangat suka menggodaku.

Kupejamkan mataku sebelum lilin-lilin di depanku ini padam. Kyuhyun menegurku, “Apa keinginanmu?”

“Mm…,” aku menarik nafas. “Sesuatu yang penting. Tidak akan terkabul kalau aku membocorkannya”

Suasana riuh pesta semakin bertambah saat para tetuah Super Junior ikut bergabung. Leeteuk dan Heechul, maksudku.

Aku mendekat pada Saera. “Gomawo.”

“Bicara apa kau ini?” ia tersenyum samar. “Terima kasih untuk apa?”

“Karena sudah mempercayaiku,” ucapku. “Aku yakin kau tidak akan mencari alasan pada Kyuhyun kalau kau tidak percaya aku akan memilihnya.”

“Raena-ya, kau sudah dewasa, dan aku tahu kau bisa melakukan sesuatu dengan benar,” Saera merangkul pundakku. “Sudahlah~ Lupakan saja masalah ini. Sekarang nikmati pestamu.”

Kyuhyun berdeham. “Saera-ssi, boleh aku mengambil gadis creamy-ku kembali?”

Saera tersenyum dan mendorongku ke arah Kyuhyun. Sementara ia meninggalkan kami, Saera berjalan menuju Eunhyuk. Aku mengangkat wajahku. “Kau tidak melupakan sesuatu?”

Alisnya terangkat. “Apa?”

“Mana hadiahku?” aku mulai tidak sabar dan mengerucutkan bibirku.

“Ahh… benar juga,” Kyuhyun mundur selangkah dan merentangkan tangannya, “Ini dia~!” Kali ini keningku berkerut. “Aku~ Tidakkah kau pikir aku ini adalah hadiah terbaik di hari ulang tahunmu?”

Kuputar bola mataku. “Kau sudah bilang begitu tahun lalu dan aku tidak akan kembali tersentuh dengan kata-kata itu. Bilang saja kalau kau lupa membeli sesuatu.”

“Ani,” ucapnya ringan.

2 days later

“IM RAENA~~!” teriakan khas milik Saera membuat piring dalam peganganku hampir terlepas.

Buru-buru kuhampiri ia. “Apa? Kenapa?”

“Ige mwoya?” telunjuknya mengarah pada tumpukan kaset game dan sampah stik ice cream yang tergeletak di atas karpet ruang tengah. “Kau main game sambil makan ice cream lagi?”

Aku mengangguk malu-malu. “Begitulah.”

“Hhh… Kenapa kau malah ikut-ikutan gila game seperti Kyuhyunie?” Saera berkacak pinggang.

“Memangnya apa yang akan kau berikan?” wajahku masih kesal.

Kyuhyun berpura-pura berpikir. “Kau boleh meminta apapun padaku.”

“Apapun?” ulangku. Kyuhyun mengangguk yakin. Bibirku tersenyum. “Berhenti main game.”

“Tidak masalah,”

Alisku terangkat, “Jinjja? Ho~ Kita lihat saja nanti.”

Telunjuknya terangkat. “Ada syaratnya. Kalau kau sanggup, aku akan mengabulkan keinginanmu.”

“Benar-benar pamrih. Tidak tulus menawarkan hadiah ya?” dengusku. “Syarat apa?”

Saera membelalakkan matanya lebar. “Me-menang Starcraft dari Kyuhyunie?? Kau gila?”

“Ani, aku yakin aku bisa,” ujarku mantap. “Karena itu aku berlatih mati-matian.”

“Raena-ya,” panggilannya membuatku menoleh cepat, “Kau ini benar-benar terlalu lugu”

-THE END-

====================

Huahaha~ Gila, ngakak banget nulis ni cerita.😄

Eniwei, gimana Twin? Pan dirimu bilang kalo situ tu polos, suci en lugu, pas banget pan disini?

Ujung-ujungnya dibego-begoin ama Kyu. Kekeke~

Happy b’day once again for you~~ (^o^)//

Leave comment, compliment, anger etc to me, okay?😄

PS: Di post lebih awal gara-gara takut ga keburu ngepost besok. ><

29 thoughts on “[IMpressive Story] Ice Cream -Raena Edition-

  1. wuaaaaaah.. ia.. baru inget besok si risa ntu ultah..
    tapi ngomong2..
    ini pemeran cewe.x kok meskipun namanya ada 4 tapi orangnya 2 ya?
    =.=

    eh,eh,eh, marga kalian im kan?
    siapanya im seulong?
    kenalin dong.. XDD

    *jangan nanya komen karena seperti biasa ga ada komen..
    pkonya all thumbs up*
    XDD

    • Hehe~ Neng Vie, baru mau aye kabarin hari ini, abis kemaren takut ga bisa ngepost, makanya aye post lebih awal.😄

      Kita pan adek kembarnya Im Seulong, belon tau yak? Kekeke~
      Mau kenalan? Masih kaga rela Seulong dapet cewe selaen kita *kidding ^^v*

      Tengkyu.. Tengkyu.. ^^

  2. Situ bner2 gak bisa bkin aye senyum2 sndiri tau,twin!!!😄
    Busett, yg kbayang bner2 Kyu yg anak 10taun, ama aye yg umur 6taun. =.=
    Sama2 masih polos gak ketulungan~!!
    {Tapii aye suka merinding tiap liat sms kyu, creamy~bla bla bla.. Aigoooo, that’s too sweet,twin! Aye kira ntu Kyu udah kerasukan jin romantis dr Cina : ZhouMi}😄

    IMpressive?
    Hahaha~baguss..baguss..^^d
    Situ emg paling jago kalo d sruh bkin judul epep. >WM<
    Huweeeeee, kagak janji dah bakal stia ama Kyu kalo msalnya Shinee udah kambek.
    Ama Nara pula? Aisssh~nasib Nara emg gg pernah bagus yak? =A=
    Udahlahh, aye ganti nama jdi Im Saera.😄

    Aaaa~msih bnyak yg pengen aye komenn, u know what lahh~ pulsa aye pan 'standard'!😄
    Pokoknyaa gomawo pisan twinn~🙂
    Saranghae~❤ ^^

  3. Pan situ bilang situ ini cewek yang masih lugu, polos bla bla bla, nah, aye kabulin noh~😄

    IMpressive, keren yak? Hehe.. uda lama mikirin tu konsep buat kita berdua. ^o^
    Jyah.. ga janji setia? Tau gitu aye pasangin ama Nyunyu deh. ==’
    Ada Nara ama Jiyoo.. Bener kata vieta, nama ceweknya 4, pemerannya tetep 2. Jadi ga ada yang dirugiin. Kekeke~

    Im Saera? Itu ayee~ Situ Raena. eR-A-E-eN-A. Raena. Jangan ketukeer~ ><

  4. Gila dari kemaren aku udah gatel mau baca…
    tapi malah baru aku baca sekarang…
    eheheheheheheheh…
    mav yak… ^^

    huwaaaa,,, kyunya…
    aku mau satu…😄

    Unyuk babo-ya…
    kyu udah gag main game tapi malah dia ngungkit soal game…
    gagal jadi rekor yang lebih lama lagi deh…😄

    shel,,, ffnya sukses bikin ngakak…
    keren dah,,, keren… >.<

    • Ahaha~ gpapa onn. ^^

      Kyunya satu? Uda tinggal satu noh. Mana rebutan ama icha en Nanda.😄

      Jyah.. jadi rekor itu ga jadi gara2 c kunyuk yak? kekeke~ XDD

      Hehe.. makasih.. makasih.. ^^

      • huweeeee… T.T
        aku kehabisan yak???
        kamu beli lagi dah…
        beli 2 aku satu terus satu buat nanda…😄

        ho’oh tu…
        dasar unyuk…
        mana pp twitnya Luffy pula…
        cocok bener dah…
        emank beneran monyet…😄

        yoyoy…
        abis pemainnya pada konyol c… =P

  5. baca ni ff sambil ngakak mulu
    hahahahaaha
    kasian juga si jinki, lagian bukan dari awal >_<
    Kyuuuu ige mwoya??apa-apaan ituuuuuuuuu? masa ngasih hadiah pake syarat??!!
    mesti menang starcraft lawan si maniak game?ckckckck

  6. haha…ngakak dibagian terakhirnya…
    raena lugu banget di bagian terakhirnya
    si kyu jahatnya, masa ada syaratnya…syaratnya berat pula…wkwk

  7. hahahah… kayaknya asik punya sodara kaya saera. wkwkwk
    lee jinki itu beneran udah tunangan? kasian bgt nara. ckckckck
    kyu gila deh, masa ngasi syarat kaya gitu?

  8. lucunya..
    raena emg polos bgd..
    kyu jg tega..

    tp pas raena jinki moment trus kyu yg bgtu percayanya jd sedih..
    udh romantis ajah yg kejutan ultah itu, eh trnyata malah dsuruh maen game ngalahin kyu raenanya..
    lucu,lucu..

    aq ubek2 lage y shel blognya..
    ^^

  9. aigoo… kyu ny knp jd imut gitu…
    beda bgd ama status evil yg udh nyangkut didirinya..
    kasian kyu ny msa di2-in….
    tp akhr ny happy end… :* :* :*

  10. lucu bgt, kyuhyun bnr2 evil ya ms pcrnya sndr jg dikerjain😄.. tp smpt galau krn raena jg mulai ragu prasaannya sm kyuhyun gr2 kemunculan jinki, cinta pertamanya tp akhirnya lega krn dia ttp milih kyuhyun🙂..

  11. kirain saera sm jinki. trs sii kyu patah hati akhirnya. eternyata jinki cumak jadi cameo. syukurlah. soalnya anne bakalan sakit kalok kyuhyun sakit. :” njiiir. >< reader lebay. :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s